NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Suara kokok ayam jantan dari kandang tetangga belum terdengar ketika Agus sudah terduduk di tepi kasurnya yang tipis. Ruangan itu masih gelap, hanya diterangi cahaya remang-remang dari celah dinding papan. Agus meraih ponselnya, menyalakan layarnya yang retak, dan melihat jam. Pukul empat pagi. Tubuhnya masih terasa pegal luar biasa akibat beban semen kemarin, namun ia tidak punya kemewahan untuk tidur lebih lama. Hari ini ia sudah bertekad untuk mengambil jam lembur.

Ia melangkah ke dapur, menemukan ibuagus sedang merebus air di atas tungku yang apinya baru saja menyala. Bau asap kayu bakar yang menusuk hidung adalah aroma pertama yang ia hirup setiap hari.

"Pagi sekali, Gus? Truk semen bukannya baru datang jam delapan?" tanya ibu agus tanpa menoleh, tangannya sibuk mengipasi bara api dengan anyaman bambu.

"Agus mau datang lebih pagi, Bu. Mau bantu-bantu bereskan gudang besi. Siapa tahu Pak Jono kasih uang tambahan kalau laporannya rapi," jawab Agus sambil mengambil gayung untuk mandi. Air di bak mandi yang terbuat dari semen itu terasa sedingin es saat menyentuh kulitnya, namun rasa dingin itu justru membantunya mengusir rasa kantuk dan lelah yang menggelayut di pundak.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerjanya yang paling lusuh agar kemeja yang sedikit lebih baik tetap bersih untuk hari Minggu Agus berpamitan. Ia tidak sarapan, hanya meminum segelas air putih hangat yang disediakan ibunya. Ia harus menghemat setiap rupiah yang ia punya.

Di gudang material, suasana masih sangat sepi saat Agus tiba. Pak Jono, sang mandor yang bertubuh tambun, sedang duduk di depan pos jaga sambil menghitung tumpukan surat jalan.

"Pak Jono," sapa Agus sambil mematikan mesin motornya yang berasap.

Pak Jono mendongak, alisnya bertaut. "Tumben jam segini sudah sampai, Gus? Semangat sekali kamu hari ini."

"Pak, kalau hari ini ada bongkar muat besi beton atau bata ringan, boleh saya ambil? Saya butuh jam tambahan, Pak. Sampai malam pun tidak apa-apa," ucap Agus langsung pada intinya. Ia berdiri tegak, mencoba menunjukkan bahwa meskipun tubuhnya kurus, ia masih punya tenaga yang cukup.

Pak Jono terdiam sejenak, menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepul. "Kamu sanggup? Bongkar besi itu beda sama semen, Gus. Tanganmu bisa robek kalau tidak hati-hati. Lagipula, kamu sudah kerja keras seminggu ini. Nanti badanmu ambruk."

"Sanggup, Pak. Saya lagi butuh uang lebih untuk pengobatan Bapak yang makin parah," bohong Agus sedikit. Ia merasa bersalah karena mencampuradukkan alasan pengobatan ayahnya dengan kebutuhannya untuk bertemu Rahma, namun ia tahu itu adalah satu-satunya alasan yang akan dimaklumi oleh Pak Jono.

"Ya sudah. Nanti jam empat sore ada kiriman besi beton dari kota. Kalau kamu mau lanjut sampai jam delapan malam, saya kasih tambahan lima puluh ribu. Bagaimana?"

Lima puluh ribu. Bagi orang lain, itu mungkin hanya harga sekali makan siang di mal. Tapi bagi Agus, itu adalah harga dua gelas kopi di tempat pertemuan nanti, ditambah ongkos parkir dan sedikit sisa untuk bensin. "Saya ambil, Pak. Terima kasih banyak."

Sepanjang hari itu, Agus bekerja seperti orang yang sedang mengejar hutang nyawa. Saat matahari tepat di atas kepala dan suhu gudang menjadi sangat panas, ia terus bergerak. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, jatuh ke lantai semen dan mengering seketika. Setiap kali ia merasa tenaganya hampir habis, ia merogoh saku celananya, menyentuh ponselnya sejenak. Ia teringat pesan Rahma tentang bukti. Bagi Agus, bukti itu dimulai dari sini, dari setiap butir keringat yang ia teteskan di lantai gudang ini.

Pukul empat sore, truk pengangkut besi beton tiba. Batangan besi yang panjang, berat, dan berkarat itu harus dipindahkan satu per satu ke rak penyimpanan. Agus mulai memikulnya. Besi itu terasa sangat dingin di awal, namun lama-kelamaan menjadi panas karena gesekan. Kulit pundaknya yang sudah lecet karena semen kini harus berhadapan dengan kasarnya permukaan besi. Ia merintih pelan saat ujung besi yang tajam tanpa sengaja menggores lengan bawahnya hingga mengeluarkan darah segar, namun ia hanya menyekanya dengan debu dan terus bekerja.

Ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, Agus baru bisa terduduk di lantai gudang yang gelap. Napasnya memburu. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia kesulitan untuk menggenggam botol air minumnya. Pak Jono datang menghampirinya, lalu menyerahkan beberapa lembar uang kertas yang sudah agak kumal.

"Ini upahmu hari ini, ditambah bonus lembur. Kamu hebat, Gus. Jarang ada anak muda sepertimu yang mau kerja sampai begini," puji Pak Jono.

Agus menerima uang itu dengan rasa syukur. Seratus tiga puluh ribu rupiah. Itulah hasil kerjanya dari subuh hingga malam. Ia segera bangkit, menghidupkan motornya, dan melaju menuju apotek. Ia membeli obat batuk cair untuk ayahnya, lalu berhenti di warung sembako untuk membeli satu liter minyak goreng dan dua kilogram beras.

Sesampainya di rumah, ibu agus sedang menunggunya di depan pintu dengan raut wajah cemas. "Gus, kenapa baru pulang? Ibu hampir saja mau minta tolong Lukman buat cari kamu ke gudang."

"Lembur, Bu. Ini obat Bapak sama belanjaan," Agus menyerahkan bungkusan plastik itu. Ia langsung menuju dapur untuk mencuci luka di lengannya agar tidak terlihat oleh ibunya.

"Ini ada sisa uang dua puluh ribu, Gus. Simpan saja buat kamu," kata ibu agus saat mereka duduk di meja makan yang hanya diterangi lampu redup.

Agus menatap uang itu, lalu menatap wajah ibunya. "Ibu simpan saja. Buat beli telur besok pagi buat Bapak."

"Jangan, Gus. Ibu tahu hari Minggu ini kamu mau pergi. Ibu tidak punya apa-apa buat bekali kamu. Setidaknya bawa uang ini supaya kamu tidak malu di depan perempuan itu," paksa ibu agus sambil menyelipkan uang itu ke tangan Agus.

Agus merasakan tenggorokannya sesak. Ia melihat uang dua puluh ribu rupiah yang kumal itu di tangannya. Ia tahu betapa sulitnya ibunya menyisihkan uang itu dari uang belanja yang sangat pas-pasan. Ia merasa menjadi anak yang egois karena menggunakan uang itu untuk menemui seorang wanita yang belum tentu menjadi miliknya, sementara orang tuanya harus makan dengan lauk seadanya.

Malam Sabtu, sehari sebelum pertemuan yang mendebarkan itu, Agus berada di kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah kemeja kotak-kotak berwarna biru tua dari dalam lemari plastiknya yang sudah reyot. Kemeja itu adalah pemberian pamannya dua tahun lalu, satu-satunya pakaian formal yang ia miliki. Warnanya sudah sedikit luntur di bagian kerah, dan ada satu kancing di bagian dada yang sudah lepas.

Agus mengambil jarum dan benang dari kotak jahitan milik ibunya. Ia menyalakan senter ponselnya agar bisa melihat lebih jelas. Dengan tangan yang kasar dan kaku akibat memikul besi, ia mencoba memasukkan benang ke dalam lubang jarum yang sangat kecil. Berkali-kali ia gagal. Tangannya yang biasanya mampu mengangkat beban lima puluh kilogram, kini gemetar hanya untuk memegang sebatang jarum kecil.

"Ayo, masuk..." bisiknya pada dirinya sendiri.

Setelah mencoba hampir sepuluh menit, benang itu akhirnya masuk. Ia mulai menjahit kancing itu dengan telaten. Ia memastikan jahitannya kuat, lebih kuat dari jahitannya yang biasanya. Ia ingin kemeja ini bertahan, setidaknya selama beberapa jam saat ia duduk di depan Nor Rahma nanti.

Setelah urusan kemeja selesai, ia beralih ke sepatunya. Sepatu kets hitamnya sudah jebol di bagian samping kiri. Ia mengambil sedikit lem sisa yang ia temukan di gudang, lalu mengoleskannya pada bagian yang terbuka. Ia menekan-nekan bagian itu dengan tangannya, berharap lem itu bisa menyatukan kembali alas sepatu yang sudah tipis itu.

"Hanya ini yang aku punya, Rahma," gumamnya pelan sambil menatap sepatu itu.

Sebelum tidur, Agus membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Nor Rahma.

Nor Rahma: "Mas Agus, besok jadi kan? Aku sudah sangat penasaran ingin bertemu. Jangan lupa ya, jam empat sore di taman kota. Aku akan pakai jilbab warna merah muda supaya Mas mudah mengenaliku."

Agus menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia yang menyeruak, tapi juga ada rasa takut yang menghimpit. Ia takut Rahma akan kecewa begitu melihatnya turun dari motor tua yang berasap, memakai kemeja luntur, dan sepatu yang dilem. Ia takut Rahma akan menyadari bahwa bukti yang wanita itu minta mungkin tidak akan pernah bisa ia penuhi dalam waktu dekat.

Ia mematikan ponselnya, meletakkannya di samping bantal, dan mencoba untuk tidur. Namun, bayangan wajah pucat ayahnya dan senyum anggun Nor Rahma terus bergantian muncul di pikirannya. Di luar, angin malam berhembus melalui celah dinding, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Agus menarik selimut kain sarungnya, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa untuk hari esok. Hari di mana ia akan mempertaruhkan seluruh harga dirinya di hadapan seorang wanita yang menurutnya terlalu sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!