NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Suasana di selasar mall yang tadinya terasa hangat karena candaan Jeremy, mendadak membeku. Udara seolah tersedot keluar dari paru-paru Sheila saat matanya menangkap sosok pria dengan jaket bomber yang sangat ia kenal berdiri hanya beberapa meter di depan pintu keluar toko buku.

Malik.

Wajah Malik tidak meledak marah, namun justru ketenangan yang terpancar dari matanya itulah yang membuat Sheila merinding. Malik berdiri tegak, tangannya memegang ponsel yang layarnya masih menyala—menampilkan aplikasi pelacak lokasi yang memang mereka gunakan bersama untuk keamanan.

"Ma... Malik? Kok kamu di sini?" tanya Sheila gagap. Suaranya yang biasanya kalem kini bergetar hebat. Ia refleks melangkah menjauh dari sisi Jeremy, menciptakan jarak yang sangat kentara.

Malik mengangkat ponselnya pelan, menunjukkan titik biru yang berhenti tepat di koordinat toko buku ini. "Aku kan pantau lokasi kamu, Shei. Aku khawatir karena kamu bilang ada urusan mendadak dan nggak bisa belanja. Aku pikir kamu masih di kantor, makanya aku mau susul bawain kopi atau camilan."

Tatapan Malik beralih ke arah Jeremy yang berdiri dengan santai di belakang Sheila, lalu kembali ke arah kekasihnya. "Terus ini apa? Katanya lembur? Lembur di toko buku?"

"Em... ini tadi Pak Jeremy minta ditemenin ke toko buku buat cari referensi proyek, Malik. Sumpah, ini urusan kantor. Aku... aku bisa jelasin sama kamu. Iya kan, Pak?" Sheila menoleh ke arah Jeremy dengan tatapan memohon, berharap bosnya itu punya sedikit hati nurani untuk membantunya keluar dari situasi sulit ini.

Jeremy, bukannya merasa bersalah, malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia menatap Malik dengan pandangan menilai, seolah sedang menantang wilayah kekuasaan.

"Iya, Malik. Sheila benar. Saya memang butuh perspektif dia untuk buku referensi desain. Tapi ya... mungkin saya lupa bilang kalau 'kantor' sore ini pindah ke mall," ucap Jeremy dengan nada enteng yang justru memperkeruh suasana.

Malik menarik napas panjang. Ia mengabaikan ucapan Jeremy dan hanya fokus pada Sheila. "Aku nggak masalah kalau itu beneran kerjaan, Shei. Tapi kenapa harus bohong? Kenapa harus bilang lembur di kantor padahal lagi jalan berdua di sini? Kamu tahu kan aku paling nggak suka dibohongi?"

"Aku... aku tadi cuma nggak mau kamu kepikiran, Malik. Aku tahu kamu capek," Sheila mendekati Malik, mencoba meraih lengannya, namun Malik sedikit bergeser.

"Okee," ucap Malik pendek, suaranya terdengar sangat lelah. "Sekarang pilihannya di kamu, Shei. Kamu mau pulang bareng aku pakai motor, atau mau lanjut 'tugas negara' bareng bos kamu yang luar biasa ini pakai mobil mewahnya?"

Keheningan menyergap. Beberapa pengunjung mall mulai melirik ke arah drama segitiga itu. Sheila berdiri di tengah-tengah, merasa seperti ditarik oleh dua kekuatan yang berbeda. Di satu sisi ada Malik, pelabuhan tenangnya yang kini sedang terluka karena kejujuran yang ia sembunyikan. Di sisi lain ada Jeremy, badai yang terus-menerus menariknya ke dalam pusaran obsesi masa lalu.

"Malik, jangan gitu dong... aku pulang sama kamu ya?" rengek Sheila lembut.

Jeremy tiba-tiba berdeham. "Sheila, bukannya kita tadi mau ke supermarket? Kamu lupa ya? Aku sudah janji mau ganti waktu belanja kamu yang terbuang."

"Pak Jeremy, tolong!" Sheila menoleh dengan tatapan tajam, memperingatkan Jeremy agar berhenti memprovokasi.

Malik tersenyum getir. "Oh, jadi mau lanjut belanja juga? Hebat ya. Ternyata bos kamu ini perhatian banget sampai tahu jadwal belanja bulanan pacar orang."

Malik kemudian menaruh helmnya di atas pinggang, menatap Sheila dalam-dalam. "Aku tunggu di parkiran motor bawah. Lima menit. Kalau kamu nggak ada, aku anggap kamu milih 'lembur' sampai malam."

Tanpa menunggu jawaban, Malik berbalik dan berjalan cepat menuju arah lift. Bahunya yang tegap tampak kaku, menandakan ia benar-benar sedang menahan emosi yang meluap.

Sheila hampir saja berlari mengejar Malik, namun Jeremy menahan lengan atasnya dengan lembut tapi kuat.

"Shei, dengerin aku. Kamu nggak perlu merasa bersalah sampai segitunya. Dia cuma cemburu nggak jelas," ucap Jeremy, suaranya kali ini tidak tengil, tapi penuh dengan nada protektif yang posesif.

Sheila mengibaskan tangan Jeremy dengan kasar. Ini adalah pertama kalinya Sheila bersikap kasar pada atasannya itu. "Cemburu nggak jelas? Jeremy, kamu yang bikin situasi ini jadi kacau! Kamu yang maksa aku ikut, kamu yang bohong soal survei, dan sekarang kamu malah mau ngerusak hubunganku?!"

"Aku nggak ngerusak, Sheila! Aku cuma mau nunjukin kalau dia itu nggak selevel sama kamu! Kamu pantas dapet yang lebih dari sekadar motor matic dan pecel lele!" balas Jeremy, suaranya meninggi, menarik perhatian lebih banyak orang.

"Tapi aku cintanya sama dia, Jeremy! Bukan sama semua kemewahan yang kamu pamerkan ini!" Sheila berteriak kecil, matanya mulai berkaca-kaca. "Makasih buat hari ini, Pak CEO. Tapi besok-besok, tolong bersikap profesional. Jangan ganggu hidup pribadiku lagi."

Sheila langsung berlari menuju arah parkiran, tidak peduli lagi pada Jeremy yang mematung di tengah mall dengan tangan mengepal.

Jeremy menatap kepergian Sheila dengan perasaan campur aduk. Ada amarah, tapi ada juga rasa sakit yang asing di dadanya. "Cinta ya? Kita lihat seberapa lama cinta itu bertahan menghadapi semua tekanan yang bakal aku kasih ke kamu, Sheila."

Sheila sampai di parkiran dengan napas tersengal. Ia melihat Malik sudah menyalakan motornya. Wajah Malik tertutup kaca helm, namun dari gerak-geriknya, Sheila tahu Malik sedang sangat kecewa.

"Malik... maafin aku," ucap Sheila saat sudah sampai di samping motor.

Malik tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan helm cadangan ke arah Sheila. "Naik, Shei. Kita bicara di rumah."

Perjalanan pulang kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada pelukan erat di pinggang Malik. Tidak ada percakapan manis tentang menu makan malam. Yang ada hanya suara knalpot motor yang membelah kemacetan dan hening yang mencekam di antara mereka berdua.

Sheila menangis dalam diam di belakang punggung Malik. Ia merasa bodoh karena membiarkan Jeremy masuk terlalu jauh ke dalam dunianya. Namun, ia juga sadar bahwa Jeremy tidak akan berhenti di sini. Pria itu adalah tipe orang yang akan membakar seluruh hutan hanya untuk mendapatkan satu bunga yang ia inginkan.

***

Motor matic hitam itu akhirnya berhenti di depan pagar rumah Sheila. Keheningan yang menyelimuti sepanjang jalan tadi terasa lebih menyakitkan daripada omelan mana pun. Malik mematikan mesin motor, namun ia tidak segera turun. Ia tetap menatap lurus ke depan, kedua tangannya masih mencengkeram stang motor dengan kuat.

Sheila turun dengan gerakan perlahan, seolah-olah setiap gerakannya bisa memicu ledakan. Ia melepas helm, rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin malam, namun matanya yang sembab tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah.

"Malik... aku beneran minta maaf sama kamu. Aku tahu aku salah karena bohong," suara Sheila bergetar, nyaris berbisik di kesunyian gang. "Tadi itu Jeremy beneran minta temenin aku karena sekarang... posisi aku dipindah. Aku jadi asisten pribadinya dia, Malik."

Malik akhirnya menoleh. Tatapannya tidak tajam, melainkan terlihat sangat lelah. "Asisten pribadi? Baru dua hari kerja, Shei. Dari staf properti, tiba-tiba jadi asisten pribadi CEO? Kamu nggak ngerasa ada yang aneh?"

"Aku tahu itu aneh! Aku juga nggak mau, Malik. Tapi dia bosnya, dia punya kuasa buat mindahin meja aku tepat di depan ruangannya. Aku nggak bisa nolak perintah atasan di hari kedua kerja," Sheila mencoba menjelaskan, tangannya bergerak gelisah meremas tali tasnya.

Malik turun dari motor, berdiri tepat di hadapan Sheila. "Bukan cuma soal kerjaan, Shei. Tapi cara dia mandang kamu, cara dia ngomong sama aku tadi di mall... dia nggak nganggep aku ada. Dan kamu? Kamu malah ikut alurnya dia. Kamu bohong sama aku cuma buat nemenin dia beli buku?"

"Aku bohong karena aku nggak mau kita berantem! Aku pikir kalau aku bilang lembur, kamu nggak akan kepikiran dan aku bisa cepet-cepet pulang," tangis Sheila akhirnya pecah. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya yang pucat. "Maaf ya, aku beneran minta maaf kalau tadi aku bohong sama kamu."

Malik menghela napas panjang, ia memijat pangkal hidungnya. Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari kejauhan.

"Resign, Shei," ucap Malik tiba-tiba. Pendek, padat, dan sangat serius.

Sheila tersentak. Ia mendongak dengan mata membelalak. "Apa? Resign?"

"Iya. Keluar dari sana. Cari kerja di tempat lain. Aku nggak suka kamu ada di sekitar laki-laki yang jelas-jelas nggak menghargai hubungan kita. Aku punya firasat buruk soal dia, Shei. Dia obsesif," tegas Malik.

Sheila terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia ingin sekali mengiyakan, ingin sekali lari dari bayang-bayang Jeremy yang mencekik ketenangannya. Tapi realita menghantamnya lebih keras.

"Kamu serius nyuruh aku resign? Malik... itu ada biaya penaltinya di kontrak dan nilainya besar banget," suara Sheila melemah, putus asa. "Aku baru tanda tangan kontrak kemarin. Kalau aku keluar sepihak sebelum masa kontrak habis, aku harus bayar denda yang jumlahnya bisa buat beli motor baru kamu lima biji. Aku bukannya nggak mau, tapi aku nggak ada uang segitu banyak, Malik."

Malik tertegun. Ia lupa soal detail kontrak perusahaan besar seperti Nasution Property Group. Rahangnya mengeras. "Berapa? Berapa penaltinya?"

Sheila menyebutkan sebuah angka yang cukup fantastis untuk ukuran mereka. Malik terdiam. Angka itu jauh melampaui tabungan yang sedang mereka kumpulkan untuk biaya pernikahan.

"Keluarga aku lagi butuh uang ini, Malik. Ibu di kampung lagi nunggu kiriman pertama aku bulan depan. Aku nggak mungkin minta uang penalti ke mereka," lanjut Sheila sambil terisak. "Aku terjebak, Malik. Jeremy tahu itu. Dia tahu aku butuh kerjaan ini, makanya dia semena-mena."

Malik memukul jok motornya dengan kepalan tangan, meluapkan frustrasi yang tertahan. "Bajingan. Dia bener-bener manfaatin keadaan kamu."

Malik mendekat, kali ini ia menarik Sheila ke dalam pelukannya. Meskipun hatinya masih terasa panas oleh api cemburu, melihat Sheila menangis ketakutan seperti ini membuatnya tidak tega. Sheila membenamkan wajahnya di dada Malik, menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua beban yang ia pikul sejak bertemu kembali dengan Jeremy.

"Maafin aku ya, Malik... aku nggak bermaksud bohong. Aku sayang banget sama kamu," gumam Sheila di balik tangisan.

Malik mengusap punggung Sheila dengan lembut. "Iya, aku maafin. Tapi tolong, Shei... mulai besok, jangan ada yang ditutup-tumpuni lagi. Kalau dia macem-macem, bilang. Jangan kamu telan sendiri."

"Iya, janji," sahut Sheila sesenggukan.

"Soal resign... kita pikirin jalan keluarnya pelan-pelan. Untuk sekarang, kamu bertahan dulu, tapi jangan pernah biarkan dia ngerusak prinsip kamu. Kalau dia mulai kelewatan, aku sendiri yang bakal seret dia keluar dari kantor itu, nggak peduli dia CEO atau bukan," ucap Malik dengan nada mengancam yang tulus.

Di balik pelukan itu, Sheila merasa sedikit tenang. Namun, di dalam kepalanya, ia masih membayangkan wajah Jeremy yang penuh kemenangan. Ia tahu, besok pagi di kantor, "perang" yang sesungguhnya baru akan dimulai. Jeremy tidak akan melepaskannya begitu saja, apalagi setelah melihat betapa kuatnya ikatan antara Sheila dan Malik.

"Udah, jangan nangis lagi. Masuk sana, cuci muka, terus istirahat. Besok aku anterin sampai depan lobi lagi. Aku mau pastiin dia lihat kalau kamu masih milik aku," kata Malik sambil menghapus sisa air mata di pipi Sheila.

Sheila mengangguk lemah. "Makasih ya, Malik. Hati-hati di jalan."

***

Kalian tim siapa nih?? Malik or Jeremy hehe

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!