Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kata-Kata yang Menyatukan
Senin pagi membawa semangat baru bagi Arumi. Setelah drama kedatangan Siska yang menguras emosi kemarin, suasana di rumah minimalis itu terasa jauh lebih ringan. Seolah-olah sebuah bisul besar telah pecah dan kini tinggal proses penyembuhannya saja.
Adrian tampak lebih santai saat sarapan. Ia tidak lagi terpaku pada tablet bisnisnya. Sesekali, matanya mencuri pandang ke arah Arumi yang sedang sibuk menata bekal makan siang untuk suaminya—sesuatu yang baru mulai dilakukan Arumi sejak tiga hari lalu.
"Arumi," panggil Adrian saat ia sedang merapikan jam tangannya.
"Ya, Mas?"
"Aku punya permintaan kecil. Tapi ini berkaitan dengan pekerjaan. Kamu keberatan?"
Arumi menghentikan kegiatannya, merasa tertarik. Selama ini, dunia kerja Adrian adalah sebuah kotak hitam yang sangat eksklusif bagi Arumi. "Tentu tidak, Mas. Ada apa?"
"Perusahaanku sedang menyiapkan kampanye untuk proyek hunian ramah lingkungan terbaru, Pramoedya Green Residence. Tim pemasaranku membuat narasi yang... yah, menurutku terlalu kaku. Terlalu banyak angka dan jargon teknis," Adrian menghela napas, tampak tidak puas. "Aku teringat tulisanmu semalam. Kamu punya cara bercerita yang menyentuh perasaan. Bisakah kamu meninjau naskah brosur dan pidato peluncuranku? Buatlah itu terasa seperti sebuah 'rumah', bukan sekadar 'properti'."
Mata Arumi berbinar. Ini adalah pengakuan terbesar yang pernah ia terima. "Mas serius ingin aku membantumu?"
"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis, Arumi. Aku akan mengirimkan drafnya ke emailmu. Kerjakan saja saat kamu punya waktu luang antara menulis novelmu."
Adrian mendekat, lalu dengan gerakan yang kini terasa lebih alami, ia menepuk bahu Arumi pelan.
"Terima kasih sebelumnya."
Sepanjang siang itu, Arumi tenggelam dalam draf pekerjaan Adrian. Benar kata suaminya, naskah itu sangat membosankan. Kalimat-kalimatnya penuh dengan "efisiensi energi", "struktur beton pracetak", dan "ROI jangka panjang".
Arumi mulai menari dengan jemarinya di atas keyboard. Ia membayangkan sebuah keluarga muda yang menanam pohon pertama mereka di halaman belakang. Ia menulis tentang cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar, tentang tawa anak-anak di taman yang asri, dan tentang bagaimana sebuah bangunan menjadi tempat menyimpan memori.
Ia lupa waktu. Pukul lima sore, ia baru tersadar saat mendengar suara mobil Adrian memasuki halaman.
"Sudah selesai?" suara berat Adrian terdengar dari ambang pintu ruang tengah.
Arumi tersentak, lalu tersenyum lebar. "Sudah, Mas! Aku baru saja mengirimkannya kembali ke emailmu. Tapi... maaf kalau gayanya terlalu puitis."
Adrian segera membuka laptopnya di meja ruang tamu. Ia membaca dengan saksama. Ruangan itu hening selama beberapa menit. Arumi menahan napas, merasa gugup seperti sedang menunggu hasil ujian.
Tiba-tiba, Adrian menoleh. Ada binar kagum yang tidak bisa ia sembunyikan. "Arumi... ini luar biasa. Kamu mengubah statistik dingin menjadi sebuah mimpi yang ingin diwujudkan orang. Timku pasti akan terkejut melihat perubahan ini."
"Benarkah, Mas?"
"Sangat benar. Sebagai imbalannya, bagaimana kalau kita merayakan 'kolaborasi' pertama kita dengan makan malam di luar? Ada sebuah restoran baru yang ingin kukunjungi."
Malam itu, mereka pergi ke sebuah restoran tepi danau yang romantis. Cahaya lampu temaram dan alunan musik jazz lembut menciptakan atmosfer yang sangat berbeda dari pesta formal perusahaan minggu lalu. Kali ini, tidak ada kamera, tidak ada kolega bisnis, hanya mereka berdua.
"Mas," panggil Arumi saat mereka sedang menunggu hidangan utama. "Kenapa Mas begitu percaya padaku? Padahal Mas tahu aku hanya... istri pengganti."
Adrian meletakkan gelas airnya, menatap Arumi dengan intensitas yang membuat jantung Arumi berdebar. "Berhenti menyebut dirimu 'pengganti', Arumi. Aku sudah mengatakannya berkali-kali.
Siska mungkin adalah orang yang seharusnya ada di posisi ini secara administratif, tapi secara emosional... dia tidak akan pernah bisa melakukan apa yang kamu lakukan."
"Maksud Mas?"
"Dia tidak akan pernah peduli pada detail kecil di rumah ini. Dia tidak akan pernah membuatkan bekal untukku, atau peduli pada naskah pidatoku. Dia hanya peduli pada apa yang bisa diberikan oleh nama 'Pramoedya' padanya," Adrian menjeda sejenak. "Sedangkan kamu... kamu memberikan dirimu sendiri. Dan itu jauh lebih berharga."
Arumi merasa matanya memanas karena haru. Pujian dari Adrian terasa lebih manis daripada hidangan pencuci mulut mana pun.
Namun, kebahagiaan itu sedikit terganggu saat Arumi melihat sosok yang familiar di meja seberang. Pandu. Teman lamanya itu sedang makan malam dengan seorang wanita yang tampak seperti rekan kerja.
Pandu menyadari keberadaan Arumi dan melambai. Ia tampak ragu untuk mendekat setelah kejadian di kafe kemarin, namun akhirnya ia memutuskan untuk menyapa sopan dari jarak jauh.
Adrian menyadari arah pandang Arumi. Ia melirik Pandu, lalu kembali ke Arumi. Kali ini, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak.
"Dia editor yang memberimu saran soal Bab 12 itu, kan?" tanya Adrian tenang.
"Iya, Mas. Tapi kami hanya bicara soal tulisan."
"Aku tahu," ujar Adrian. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Arumi pelan. "Aku sadar aku terlalu reaktif kemarin. Aku hanya... belum terbiasa berbagi perhatianmu dengan orang lain. Tapi aku percaya padamu, Arumi."
Arumi membalas genggaman tangan Adrian. "Terima kasih, Mas. Itu sangat berarti bagiku."
Perjalanan pulang malam itu diwarnai dengan obrolan yang lebih dalam. Mereka mulai membicarakan masa kecil masing-masing. Arumi bercerita tentang betapa ia selalu merasa harus "tak terlihat" agar Siska bisa bersinar, sementara Adrian bercerita tentang tekanan besar yang ia terima sejak kecil untuk menjadi pewaris sempurna.
"Kadang aku merasa seperti robot yang diprogram untuk sukses," ujar Adrian sambil menyetir. "Tapi akhir-akhir ini, program itu sepertinya mulai mengalami error sejak ada kamu di rumah."
Arumi tertawa kecil. "Mungkin itu bukan error, Mas. Mungkin itu hanya fitur 'manusia' yang baru aktif."
Sesampainya di rumah, mereka tidak langsung masuk ke kamar masing-masing. Mereka duduk sejenak di teras belakang, menatap bintang-bintang yang jarang terlihat di langit Jakarta.
"Arumi," panggil Adrian pelan.
"Ya, Mas?"
"Besok adalah hari ulang tahun perusahanku yang ke-25. Aku ingin kamu mendampingiku saat aku membacakan pidato yang kamu revisi itu. Aku ingin semua orang tahu bahwa kata-kata indah itu datang dari istriku."
Arumi tertegun. "Mas yakin? Semua orang akan tahu siapa aku sebenarnya."
"Biarkan saja. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang mereka pikirkan soal 'pergantian' itu. Yang penting bagiku adalah siapa yang berdiri di sampingku sekarang."
Arumi tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya. Konflik ringan hari ini—kecemburuan Adrian yang mulai mereda dan tantangan profesional baru—justru membuat ikatan mereka semakin kuat.
Ia menyadari bahwa pernikahan ini memang dimulai sebagai sebuah pelarian bagi Siska dan penyelamatan bagi keluarganya. Namun sekarang, pernikahan ini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.
Arumi teringat draf novelnya. Ia harus menulis bab baru. Bab di mana sang tokoh utama akhirnya berani keluar dari bayang-bayang dan menemukan cahayanya sendiri, dibantu oleh tangan yang tak terduga.
"Selamat malam, Mas Adrian," bisik Arumi saat mereka akhirnya beranjak masuk.
"Selamat malam, Arumi. Dan terima kasih... untuk semuanya."
Malam itu, Arumi tidur dengan senyum yang tak kunjung hilang. Ia tahu, esok hari akan ada tantangan baru, mungkin ada bisik-bisik miring dari publik, namun selama Adrian menggandeng tangannya, ia siap menghadapi apa pun yang akan ditulis oleh takdir.
Hutan keraguan yang dulu mengelilinginya kini mulai menipis, digantikan oleh jalan setapak yang jelas menuju masa depan yang—meskipun hanya dikontrak satu tahun—terasa seperti selamanya.