Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — Kehadiran Dom 2
Pagi itu, matahari Sydney memantul di kaca jendela apartemen Bella dengan lembut. Udara masih sejuk, tapi ada aroma kopi dan roti panggang yang samar menguar dari dapur. Bella berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang sedikit kusut, saat suara dering ponsel memecah kesunyian.
“Bella…”
Suara itu familiar, membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Ia menghela napas, menatap layar ponsel, dan melihat nama yang selalu membuatnya campur aduk: Dominic.
“Pagi,” katanya datar saat mengangkat panggilan.
“Pagi,” jawab Dominic ringan, tapi di ujung nada suaranya ada sesuatu yang hangat dan… tulus. “Aku di depan apartemenmu sebentar lagi. Aku bawa sarapan.”
Bella menutup mata sejenak. Ia tahu Dominic tidak akan menyerah. Bahkan setelah semua yang terjadi, bahkan setelah air mata dan luka yang ia rasakan, pria itu tetap datang, tetap hadir, tetap mencoba menembus dinding yang ia bangun.
“Aku nggak minta,” suara Bella terdengar pelan, tapi cukup jelas.
Dominic tertawa ringan. “Aku tahu. Tapi aku nggak bisa tinggal diam.”
Beberapa menit kemudian, pintu apartemen Bella diketuk. Ia membuka pintu, dan di sana Dominic berdiri dengan senyum tipis, kantong sarapan di tangan, rambut sedikit basah karena hujan semalam, tapi matanya tetap menatap Bella penuh perhatian.
Tanpa banyak bicara, Dominic menyerahkan kantong sarapan itu. “Aku pikir kamu butuh ini sebelum berangkat kerja.”
Bella menatap isi kantong—muffin favoritnya, kopi caramel, dan jus jeruk segar. Ia menelan ludah. “Kau terlalu repot.”
Dominic tersenyum. “Biar aku repot. Aku nggak mau ada lagi momen yang terlewat. Ini… untuk kamu dan bayi kita.”
Bella memandang Dominic cukup lama, ada rasa hangat yang tak bisa ia tahan. Tapi ia tetap mencoba menahan diri. “Aku nggak butuh semua perhatianmu itu.”
Dominic mengangkat alis. “Kamu nggak harus bilang butuh. Aku akan tetap lakukan.”
Hari-hari berikutnya, Dominic mulai masuk ke rutinitas Bella tanpa memaksa. Setiap pagi ia datang membawa sarapan, menanyakan kabar bayi, bahkan sesekali membantu membawa tas kerja Bella. Tapi Bella tetap menjaga jarak, tetap jual mahal, tetap tidak ingin terlihat mudah luluh.
Namun, Dominic mulai menemukan celah kecil. Senyum tipis yang muncul di wajah Bella saat ia memberikan muffin favoritnya, tawa kecil saat ia bercanda ringan di pagi hari, bahkan tatapan singkat penuh arti ketika mereka bertemu di lift. Semua itu membuat Dominic semakin yakin bahwa kesabarannya tidak sia-sia.
Suatu sore, saat hujan turun lagi, Dominic menunggu di balkon apartemen Bella dengan payung besar.
“Bella…” suaranya lembut ketika wanita itu muncul di balkon. “Aku nggak akan masuk dulu. Aku cuma ingin pastikan kamu nggak kehujanan.”
Bella menatapnya, tubuhnya sedikit tegang, tapi Dominic tetap tenang. Tidak ada paksaan. Tidak ada tekanan. Hanya hadir. Dan momen itu menyentuh hati Bella.
“Dominic, kau sudah cukup,” kata Bella akhirnya, suaranya nyaris bergetar. “Aku nggak mau… aku nggak mau mudah luluh lagi.”
Dominic tersenyum tipis. “Aku nggak minta mudah luluh. Aku cuma ingin kamu tahu aku ada di sini, selalu.”
Hari demi hari, Dominic mulai menunjukkan bahwa kehadirannya bukan sekadar janji manis. Ia hadir dengan nyata, konsisten, tanpa pamrih, dan selalu memperhatikan setiap detail kecil yang membuat Bella merasa dihargai.
Namun Bella tetap berhati-hati. Ia tidak ingin Dominic berpikir bahwa satu senyuman kecil bisa mematahkan dinding yang selama ini ia bangun. Ia ingin Dominic membuktikan bahwa cinta dan penyesalan yang ditunjukkan pria itu adalah tulus, bukan sekadar emosi sesaat.
Suatu malam, Dominic datang tanpa pemberitahuan. Ia berdiri di depan pintu Bella dengan secangkir cokelat hangat. “Aku tahu kau capek. Jadi aku pikir ini bisa sedikit menghangatkanmu.”
Bella menatapnya datar, tapi dalam hatinya ada sesuatu yang mulai goyah. Ia menerima cokelat itu tanpa banyak bicara, tapi tatapannya tak bisa lepas dari Dominic. Ada sesuatu yang baru dalam dirinya—rasa hangat, rasa aman, dan… rasa rindu yang selama ini ia sembunyikan.
Dominic tersenyum lembut. Ia tahu Bella mulai luluh, tapi ia juga tahu ia harus tetap sabar. Ia tidak ingin terburu-buru, tidak ingin kehilangan kembali kepercayaan yang begitu sulit dibangun.
Dan Bella? Ia mulai menyadari satu hal—Dominic bukan sekadar pria yang menyesal. Ia adalah pria yang siap bertanggung jawab, yang siap berubah, dan yang siap menunggu hingga Bella benar-benar percaya kembali.
Di balik semua konflik, emosi, dan hujan Sydney, satu hal jelas: Dominic tidak akan menyerah pada Bella dan anak mereka. Tidak kali ini. Tidak pernah lagi.
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹