"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Diana turun sambil menghela napas panjang.
“Dasar sahabat kampret. Bisa-bisanya beneran nurunin kita di gerbang. Tega banget hidup lo, Ki,” gerutunya sambil menyipitkan mata ke arah mobil yang mulai melaju pelan.
“Udahlah Na, sekalian olahraga. Biar sehat... dan biar hatimu gak dingin terus,” goda Melisa sambil menggandeng lengan sahabatnya yang masih manyun itu.
Diana mengerling malas. “Gue dingin karena gue sadar, cowok di dunia ini cuma ada dua jenis: nyebelin dan lebih nyebelin. Termasuk Riki.”
Melisa tertawa pelan sambil mengangguk. “Itu sih aku setuju.”
Dengan langkah ringan, mereka berjalan bersama menuju fakultas. Tawa kecil di antara mereka menjadi pelipur lelah, sejenak menghapus segala kerumitan hidup yang sedang mereka jalani.
***
Sementara itu, jauh dari kehidupan sederhana Melisa dan kedua sahabatnya, di tempat yang bahkan tidak terlintas dalam bayangan siapa pun, dua keluarga sedang berada dalam titik paling kelam dalam hidup mereka.
Tangisan histeris seorang ibu terdengar memenuhi lorong-lorong rumah sakit elit di Jerman. Suaranya nyaring, pecah, penuh duka yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat pasi. Ia baru saja kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya sendiri—bayinya. Bayi yang baru saja ia lahirkan dengan penuh perjuangan… hilang.
Tanpa jejak.
Tanpa kabar.
Tanpa alasan.
Sang suami, yang berusaha tetap tegar, berlari ke sana kemari, menanyai perawat, menyisir rekaman CCTV, bahkan memanggil kepolisian dan menghubungi pihak manajemen rumah sakit. Tapi hasilnya nihil. Anak mereka seperti menguap dari bumi—lenyap dalam hitungan menit.
Di tempat lain, rumah sakit berbeda namun di hari yang nyaris bersamaan, keluarga lain mengalami mimpi buruk yang serupa. Bayi yang baru saja dilahirkan dengan air mata haru dan tawa bahagia… tak lagi ditemukan di ruang perawatan bayi. Perawat berganti sif, CCTV mendadak rusak, dan tidak ada saksi mata yang dapat memberi keterangan jelas.
Panik berubah menjadi keputusasaan.
Putus asa berubah menjadi amarah.
Dan amarah itu menyulut kegelisahan dalam keluarga besar kedua belah pihak.
Salah satu ibu bahkan sempat koma karena syok mendalam. Tim medis menyebut kondisinya nyaris kritis karena tekanan psikologis yang ekstrem. Keluarga besar pun murka. Mereka tak terima. Mereka merasa dikhianati oleh sistem dan keamanan yang seharusnya menjamin keselamatan buah hati mereka.
Dua keluarga yang awalnya tak saling mengenal itu kini menyimpan luka yang sama.
Luka kehilangan.
Luka ketidakpastian.
Meski berasal dari rumah sakit dan negara yang berbeda, waktu kejadian yang hampir bersamaan membuat satu hal menjadi jelas—ini bukan kejadian biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Sesuatu yang kelam. Misterius. Dan sangat terorganisir.
Mereka menyewa berbagai orang yang ahli, menggandeng media, bahkan menggunakan kekuatan uang dan pengaruh untuk membuka jalan kebenaran. Tapi tetap… hasilnya tetap sama
Hampa.
Seolah-olah kedua bayi itu ditelan bumi.
Seolah-olah mereka tak pernah hadir ke dunia.
Tak ada tangisan pertama yang terdengar.
Tak ada foto yang sempat diabadikan.
Tak ada kenangan untuk dijadikan petunjuk.
Mereka lenyap... bahkan sebelum semesta sempat mengakui keberadaan mereka.
Hilang tanpa suara, dalam gelapnya malam yang membungkus rahasia kotor dan kekejaman tak terlihat.
Di ruang rumah sakit yang sunyi, hanya terdengar bunyi detak mesin penunjang hidup dan helaan napas berat. Seorang perempuan yang masih terlihat muda terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, jiwanya terguncang hebat oleh kehilangan yang terlalu besar untuk ditanggung seorang ibu.
Di sampingnya, berdiri seorang pria tua dengan sorot mata yang menyala penuh bara. Rahangnya mengeras. Genggaman tangannya mengepal kuat hingga jemarinya memutih.
"Siapa pun yang berani menyentuh cucuku... harus mati!" desisnya pelan tapi penuh kemarahan yang mendidih, suaranya menggema seperti kutukan yang keluar dari dasar neraka.
Ia menatap menantunya yang terbaring, anak perempuan yang ia anggap seperti darah dagingnya sendiri. Ia tahu, jika perempuan itu sadar, luka yang ia rasakan tidak akan pernah bisa sembuh. Tidak dengan waktu. Tidak dengan pengganti.
Tangannya bergetar saat menyentuh selimut sang menantu.
Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, selain bersumpah dalam hati
Akan kubakar dunia, jika itu satu-satunya cara untuk membawa cucuku kembali.