NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMARAH DAN SUMPAH BERDARAH

Suasana di dalam aula besar kediaman keluarga Zhao di Desa Qinghe malam itu terasa mencekam, lebih panas dari bara api yang menyala di tungku perapian. Langit-langit aula yang tinggi, yang biasanya melambangkan kemegahan dan otoritas, kini seolah-olah menekan siapa pun yang berada di bawahnya. Aroma hio yang membara di sudut-sudut ruangan tak mampu menenangkan saraf-saraf yang tegang; bau wangi itu justru terasa menyesakkan, bercampur dengan aura permusuhan yang pekat.

Zhao Chen—tunangan dari Lin Meili sekaligus tuan muda yang selama ini dikenal angkuh dan temperamental—berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terkurung dalam sangkar emas. Langkah kakinya yang berat berdentum di atas lantai marmer, menciptakan gema yang tidak menyenangkan. Wajahnya merah padam, menunjukkan gejolak emosi yang tak terkendali. Urat-urat di lehernya menonjol setiap kali ia mengembuskan napas kasar, seolah-olah ada api yang sedang membakar paru-parunya.

Di atas meja kayu cendana di sampingnya, sebuah cangkir porselen mahal buatan pengrajin kekaisaran sudah hancur berkeping-keping. Itu adalah hasil dari sabetan tangannya beberapa saat yang lalu, sebuah pelampiasan amarah yang tak tersalurkan.

"Sampah! Benar-benar sampah yang tidak tahu diuntung!" teriak Zhao Chen, suaranya menggelegar menghantam dinding aula yang tinggi hingga getarannya terasa sampai ke ruang pelayan.

"Bagaimana mungkin seorang asisten tabib rendahan, seorang bocah ingusan yang bahkan tidak bisa memegang pedang dengan benar seperti Fang Han, bisa mempermalukan tunanganku? Bagaimana mungkin dia membuat Zhao Chen, yang seharusnya memiliki kekuatan militer, lari tunggang langgang seperti anjing yang ekornya terjepit? Ini bukan hanya soal Zhao Chen, ini adalah penghinaan bagi seluruh nama besar keluarga Zhao yang aku sandang!"

Lin Meili, yang duduk di sudut ruangan di atas kursi jati yang diukir halus, hanya bisa merunduk. Matanya sembab, bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya yang kuyu. Keangkuhan yang ia tunjukkan di depan Fang Han di halaman rumah kayu itu kemarin telah menguap sepenuhnya, berganti dengan rasa malu yang membakar dan ketakutan yang dingin. Ia terus meremas sapu tangan sutranya hingga kain mahal itu kusut tak berbentuk.

"Zhao Chen... matanya... kau tidak melihat matanya saat itu," bisik Meili parau, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan aula.

"Dia bukan Fang Han yang dulu kita injak-injak seperti debu di jalanan. Matanya... matanya seperti iblis yang baru bangkit dari neraka terdalam. Dingin, gelap, dan mematikan. Dia menjatuhkan Zhao Chen tanpa menyentuhnya sama sekali. Hanya dengan sebuah tatapan, Zhao Chen! Aku takut... aku sangat takut dia menyimpan dendam yang sangat dalam pada kita semua atas apa yang kita lakukan padanya selama ini."

Zhao Chen berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah tunangannya dengan tatapan yang hampir sama tajamnya dengan pedang di pinggangnya.

"Takut?! Sejak kapan darah keluarga Zhao gemetar pada seorang pelayan toko obat yang bau belerang?!" Zhao Chen memukul meja lagi, kali ini kayu cendana yang keras itu mengeluarkan suara retakan yang nyata.

"Aku tidak peduli iblis apa yang merasukinya! Aku akan pergi ke sana sekarang juga! Aku akan menyeretnya keluar dari gubuk kotor itu, mematahkan kedua tangannya satu per satu, dan memastikan paman cacatnya itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keponakan kesayangannya mengemis nyawa di bawah telapak kakiku! Aku akan mencuci noda di namaku dengan darahnya!"

Konflik di Dalam Aula: Antara Amarah dan Logika

Tepat saat Zhao Chen hendak melangkah keluar dengan langkah penuh dendam sambil menghunus sedikit pedangnya yang berkilau di bawah cahaya obor, sebuah suara berat, parau, dan penuh wibawa menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu utama.

"Berhenti di sana, Chen-er! Duduklah dan gunakan otakmu, bukan hanya ototmu yang sedang panas itu!"

Itu adalah Tuan Zhao, kepala keluarga Zhao sekaligus ayah dari Zhao Chen. Ia duduk di kursi utama yang terletak di ujung aula, wajahnya tampak setenang telaga di musim dingin, namun di balik kerutan keningnya yang dalam, tersimpan kekhawatiran yang sangat besar. Ia adalah pria yang membangun kekayaan Zhao dari nol, dan ia tahu kapan harus menerjang serta kapan harus diam. Di sampingnya, Nyonya Zhao memegang lengan suaminya dengan jari-jari yang gemetar, wajahnya pucat pasi memandang putranya.

"Ayah! Kenapa kita harus menunggu dan membiarkan tikus itu merasa besar kepala?" Zhao Chen berbalik, matanya berkilat penuh amarah yang liar, menuntut jawaban yang memuaskan dahaganya akan pembalasan.

"Zhao Chen mungkin seorang pengecut karena dia tidak bersiap dan meremehkan lawan, tapi aku berbeda! Aku adalah tunangan Meili! Aku telah mencapai tahap Pembentukan Otot yang sempurna! Dengan sekali ayunan, aku bisa meremukkan tulang punggung Fang Han dalam satu tarikan napas! Biarkan aku menyelesaikannya malam ini juga!"

"Ini bukan soal kekuatan fisik semata, anak bodoh!" bentak Tuan Zhao, suaranya tidak keras namun penuh dengan otoritas yang membuat Zhao Chen terdiam.

"Apakah kau tidak menggunakan telingamu untuk mendengar apa yang dikatakan Tabib Lu di halaman tadi? Fang Zhou, paman si Fang Han itu, bukanlah orang sembarangan. Dia adalah mantan sersan berprestasi yang memiliki koneksi lama dengan petinggi militer di ibu kota. Jika kita bertindak gegabah tanpa rencana dan informasi itu benar adanya, kita bukan hanya berurusan dengan seorang asisten tabib miskin, tapi kita akan berhadapan langsung dengan hukum besi kekaisaran yang bisa meratakan rumah ini dalam semalam!"

"Persetan dengan hukum kekaisaran dan paman cacatnya itu!"

Suara lain yang kasar dan parau terdengar dari sisi kiri ruangan yang gelap. Itu adalah Sersan Hu, seorang pria bertubuh tegap dengan wajah yang dipenuhi bekas luka bakar mengerikan. Ia adalah mantan tentara yang memiliki dendam pribadi yang sangat berkarat dengan Paman Fang Zhou sejak bertahun-tahun yang lalu. Baginya, Fang Zhou adalah simbol kehancurannya.

"Tuan Zhao, kau terlalu berhati-hati seperti seorang pedagang kain yang takut rugi seratus koin. Sepuluh tahun yang lalu, Fang Zhou membuat kakiku pincang dan menghancurkan karier militerku hanya karena masalah sepele! Aku sudah menunggu saat ini tiba selama sepuluh tahun yang menyiksa. Jika kau tidak berani bergerak karena takut pada bayangan ibu kota yang jauh, biar orang-orangku yang menyelesaikan tugas ini dengan cara kami sendiri!"

Sersan Hu berdiri, tangan kanannya mencengkeram gagang belati bergerigi dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih.

"Aku setuju dengan Tuan Muda Zhao Chen. Fang Zhou hanyalah seekor harimau ompong yang sedang menunggu ajal sekarang. Dia sudah tua, lumpuh, dan tidak memiliki kekuatan lagi. Jika kita membungkam mereka di malam yang gelap tanpa bulan seperti ini, siapa yang akan tahu? Ibu kota itu berminggu-minggu perjalanan dari sini, Tuan Zhao. Tapi dendam di hati kami ini terasa sangat dekat, panas, dan mendesak untuk dituntaskan."

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!