Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keringat dan janji yang tertunaikan
Hari-hari berikutnya terasa seperti roda yang berputar sangat cepat dan melelahkan bagi Adel. Pagi buta ia sudah bangun, membantu ibunya, lalu berangkat sekolah dengan pikiran yang sudah terbagi dua. Di sekolah ia harus tetap fokus belajar dan tampak normal di depan teman-temannya, meski di dalam hati ia terus menghitung waktu kapan bel istirahat dan bel pulang berbunyi.
Begitu jam pelajaran selesai, teman-temannya mungkin bersantai, mengobrol, atau nongkrong di kantin. Namun bagi Adel, jam dua siang adalah saat dimulainya "shift" kedua dalam hidupnya. Ia harus segera berlari menuju Warung Bu Min sebelum jam makan siang para pekerja dan pedagang di sekitar sana usai, yang artinya tumpukan piring akan semakin banyak.
"Assalamualaikum, Bu Min!" sapanya terengah-engah saat sampai di warung.
"Waalaikumsalam. Wah, tepat waktu sekali kamu, Del. Yuk, masuk! Kerjaan sudah menumpuk seperti gunung di belakang. Hari ini pembelinya luar biasa banyak," seru Bu Min dari balik meja kasir.
"Iya, Bu! Sekarang saya kerjakan!"
Adel langsung masuk ke area dapur belakang yang sempit dan panas. Benar saja, bak cuci piring sudah penuh sesak dengan piring, mangkuk, gelas, dan panci bekas masak. Bau amis ikan dan bau minyak goreng yang sudah dingin bercampur menjadi satu, menusuk hidung.
Tanpa banyak bicara, Adel segera menggulung lengan seragamnya hingga ke siku. Tangannya yang kecil dan putih itu segera terbenam ke dalam air sabun yang keruh dan berminyak.
Crek... crek... crek...
Suara sikat bergesekan dengan piring terdengar tak henti-henti. Satu piring selesai, diletakkan di wadah bersih, lalu diambil piring lainnya lagi. Gerakan tangan Adel sudah terbiasa, cepat dan efisien. Namun, hari ini jumlah piringnya jauh lebih banyak dari biasanya. Jam menunjukkan pukul lima sore, tapi tumpukan itu belum juga habis.
"Wah, belum kelar juga nih, Del?" tanya Bu Min sambil mengintip ke belakang. "Gimana kalau kamu lembur aja ya? Nanti Ibu tambahin uang makan sama ongkos pulang. Soalnya besok pagi warung mau dibersihkan total, piring harus bersih semua malam ini."
Adel mengusap keringat yang menetes ke mata. Badannya sudah terasa pegal luar biasa, punggungnya rasanya kaku sekali karena membungkuk terus. Tapi saat mendengar kata 'tambah uang', matanya langsung berbinar.
"Boleh, Bu! Boleh banget! Adel kerjakan sampai habis kok!" jawabnya antusias.
Uang tambahan itu sangat berarti. Targetnya adalah seratus lima puluh ribu rupiah. Sampai hari ini, baru terkumpul seratus ribu. Masih kurang lima puluh ribu lagi. Jika ia lembur, mungkin malam ini juga uangnya akan lunas.
Matahari mulai terbenam, langit berubah menjadi gelap. Lampu bohlam kecil yang remang-remang di dapur belakang menjadi satu-satunya penerang bagi Adel. Suasana warung sudah mulai sepi, pembeli sudah pada pulang. Hening, hanya tersisa suara air yang mengalir dan suara sikatannya sendiri.
Perutnya mulai keroncongan hebat. Sejak pagi ia hanya makan bekal nasi dengan sedikit garam, karena tidak tega mengambil uang jajan dari ibunya. Rasa lapar dan lelah mulai menyerang syarafnya. Matanya terasa berat, kelopak mata seakan ingin tertutup sendiri.
"Ayo Adel, semangat... Cuma sedikit lagi..." batinnya menyemangati diri sendiri. Bayangan wajah Rina yang sinis dan ancaman untuk mengeluarkannya dari kelompok muncul di pikiran, lalu berganti dengan wajah ibunya yang tersenyum lelah.
Ia mengambil sedikit air minum dari galon untuk mengganjal perut, lalu kembali bekerja. Ia mencuci, membilas, dan menyusun piring-piring itu dengan rapi.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Akhirnya... tumpukan terakhir piring berhasil ia selesaikan. Lantai pun sudah ia sapu dan pel bersih agar tidak licin karena air dan minyak.
"Hufftt..." Adel duduk lemas di sebuah bangku kecil, napasnya terengah-engah. Tangannya keriput semua karena terlalu lama terendam air, bahkan terasa dingin dan kaku.
Bu Min keluar membawa sebuah bungkus nasi rames dan sebotol teh manis. "Nah, ini buat kamu. Makan dulu, pasti lapar banget ya."
"Makasih banyak, Bu," ucap Adel terharu. Ia langsung menyantap makanan itu dengan lahapnya. Itu terasa seperti makanan paling enak di dunia saat itu.
Setelah kenyang, Bu Min menghitung uang gaji. "Ini ya Del, gaji harian dua puluh ribu, tambahan lembur tiga puluh ribu. Total lima puluh ribu. Ambil ya."
Adel menerima uang itu dengan tangan gemetar. Lima lembar sepuluh ribuan.
"Alhamdulillah..." bisiknya lirih. Sekarang uangnya sudah lengkap! Seratus lima puluh ribu rupiah terkumpul sempurna berkat keringatnya sendiri selama seminggu ini bekerja keras.
"Makasih ya, Bu Min. Makasih banyak," ucapnya tulus.
"Iya sama-sama. Kamu anak rajin, Del. Hati-hati di jalan ya, sudah malam. Pakai uangnya buat keperluan yang penting ya," pesan Bu Min.
Adel mengangguk, lalu berjalan pulang dengan langkah yang berat namun hati yang sangat ringan. Bulan purnama menerangi jalan setapak yang ia lalui. Tas punggungnya terasa berat, tapi dompetnya kini terasa 'berisi' dan hatinya penuh bangga.
Sesampainya di rumah, suasana sudah gelap. Ayah dan Ibu pasti sudah tidur karena besok harus bangun pagi lagi bekerja. Adel membuka pintu pelan-pelan agar tidak berisik.
Namun, ternyata ibunya belum tidur. Bu Sari duduk di tepi ranjang, menunggu dengan wajah cemas.
"Adel?" panggil Bu Sari pelan.
"Ibu belum tidur, Bu?" tanya Adel kaget.
"Ibu tungguin kamu, Nak. Kemana aja sampai jam segini? Ibu khawatir banget. Kamu sakit atau kenapa? Wajahmu pucat sekali," Bu Sari langsung memegang pipi putrinya, merasakan suhu tubuhnya yang agak panas karena kelelahan.
Adel tersenyum lelah, lalu duduk di samping ibunya. "Adel lembur kerja di warung, Bu. Soalnya tumpukan piring banyak banget. Tapi alhamdulillah Bu..."
Adel mengeluarkan semua uang yang ia simpan di dalam buku catatan, lalu menyerahkannya pada ibunya.
"Ini Bu... Lihat. Uang seratus lima puluh ribu sudah lengkap. Adel dapat sendiri, nggak perlu ambil tabungan Ibu. Besok Adel bisa bayar iuran sekolah," katanya bangga.
Mata Bu Sari membelalak melihat uang itu, lalu menatap wajah putrinya yang penuh lelah namun bersinar. Air mata ibu itu langsung jatuh membasahi pipi.
"Ya Allah... Anakku... Kamu ini ya..." Bu Sari memeluk tubuh mungil Adel erat sekali. "Maafkan Ibu ya Nak... Ibu tidak bisa kasih kamu kemewahan, malah bikin kamu kerja keras begini. Lihat tanganmu..."
Bu Sari mengambil tangan Adel, meraba kulit yang kasar dan keriput karena air sabun dan sikat. Hati seorang ibu hancur melihat anak gadisnya harus mengalami ini.
"Nggak apa-apa, Bu. Asal Adel bisa sekolah, asal nilai Adel bagus, Adel rela. Adel nggak mau malu, Bu. Adel nggak mau dibilang nggak bisa bayar. Adel mau buktiin kalau Adel bisa mandiri," ucap Adel sambil membalas pelukan ibunya.
"Iya... Ibu tahu kamu anak hebat. Kamu anak kuat. Tidur ya, besok kan masih sekolah. Ibu pijitin dulu ya punggungmu," kata Bu Sari lembut, lalu mulai memijat bahu putrinya yang kaku.
Malam itu Adel tidur dengan sangat nyenyak, meski tubuhnya terasa remuk. Ia merasa damai karena masalahnya sudah teratasi.
Keesokan harinya, Adel berangkat sekolah dengan perasaan yang berbeda. Ada rasa percaya diri yang baru tumbuh di dadanya. Uang itu sudah ia lipat rapi di dalam saku roknya, terasa hangat dan menjadi bukti perjuangannya.
Di kelas, suasana terlihat tegang. Rina sedang sibuk mengumpulkan uang dari anggota kelompoknya. Wajahnya terlihat jutek, seolah menunggu waktu yang tepat untuk mempermalukan Adel.
"Oke, yang belum bayar angkat tangan! Nanti saya laporkan ke Bu Guru!" teriak Rina.
Semua teman sudah menyerahkan uangnya. Kini tinggal Adel yang belum maju. Rina langsung berjalan mendekati meja Adel dengan langkah yang angkuh.
"Gimana, Del? Uangnya ada gak sih? Jangan bilang kamu masih ngutang ya? Gue kasih waktu sampai jam sepuluh lho. Kalau nggak ada, mending lo keluar dari kelompok gue sekarang juga!" ucap Rina keras, membuat seluruh kelas menoleh ke arah mereka.
Beberapa siswa mulai tertawa dan berbisik. "Pasti nggak ada tuh..." "Malu-maluin..."
Adel menarik napas panjang. Ia tidak lagi menunduk seperti biasanya. Ia menatap mata Rina dengan tenang.
"Aku punya uang, Rin. Aku nggak mungkin ngutang," jawab Adel tenang.
Rina terkejut sedikit, tapi masih sinis. "Oh ya? Mana buktinya? Jangan-jangan uang palsu atau curi?"
Adel tidak mempedulikan hinaan itu. Ia perlahan mengeluarkan lipatan uang dari sakunya, lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan wajah Rina. Uang itu tersusun rapi, hasil keringatnya mencuci piring sampai lembur semalam.
"Ini, seratus lima puluh ribu. Hitung sendiri. Pas, kan?" kata Adel tegas.
Suasana kelas menjadi hening seketika. Rina membelalakkan mata, tidak menyangka gadis miskin itu benar-benar bisa mengeluarkan uang sebanyak itu. Ia mengambil uang itu dengan tangan gemetar, menghitungnya. Benar, jumlahnya pas.
"Siapa bilang aku nggak punya?" lanjut Adel dengan suara yang mulai meninggi, tapi tetap sopan. "Mungkin buat kamu uang ini gampang didapat, tinggal minta sama orang tua. Tapi buat aku, ini hasil keringat sendiri. Jadi tolong jangan meremehkan orang lain seenaknya."
Rina tersipu malu, wajahnya memerah padam karena malu dan kesal. "Halah, sombong banget. Udah sana duduk!" ketusnya lalu berbalik pergi meninggalkan meja Adel.
Adel tersenyum tipis. Ia tidak menang, tapi ia berhasil mempertahankan harga dirinya hari ini. Lina yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol lengan Adel pelan.
"Wih, keren banget lo Del! Berani banget lawan Rina! Dari mana lo dapat uang sebanyak itu?" tanya Lina berbisik heboh.
Adel hanya tersenyum misterius sambil menatap ke luar jendela. "Dari kerja keras, Lin. Semua hal indah butuh perjuangan, kan?"
Hati Adel terasa lega. Beban di pundaknya sudah hilang. Namun ia sadar, ini baru satu masalah selesai. Masih banyak rintangan lain yang menanti. Tapi ia yakin, selama ia mau bekerja keras dan berdoa, tidak ada yang tidak mungkin.
Ia akan terus berjuang. Untuk iuran sekolah ini, untuk masa depan, dan terutama untuk membuat kedua orang tuanya bangga kelak.