Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri?
Sah
Mata Rinjani terpejam, dadanya bergemuruh hebat mendengar teriakan beberapa saksi usai Ikhram mengucapkan ijab kabul. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya tetapi tidak kunjung beranjak melihat nenek Ira tampak tidak berdaya.
Rasanya Rinjani ingin memaki semua orang termasuk Ikhram yang menyetujui pernikahan konyol ini. Pernikahan yang dihadiri warga, padahal impian Rinjani jauh lebih besar.
Momen sekali seumur hidupnya berantakan hanya karena sebuah foto dan pikiran kolot orang kampung.
"Saya mau pulang!" Beranjak setelah semua orang pergi, tersisa nenek Ira dan orang tua Irham.
"Jangan bersikap seperti ini," lirih Ikhram meraih tangan Rinjani.
"Bersikap bagaimana? Haruskah saya bersandiwara? Terlihat bahagia dengan pernikahan konyol ini! Semua orang di sini tahu bahwa kita nggak saling mencintai Ikhram. Kita menikah karena desakan orang kampung!"
Rinjani melenggang, menyisakan nenek Ira di rumah kepala desa.
"Terimakasih banyak sudah setuju menikahkan mereka Hj."
"Haruski memang dikasih menikah Ikhram sama Jani Nak. Untuk meredam amarah warga dan untuk kebaikan kita."
"Maaf Hj." Ikhram menunduk, dia merasa bersalah sebab menghancurkan impian Rinjani. Memilikinya dengan cara yang salah.
"Demi kebaikan kita semua." Menepuk pundak Ikhram yang berlutut di depannya. "Ku tau sekaliki Nak, tidak mungkin nu lakukan hal seperti itu apalagi sama cucuku."
Ikhram semakin menunduk dan tidak ada yang tau ia menestakan air mata penyesalan. Bukan karena menikahi Rinjani, tapi menghancurkan segalanya.
Ia pamit ke kamar untuk menenangkan hati dan jam 9 malam dia menguatkan dirinya berkunjung ke rumah Hj Ira yang tepat berada di depan rumahnya.
"Kalau sampaiki di rumahnya hj Ira, janganki sekali-kali terpancing emosi Nak. Biarkanmi Rinjani marah-marah, sudah seharusnya dia marah."
"Iye Bu."
"Sekarang jadimaki suami orang Nak. Dewasaki berpikir nah. Kalau ambilki keputusan, pikirkan istrita lebih dulu." Kali ini pak Irwan angkat bicara.
Tidak tega rasanya melihat putra satu-satunya menikah dalam keadaan terdesak. Tapi ini satu-satunya jalan bijak sebagai kepala desa. Memberikan contoh yang baik untuk masyarakatnya.
Ikhram menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar Rinjani setelah dipersilahkan oleh nenek Ira.
Bantal yang mendarat di wajahnya adalah penyambutan pertama usai ia membuka pintu. Tatapan kebencian itu jelas menusuk hati paling dalamnya. Belum berhasil dia memenangkan hati Rinjani, kini malah bertambah tugasnya.
Ikhram meletakkan bantal itu di bibir ranjang. "Maaf."
"Kamu kira maafmu bisa mengembalikan keadaan?"
Ikhram mengeleng.
"Besok saya akan kembali ke kota, persetan dengan pernikahan konyol ini. Anggap saja nggak pernah terjadi apa-apa."
Lantas Ikhram mendongak, menatap wajah kesal Rinjani. Ini sudah diluar kendali.
"Kenapa? Nggak setuju?"
"Benar, saya nggak setuju dengan keputusanmu. Kamu harus tetap di desa ini bersama saya."
"Memangnya kamu siapa melarang saya?"
"Suami kamu."
"Saya membencimu Ikhram!" teriak Rinjani dan membungkus tubuhnya selimut.
Sikapnya saat sedang emosi tidak mencerminkan usianya yang beberapa hari lagi menginjak 28 tahu. Sejak dulu Rinjanin tidak pernah bisa mengendalikan emosi meledak-ledak dalam dirinya.
"Wajar jika kamu membenci saya Rinjani."
Ikhram mengambil bantal yang tadi dilempar oleh Rinjani, keluar kamar tanpa menimbulkan suara dan sialnya bertemu nenek Ira yang entah akan kemana.
"Mauko ke mana Ikhram?"
"Mauka tidur di sofa hj," ucapnya tergagap.
"Itumi tidak menikah-menikah Jani sampai sekarang, ka sering sekali marah-marah. Sabar-sabar ko nak, jangko tinggalkangi Jani kodong."
"Sebenarnya adaji memang rencanaku jodohkanko sama Jani Ikhram, tapi tiba-tiba ada masalah seperti ini."
Ikhram tersenyum. "Jangan maki khawatir Hj. Tidak bakal saya tinggalkan Jani. Biar marah-marah sampainya ketiduran tidak bakal kutinggalkangi cucuta hj."
"Masuk mako pale di kamar, jangko tidur di luar."
"It-itu ...." Ikhram mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pria itu mengigit bibirnya sambil bersandar pada daun pintu. Retinanya menyapu ranjang di mana Rinjani sudah terlelap.
Ia menghela napas panjang, meletakkan bantal sangat pelan dan berbaring di samping wanita itu. Sebisa mungkin tidak menimbulkan pergerakan.
.
.
.
Mau bahagia juga Ikhram senggang kalau gini🙈
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,