NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Almamater di balik noda

Perjalanan pulang menuju posko terasa jauh lebih panjang dibandingkan saat mereka berangkat tadi. Matahari sudah mulai turun, memancarkan rona jingga di ufuk barat dan memperpanjang bayangan dua belas mahasiswa yang berjalan beriringan di atas jalanan berbatu Desa Sukamukti.

​Di barisan paling belakang, langkah Kanaya perlahan mulai melambat. Setiap kali ia mengangkat kaki, rasanya begitu berat dan melelahkan. Perut bagian bawahnya juga mendadak terasa melilit dan kram. Kanaya mengernyit pelan, memegangi perutnya.

​"Aduh, jangan bilang kalau..." batin Kanaya panik. Ia baru sadar kalau hari ini memang sudah masuk siklus bulanannya. Sialnya, karena kesibukan hari pertama KKN, ia sampai sepenuhnya lupa.

​"Nay, lo kenapa? Muka lo pucat banget," bisik Lisa yang berjalan di sebelahnya, menyadari perubahan rona wajah sahabatnya.

​Sebelum Kanaya sempat menjawab, Lisa tidak sengaja melirik ke arah bawah. Matanya langsung membelalak sempurna demi melihat noda merah pekat yang mulai merembes dan mencoreng bagian belakang celana cutbray putih yang dikenakan Kanaya. Ukurannya sudah cukup besar dan akan sangat mencolok jika ada anggota lain yang menoleh ke belakang.

​"Astaga, Kanaya!" Lisa memekik tertahan dengan suara super pelan, langsung menarik lengan Kanaya agar mereka semakin tertinggal di belakang barisan. "Nay, lo tembus! Banyak banget di celana putih lo!"

​Kanaya seketika membeku. Rasa panik dan malu langsung menjalar hingga ke ubun-ubun. "Hah? Demi apa, Lis? Aduh, gimana dong? Aku nggak bawa pembalut atau baju ganti di tas ini," bisik Kanaya panik, air matanya hampir luruh karena membayangkan betapa malunya jika anggota kelompok lain—terutama para cowok dan Clarissa—sampai melihatnya.

​Di depan mereka, Arman yang sejak tadi memang selalu memosisikan diri tidak jauh dari Kanaya, mendengar bisikan panik kedua perempuan itu. Ia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Begitu melihat kepanikan di mata Kanaya dan arah pandang Lisa, Arman langsung paham apa yang sedang terjadi.

​Tanpa babibu dan tanpa memedulikan gengsinya, Arman bergerak dengan sangat sigap. Sambil berjalan mundur seteguk untuk menghalangi pandangan anggota lain dari arah depan, tangan kekarnya dengan cepat melepas kancing jaket almamater biru yang ia kenakan.

​Sret!

​Arman membentangkan almamaternya, lalu melangkah maju ke belakang tubuh Kanaya. Dengan gerakan yang luwes namun tegas, ia melingkarkan kedua lengan almamater itu di pinggang Kanaya, lalu mengikatnya dengan kuat di bagian depan. Jaket tebal itu kini menjuntai sempurna, menutupi seluruh bagian belakang celana putih Kanaya dari pinggang hingga ke paha.

​Kanaya tersentak, menatap Arman yang kini hanya mengenakan kaus oblong hitam polos. Jarak mereka begitu dekat hingga Kanaya bisa mencium aroma parfum maskulin Arman yang bercampur keringat tipis.

​"Pakai ini dulu, Nay. Tutupin bagian belakang lo," ujar Arman dengan suara rendah yang menenangkan, matanya menatap lekat seolah meyakinkan Kanaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jangan panik. Jalan di belakang gue, biar gue yang jagain dari depan."

​Kanaya hanya bisa mengangguk pelan dengan bibir bergetar, merasakan kehangatan almamater Arman yang kini melindunginya dari rasa malu yang teramat sangat.

Begitu kakinya melangkah melewati pintu posko, Kanaya langsung setengah berlari menuju kamar perempuan. Tanpa memedulikan tatapan bingung dari beberapa anggota yang ada di ruang tengah, ia menyambar tas kecil berisi pembalut dan baju ganti, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

​Di dalam kamar mandi yang sederhana itu, Kanaya menyandarkan punggungnya ke pintu sambil mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Jantungnya masih bertalu-talu. Jika bukan karena kesigapan Arman tadi, ia tidak tahu harus menaruh mukanya di mana di depan anak-anak KKN lainnya.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!