Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal
Waktu berputar begitu cepat ketika dilewati dalam kehangatan yang tak terduga. Jam di dinding ruang tamu utama kini telah menunjukkan pukul dua siang. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengobrol, tertawa, dan sesekali mengajari Chloe cara menikmati teh premium belanda, ketiga kakak perempuan Asher akhirnya harus menyudahi kunjungan mendadak mereka.
Bagaimanapun, mereka adalah pilar-pilar penting dalam dinasti bisnis global keluarga Sterling. Victoria harus segera terbang kembali ke London untuk memimpin rapat pemegang saham tahunan jaringan hotelnya, Cassandra dinantikan di Paris untuk pembukaan pameran seni spektakuler besok malam, sementara Eleanor dijadwalkan menghadiri konferensi pers yayasan kemanusiaannya di Jenewa.
"Sebenarnya kami masih ingin tinggal lebih lama dan menunggumu pulang bersama adik kaku itu," ujar Cassandra sembari merapikan mantel bulu hitamnya di depan pintu ganda mansion. Napasnya berembus pelan, menyiratkan sedikit kekecewaan. "Menunggu Asher adalah suatu hal yang penuh ketidakpastian. Kita semua tahu anak itu sama sekali tidak bisa ditebak. Dia bisa saja menghilang selama tiga hari berturut-turut di pelabuhan jika ada urusan organisasi, lalu muncul tiba-tiba di meja makan seolah tidak terjadi apa-apa."
"Itu benar," Victoria menimpali sembari memakai kacamata hitamnya yang elegan. "Bahkan sebagai kakaknya, kami tidak pernah bisa menebak isi kepalanya sejak dia mengambil alih takhta kepemimpinan keluarga. Dia bergerak seperti bayangan. Tapi ingat janjimu pada kami, Chloe. Begitu dia melangkah masuk ke rumah ini, pastikan dia memperlakukanmu layaknya seorang ratu. Jika tidak, satu pesan singkat darimu di grup kita akan membuat kami langsung membatalkan semua jadwal penerbangan kami."
Eleanor mendekat, memberikan pelukan hangat terakhir yang sangat erat kepada Chloe, menyalurkan rasa aman yang begitu tebal ke dalam hati gadis itu. "Jaga dirimu baik-baik, Mawar Kecil. Jangan biarkan tempat ini membuatmu merasa kecil. Kau adalah Nyonya Sterling sekarang."
Chloe melepas mereka bertiga pergi dengan senyuman tulus yang merekah di bibirnya. Dia berdiri di ambang pintu mansion mewah itu, melambaikan tangannya seiring dengan iring-iringan tiga mobil sedan mewah antipeluru yang membawa ketiga kakak iparnya menuju bandara privat kota. Angin siang bertiup lembut, memainkan ujung gaun rajut kremnya, meninggalkan keheningan yang perlahan-lahan kembali merayap menguasai mansion megah tersebut.
Setelah mobil-mobil itu menghilang di balik gerbang besi raksasa, Chloe kembali ke kamar utama di lantai dua. Suasana kamar kini terasa jauh lebih lapang setelah kehebohan pagi tadi. Bi Mirna telah memindahkan seluruh kotak hadiah dari Victoria, Cassandra, dan Eleanor ke dalam walk-in closet berukuran raksasa yang berada di sudut kamar.
Chloe melangkah masuk ke dalam ruangan pakaian itu, mendekati sebuah lemari kaca khusus bermaterial kayu mahoni yang kini didedikasikan untuk menyimpan barang-barang pribadinya. Di dalam salah satu rak tengah yang sejajar dengan dadanya, berjajar rapi tiga kotak hadiah eksklusif yang diterimanya beberapa jam lalu.
Chloe membuka pintu lemari kaca tersebut, jemari mungilnya perlahan menyentuh permukaan beludru hitam kotak perhiasan dari Victoria. Di sebelahnya, terletak kotak kayu cendana wangi berisi kartu hitam tanpa batas milik Eleanor, dan sebuah map kulit berisi dokumen serta kunci emas mobil sport mewah dari Cassandra.
Dia menatap kotak-kotak hadiah itu dengan pandangan yang sarat akan emosi yang campur aduk. Nilai dari ketiga barang di depannya ini jika dijumlahkan mungkin bisa membeli seluruh kompleks perumahan tempat dia tinggal dulu bersama mendiang ibunya. Kemewahan ini begitu nyata, begitu berkilau, dan kini sepenuhnya sah menjadi miliknya hanya karena sebuah status pernikahan di atas kertas kontrak.
Bagi orang awam, melihat isi lemari ini pasti akan mendatangkan rasa iri yang luar biasa. Namun bagi Chloe, barang-barang mewah ini terasa seperti rantai emas yang semakin mengikatnya ke dalam sangkar ini. Meskipun ketiga kakak Asher memberikan perlindungan dan kasih sayang yang luar biasa, kenyataan bahwa dia masuk ke tempat ini sebagai seorang tawanan yang dibeli karena utang judi ayahnya tetap tidak bisa dihapus dari sejarah hidupnya. Kemewahan ini adalah bukti nyata bahwa hidupnya telah berubah seratus delapan puluh derajat, terperangkap di dalam pusaran dunia hitam yang penuh dengan kemegahan palsu.
Ting!
Suara notifikasi yang nyaring dari ponsel pintar baru yang diberikan Cassandra semalam memecah lamunan Chloe. Gadis itu tersentak kecil, lalu meraba saku gaun kremnya dan mengeluarkan ponsel tersebut. Layar tipis itu menyala, menampilkan sebuah pesan baru di dalam grup obrolan yang baru saja dibuat beberapa jam lalu dengan nama grup yang menggelitik: "The Queens & The Rose".
Chloe menggeser layar untuk membuka pesan tersebut. Sesaat kemudian, matanya berbinar melihat kiriman sebuah foto dari Eleanor.
Foto itu adalah sebuah foto selfie mereka bertiga. Latar belakang foto itu menampilkan interior kabin pesawat jet pribadi keluarga Sterling yang luar biasa mewah, dengan kursi-kursi kulit berwarna putih gading dan dinding panel kayu bernuansa hangat. Di dalam foto, Victoria tampak duduk anggun sembari memegang segelas sampanye, memberikan senyuman tipis namun berwibawa ke arah kamera. Di sebelahnya, Cassandra dan Eleanor berpose sangat dekat dengan wajah yang ceria, membuat ekspresi konyol sembari mengacungkan jari membentuk tanda peace.
Di bawah foto tersebut, Eleanor menuliskan sebuah pesan singkat:
"Kami sudah berada di dalam pesawat pribadi dan siap lepas landas menuju tujuan masing-masing, Chloe sayang! Penerbangan ini akan memakan waktu beberapa jam. Ingat pesan kami, makan siangmu harus dihabiskan, dan jangan biarkan si beruang kutub Asher membuatmu merasa kesepian. We miss you already! 💖"
Melihat foto dan membaca pesan yang begitu hangat itu, seulas senyuman manis yang tulus tanpa sadar terukir di bibir Chloe. Dia menatap wajah-wajah ceria ketiga kakak iparnya di layar ponsel selama beberapa saat, merasakan getaran kebahagiaan yang samar mengalir ke dalam dadanya. Kehadiran mereka di dalam ponselnya terasa seperti sebuah tali penyelamat yang menghubungkannya dengan sisi dunia yang penuh dengan kasih sayang manusiawi, di tengah dinginnya dinding-dinding marmer mansion mafia ini.
Chloe dengan cepat mengetikkan balasan, memastikan dia terdengar ceria agar tidak membuat mereka khawatir di atas sana:
"Semoga penerbangannya menyenangkan dan aman sampai tujuan, Kak Victoria, Kak Cassandra, dan Kak Eleanor. Terima kasih banyak untuk hari ini dan semua hadiah indahnya. Aku akan mengingat semua pesan Kakak. Sampaikan salamku untuk perjalanan Kakak semua. 🥰"
Setelah menekan tombol kirim, Chloe menurunkan ponselnya, membiarkan lengannya tergantung lemas di sisi tubuhnya. Senyuman yang tadi merekah di bibirnya perlahan-lahan memudar, digantikan oleh helaian napas panjang yang sarat akan beban pikiran yang kembali memberat.
Dia melangkah keluar dari walk-in closet, berjalan perlahan menuju jendela kaca besar kamar utama yang menghadap langsung ke arah halaman depan mansion. Dari ketinggian lantai dua ini, halaman luas yang dikelilingi oleh barisan pohon cemara dan pos-pos penjagaan ketat tampak begitu sunyi. Penjaga-penjaga bertubuh kekar dengan setelan jas hitam tampak berpatroli dengan disiplin yang kaku di sekitar gerbang utama.
Chloe menyandarkan keningnya di atas permukaan kaca jendela yang dingin. Meskipun grup obrolan di ponselnya baru saja memberikan secercah keceriaan, namun di dalam relung hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan besar yang sejak subuh tadi tertahan kini kembali menyeruak naik ke permukaan akal sehatnya, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Ke mana sebenarnya Asher pergi?
Pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepala Chloe seperti gasing yang tidak bisa berhenti. Kemarin, pria itu berdiri di altar bersamanya, mengucap janji suci, mengecup bibirnya dengan klaim kepemilikan yang mutlak, dan semalam... pria itu hampir saja merenggut seluruh kesuciannya di atas ranjang ini jika bukan karena panggilan darurat dari Kenzo. Sikap lembut Asher yang menghapus riasannya dan menyelimutinya semalam masih menyisakan sensasi hangat yang membingungkan di kulit Chloe.
Namun sekarang, pria itu menghilang tanpa jejak. Menghilang ke dalam kegelapan dunianya sendiri, meninggalkan Chloe sendirian di dalam kamar pengantin raksasa ini tanpa kejelasan kapan dia akan kembali. Penjelasan Bi Mirna tentang "masalah mendesak di pelabuhan" justru membuat imajinasi Chloe berkelana ke tempat-tempat yang mengerikan. Apakah terjadi baku tembak? Apakah Asher sedang terluka? Ataukah pria itu sedang mengeksekusi musuh-musuhnya dengan kekejaman yang sama seperti saat dia mengancam dirinya di sel bawah tanah dulu?
Ketidakpastian tentang sosok Asher Sterling terasa jauh lebih mengintimidasi daripada kehadiran fisik pria itu sendiri. Asher adalah badai; dia bisa datang menghancurkan segalanya dalam sekejap, atau menghilang meninggalkan keheningan yang mencekam sebelum kembali membawa gelombang kehancuran yang lebih besar.
Chloe memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, meremas lengan gaun rajut kremnya seolah mencoba mencari kehangatan di tengah hawa dingin yang mendadak kembali menguasai kamar utama itu. Statusnya sebagai seorang istri penguasa bawah tanah kini menuntutnya untuk terbiasa dengan rasa cemas yang tak berujung ini—sebuah kehidupan penuh misteri di mana suaminya sendiri adalah teka-teki terbesar yang tidak akan pernah bisa dia pecahkan.