Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 (Lembaran Baru di Tepi Pantai)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya dari aroma obat-obatan rumah sakit yang mencekik Arsen, Elvara sedang duduk di atas hamparan pasir putih yang hangat. Kedua lututnya ditekuk, dipeluk erat ke dada sembari membiarkan angin laut yang kencang menerpa wajah dan menerbangkan anak rambutnya.
Suara deburan ombak yang bersahut-sahutan dan hamparan air laut yang membiru perlahan mulai mengikis sesak di dadanya. Di tempat sesunyi ini, ia tidak perlu berpura-pura kuat. Ia bebas membiarkan sisa-sisa air matanya mengering disapu angin sore. Elvara memejamkan mata, mencoba menikmati ketenangan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sejak badai rumah tangganya dimulai.
"Beautiful evening, isn't it?"
Sebuah suara berat bernada ramah tiba-tiba memecah keheningan.
Elvara tersentak, kelopak matanya langsung terbuka. Ia menoleh dan mendapati seorang pria asing—seorang bule bertubuh jangkung dengan rambut pirang dan mata hazel yang hangat—sedang berdiri beberapa langkah di sampingnya. Pria itu melempar senyum sopan, membawa sebuah papan seluncur di bawah lengannya.
Elvara buru-buru mengusap sudut matanya yang basah, mencoba bersikap senormal mungkin. "Uh, yeah. It is," jawabnya pendek, sedikit gugup karena tidak menyangka akan diajak bicara oleh orang asing.
Pria itu tampak menyadari mata sembab Elvara, namun dengan sopan ia tidak membahasnya. Ia menunjuk area pasir kosong di sebelah Elvara dengan isyarat matanya. "Mind if I sit here? The sunset looks best from this angle."
"Sure, go ahead," jawab Elvara ramah, menggeser duduknya sedikit untuk memberi ruang.
Pria itu meletakkan papan seluncurnya di pasir lalu duduk dengan santai, meluruskan kakinya yang panjang. "I'm Julian, by the way. I've been surfing here since corporate life almost drove me crazy back in Sydney," ujarnya terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
Elvara tersenyum tipis, merasa sedikit terhibur dengan seloroh pria itu. "I'm Elvara. And yeah... I think I'm here for the exact same reason. Escaping reality."
"Well, Elvara, you chose the perfect spot," kata Julian sembari menatap garis cakrawala yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. "The ocean has a funny way of washing away all the noise in your head. Whatever it is that brought you here, I hope you find your peace."
Mendengar ucapan tulus dari orang asing yang baru ditemuinya itu, dada Elvara mendadak menghangat. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari didera rasa sakit akibat kebohongan Arsen, ia merasa dihargai. Elvara kembali menatap laut luas di hadapannya, menyadari bahwa pelariannya ke pantai ini mungkin adalah awal dari keputusannya untuk benar-benar melepaskan masa lalu dan mulai menyembuhkan dirinya sendiri.
Julian menatap Elvara yang masih terdiam menatap ombak, lalu sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia bangkit berdiri, menepuk-nepuk pasir yang menempel di celananya, lalu mengulurkan tangan ke hadapan Elvara sembari tersenyum lebar.
"Hey, standing water is boring. Let’s go catch some waves! Come on, let's run to the shore," ajak Julian antusias.
Elvara mendongak, menatap uluran tangan Julian dengan ragu. Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum canggung. "Oh, no, thank you, Julian. I’ll just stay here. I don't really want to get my clothes wet."
"Oh, come on! Wet clothes can dry, but a missed sunset by the shore doesn't come back," bujuk Julian, matanya berbinar jenaka. "Just a little splash? It helps clear the mind, I promise."
Elvara sempat beralih menatap air laut yang bergulung lembut di tepi pantai, lalu kembali menatap wajah Julian yang begitu tulus mengajaknya. Entah mengapa, dinding pertahanan di hatinya perlahan runtuh. Ia lelah terus-menerus merasa sedih. Akhirnya, Elvara menyambut uluran tangan Julian dan ikut bangkit berdiri. "Okay, fine. Just a little bit!"
"That's the spirit! Run!" seru Julian.
Julian langsung menarik lembut tangan Elvara, membawa wanita itu berlari kecil menuju bibir pantai. Begitu kaki mereka menyentuh air laut yang dingin, Julian dengan jahil menyepak air menggunakan kakinya, membuat air laut tepercik ke arah Elvara.
"Hey! Julian, stop it!" pekik Elvara sambil tertawa, reflek menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Catch me if you can, El!" tantang Julian sembari tertawa lepas, berlari menghindar.
Merasa tertantang, Elvara membalas dengan menyiramkan air ke arah Julian menggunakan kedua telapak tangannya. "Oh, you're going to pay for this!"
Di bawah siraman cahaya senja yang mulai keemasan, keduanya saling berkejaran dan bermain air bak anak kecil. Suara tawa lepas Elvara mengudara, melebur bersama gemuruh ombak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terjebak dalam pernikahan yang dingin dan penuh kebohongan bersama Arsen, Elvara akhirnya bisa tertawa lepas tanpa beban, melupakan sejenak luka hatinya berkat kehadiran seorang pria asing bernama Julian.
Mereka terus bermain air dan tertawa bersama, larut dalam keseruan hingga tanpa sadar langit jingga telah sepenuhnya berganti menjadi gelap gulita. Malam telah tiba, dan udara laut yang tadinya hangat kini mulai terasa menusuk kulit.
Sadar waktu sudah malam, Julian menoleh ke sekeliling pantai yang kebetulan mulai didatangi oleh beberapa pengunjung lain yang ingin menikmati suasana malam. Pria asing itu kemudian menatap Elvara, lalu memegang lembut pergelangan tangannya.
"It's getting late and a bit crowded here. Let's go over there, it's quieter," ajak Julian dengan nada suara yang entah mengapa terdengar sedikit berbeda, lebih rendah dan dalam.
Elvara yang mengira Julian hanya ingin mencari tempat yang lebih tenang untuk mengobrol, mengangguk setuju. Mereka berjalan agak menjauh dari keramaian, menuju sudut pantai yang lebih gelap dan sepi, tersembunyi di balik bayangan tebing batu karang.
Namun, begitu mereka tiba di tempat yang sunyi itu, atmosfer di antara mereka mendadak berubah drastis.
Tanpa aba-aba, Julian tiba-tiba berbalik dan memojokkan tubuh Elvara ke dinding batu karang di belakangnya. Elvara tersentak kaget, napasnya tertahan saat melihat tatapan mata Julian yang kini tidak lagi memancarkan kehangatan ramah seperti tadi, melainkan tatapan penuh intensitas dan gairah.
Julian melangkah semakin dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Elvara bisa merasakan kehangatan napas pria itu. Tangan kekar Julian terangkat, membelai lembut pipi Elvara yang masih basah oleh air laut. Sementara itu, tangan Julian yang satunya lagi mendarat di pinggang ramping Elvara, mencengkeramnya pelan sebelum jemarinya mulai bergerak merayap naik ke atas punggungnya.
Jantung Elvara berdentum bertalu-talu karena terkejut. Sadar situasi ini sudah melangkah terlalu jauh, Elvara hendak bergerak mundur untuk menjauhkan diri. Namun, tubuhnya sama sekali tidak bisa berkutik, tertahan kokoh oleh kungkungan tubuh jangkung Julian dan dinding karang di belakangnya.
Julian menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Elvara. Dengan suara berat yang serak, ia berbisik langsung di samping ceruk leher wanita itu.
"You are so pretty... I like you," bisik Julian, aksen Sydney-nya terdengar begitu intim dan memikat.
Sebelum Elvara sempat mencerna kata-kata itu atau menyuarakan penolakannya, Julian langsung menarik dagu Elvara ke atas dan menangkup wajahnya. Tanpa memberi celah untuk protes, Julian langsung menunduk dan mencium bibir Elvara dengan dalam, menuntut egois di bawah kegelapan malam pantai yang sunyi.
Sentuhan bibir Julian yang menuntut seketika mengirimkan sengatan asing ke seluruh tubuh Elvara. Sialnya, di tengah rasa terkejutnya, pertahanan diri Elvara justru mulai goyah. Ciuman dari pria asing itu terasa begitu bergairah, begitu intens, membalut tubuhnya yang kedinginan oleh angin malam dengan kehangatan yang memabukkan.
Awalnya akal sehat Elvara berteriak untuk mendorong dada Julian menjauh.
Namun, tepat di detik berikutnya, bayangan wajah Arsen dan fakta pengkhianatannya bersama Vivian mendadak berputar kejam di benaknya. Rasa sakit hati, amarah yang membakar, dan rasa tidak dihargai sebagai seorang istri selama ini bergolak menjadi satu, berubah menjadi rasa frustrasi yang tak terkendali.
Kenapa aku harus menjaga kesetiaan untuk pria yang sudah menghancurkan hatiku? pikir Elvara pahit.
Logika Elvara lumpuh total, tertutup oleh kabut dendam yang pekat. Jika Arsen bisa tidur dengan wanita lain di belakangnya, maka Elvara merasa tidak ada masalah sama sekali jika saat ini ia ingin bermain-main juga dengan pria asing di depannya. Ia berhak untuk merasa diinginkan, berhak membalas rasa sakit yang ia terima.
Perlahan, jemari Elvara yang tadinya mengepal di dada Julian mulai melunak. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman panas itu, membalas lumatan Julian dengan keputusasaan yang liar. Malam itu, di bawah kegelapan pantai yang sunyi, Elvara memutuskan untuk membuang seluruh beban moralnya ke dalam laut, membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan Julian sebagai bentuk pelarian atas hancurnya rumah tangga yang ia miliki.
Julian perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menyisakan napas yang sama-sama memburu di antara jarak wajah yang begitu dekat. Sorot matanya yang tajam mengunci pandangan Elvara, seolah mencoba membaca apa yang ada di dalam benak wanita di hadapannya.
Dengan suara rendah yang sarat akan hasrat, Julian berbisik, "Would you... come and spend the night with me?"
Elvara terdiam membisu. Ia tahu persis makna di balik kalimat itu. Maksud dari tidur bersama bukanlah sekadar beristirahat biasa, melainkan mereka akan menghabiskan sisa malam ini dengan gairah yang bergejolak, menenggelamkan diri dalam keintiman yang liar untuk melupakan segalanya.
Elvara menatap dalam tepat di manik mata pria itu, mencari keraguan yang mungkin ada, namun ia hanya menemukan kepastian yang menanti jawabannya. Rasa sakit atas pengkhianatan Arsen kembali berbisik di telinganya, memantapkan keputusannya. Setelah beberapa detik keheningan yang mencekam, Elvara akhirnya mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan.
Melihat respons tersebut, seulas senyum tipis kepuasan terukir di wajah Julian. "You won't regret this, El," bisiknya lembut.
Tanpa membuang waktu lagi, Julian langsung menyelipkan kedua lengannya ke bawah tubuh Elvara, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah dalam gendongan bridal style. Elvara reflek mengalungkan kedua lengannya di leher Julian, menyembunyikan wajahnya yang menghangat di ceruk leher pria itu.
Julian membawa langkahnya dengan cepat keluar dari area karang, berjalan menuju sebuah hotel resor mewah yang terletak persis di pinggir pantai. Malam itu, Elvara benar-benar melangkah melewati batas yang pernah ia buat, membiarkan dirinya dibawa pergi menuju malam yang akan mengubah segalanya.
Bersambung…..