NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai

Malam semakin larut, namun kantuk enggan menyapa Arlan. Di kamar yang masih menyisakan aroma parfum soft floral milik mendiang istrinya, Arlan duduk bersandar pada kepala ranjang. Di tangannya, sebuah bingkai foto perak berkilau tertimpa cahaya lampu tidur yang temaram.

Dalam foto itu, Inggit tersenyum lebar dengan latar belakang taman bunga. Foto itu diambil tiga tahun lalu, saat wajahnya masih segar dan pipinya masih merona, sebelum kanker rahim menyerang dan merenggut segala keceriaannya secara perlahan.

Satu tetes air mata jatuh tepat di atas kaca bingkai itu. Arlan segera menghapusnya dengan jemari yang gemetar.

"Dia mau, sayang... Hana setuju menikah denganku, sesuai wasiatmu," bisik Arlan lirih. Suaranya pecah di tengah kesunyian kamar.

Arlan memeluk foto itu ke dadanya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

"Namun, apakah dia akan bahagia denganku? Apakah aku bisa menjadi pelindung yang baik seperti yang kamu minta? Dia masih sangat muda, Inggit... dia punya dunia yang seharusnya lebih ceria dari ini."

Pikiran Arlan melayang, terseret ke dalam lorong waktu beberapa bulan silam, saat Inggit pertama kali membawa "rekan bisnis spesialnya" ke rumah ini.

Flashback

"Loh, Pak Arlan?!"

Hana berdiri di ambang pintu ruang tamu dengan wajah terperangah. Ia masih mengenakan almamater kampus yang tersampir di lengannya. Wajahnya yang ceria tampak kaget melihat sosok pria yang biasanya ia temui di balik podium kelas kini berdiri di hadapannya tanpa setelan formal.

Inggit tertawa kecil melihat ekspresi mahasiswi suaminya itu.

"Iya, ini Mas Arlan, suami saya, Hana."

Hana mendadak salah tingkah.

"Loh, kalau gitu saya tidak boleh panggil Mbak Inggit lagi dong? Harus panggil Bu Inggit. Tidak sopan kalau panggil Mbak ke istri dosen sendiri... eh, maksud saya, Bu..."

Arlan tersenyum geli melihat kegugupan Hana.

"Panggil apa saja senyamannya kamu, Hana. Di luar kampus, saya bukan dosenmu."

"Tidak apa-apa, Han. Supaya saya merasa tetap muda walau umur sudah hampir kepala empat," canda Inggit sembari meletakkan piring berisi camilan di meja.

"Serius, Bu? Ibu tidak bercanda?" Hana melongo, menatap Inggit dari ujung rambut sampai ujung kaki. Inggit memiliki wajah yang sangat awet muda, kulitnya kencang dan gayanya modis. Hana bahkan sempat mengira Inggit hanya terpaut tiga atau empat tahun di atasnya.

"Iya, Hana. Bahkan saya lebih tua lima tahun dari Mas Arlan," tambah Inggit lagi dengan nada bangga.

Hana benar-benar terpelongo. Ekspresi kagetnya yang polos membuat Arlan dan Inggit tertawa serempak. Suasana rumah yang biasanya sunyi karena penyakit Inggit, mendadak terasa hidup karena kehadiran gadis itu.

"Jadi ini gadis kecil rekan bisnis baru kamu, sayang?" tanya Arlan sambil menatap istrinya.

Inggit mengangguk mantap, lalu merangkul bahu Hana dengan sayang.

"Hana ini bukan cuma cantik dan pintar, Mas. Dia itu cekatan, otaknya encer kalau soal pemasaran. Dan yang paling penting... dia itu ramai. Bisa membuat suasana tidak kaku. Aku merasa punya adik perempuan kalau ada dia."

"Aduh, Bu Inggit jangan memuji terus, saya jadi malu..." gumam Hana dengan pipi yang mulai memerah.

Sejak hari itu, panggilan "Mbak" berubah menjadi "Bu". Plot twist yang mengejutkan bagi Hana, namun menjadi awal dari kedekatan yang luar biasa. Di saat Siska, Romi, dan keluarga kandung Inggit lainnya hanya datang saat saldo rekening mereka menipis, Hana-lah yang ada di sana. Hana yang menemani Inggit check-up ke rumah sakit saat Arlan terbentur jadwal mengajar. Hana yang membawakan makanan favorit Inggit saat seleranya hilang karena kemoterapi.

Flashback End

Arlan menghela napas panjang, kembali ke kenyataan pahit di kamar yang sepi.

"Apa mungkin inilah alasan kamu membekukan semua uangmu, sayang? Karena kamu tahu, hanya wasiat ini yang bisa membuat keluarga serakahmu itu diam?" gumam Arlan pada foto di depannya.

Ia tersadar akan sesuatu. Inggit adalah wanita yang sangat visioner. Ia sengaja menaruh banyak aset atas nama Arlan dan membuat syarat pernikahan yang rumit.

"Kamu tahu mereka tidak akan peduli padaku atau pada Hana jika tidak ada iming-iming harta itu. Kamu ingin melindungiku, dan kamu ingin aku melindungi Hana..."

Arlan memejamkan mata rapat-rapat. Kini ia mengerti, wasiat ini bukan sekadar permintaan egois seorang wanita yang sekarat. Ini adalah strategi pertahanan terakhir dari seorang Inggit untuk memastikan dua orang yang paling ia cintai tidak hancur di tangan keluarganya sendiri.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!