NovelToon NovelToon
Kesempatan Dari Sistem

Kesempatan Dari Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XX—Aridius

Cahaya keemasan dari partikel jasad Garlak yang perlahan menguap ke udara memberikan penerangan terakhir sebelum aula singgasana itu kembali ke keadaan aslinya. Jay menghirup napas panjang, merasakan paru-parunya terisi udara yang kini terasa lebih murni meski tetap membawa aroma debu kuno dan sisa pembakaran mana. Kegelapan absolut yang tadi mencekiknya, efek dari manipulasi skill Abyssal Silence milik Garlak, kini telah sirna sepenuhnya.

Suasana di sekelilingnya memang masih gelap, namun bukan lagi kegelapan yang "buta" dan menindas. Mata Jay yang telah beradaptasi kini bisa menangkap detail arsitektur kuno yang luar biasa; pilar-pilar batu raksasa yang retak, lantai marmer hitam yang hancur berkeping-keping, dan langit-langit gua yang tinggi di mana kristal mana kecil berpendar redup seperti bintang-bintang yang sekarat.

Jay bangkit berdiri dengan perlahan. Ia sempat bersiap untuk merasakan rasa sakit yang meremukkan semua tulangnya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Tubuhnya terasa seringan bulu, namun memiliki kepadatan otot yang jauh lebih solid dari sebelumnya. Efek regenerasi dari kenaikan level instan setelah membunuh bos dungeon telah bekerja secara ajaib. Luka-luka dalam dan kelelahan mentalnya seolah terbasuh bersih.

“Status,” gumam Jay. Suaranya kini terdengar berat dan penuh wibawa, tidak ada lagi nada keputusasaan di sana.

Layar hologram biru yang jernih muncul di hadapannya, memecah kesunyian ruangan dengan pendaran cahayanya.

...----------------...

...[NOTIFIKASI SISTEM]...

...STATUS...

...Nama: Artha Jayendra...

...Level: 15...

...Job: Assasin & Mage...

...EXP: 0 / 145...

...HP: 224...

...MP: 47...

...STAT...

...Strength: 25...

...Agility: 15...

...Vitality: 20...

...Intelligence: 25...

...Luck: 31...

...Stat Point: 20...

...SKILL...

...Mirror Of Ability (Legendary)...

...Abyssal Silence (Epic)...

...Elemental Overlord (Epic)...

...Phantom Reaction (Rare)...

...Shadow Step (Rare)...

...Instinct Combat (Common)...

...----------------...

Jay menatap statistik itu dengan mata yang dingin. Ia tahu bahwa di dunia baru yang bajingan ini, angka adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa.

“Asha,” panggil Jay dalam hati.

“Saya di sini, Tuan. Fungsi sistem telah pulih sepenuhnya dan siap melayani Anda,” jawab suara jernih itu.

“Aku punya 20 poin. Alokasikan 6 poin ke Agility. Aku menyadari satu hal saat melawan Garlak, jika aku tidak bisa menyentuh musuh atau menghindari serangan mereka, kekuatan sebesar apa pun akan sia-sia. Masukkan 4 poin sisanya ke Strength. Aku ingin setiap ayunan sejataku terasa oleh musuh. Dan yang terakhir untuk sisanya pastinya Luck.”

...----------------...

...[Alokasi Berhasil Dilakukan]...

...STAT...

...Strength: 25\=\=>29...

...Agility: 15...

...Vitality: 20\=\=>26...

...Intelligence: 25...

...Luck: 31\=\=>36...

...Stat Point: 0...

...----------------...

Seketika, Jay merasakan aliran energi panas yang merambat dari tulang belakang menuju ke seluruh ujung sarafnya. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan murni yang berdenyut di bawah kulitnya. Ia meraih Vorpal Abyssal Axe yang tergeletak di sampingnya. Begitu kulitnya menyentuh gagang logam dingin itu, sebuah sinkronisasi aneh terjadi. Kapak raksasa yang tampak sangat berat itu kini terasa seperti ekstensi dari lengannya sendiri.

Ia melakukan satu tebasan horizontal ke udara kosong. ZUT! Tidak ada suara angin yang terbelah. Benar-benar nol desibel. Kapak itu secara harfiah “memakan” suara gesekan udara, membuktikan kemampuan Sound Eater yang dimilikinya. Jay menyeringai senang.

“Asha,” Jay kembali berbicara sambil memasukan kapak tersebut ke dalam inventory. “Sebelumnya analisismu terganggu oleh Garlak. Sekarang, berikan aku gambaran penuh. Tempat apa ini sebenarnya? Mengapa rasanya sangat luas meski kita baru di lantai pertama?”

“Menganalisis ulang struktur dimensi... Berhasil,” sahut Asha. Di sudut penglihatan Jay, muncul sebuah peta vertikal tiga dimensi yang rumit. “Sebelumnya, Abyssal Silence milik Garlak menciptakan interferensi energi tingkat tinggi yang mengaburkan sensor sistem. Namun dengan kematiannya, kegelapan itu telah sirna sepenuhnya.”

Asha menjeda sejenak, memberikan visualisasi sepuluh kotak yang tersusun ke bawah tanah. “Tuan, Anda saat ini berada di dalam The Deca-Layer of Ancient Wrath, Sepuluh Lapis Kemurkaan Kuno. Ini adalah dungeon tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh radar manusia di luar sana.”

“Sepuluh lapis kemurkaan... nama yang sangat dramatis ya…,” Jay menyeringai tipis. “Jadi, sesuai namanya, ada sepuluh lantai?”

“Benar, Tuan. Dan ada satu hal yang harus Anda pahami. Dungeon ini tidak mengikuti hukum logika dungeon biasa di mana lantai awal terasa mudah. Setiap lantai di sini memiliki tingkat bahaya yang setara namun dengan jenis ancaman yang berbeda. Jika lantai pertama adalah ujian kekuatan mental melawan seorang Orc dalam kegelapan, lantai-lantai berikutnya akan menguji ketahanan fisik, kecepatan, dan kemampuan adaptasi Anda terhadap elemen-elemen ekstrem. Tidak ada lantai yang mudah di sini. Semuanya mematikan.”

Jay mengangguk pelan, ia mulai melangkah menyusuri aula menuju lorong gelap di belakang singgasana Garlak yang telah hancur. “Jadi, setiap lantai adalah neraka dengan rasa yang berbeda. Aku mengerti sekarang.” Ia tersenyum puas “memang itulah yang aku cari selama ini…”

Langkah kaki Jay kini benar-benar senyap. Berkat Agility-nya yang tinggi dan efek skil pasifnya, ia bergerak seperti hantu yang meluncur di atas lantai batu. Suasana dungeon kini terasa jauh lebih megah. Tanpa tekanan skill Garlak, Jay bisa melihat dinding-dinding lorong yang dihiasi relief kuno tentang peperangan para malaikat dan para iblis masa lampau.

“Asha, apa yang menungguku di bawah sana? Aku bisa merasakan suhu udara menurun begitu drastis.”

“Saya mendeteksi kepadatan energi Necrotic yang sangat pekat di lantai kedua, Tuan. Jika lantai pertama adalah dunia makhluk hidup yang brutal, lantai kedua adalah wilayah bagi mereka yang sudah lama mati namun menolak untuk beristirahat. Saya menyarankan kewaspadaan tingkat tinggi, karena jumlah musuh di sana diprediksi mencapai ribuan.”

“Ribuan?” Jay berhenti sejenak di depan sebuah tangga spiral besar yang menukik tajam ke bawah. “Sepertinya ini akan menjadi latihan yang bagus untuk menguji stat baruku...”

Jay menuruni tangga itu secara perlahan. Semakin dalam ia melangkah, cahaya kristal mana yang sebelumnya biru berubah menjadi ungu kemerahan yang redup. Suara tetesan air yang jatuh ke lantai batu bergema pelan, namun selain itu, kesunyian di sini terasa sangat berat, seolah-olah udara itu sendiri memiliki berat berton-ton.

Hingga akhirnya, Jay tiba di dasar tangga. Di depannya terbentang sebuah gerbang besi raksasa yang dipenuhi karat dan dililit oleh rantai-rantai yang memancarkan aura yang begitu dingin. Jay bisa mendengar suara sayup-sayup dari balik gerbang. Suara tulang yang saling bergesekan, derap kaki yang tidak beraturan, dan erangan hampa tanpa napas.

“Asha, buka pintunya menggunakan Ancient Dungeon Key yang ada di Inventory,” perintah Jay dingin.

“Siap Tuan. Membuka... Lantai 2: The Bone Graveyard.”

...----------------...

...[BERHASIL]...

...Pintu Lantai 2 : The Bone Graveyard Terbuka...

...----------------...

KREEEEKKKK...

Pintu besi itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang memilukan. Di hadapan Jay, sebuah pemandangan mengerikan terbentang. Itu bukan lagi sebuah ruangan biasa, melainkan sebuah ruangan singgasana luas di bawah tanah yang sejauh mata memandang dipenuhi oleh tumpukan tulang belulang manusia.

Tiba-tiba, ribuan api ungu menyala secara serentak di dalam rongga mata tengkorak-tengkorak tersebut. KRAK! KRAK! KRAK! Bunyi tulang yang bersatu kembali memenuhi udara. Ribuan kerangka bangkit, menggenggam pedang karatan dan perisai hancur, menatap ke arah pintu masuk dengan kebencian abadi.

“Tuan, terdeteksi sekitar 1.500 unit Skeleton Warrior tingkat rendah, 150 unit Skeleton Knight tingkat menengah, dan di pusat area...” Asha menjeda. “Terdapat satu entitas dengan tingkat energi yang sangat besar. The Skeleton King. Aridius.”

Di tengah lautan tulang itu, sebuah singgasana raksasa yang terbuat dari ribuan tengkorak berdiri tegak. Di atasnya duduk sesosok kerangka setinggi 2 meter lebih, mengenakan jubah merah yang sudah koyak dan mahkota campuran emas dan zamrud berduri yang telah menghitam. Ia memegang sebuah greatsword yang memancarkan api ungu dingin.

Sang Raja Skeleton mengangkat pedangnya, menunjuk tepat ke arah Jay. Seluruh pasukan kerangka itu serentak maju, menciptakan gelombang putih tulang yang mengerikan.

Jay tidak mundur satu langkah pun. Ia justru dengan tangan kanan menghunuskan Goblin King's Blade. Matanya yang sayu kini berkilat dengan kegilaan yang tenang.

“Ribuan tulang hidup, ya?” Jay bergumam pada dirinya sendiri. “Asha, jangan biarkan sistem notifikasi menggangguku kecuali ada ancaman fatal. Aku ingin menikmati tarian ini.”

“Dimengerti, Tuan. Memulai mode tempur sunyi.”

Jay melesat. Dengan stat Agility-nya yang telah ia tingatkan dan dengan skill Shadow Step, ia tidak lagi berlari seperti manusia biasa. Ia tampak seperti kilatan hitam yang membelah lautan tulang. Dalam sekejap, ia sudah berada di tengah-tengah pasukan kerangka.

Tebasan pertamanya dengan Goblin King's Blade yang di aliri elemen petir, berdampak luar biasa. Sepuluh skeleton hancur menjadi serpihan debu hanya dalam satu ayunan horizontal.

Jay berputar, menebas, dan menusuk dengan presisi yang mengerikan. Setiap gerakannya efisien, setiap serangannya mematikan. Di bawah langit-langit lantai kedua yang gelap, Jay mulai menuliskan babak baru perjalanannya dengan tinta darahnya dan tulang milik para skeleton.

1
ラマSkuy
Hem ini latar ceritanya tentang apocalypse monster ya kayak komik solo leveling, keren Thor 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!