Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Hais! Sial... Panas... Hush!" ucap Hendrick sambil mengusap Joni miliknya.
Di dalam kamar mandi, dia membuka celananya. Wajahnya masih terlihat sangat jelas sambil terus menggerutu.
Hendrick membuka seluruh celananya termasuk CD yang dia pakai. Tiba-tiba!
Bruk!
Seseorang membuka pintu kamar mandi dengan terburu-buru. Membuat Hendrick terkejut saat itu.
"He-yah! Sial...! Pak Toni! Buat ku ku kaget saja!" ujarnya, sambil menutupi Joni dengan celana yang dia lepas.
Pak Toni yang tiba-tiba sembelit segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan Hendrick.
"Minggir kamu!" Ucap pak Toni langsung masuk ke dalam toilet. "Brak!".
Hendrick memakai kembali celananya. Dan kembali ke ruangannya. Dia tampak kesal harus memakai celana yang basah.
Jihan melihat Hendrick yang baru saja kembali dari kamar mandi langsung menanyakan apakah dia baik-baik saja.
"Sayang... Kamu tidak apa-apa?" Ujarnya berpura-pura peduli.
"Tidak apa-apa! Sayang... Aku tidak apa-apa, untung saja aku yang kena, coba kalo kamu yang kena...!" Ucap Hendrick.
Hendrick kemudian duduk di sebelah Jihan. Dia membisikan sesuatu di telinga Jihan.
"Sayang... Aku bisa pinjam uang mu...?" Bisik nya pelan di telinga Jihan. "Aku akan membeli saham, setelah saham ku naik kita akan kaya!".
Tepat seperti perkiraan Jihan. Sama seperti sebelumnya, dia meminjam uang kepada Jihan, dan membeli banyak saham. Jihan yang saat itu percaya kepada Hendrick memberikan semua uangnya kepada Hendrick.
"Dulu aku terlalu bodoh karena sudah mempercayai perkataan mu! "Ujar Jihan dalam hati.
Jihan sudah tahu bahwa perusahaan itu akan bangkrut. Seluruh uangnya di bawa kabur dan saham dan saham itu tidak lagi berharga.
"Maaf sayang! Aku tidak punya uang saat ini. Seluruh uang ku sudah aku daftarkan asuransi" jawab Jihan.
"Hais! Sayang, kamu bodoh apa gimana? Buat apa kamu daftar asuransi, lagi pula itu tidak bisa kamu nikmati sekarang!" Ucap Hendrick sedikit kesal.
"Buat apa? Kamu mengambil uang asuransi ku untuk membeli sebuah villa dan bersenang-senang bersama Regina..." Gumam Jihan dalam hati.
Hendrick kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan saham yang dia beli naik dengan pesat dalam semalam.
"Lihat sayang! Baru semalam saham yang aku beli sudah naik drastis dalam semalam" ujar Hendrick dengan tegas, menunjukan data saham yang dia miliki.
"Bagaimana jika kamu ambil lagi saja uang mu itu sekarang..." Tambah Hendrick.
"Terus saja habiskan uang mu itu, tidak akan lama lagi kamu akan menangis darah karena semua uang mu akan lenyap" ujar Jihan tersenyum tipis.
Jihan tahu bahwa Hendrick tidak akan mudah mempercayai ucapan nya. Jihan kemudian mengatakan bahwa uang itu tidak bisa dia ambil sekarang.
"Maaf sayang! aku tidak bisa mengambil nya sekarang, tunggu sampai 6 bulan, jika tidak uang ku, tidak akan kembali" ucap Jihan secara tegas.
Hendrick merasa bahwa Jihan sangat bodoh, seharusnya dia bertanya kepada dirinya saat itu, menurutnya Jihan menyia-nyiakan kesempatan yang berharga saat itu.
"Sudah-sudah... Lain kali kamu harus bertanya dulu kepada ku...!" Ujar Hendrick, kemudian berdiri dan kembali ke meja kerjanya.
Regina kemudian kembali ke kantor. Dirinya saat itu keluar untuk membeli celana untuk Hendrick. Dia kemudian pergi menghampiri Hendrick dan memberikan celana yang dia beli.
"Kak Hendrick!" Panggil Regina pelan.
"Ia... Ada apa Regina?" Jawab Hendrick, melihat sebuah bingkisan yang di pegang oleh Regina.
Regina menyerahkan bingkisan yang berisi celana yang baru saja dia beli untuk Hendrick.
"Kak...! Ini untuk mu, maaf ya! Aku tadi benar-benar tidak sengaja menumpahkan kopi di celana mu!" Ucap Regina pelan, sambil menundukkan wajahnya.
Tangannya menyodorkan bingkisan itu. Hendrick kemudian mengambil dan membukanya. Hendrick melihat di dalam bingkisan itu ada sebuah celana yang masih baru.
"Apa ini...?" Ujar Hendrick kemudian membuka dan melihat celana di dalamnya.
"Itu celana... Aku baru saja membelinya!" Ucap Regina.
"Regina! Kamu tidak usah repot-repot, lagi pula aku tidak apa-apa!" Ujar Hendrick.
Hendrick kemudian membuka dan melihat celana yang di belikan oleh Regina. Saat itu Regina membelikan celana panjang dan sedikit bermerek dan harganya lumayan lebih mahal dari celana panjang biasa.
"Regina, pasti harganya sangat mahal...?" Ucap Hendrick sedikit bertanya, saat melihat merek celana yang di belikan oleh Regina.
Regina sebenarnya sengaja membelikan yang lebih mahal agar menarik perhatian Hendrick. Seolah-olah dirinya lebih baik dari pada Jihan.
"Tidak kok kak! Ini aku belikan sebagai ucapan minta maaf ku sama kak Hendrick..." Ujar Regina, dirinya kemudian sedikit memalingkan wajahnya melihat kearah Jihan.
"Jihan tunggu saja aku pasti akan merebut Hendrick dari mu...!" Ujarnya dalam hati.
Saat itu Jihan melihat Regina yang bersama dengan Hendrick, walaupun sebenarnya Jihan masih memiliki perasaan terhadap Hendrick.
Namun perasaan sakit dan kecewa yang sangat besar terhadap mereka yang sudah mengkhianati dirinya. Membuat Jihan tidak bisa melupakan rasa sakit di dalam hatinya.
"Bagus Regina! Teruslah berusaha untuk mendapatkan hatinya... Aku rela kamu mengambil sampah itu dari ku" ucap Jihan dalam hati.
Dirinya terus memperhatikan keduanya. Namun yang tidak mereka sadari bahwa direktur Hans saat itu memperhatikan mereka bertiga.
Di ruangannya dia melihat cctv, sambil terus berfikir apa yang terjadi kepada mereka bertiga. Mengapa Jihan dan Regina tampak ada yang mengganjal di antara keduanya.
"Jihan... Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, kamu tidak seperti sebelumnya?" Gumam direktur Hans. Matanya terus memperhatikan layar cctv.
Di mejanya, Jihan kembali menyusun rencananya, yaitu proposal MBG. Dirinya tidak ingin proposal yang dia buat jatuh ke tangan Regina.
Jihan memperhatikan sekelilingnya, mencari siapa orang yang tepat dia ajak untuk mengembangkan proposal miliknya.
Saat itu kebetulan Bu Reni lewat di depannya. Jihan akhirnya menemukan orang yang cocok berkerja sama dengannya.
"Benar! Bu Reni, asisten pak Toni! Dia adalah orang yang cocok untuk mengembangkan proposal ini... Karena dia pantas di bandingkan pak Toni..." Ucap Jihan dengan pelan.
Jihan tahu bahwa pak Toni yang sekarang menjadi atasannya, dia yang mencuri ide dari Bu Reni, lalu dirinya akhirnya di angkat menjadi manajer utama divisi 1 sedangkan Bu Reni menjadi asistennya sama seperti dirinya.
"Kali ini aku akan membantunya dan menjatuhkan pak Toni" ucap Jihan dengan penuh tekad.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ