NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 18

Pagi itu, langit di atas barak Eldersheath tampak mendung, seolah-olah awan sendiri enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di lapangan latihan.

Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan besi tua.

Ratusan kadet sudah berdiri dalam barisan yang sangat rapi—hasil dari penempaan tiga bulan yang brutal.

Namun, kerapian fisik mereka tidak mencerminkan kekacauan yang ada di dalam pikiran mereka.

Sambil menunggu kedatangan Gilios, bisikan-bisikan cemas mulai menjalar di antara barisan.

"Apa kau pikir syaratnya adalah duel satu lawan satu?" tanya seorang kadet dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang pinggiran seragamnya.

"Jika itu duel, kita pasti akan hancur melawan Leo atau Clara."

"Bukan, itu terlalu biasa," sahut kadet lain dari keluarga cabang, suaranya bergetar karena kurang tidur.

"Dugaanku, kita akan dikirim ke hutan belakang untuk berburu monster sendirian. Instrukur Gilios adalah mantan tentara bayaran kelas atas, dia pasti ingin melihat apakah kita bisa membunuh atau tidak. Aku dengar di angkatan ayahku, mereka harus membawa kepala serigala hutan sebagai bukti lulus."

"Atau mungkin tes kapasitas mana?" timpal yang lain dengan nada skeptis.

"Tapi bukankah itu sudah dilakukan saat upacara? Aku lebih takut jika syaratnya adalah bertahan hidup di dalam ruangan tanpa makan dan minum selama tiga hari. Gilios kan benci melihat kita beristirahat."

Ilwa berdiri di tengah-tengah mereka, diam seribu bahasa.

Matanya yang abu-abu menatap lurus ke arah panggung instruktur yang masih kosong.

Ia tidak ikut berspekulasi. Baginya, menebak-nebak adalah tanda kelemahan mental.

Ia hanya mengatur napasnya, merasakan setiap denyut jantungnya yang kini jauh lebih tenang daripada tiga bulan lalu.

*Srak... srak...*

Suara langkah kaki yang berat dan mantap terdengar dari arah gedung utama. Gilios muncul, mengenakan jubah instruktur hitamnya yang berkibar tertiup angin.

Di belakangnya, Aris berjalan dengan santai, namun wajahnya kali ini tidak menunjukkan senyum jenaka seperti biasanya.

Ada keseriusan yang mematikan di mata kedua veteran itu.

Gilios berhenti tepat di depan barisan.

Ia menyapu pandangannya ke arah wajah-wajah muda di depannya—wajah-anak-anak yang telah ia siksa secara fisik selama sembilan puluh hari terakhir.

"Dengarkan baik-baik, para sampah yang mulai mengeras!" suara Gilios menggelegar, membuat beberapa kadet tersentak.

"Hari ini adalah hari penentuan. Kemarin aku menjanjikan sebuah syarat untuk kalian bisa keluar dari neraka ini. Dan sekarang, aku akan memberitahukannya."

Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Bahkan suara napas pun seolah-olah tertahan di tenggorokan masing-masing kadet.

"Syaratnya sederhana dalam kata, namun mustahil dalam pelaksanaan bagi mereka yang berhati pengecut," Gilios menyeringai dingin. "Kalian hanya perlu berdiri di tempat kalian sekarang... dan **bertahan dari tekanan Aura Mana milikku**."

---

Kata-kata itu menghantam para kadet seperti badai salju.

Bertahan dari Aura Mana seorang pria yang seorang mercenary Itu bukan sekadar ujian, itu adalah percobaan pembunuhan secara mental.

Dalam dunia kekuatan mana, **Aura Mana** atau **Mana Pressure** adalah manifestasi dari keberadaan jiwa dan kekuatan seseorang yang dipaksakan keluar ke lingkungan sekitar. Ini bukan sihir yang memiliki bentuk seperti api atau es, melainkan "berat" dari eksistensi itu sendiri.

Seorang ksatria tingkat tinggi seperti Gilios mampu melakukan apa yang disebut sebagai **Mana Leakage Control**—membocorkan auranya secara sengaja untuk menciptakan medan gravitasi semu yang menyerang langsung ke saraf pusat lawan.

**Fase Dominasi:** Korban akan merasa seolah-olah udara di sekitar mereka berubah menjadi cairan timah yang panas. Oksigen terasa hilang, dan paru-paru akan terasa terjepit oleh tangan-tangan tak kasat mata.

**Fase Teror Jiwa:** Aura mana yang sangat padat mampu mengirimkan "niat membunuh" (*Killing Intent*) secara langsung ke otak. Hal ini memicu insting purba manusia untuk lari atau mati. Bagi mereka yang mentalnya lemah, jantung mereka bisa berhenti berdetak hanya karena ketakutan yang luar biasa.

**Fase Penghancuran Sirkuit:** Jika tekanan terlalu kuat, mana milik korban akan mulai bergejolak di dalam tubuh mereka sendiri, mencoba melawan tekanan dari luar, yang justru bisa mengakibatkan kerusakan internal pada jalur mana (sirkuit) mereka.

---

"Siapa pun yang tetap berdiri tegak sampai aku berhenti, kalian boleh pulang ke rumah kalian hari ini dengan kepala tegak," lanjut Gilios dengan nada yang semakin dingin.

"Bagi yang pingsan atau berlutut, kalian juga boleh pulang... namun kalian akan dinyatakan **GAGAL** dalam pelatihan ini dan nama kalian akan dicoret dari daftar ksatria potensial keluarga."

Gilios melangkah satu langkah lebih maju, dan aura di sekitarnya mulai bergetar secara visual. "Dan satu hal lagi. Jangan mengira ini adalah akhir. Latihan tiga bulan kemarin hanyalah pemanasan fisik untuk membuang lemak-lemak bangsawan kalian. Ini adalah **Seleksi Kualifikasi**. Siapa pun yang bertahan dari auraku hari ini, akan dinyatakan lolos dan secara resmi akan diundang kembali untuk mengikuti **Training Ksatria Inti** yang akan diadakan lima tahun lagi, saat tubuh kalian sudah cukup matang untuk menerima ilmu pedang yang sebenarnya."

Mendengar kata "lima tahun lagi", banyak kadet yang bergidik. Ternyata ini semua hanyalah saringan untuk memisahkan gandum dari sekam.

"Bersiaplah..." Gilios merendahkan suaranya, namun tekanan yang memancar darinya mulai membuat debu di bawah kakinya terbang berputar.

"Jangan salahkan aku jika jiwa kalian hancur hari ini. Di barakku, hanya mereka yang memiliki kemauan baja yang berhak memegang pedang!"

Aris yang berdiri di belakang Gilios hanya melirik ke arah Ilwa, bertanya-tanya dalam hati: "Bocah, apakah tubuhmu yang penuh belenggu itu bisa menahan beban keberadaan seorang monster seperti Gilios? Ataukah kau akan menjadi orang pertama yang berlutut?"

Ilwa menatap Gilios dengan mata yang tak berkedip.

Ia merasaka kulitnya mulai merinding. Ia tahu betul apa yang akan datang.

Ini bukan sekadar tekanan mana; ini adalah ujian bagi jiwanya. Ia mengepalkan tangannya, membiarkan kalung ibunya terasa dingin di balik seragamnya.

"Datanglah," bisik Ilwa sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun.

Seketika, Gilios melepaskan kekuatannya. Udara di lapangan barak itu seolah-olah meledak dalam keheningan yang menyesakkan, memulai ujian paling mengerikan yang pernah dialami oleh anak-anak berusia delapan tahun tersebut.

Latihan fisik selama tiga bulan hanyalah permulaan, dan kini, di bawah tekanan aura sang legenda yang sekarat,

Ilwa harus membuktikan apakah dia masih memiliki kebanggaan seorang penguasa masa lalu, ataukah dia hanyalah seorang anak yang terbelenggu oleh takdir barunya.

Di tengah lapangan yang membeku oleh ketakutan, badai mana yang sebenarnya baru saja dimulai.

------

Udara di lapangan barak Eldersheath mendadak berhenti mengalir.

Sekon berikutnya, dunia seolah runtuh menimpa pundak para kadet.

Gilios tidak lagi menahan diri; ia melepas katup sirkuit mananya, dan gelombang energi murni yang berwarna abu-abu pekat meledak keluar dari tubuhnya, menyapu seluruh lapangan seperti tsunami yang tak kasat mata namun terasa sangat nyata.

Hal pertama yang dirasakan oleh para kadet adalah bobot udara yang mendadak berubah menjadi ribuan ton timah cair.

Tekanan itu tidak hanya menekan kulit mereka, tetapi menembus hingga ke sumsum tulang.

Suara *gedebuk* terdengar beruntun; dalam lima detik pertama, hampir sepertiga dari jumlah kadet langsung pingsan dengan mata putih yang mendelik ke atas.

Otak mereka mematikan kesadaran secara paksa karena tidak sanggup memproses intensitas keberadaan Gilios.

Bagi mereka yang masih sadar, rasa sakitnya jauh lebih buruk.

Aura mana Gilios bekerja seperti ribuan jarum yang dipanaskan, menusuk ke setiap pori-pori kulit dan mencoba merobek sirkuit mana internal para kadet.

Dada mereka terasa seperti dijepit oleh catut raksasa, membuat setiap upaya untuk menarik napas menjadi perjuangan antara hidup dan mati.

Oksigen seolah menghilang, digantikan oleh aroma besi dan kematian yang menyesakkan.

Rasa sakit itu tidak berhenti di sana.

Aura tersebut memiliki frekuensi yang menggetarkan organ dalam.

Lambung mereka mual, penglihatan mulai berbayang merah, dan sendi-sendi mereka berderak keras di bawah beban gravitasi semu yang diciptakan oleh sang legenda.

-------

Di tengah badai energi tersebut, Ilwa berada dalam kondisi yang paling kritis. *Brukk!* Kedua lututnya menghantam tanah dengan keras.

Wajahnya yang biasanya tenang kini memucat hingga seputih kertas, dan keringat dingin mengucur deras membasahi seragam latihannya.

Bagi Ilwa, serangan ini bukan sekadar tekanan luar.

Tekanan aura Gilios memicu reaksi berantai pada penyakit **Aura-Lock** di dalam tubuhnya.

Belenggu mana yang menyumbat sirkuitnya mendadak bergetar hebat, mencoba "mengunci" lebih keras untuk melindungi inti mana Ilwa dari serangan eksternal. Akibatnya, terjadi benturan energi yang dahsyat di dalam dadanya.

"Ugh... kkkkhhh!" Ilwa mencengkeram dadanya dengan jari-jari yang memutih. Rasanya seperti ada tangan raksasa yang sedang meremas jantungnya, lalu menyuntikkan lava panas ke dalam pembuluh darahnya.

Penyakit itu kambuh dengan intensitas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali ia mencoba mengatur napas, rasa sakit yang menusuk-nusuk membuat penglihatannya menjadi gelap sesaat.

Namun, di tengah siksaan itu, insting Albus di dalam dirinya menyadari sesuatu.

"Aura ini... ini bukan sekadar tekanan ksatria..." Ilwa mendongak dengan susah payah, menatap siluet Gilios yang tampak seperti iblis di tengah kabut mana.

'Haus darah ini... sangat tajam dan kotor. Ini adalah 'Killing Intent' milik seorang Mercenary." Ilwa sangat mengenal perbedaan ini.

Aura ksatria biasanya terasa megah, teratur, dan menekan secara otoriter. Namun, aura Mercenary—tentara bayaran—terasa seperti pisau berkarat yang haus akan leher korban. Aura ini tidak mengenal kehormatan;

ia hanya mengenal cara tercepat untuk membuat lawan menyerah atau mati.

Tekad membunuh yang begitu pekat ini hanya bisa didapat dari ribuan medan perang yang tidak tercatat dalam buku sejarah.

------

Menit demi menit berlalu seperti keabadian. Dari ratusan kadet, kini hanya tersisa sekitar tiga puluh orang yang masih berjuang di atas kaki atau lutut mereka.

**Leo** terlihat sangat menderita; wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol keluar, dan pedang kayunya ia gunakan sebagai tumpuan agar tidak jatuh sepenuhnya.

Ia gemetar hebat, harga dirinya sebagai pemilik bakat ganda adalah satu-satunya hal yang mencegahnya untuk tidak pingsan di depan "si anak cacat".

Ilwa merasa kesadarannya mulai di ujung tanduk.

Tubuhnya yang mungil sudah mencapai batas absolut. Jika ia terus membiarkan aura Gilios menekan sirkuitnya yang terbelenggu, penyakitnya akan benar-benar menghancurkan jantungnya sebelum ujian ini berakhir.

"Gilios tidak melarang penggunaan sihir... dia hanya menyuruh kami bertahan,* pikir Ilwa dengan sisa-sisa kesadarannya. *Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku mati di sini, semuanya berakhir.*

Ilwa memejamkan matanya.

Di dalam kegelapan batinnya, ia menarik sedikit sisa energi dari inti mananya yang terdalam—bagian yang tidak tersentuh oleh *Aura-Lock*.

Ia merapalkan mantra dalam pikirannya, sebuah teknik menengah yang dulu ia gunakan untuk menembus badai sihir di medan perang.

"**Mana-Shell: Blue Veil!**"

*Wuuush!*

Seketika, sebuah pendaran cahaya biru safir tipis meledak dari tubuh Ilwa, menyelimuti permukaan kulitnya dalam radius beberapa sentimeter.

Cahaya biru itu bergerak berputar, menciptakan penghalang magnetis yang membelokkan tekanan aura Gilios ke samping.

Tiba-tiba, beban di pundak Ilwa terasa sedikit berkurang.

Rasa sesak di dadanya melandai, meskipun rasa sakit akibat penyakitnya masih berdenyut di dalam.

Ia akhirnya bisa mengangkat kepalanya dan menarik napas panjang, meskipun tubuhnya masih terasa sangat lemah.

Teknik **Blue Veil** miliknya bertindak sebagai isolator, menciptakan ruang hampa mana di sekitar tubuhnya sehingga tekanan Gilios tidak lagi bisa menyentuh saraf-sarafnya secara langsung.

--------

Di atas podium, Gilios yang tadinya menatap datar dengan tangan bersedekap, mendadak tersentak.

Matanya yang tajam melebar saat melihat pendaran biru di tengah-tengah kerumunan kadet yang sekarat.

Ia menurunkan tangannya, mencondongkan tubuh ke depan untuk memastikan apa yang ia lihat.

Aris yang berdiri di sampingnya bahkan sampai menjatuhkan lenteranya yang sudah padam.

"Itu... tidak mungkin," bisik Aris dengan suara parau. "Teknik **Blue Veil**? Bagaimana mungkin seorang bocah berumur delapan tahun bisa merapal sihir perlindungan sirkuit tingkat menengah tanpa menggunakan mantra suara?"

Gilios tidak menyahut, namun rahangnya mengeras.

Ia menatap Ilwa yang kini perlahan-lahan mulai bisa berlutut dengan satu kaki dengan tegak, dilindungi oleh selubung biru yang tipis namun sangat kokoh.

"Bocah itu..." Gilios bergumam rendah, ada kilat kekaguman sekaligus kengerian di matanya.

"Dia bukan hanya bertahan... dia sedang menantang auraku dengan sihirnya sendiri."

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti lapangan, namun kali ini fokus Gilios dan Aris sepenuhnya tertuju pada Ilwa.

Sang Omni-Overlord baru saja menunjukkan taring kecilnya, dan bagi dua veteran yang tahu tentang sejarah kekuatan, pendaran biru itu adalah tanda bahwa badai besar yang mereka bicarakan di pondok kayu sebulan lalu, kini benar-benar telah bangun.

Bersambung....

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!