menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Botol Yakult Bertemu Tiang Gapura
"Mau jam berapa berangkatnya Nak Zein?" tanya Emak dari balik pintu. Zein langsung turun dari bed, tangannya membuka pintu. Sedangkan Salwa hanya duduk di atas bed.
Bab 04
"Salwa, kamu mandi dulu. Nak Zein mau bawa pindah kamu hari ini."
"Kayaknya Dek Salwa masih betah, nginep lagi di sini beberapa malam Mak. Nanti Zein jemput pas libur."
"Eeeeeh, enggak gitu. Salwa yang nurut, besok-besok kalau Nak Zein libur main lagi ke sini, nginep. Sekarang berangkat aja, soalnya kalau ditanya betah, ya pasti betah. Siapa yang gak betah coba di rumah orang tua, pasti pada betah. Ayo, biar Emak rapikan bajunya. Kasihan Nak Zein, masa tidur sendirian."
"Nak Zein, maafkan Salwa ya, jika nanti malah merepotkan Nak Zein."
"Enggak kok, Mak." Zein tersenyum teduh.
"Ya udaaah, Salwa mandi dulu." Bibir Salwa mengerucut.
"Lagian, di siniteh yang anak kandung siapa... yang jadi menantu siapa. Kenapa Emak malah lebih sayang sama Pak Zein sih," ucap Salwa dengan lirih saat melewati tubuh tinggi itu.
Zein menahan senyumnya saat mendengar ucapan wanita halalnya.
***
Kini, tangan Salwa telah melingkar di perut ratanya Zein. Bahkan, lingkaran itu semakin kencang dibuatnya. Karena, berkali-kali motor yang mereka kendarai seperti mau jatuh. Untung saja tenaga lelaki itu masih bisa menguasai motor gedenya.
Konsentrasi Zein pun sedikit terganggu, saat tangan mungil Salwa melingkar di perutnya yang rata dengan erat. Sehingga melahirkan sebuah perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya Zein rasakan. Sebuah rasa yang sangat sulit ia jelaskan. Namun, mampu ia rasakan. Zein tersenyum tipis di balik maskernya.
"Dek, takut?" tanya Zein seraya memelankan laju mesin motornya. Desa Ciaren, telah mereka lewati. Kini, menuju jalanan yang mulus bagaikan biji nangka itu.
"I---iyalah Pak, takut meninggal muda," jawab Salwa langsung melepaskan pelukannya.
"Kenapa pelukannya dilepas, Dek Sal? Enggak apa-apa, saya suka, kok," ucap Zein dengan senyum manisnya yang tertutup masker itu.
"Hilih! Nyari-nyari kesempatan dalam kesempitan!"
Zein menahan tawanya dari balik masker.
"Gimana, capek enggak?"
"Enggak, Pak."
"Kalau capek, kita istirahat dulu. Mau jajan enggak?" tanya Zein semakin memelankan laju roda duanya.
"Tuh... di depan banyak yang jualan makanan," lanjut Zein seraya melihat-lihat para pedagang yang berjejer rapi di samping jalanan.
"Biasanya perempuan itu suka jajan, kan?"
Mendengar pertanyaan Zein, Salwa sedikit terkikik.
"Bukan perempuan saja, saya juga sama," jelas Zein seraya mematikan mesin motornya di depan Albimart. Mereka pun langsung turun.
"Mau ikut enggak? Atau, mau nunggu di sini?"
"Di sini saja."
"Adek, mau jajanan apa?"
"Enggak usah, Pak."
"Kenapa? Malu? Enggak usah malu. Kan, sekarang saya suaminya Dek Salwa," jelas Zein seraya menaik-turunkan kedua alisnya, membuat Salwa menahan senyum melihat tingkahnya.
"Ya udah, terserah Pak Zein aja."
Tubuh kokoh itu sudah tak terlihat, seiring berjalannya yang semakin masuk menuju Albimart. Sedangkan Ana, ia hanya duduk di kursi yang telah disediakan.
"Ini, Dek." Zein sedikit mengagetkan Salwa.
Jajanan mulai dari yang manis sampai yang asin gurih, juga beberapa botol minuman ia simpan di samping Salwa.
"Ini juga." Lelaki bertubuh tinggi itu menyodorkan sebuah ice cream.
"Biasanya, perempuan suka ice cream," jelas Zein seraya membuka maskernya. Memperlihatkan senyum manisnya yang melebihi kembang gula, kedua manik itu bertemu. Zein menatap Salwa dengan tatapan yang berbeda, membuat Salwa sedikit salah tingkah.
"Pak Zein, kok enggak beli ice cream?" tanya Salwa mengalihkan perhatiannya Zein.
"Enggak, saya kurang suka ice cream," jawab Zein dengan manik yang menatap Salwa sejak tadi. Kali ini Salwa hanya bisa menunduk seraya menikmati ice creamnya.
"Gimana, mau lagi ice creamnya?"
"Sudah cukup, Pak."
"Atau, mau makan? Pecel ayam, nasi kucing, bakso ... masih banyak yang lainnya juga. Mau?"
"Lha, emangnya Salwa kucing?" Manik itu kembali bertemu.
Zein tertawa kecil.
"Eh! Kucing itu emang imut, kan? Emang Pak Zein baru sadar? Perasaan, Salwa sudah imut deh sejak masih jadi muridnya Pak Zein."
Zein menjawil hidung Salwa seraya menahan senyumnya.
"Iiiih!" Salwa mengerucutkan bibirnya.