Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Guguran Daun Ginkgo
Sinar matahari sore yang hangat menerobos celah-celah daun pohon ginkgo, menciptakan pola cahaya keemasan di wajah Geneviève. Ia berdiri dengan sangat tenang, membiarkan jemari Eisérre merapikan syal wol yang melilit lehernya. Sentuhan itu sangat hati-hati, seolah Eisérre sedang menyentuh kelopak bunga yang paling rapuh.
Eisérre mengabaikan segalanya—dia mengabaikan bayangan neneknya di balkon, mengabaikan kecemburuan Belle yang meluap, bahkan mengabaikan tumpukan dokumen militer di markas. Baginya, pusat semesta saat ini hanyalah gadis di depannya.
Namun, pertanyaan polos Geneviève tadi seolah menjadi belati kecil yang menusuk egonya.
"Seorang kakak?" Eisérre mengulang kata itu dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti gumaman pada diri sendiri.
Ia menghentikan gerakan tangannya di kerah baju Geneviève. Matanya yang sebiru danau malam menatap dalam ke manik mata cokelat Geneviève yang jernih. Ada kilat kekecewaan yang sangat tipis di sana, namun segera ia tutupi dengan ketenangan yang luar biasa.
"Kenapa kau berpikir begitu, Ève?" tanya Eisérre lembut. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekat hingga Geneviève bisa mencium aroma kayu cendana dan dinginnya sisa hujan dari tubuh pria itu.
Geneviève mengerjapkan mata, sedikit bingung dengan perubahan nada suara Eisérre. "Karena... kau melindungiku. Kau sangat sabar menghadapiku yang tidak ingat apa-apa ini. Rasanya sangat aman, seperti... seperti aku punya seseorang yang bisa kuandalkan sepenuhnya, seperti seorang kakak laki-laki yang hebat."
Eisérre terdiam cukup lama. Ia meraih helai rambut cokelat Geneviève yang tertiup angin, menyelipkannya dengan sangat perlahan ke belakang telinga gadis itu. Jarinya sempat membelai pipi Geneviève—sebuah sentuhan yang jauh dari kata 'kakak'.
"Dengar, Ève," ucap Eisérre, kini suaranya terdengar lebih dalam dan penuh penekanan. "Aku melakukan semua ini bukan karena aku ingin menjadi saudaramu. Aku merawatmu karena aku memang ingin kau tetap di sini, di bawah pengawasanku. Hanya aku."
Geneviève tersipu, rona merah di pipinya kini lebih pekat dari sebelumnya. "Tapi... aku merasa sangat kecil jika dibandingkan denganmu, Jenderal. Kau begitu besar, begitu berkuasa. Sedangkan aku..."
"Sedangkan kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Jenderal ini tidak ingin pergi ke medan perang," sela Eisérre cepat.
Ia kemudian memetik setangkai bunga lili putih yang masih memiliki bulir air di atasnya. Dengan gerakan yang sangat manis, ia tidak hanya menyelipkannya di rambut Geneviève, tapi ia juga menunduk dan mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut dan lama. Sebuah ciuman yang sarat akan janji pelindungan, namun juga kepemilikan.
Geneviève mematung, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebaikan seorang pelindung, tapi ingatannya yang kosong membuatnya sulit memahami perasaan itu. Ia hanya bisa tersenyum kecil, merasa sangat hangat di tengah taman yang mulai mendingin.
Eisérre menarik tubuh Geneviève, menariknya ke dalam pelukan yang hangat sambil matanya melirik tajam ke arah balkon istana utama. Ia tahu Belle dan neneknya sedang menonton, tapi ia justru mempererat pelukannya, seolah ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa gadis ini adalah miliknya—dan tak ada yang boleh menyentuhnya. Dan menuntunnya berjalan lebih dalam ke arah taman labirin yang lebih sunyi, membiarkan dunia luar dan segala tatapan benci di balkon istana menjadi kabur dan tak berarti.
"Ayo," bisik Eisérre, suaranya kembali lembut. "Udara mulai dingin. Mari kita jalan-jalan sebentar lagi ke arah danau, lalu aku akan mengantarmu pulang."