NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 11

Sinta membelai permukaan kulit jaket yang mulai pecah-pecah dimakan usia. Jaket itu masih menyimpan aroma samar oli mesin dan debu aspal—bau yang sangat "Aryo". Di kejauhan, kubah transparan Astra Mawar berpendar kebiruan, membiaskan cahaya Matahari yang memantul dari permukaan Bumi.

"Ibu ingat saat Ayahmu pertama kali memodifikasi motor ini?" Sinta bertanya tanpa menoleh. "Dia bilang, besi tua ini punya jiwa. Jika kita merawatnya, dia akan menjaga kita melintasi badai apa pun. Dia tidak pernah bercanda soal itu."

Laras mendekat, jemarinya menyentuh chip enkripsi di lehernya yang kini berdenyut pelan, selaras dengan frekuensi Arca di bawah kaki mereka. "Ayah tidak hanya menjaga kita melintasi badai, Bu. Dia menghentikan badai itu dengan tangannya sendiri."

Aan muncul dari balik pilar observasi. Tubuhnya yang kini lebih banyak mekanik daripada organik membuat langkahnya nyaris tanpa suara. "Sinyal EMP dari ledakan itu masih bergema di atmosfer Bumi. Mereka sedang dalam kegelapan total. Tanpa satelit, tanpa komunikasi digital, tanpa sensor perang. Untuk pertama kalinya dalam satu abad, manusia di bawah sana dipaksa untuk saling menatap wajah satu sama lain, bukan layar."

"Berapa lama mereka punya waktu?" tanya Laras.

"Dua puluh empat jam sebelum sistem cadangan mereka pulih," jawab Aan. "Tapi itu cukup untuk membuat konsorsium itu goyah. Mereka kehilangan kendali atas populasi yang selama ini mereka setir dengan algoritma."

Laras menghela napas panjang. Ia melihat ke bawah, ke arah titik-titik cahaya yang mulai padam di belahan Bumi yang gelap. "Kita punya teknologi yang mereka inginkan, kita punya energi yang bisa menyelamatkan mereka, tapi kita ada di sini, di tempat yang tidak bisa mereka jangkau."

"Itu sebabnya Ayahmu memilih ini," sela Sinta tegas. "Bukan untuk menyembunyikan harapan, tapi untuk melindunginya sampai dunia di bawah sana siap untuk berbagi, bukan menguasai. Arca ini bukan milik kita, Laras. Kita hanya perawatnya sampai manusia belajar cara mencintai Bumi lagi tanpa harus menghisap darahnya sampai kering."

Tiba-tiba, sebuah notifikasi holografik muncul di depan Laras. Bukan dari sistem kota, melainkan dari sisa-sisa transmisi yang tertangkap oleh antena luar angkasa Astra Mawar. Sebuah pesan teks singkat, terenkripsi dengan kode jalanan yang hanya diketahui oleh kelompok Mawar Hitam.

“Mawar masih tumbuh di sela trotoar. Kami menunggu instruksi.” — Dio.

Laras tersenyum tipis. Ternyata tidak semua orang di bawah sana menyerah. Masih ada akar-akar kecil yang bertahan di tengah keruntuhan teknologi itu.

"Ayah tidak meninggalkan mereka sendirian," bisik Laras. "Dia meninggalkan Dio. Dia meninggalkan keberanian jalanan di sana."

Ia berbalik, menatap Sinta dan Aan dengan sorot mata yang kini lebih tajam, lebih dewasa. "Bu, Paman... kita tidak bisa hanya bersembunyi di sini. Jika Astra Mawar adalah benteng, maka kita butuh jembatan. Bukan jembatan fisik, tapi jembatan frekuensi. Kita akan mulai mengirimkan data cara mengolah energi bersih secara anonim ke seluruh pemukiman rakyat jelata di bawah sana."

Sinta mengangguk pelan, memberikan restu yang tak terucapkan.

Laras berjalan menuju konsol utama, membelakangi patung perunggu ayahnya. Di layar monitor besar, koordinat Bumi terkunci. "Mulai protokol 'Hujan Mawar'. Kirimkan cetak biru teknologi Arca tahap satu ke setiap server warga yang masih berfungsi. Biarkan mereka membangun masa depan mereka sendiri tanpa butuh konsorsium."

Di luar kubah, bintang-bintang tampak lebih terang dari biasanya. Dan di kejauhan, di atas permukaan bulan yang sunyi, bayangan seorang pria tua dengan jaket kulit seolah-olah sedang mengawasi dari balik cakrawala, memastikan bahwa taman yang baru ini akan tumbuh lebih indah dari yang pernah ada sebelumnya.

Dunia lama mungkin sedang tertidur dalam kegelapan, namun di atas sana, peradaban baru baru saja terbangun.

Laras menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara hasil daur ulang Arca yang sejuk memenuhi paru-parunya. Jemarinya mulai menari di atas panel kontrol transparan, memanggil ribuan baris kode yang selama ini terkunci dalam enkripsi ayahnya.

"Aan, sinkronkan frekuensi kita dengan pemancar radio amatir di seluruh benua," perintah Laras. "Gunakan protokol 'Lonceng Tengah Malam'. Kita tidak akan melewati satelit pemerintah. Kita akan masuk melalui jaringan listrik bawah tanah yang masih menyimpan sisa induksi EMP Ayah."

Aan mengangguk, matanya berpendar perak saat ia melakukan deep-link dengan sistem pusat. "Selesai. Jalur terbuka. Tapi Laras, jika kita melakukan ini, Leviathan akan mendeteksi asal sinyal kita dalam hitungan jam. Mereka akan tahu Astra Mawar tidak hancur, melainkan bersembunyi di Bulan."

"Biarkan mereka tahu," sahut Sinta tiba-tiba. Ia berdiri di samping Laras, tangannya bersedekap, menatap Bumi dengan tatapan seorang ratu yang telah kehilangan rajanya namun tidak kehilangan keberaniannya. "Biarkan mereka tahu bahwa ada sesuatu di atas kepala mereka yang tidak bisa mereka beli, tidak bisa mereka bom, dan tidak bisa mereka dikte."

Di layar monitor, sebuah peta Bumi muncul, dipenuhi dengan titik-titik merah yang menandakan kegagalan sistem global. Namun, di antara titik-titik merah itu, mulai muncul bintik-bintik hijau kecil—pemukiman rakyat, panti asuhan, dan bengkel-bengkel pinggiran kota yang mulai menerima transmisi data dari Astra Mawar.

"Data terkirim," bisik Laras. "Cetak biru generator gravitasi mini, pemurni air mandiri, dan sistem pertanian hidroponik berbasis frekuensi. Sekarang, rakyat di bawah sana tidak perlu lagi mengemis energi pada Konsorsium."

"Laras!" teriak Aan tiba-tiba. "Radar pasif mendeteksi anomali di kawah Tycho, hanya sepuluh kilometer dari posisi kita. Ada getaran mekanis... sesuatu sedang menggali keluar dari bawah permukaan bulan."

Laras membeku. Arca di bawah mereka bergetar hebat, mengeluarkan suara dengungan rendah yang memekakkan telinga. Di layar utama, kamera eksternal menangkap pemandangan yang mustahil: permukaan bulan retak, dan dari dalamnya muncul struktur logam kuno lainnya, serupa dengan piramida yang membawa mereka terbang, namun ukurannya jauh lebih masif.

"Bukan hanya satu," gumam Sinta, wajahnya memucat. "Aryo pernah bilang... Arca di desa kita hanyalah 'kunci'. Dan sepertinya, ledakan EMP Aryo di atmosfer tadi adalah perintah terakhir untuk membuka pintu yang sebenarnya."

Dari struktur raksasa di kawah Tycho itu, sebuah cahaya putih terang melesat ke angkasa, membentuk jembatan energi yang menghubungkan Bulan langsung dengan titik koordinat tertentu di sabuk asteroid.

"Ayah tidak hanya menyelamatkan kita dari pemerintah," Laras menyadari sesuatu dengan ngeri sekaligus takjub. "Dia mengaktifkan sistem pertahanan tata surya. Arca-arca ini... mereka bukan sekadar sumber energi. Mereka adalah garis depan."

Suara statis terdengar di saluran komunikasi pribadi Laras. Suara itu pecah, berat, namun polanya sangat familiar. Bukan suara manusia, melainkan modulasi frekuensi yang membentuk kata-kata.

"Taman baru telah siap. Jaga gerbangnya, Laras."

Laras jatuh terduduk. Air matanya jatuh bukan karena sedih, tapi karena beban tanggung jawab yang kini terasa nyata. Perang melawan preman dan politikus di Lembah Mawar kini terasa seperti latihan kecil. Di depan mereka, di balik kegelapan ruang hampa, sesuatu yang jauh lebih besar sedang mendekat, dan Astra Mawar adalah satu-satunya mercusuar yang tersisa.

"Aktifkan mode tempur penuh," suara Laras terdengar dingin dan berwibawa, sangat mirip dengan suara Aryo saat memimpin konvoi motor dulu. "Bumi mungkin sedang gelap, tapi Bulan akan menjadi matahari baru bagi mereka yang berani melawan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!