NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Malam harinya di Penthouse Apartemen Grand Royal Residence, Anton berendam di dalam bathtub air hangat.

​Rasa lelah di seluruh otot tubuhnya perlahan memudar seiring kehangatan air yang meresap ke kulitnya.

​"Mata dewa ini luar biasa, tapi stamina tubuhku memang harus dilatih," batin Anton sambil memejamkan mata.

​Dia menyadari bahwa membaca pergerakan musuh membutuhkan refleks dan daya tahan fisik yang prima agar tidak cepat terkuras.

​Selesai membersihkan diri, Anton berdiri di depan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan keindahan pemandangan lampu-lampu kota dari lantai dua belas.

​Dengan sisa uang empat belas miliar sembilan ratus sepuluh juta rupiah di rekeningnya, dia kini siap melangkah ke tahap berikutnya.

​"Besok pagi, aku harus mulai mencari tempat untuk mendirikan kantor firma investasiku," tegas Anton pada dirinya sendiri.

​Dia ingin membangun sebuah imperium bisnis yang sah, terpandang, dan memiliki pengaruh yang tak tergoyahkan.

​Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menembus kaca depan mobil BMW merah milik Anton.

​Anton meluncur menuju kawasan bisnis terpadu Sudirman, pusat finansial paling bergengsi di kota ini.

​Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di kanan dan kiri jalan, memancarkan aura kemewahan dan kekuasaan.

​Anton memarkirkan mobilnya di area parkir khusus gedung perkantoran Plaza Mandiri.

​Gedung berlantai empat puluh ini terkenal sebagai markas bagi perusahaan-perusahaan investasi berkelas internasional.

​Dengan kemeja jas abu-abu yang terpotong rapi dan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, Anton melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang megah.

​Para staf dan pengunjung yang berlalu-lalang tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah pemuda gagah yang memancarkan pesona berkelas ini.

​Anton berjalan menuju area papan petunjuk sewa ruang kantor di dekat lift.

​Namun, perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh suara perdebatan yang cukup sengit dari sudut ruang tamu lobi.

​"Bu Siska, tolong mengerti situasi bank kami!" ucap seorang pria berjas hitam dengan nada suara tinggi dan tidak sabar.

​"Tenggat waktu pembayaran utang perusahaan Anda sudah lewat dua minggu!" lanjut pria itu.

​Anton menoleh pelan ke arah sumber suara tersebut.

​Di sana, seorang wanita muda berdiri tegap berhadapan dengan pria berjas tersebut.

​Wanita itu mengenakan blazer hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet tubuh yang sangat indah dan elegan.

​Wajahnya sangat cantik dengan garis rahang yang tegas, mata jernih namun memancarkan kelelahan yang mendalam.

​Rambut hitam lurusnya yang panjang sebahu ditata sangat rapi, memberikan kesan seorang wanita karir yang tangguh.

​Meskipun sedang terdesak, wanita bernama Siska itu tetap mempertahankan postur tubuhnya yang anggun.

​"Pak Hendra, beri saya waktu satu minggu lagi," bujuk Siska dengan suara yang tetap tenang namun tegas.

​"Inovasi produk baru dari Perusahaan Star Technology kami sedang dalam tahap pendaftaran paten," jelas Siska.

​"Begitu paten itu keluar, kami bisa mendapatkan pendanaan baru untuk melunasi seluruh pinjaman," tambahnya meyakinkan.

​Pria berjas bernama Hendra itu tertawa dingin sambil menyilangkan tangan di dadanya.

​"Paten? Inovasi?" cibir Hendra dengan nada meremehkan.

​"Bu Siska, perusahaan Anda itu sudah di ambang kebangkrutan!" tegas Hendra.

​"Aset gedung lantai tiga belas milik Anda di gedung ini akan segera disita oleh bank jika tidak ada pembayaran lima miliar rupiah hari ini juga!" ancam Hendra.

​Wajah cantik Siska tampak sedikit pucat mendengar kata disita, namun tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

​Dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan perwakilan bank tersebut.

​"Saya akan cari investor hari ini juga," balas Siska dengan nada yang mulai tertahan.

​"Haha! Investor mana yang cukup bodoh untuk menyuntikkan uang ke perusahaan sekarat?" ejek Hendra tanpa perasaan.

​Anton yang mengamati interaksi itu dari jarak beberapa meter mulai tertarik.

​Dia memfokuskan pikirannya dan mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1].

​Pandangan Anton menembus dokumen tebal yang dipegang oleh Hendra serta map berkas yang dipeluk erat oleh Siska di dadanya.

​Anton membaca isi berkas laporan keuangan milik Perusahaan Star Technology milik Siska.

​"Perusahaan ini sebenarnya memiliki prospek yang sangat cerah," batin Anton menganalisa laporan tersebut.

​"Mereka hanya kekurangan modal operasional akibat dikhianati oleh mitra bisnis lama mereka," lanjut Anton membaca detailnya.

​Kemudian, pandangan Anton menembus map yang dipegang Siska, langsung mengamati proposal paten teknologi baru yang dirancang perusahaan tersebut.

​Ini adalah sebuah rancangan chip semikonduktor hemat energi generasi baru.

​"Teknologi chip ini sangat luar biasa," batin Anton kagum.

​"Jika paten ini berhasil dirilis, nilai perusahaan ini tidak hanya puluhan miliar, tapi bisa mencapai ratusan miliar rupiah di masa depan!" pikir Anton dengan mata berbinar.

​Ini adalah kesempatan emas yang ditakdirkan untuknya.

​Daripada mendirikan perusahaan dari nol yang memakan waktu lama, menanamkan modal dan mengambil alih perusahaan yang sedang terdesak seperti ini adalah langkah yang jauh lebih efisien.

​Anton menghentikan kemampuan matanya dan berjalan mendekati mereka berdua dengan langkah yang sangat tenang.

​"Aku yang akan menjadi investornya," suara berat Anton memecah perdebatan di antara Hendra dan Siska.

​Hendra dan Siska seketika menoleh ke arah Anton dengan ekspresi terkejut.

​Siska menatap pemuda tampan di depannya dengan mata membesar, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

​Sementara itu, Hendra menatap Anton dengan pandangan menilai dan sedikit curiga.

​"Siapa kamu, anak muda? Jangan ikut campur urusan perbankan kami!" tegur Hendra galak.

​Anton mengabaikan Hendra sepenuhnya dan menatap mata Siska dengan senyuman tipis yang menawan.

​"Halo, Bu Siska. Namaku Anton," sapa Anton ramah sambil mengulurkan tangannya.

​Siska tertegun sejenak sebelum menjabat tangan Anton dengan ragu-ragu.

​"S-Siska..." jawabnya pelan. "Apakah Anda serius dengan ucapan Anda tadi, Pak Anton?"

​"Tentu saja aku serius," jawab Anton santai.

​Anton merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kartu kredit serta ponselnya.

​Dia menatap Hendra yang berdiri dengan wajah masam di samping Siska.

​"Berapa utang Perusahaan Star Technology yang harus dilunasi ke bank hari ini agar aset mereka tidak disita?" tanya Anton tegas.

​Hendra tertawa sinis, meremehkan penampilan muda Anton.

​"Lima miliar rupiah!" jawab Hendra sombong. "Bisa bayar sekarang, Mas? Jangan cuma omong besar di depan wanita!"

​Anton tidak banyak bicara. Dia langsung membuka aplikasi mobile banking di ponselnya dan menatap Siska.

​"Bu Siska, berikan nomor rekening penampungan utang perusahaan Anda kepada Pak Hendra ini," perintah Anton.

​Siska yang masih syok dan bingung seolah terhipnotis oleh aura kepemimpinan Anton yang sangat kuat.

​Dia menyebutkan nomor rekening resmi pembayaran utang perusahaannya.

​Jari-jari Anton menari di atas layar ponselnya dengan sangat cepat.

​Ting!

​Suara notifikasi transaksi berhasil bergema pelan.

​"Sudah kutransfer lima miliar rupiah," ucap Anton santai sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan bukti transfer lunas.

​Pada saat yang bersamaan, ponsel Hendra berbunyi keras.

​Dia membuka pesan resmi dari sistem bank tempatnya bekerja.

​[Sistem: Utang atas nama PT Star Technology sebesar Rp 5.000.000.000,00 telah dilunasi sepenuhnya.]

​Mata Hendra melotot lebar hingga seolah mau keluar, dan nafasnya tertahan di tenggorokan.

​Dia menatap layar ponselnya lalu menatap Anton bergantian dengan tubuh gemetar hebat.

​"L-Lunas?!" seru Hendra dengan suara melengking dan panik.

​"Sesuai aturan, urusanmu dengan perusahaan Bu Siska sudah selesai," kata Anton dengan nada dingin.

​"Sekarang, bisakah kamu pergi dari sini sebelum aku melaporkan sikap burukmu ke direktur utamamu?" ancam Anton tajam.

​Wajah Hendra mendadak pucat pasi seperti kertas.

​Dia tahu betul orang yang bisa mentransfer lima miliar rupiah secara spontan dalam hitungan detik bukanlah orang sembarangan.

​"M-Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya!" seru Hendra membungkuk berulang kali dengan ketakutan.

​Tanpa berani mengucap kata lain lagi, Hendra berbalik dan berlari cepat meninggalkan lobi gedung tersebut.

​Suasana di sudut lobi itu mendadak menjadi sangat hening.

​Siska berdiri mematung di tempatnya, menatap Anton dengan tatapan campur aduk antara kagum, tidak percaya, dan sangat tersentuh.

​Air mata keharuan mulai menetes di pipi cantiknya yang mulus.

​Perusahaan yang diperjuangkannya mati-matian dan nyaris hancur dalam semalam, kini diselamatkan oleh seorang pemuda asing dalam hitungan detik.

​"P-Pak Anton..." panggil Siska dengan suara bergetar dan terisak pelan.

​"Kenapa... kenapa Anda mau membantu saya sebesar ini?" tanya Siska sambil menatap dalam-dalam mata Anton.

​"Padahal kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya," tambahnya penasaran.

​Anton tersenyum hangat, melangkah mendekat dan menatap wanita cantik di depannya itu.

​"Karena aku melihat potensi besar di dalam dirimu dan perusahaanmu, Siska," jawab Anton jujur.

​"Dan uang lima miliar itu bukan bantuan gratis," tambah Anton sambil tersenyum misterius.

​"Aku ingin membeli saham mayoritas di Perusahaan Star Technology dan menjadikannya fondasi dari kerajaan bisnis baruku," tegas Anton penuh ambisi.

​Siska menatap Anton tanpa berkedip. Di dalam hatinya, rasa kagum dan hormat terhadap pemuda ini tumbuh dengan sangat pesat.

​"Jika Anda mau menyelamatkan perusahaan ini, jangankan saham mayoritas..." ucap Siska dengan mata berbinar penuh komitmen.

​"Seluruh masa depan perusahaan ini dan diri saya siap menjadi milik Anda, Pak Anton," tegas Siska mantap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!