Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
Perjalanan dari rumah menuju sekolah tidak pernah benar-benar sama. Jalan setapak bisa menjadi keras pada musim kemarau, lalu berubah menjadi lumpur dalam satu malam. Batu yang kemarin kokoh dapat hanyut ketika sungai naik. Ranting yang biasa kami jadikan pegangan bisa patah tanpa peringatan.
Namun, aku memiliki cara agar Nira tidak terlalu takut. Aku membagi perjalanan menjadi tujuh tikungan. Setiap tikungan memiliki nama yang kami buat sendiri.
Tikungan pertama adalah Tikungan Nangka karena ada pohon nangka besar di samping jalan. Tikungan kedua kami sebut Tikungan Burung, sebab sering terdengar suara burung kutilang dari kebun kopi. Tikungan ketiga adalah Tikungan Batu Tidur. Di sana ada batu panjang yang bentuknya seperti orang sedang berbaring.
"Sudah sampai mana?" tanya Nira.
"Baru Tikungan Nangka."
"Berarti masih enam."
"Jangan dihitung sisanya. Hitung yang sudah lewat."
Ia mengangguk seperti memahami pelajaran penting. Lalu, beberapa langkah kemudian, ia bertanya lagi, "Sekarang sudah berapa?"
"Masih satu."
"Tikungannya lama sekali."
Aku berjalan lebih cepat agar ia berhenti bertanya. Namun, sepatu kiriku terus mengeluarkan bunyi tek yang berbeda. Retakan pada telapak belum terlihat membesar, tetapi aku bisa merasakan udara dingin masuk dari bawah setiap kali menginjak tanah basah.
Di antara tikungan pertama dan kedua, kami melewati mata air kecil. Biasanya aku mengisi botol bekas kecap di sana. Airnya sangat dingin sampai gigi Nira gemeretak. Pagi itu kami hanya membasahi bibir karena takut terlambat. Bekal air harus cukup sampai perjalanan pulang.
Setelah Tikungan Burung, jalan menurun menuju kebun kopi milik Pak Bramantya. Lerengnya curam. Saat hujan, kami harus berjalan menyamping agar tidak tergelincir. Pagi itu tanah hanya lembap, tetapi daun-daun kering menutup batu licin di bawahnya.
Aku mengambil sebatang kayu sebagai tongkat. "Pegang tas-ku," kataku kepada Nira.
"Nanti Kakak jatuh."
"Kalau kau pegang, kita jatuh bersama."
"Itu bukan lebih baik."
Aku menahan senyum. Nira kecil, tetapi ia selalu menemukan jawaban. Akhirnya kami turun satu per satu. Aku lebih dahulu, lalu menunggu beberapa langkah di bawah. Nira mengikuti dengan lutut ditekuk. Sepatu kebesarannya membuat ia sulit mengendalikan kaki. Dua kali ia hampir duduk di tanah.
Di dasar lereng, kami berhenti untuk mengatur napas. Kabut menempel pada rambut dan seragam. Nira membuka tasnya, mungkin ingin mengambil bekal.
"Jangan," kataku.
"Aku cuma lihat."
"Kalau dilihat terus, nasinya tidak bertambah."
Ia menutup tas dengan wajah kecewa.
Kami melanjutkan perjalanan melewati kebun. Cahaya pagi mulai masuk di sela daun, tetapi dasar kebun tetap gelap dan basah. Bau kopi matang bercampur tanah membuatku merasa lapar. Di beberapa tempat, lintah kecil menempel pada daun. Aku menyuruh Nira berjalan di tengah jalur dan tidak menyentuh semak.
Pohon-pohon kopi berdiri rapat. Buah merah bergantung di antara daun. Sesekali terdengar suara orang bekerja, tetapi tubuh mereka tidak terlihat karena kabut. Dari kejauhan, seseorang memanggil nama Ayah. Aku menjawab bahwa kami sedang pergi sekolah.
"Rajin sekali," teriak suara itu.
Aku tidak tahu apakah ucapan itu pujian atau rasa kasihan. Pada masa itu, banyak anak di dusun berhenti sekolah setelah kelas tiga atau empat. Mereka membantu orang tua di kebun, menjaga adik, atau mencari rumput. Sekolah dianggap penting, tetapi makan hari itu lebih mendesak.
Ayah berbeda. Ia selalu berkata, "Tangan kalian boleh membantu bekerja, tetapi kepala kalian harus terus belajar." Aku belum benar-benar memahami maksudnya. Bagiku, belajar adalah menyalin tulisan dari papan dan menghafal perkalian. Aku belum tahu bahwa huruf dan angka dapat menjadi pintu keluar dari tempat yang tidak memiliki jalan.
Setelah kebun kopi, kami sampai di Tikungan Batu Tidur. Nira duduk di atas batu panjang itu tanpa meminta izin.
"Sebentar saja," katanya. "Kakiku berenang di dalam sepatu."
Aku berjongkok dan membuka tali sepatunya. Gumpalan kain di ujung telah bergeser. Aku menariknya keluar, merapikan, lalu memasukkannya kembali. Kaus kakinya mengerut di tumit. Kulit di pergelangan mulai merah.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Kita bisa pulang."
Nira segera berdiri. "Tidak. Hari ini Bu Guru mau menyuruhku membaca."
Ia sangat suka membaca. Di rumah kami hanya memiliki tiga buku: satu buku cerita yang kehilangan sampul, satu buku pelajaran bekas, dan kitab doa milik Ibu. Nira membaca semuanya berulang kali. Bahkan tulisan pada bungkus sabun pun ia baca keras-keras.
Kami berjalan lagi. Tikungan keempat bernama Tikungan Bambu karena rumpun bambu menutup sebagian langit. Setelah itu, jalan bercabang. Jalur kiri menuju ladang jagung, sedangkan jalur kanan menurun ke sungai. Tidak ada papan penunjuk. Orang luar sering salah jalan, tetapi kakiku hafal setiap batu.
"Kak," kata Nira, "kenapa sekolahnya tidak dibangun dekat rumah kita?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Aku menoleh kepadanya. Wajahnya berkeringat meski udara dingin. Ujung rok seragamnya terkena lumpur. Sepatu cokelatnya sudah kehilangan kilap minyak kelapa yang tadi dibuat Ibu.
"Karena muridnya lebih banyak di dekat jalan kabupaten," jawabku.
"Kita juga murid."
"Iya."
"Kenapa jalan kabupaten tidak dipindah ke sini?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya anak kelas lima. Aku tidak memahami anggaran, peta, atau keputusan pemerintah. Aku hanya tahu rumah kami berada jauh dan sekolah tidak akan mendekat hanya karena Nira lelah.
"Setiap langkah membuatmu lebih pintar," kataku akhirnya.
"Kalau sekolahnya dekat, apa aku jadi kurang pintar?"
Aku terdiam. Jawabanku terdengar bodoh bahkan bagi diriku sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan Nira terus kuingat. Saat itu aku belum mengerti bahwa orang dewasa sering memuji anak yang berjalan jauh tanpa bertanya mengapa anak itu harus menghadapi bahaya. Kami disebut rajin, kuat, dan pantang menyerah. Namun, tidak seorang pun seharusnya membutuhkan keberanian hanya untuk sampai ke kelas.
Kami melewati Tikungan Bambu, Tikungan Akar, dan Tikungan Angin. Tinggal satu tikungan lagi sebelum sungai terlihat. Aku menyuruh Nira bernyanyi agar semangatnya kembali. Ia mulai menyebut huruf dari A sampai Z. Setiap huruf mengikuti satu langkah.
A untuk ayam.
B untuk buku.
C untuk cacing.
Ketika sampai huruf H, kami mencapai Tikungan Ketujuh. Kabut perlahan terbuka. Biasanya dari tempat itu kami dapat melihat batu-batu besar yang menjadi pijakan menyeberangi sungai.
Pagi itu suara air terdengar lebih keras.
Aku berhenti sebelum jalan menurun. Nira berdiri di belakangku dan memegang ujung tas-ku.
Di bawah kami, sungai berwarna cokelat mengalir cepat. Batu pertama masih terlihat, tetapi batu kedua hanya muncul separuh. Batu ketiga, yang menurut Ayah menjadi batas aman, sesekali tertutup air.
"Kak," bisik Nira, "airnya lebih tinggi daripada kemarin."
Aku tidak menjawab. Sekolah berada di seberang. Rumah berada jauh di belakang. Di antara keduanya, sungai bergerak seperti sedang memilih apakah akan mengizinkan kami lewat.