NovelToon NovelToon
Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang bukan hanya milik Kala

Suara sirene ambulans memecah derasnya hujan.Mobil ambulans akhirnya memasuki halaman rumah sakit.

Belum sempat kendaraan itu berhenti sempurna, Ages sudah berlari menghampiri.

"Kala!"

Pintu belakang ambulans dibuka.Dua petugas medis segera menurunkan sebuah ranjang dorong.

Tubuh Ages langsung membeku.

Di atas ranjang itu Kalandra terbaring tak sadarkan diri.Baju yang dikenakannya sudah dipenuhi bercak darah.Wajah tampan yang biasanya selalu dihiasi senyum kini tampak pucat.Tangan kanannya terkulai lemah di sisi ranjang.

"Kala..."

Suara Ages bergetar.Ia ingin menyentuh putranya.

Namun seorang petugas menahan langkahnya. "Maaf, Pak. Tolong beri kami jalan."

Belasan tenaga medis langsung bergerak cepat.Beberapa dokter berlari menuju ruang tindakan.Perawat mendorong ranjang dengan tergesa.

"Panggil dokter bedah!"

"Siapkan ruang tindakan!"

"Tekanan darah turun!"

Kalimat-kalimat itu membuat tubuh Ages kehilangan tenaga.Ia hanya mampu mengikuti dari belakang.

Pintu ruang tindakan akhirnya tertutup.Lampu bertuliskan SEDANG DITANGANI menyala.

Ages berdiri mematung beberapa detik.Lalu terperosot kedua lututnya jatuh menghantam lantai.Ia terduduk lemas tepat di depan pintu ruang tindakan.

Tatapannya kosong.Tangannya masih berlumuran darah Kalandra yang tanpa sadar sempat menempel ketika ia menggenggam jemari putranya sesaat.

"Kala..."

Suaranya nyaris tak terdengar. "Maafkan papa.."

Di sisi lain lorong, Arsen dan Sean hanya mampu duduk di kursi tunggu.Sean menundukkan kepala,matanya menatap kedua tangannya masih terdapat darah yang mulai mengering.

Sementara Arsen menatap lantai tanpa berkata apa-apa.Tak seorang pun sanggup memecah kesunyian.Beberapa menit kemudian...

Suara langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong.

"KALA!"

Tamara berlari dengan wajah penuh air mata.

Di belakangnya, Kakek Sabiru ikut datang dengan napas yang memburu.

"Kakek..."

Sean langsung berdiri memeluk sang kakek.

Orang tua itu memandang pintu ruang tindakan.

Tubuhnya bergetar.

"Cucuku..." Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.

Tamara berjalan menghampiri Ages.Melihat pria itu terduduk di lantai dengan wajah penuh penyesalan, ia ikut menangis.

"Mana Kala..." Ages hanya menunjuk ke arah ruang tindakan.

Tamara menutup mulutnya.Tangisnya pecah,mulutnya tak henti memanggil nama Kala.Arsen mencoba menenangkan sang istri,ia menarik Tamara kedalam pelukannya. "Sabar Mi.."

"Papi...anak aku pi,Kala di dalam sana.Pasti dia kesakitan...Pi."

Arsen mengusap punggung Tamara."Iya Mi..kita do'akan saja adek."

"Pasti adek ketakutan di dalam sana,Pi...ayo Pi kita temani adek."

Tak ada yang mampu berkata lagi,semua hanyut dalam kesedihan.Bahkan beberapa perawat ikut meneteskan airmata.

Di tengah suasana yang dipenuhi kecemasan.Langkah kaki lain terdengar.

"Pak Ages..."

Semua orang menoleh.Nadira berdiri di ujung lorong.

Wajahnya terlihat cemas setelah mendengar kabar kecelakaan Kalandra.Namun, baru beberapa langkah ia mendekat...

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.Nadira memegang wajahnya yang memerah.Ia menatap Tamara dengan mata membelalak.

"Kenapa anda menampar saya!"

Tamara berdiri di hadapannya dengan napas memburu.

"Masih berani datang?"

Nadira mengerutkan kening."Saya hanya ingin melihat keadaan Kala."

"Jangan sebut nama Kala!"

Suara Tamara menggema di lorong rumah sakit. "Kalau bukan karena kamu, Ages tidak akan melupakan ulang tahun anaknya!"

"Kalau bukan karena kamu, Kala tidak akan keluar dari rumah sakit dengan hati hancur!"

Nadira menggeleng. "Itu bukan salah saya."

"Bukan salahmu?" Tamara tertawa pahit. "Kamu terus mengambil waktu Ages!"

"Aku tidak pernah memaksa Pak Ages,dia yang bersedia sendiri."

"Tapi kamu memanfaatkan dia!" Nadira mulai meninggikan suara.

"Kenapa semua orang menyalahkan saya?"

"Karena memang kamu penyebabnya!"

"Bukan!" Nadira membalas dengan emosi. "Kenapa anda menyalahkan saya dan sampai segitunya membela Kala dan Ages?." Tatapannya beralih kepada Tamara. "Apa kamu cemburu ?."

Tamara terdiam.

"Kamu diam-diam menyukai Pak Ages, kan?"

Lorong itu mendadak sunyi."Aku lihat dari caramu memperhatikannya."

"Kamu marah bukan karena Kala.Tapi karena kamu tidak suka melihat aku dekat dengan Pak Ages."

Mata Tamara membelalak.

"Apa?"

Arsen langsung berdiri dari kursinya.

"Cukup."

Namun Nadira terus berbicara. "Kamu selama ini hanya mencari alasan.Padahal yang kamu inginkan adalah Ages."

Tamara mengepalkan kedua tangannya.

"Jaga ucapanmu."

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Arsen melangkah maju.

"Berhenti."

Namun Nadira kembali berkata, "Kalau bukan karena rasa cemburu itu, kamu tidak mungkin menampar saya."

Tamara hampir kembali maju.Ia menatap tajam Nadira.

"Kamu tau?...sejak bayi aku yang mengurus Kala,walaupun tidak banyak tapi aku pernah memberikan asi pada Kala.Kala tumbuh bersama ku,aku yang tau bagaimana Kala jika sakit dan takut.Walaupun dia tidak lahir dari rahim ku,tapi bagiku Kala adalah anak ku." ucap Tamara dengan tajam.

"Aku tidak peduli tentang hubungan kalian berdua,mau Ages menikahimu sekalipun aku tidak peduli.Yang aku pedulikan itu Kala,bagiku dan Arsen..Sean dan Kala adalah harta yang paling berharga dibanding apapun."

Ages terpaku mendengarnya,begitu besar kasih sayang Kaka dan Kaka iparnya pada sang anak.Bahkan Kala terluka pun mereka ikut sakit,tapi dirinya yang merupakan ayahnya malah menghancurkannya..membuatnya kecewa dan terluka.

Ages tidak bergerak.Ia hanya duduk di lantai.Mendengar semua pertengkaran itu,tanpa ingin menjawab atau membela.Hanya satu kalimat dari

Nadira terngiang di kepalanya.

"Aku tidak pernah memaksa Pak Ages,dia bersedia sendiri."

Padahal kenyataanya Nadira selalu memohon padanya yang membuat Ages merasa iba dan tak enak.

Ages mengangkat wajahnya perlahan.Bayangan demi bayangan mulai memenuhi pikirannya.Makan siang yang selalu dibawakan Nadira.Pertemuan yang selalu dipindahkan ke jam makan bersama Kalandra.

Telepon Kalandra yang berkali-kali terputus sepihak,janji yang dibatalkan,ulang tahun yang terlupakan dan makan malam yang kembali gagal.

Semuanya selalu berawal ketika Nadira hadir.Namun bukan hanya itu.Ages juga menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Nadira memang mendekatinya tetap keputusan untuk mengabaikan Kalandra selalu diambil olehnya sendiri.Kesadaran itu menghantam dadanya begitu keras.

Ia perlahan berdiri.Matanya menatap Nadira.Tatapan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.Dingin,tajam,penuh amarah dan penyesalan.

"Pak Ages..."

Nadira mencoba mendekat.

Namun Ages mundur satu langkah. "Nadira."

Suara Ages begitu pelan."Ternyata...selama ini aku terlalu baik padamu."

Nadira membeku. "Pak Ages, saya—"

"Diam." bentak Ages memotong ucapan Nadira

"Kamu selalu tahu kapan harus datang,kamu selalu tahu kapan harus meminta waktuku.Kamu selalu tahu kapan harus membuatku merasa tak enak dan harus menemanimu."

Nadira mulai panik. "Itu bukan seperti yang Bapak pikirkan."

"Bukan?" Ages menatapnya tajam. "Anakku sekarang sedang berjuang di balik pintu itu."

Suara Ages mulai bergetar. "Dan aku..."

Ia memukul dadanya sendiri.

"...aku bahkan menjadi ayah yang gagal karena terus mengabaikannya."

Nadira menggeleng sambil menangis.

"Saya tidak pernah ingin Kala celaka."

"Tapi gara-gara Lo,adik gue jadi berubah." Bentak Arsen.

"Dan lo." tunjuknya pada Ages "Gue udah peringati Lo,tapi Lo selalu egois."

"Gue tahu."

Jawaban Ages membuat semua orang terdiam.

"Aku tidak menyalahkan siapapun atas kecelakaan ini."

Semua orang menatap Ages.

"Aku menyalahkan diriku sendiri."

Ages menunduk. "Karena aku membiarkan semua ini terjadi."

Air mata Ages akhirnya jatuh."Setiap kali Kala menghubungiku...aku memilih menundanya.Setiap kali dia mengajakku makan...aku memilih pekerjaan."

"Setiap kali dia menungguku...aku selalu datang terlambat."

Semua orang masih terdiam.

"Tapi mulai hari ini..." Ages mengangkat wajahnya. "Tidak akan ada lagi.Hidupku hanya untuk Kala."

"Tapi Pak,kita kan sudah dekat.Saya juga ingin menjadi bagian dari itu."

"Aku tidak bisa."

"Bisa Pak,kita jaga Kala bersama"

Ages membeku,amarahnya kembali tersulut.Ia menatap tajam Nadira. "Tolong pergi."

Nadira membeku."Saya..."

"Pergi." Suara Ages kali ini tegas.

"Tapi aku tau kalau kamu juga menginginkan bersama ku."

Mata Ages berubah menggelap,tangannya secepat kilat mencengkeram leher Nadira. "Aku sudah bilang hidupku hanya untuk Kala."

Semua orang terkejut,Arsen langsung menahan Ages.Ia berusaha melepaskan tangan Ages dari leher Nadira,apalagi melihat wajah Nadira yang ketakutan. "Udah Ges,tenangkan diri Lo."

Ages tersadar,ia melepaskan tanganya.Ia berbalik dan kembali menatap pintu ruangan dimana Kala berada di dalamnya

"Aku tidak ingin membahas apa pun lagi."Aku hanya ingin anakku selamat."

Nadira menangis.Ia menatap Ages beberapa detik.Tidak ada lagi ruang untuk dirinya.Dengan langkah lemah, Nadira berbalik meninggalkan lorong rumah sakit.Tidak ada seorang pun yang menahannya.

Ages menyandarkan tubuhnya ke dinding,

"Kala..." lirihnya. "Kalau Allah masih memberiku kesempatan...Papa akan menebus semua kesalahan Papa."

"Tolong...Bertahanlah dan buka matamu sekali lagi."

Sedangkan di balik pintu ruang tindakan para dokter masih berjuang menyelamatkan putra satu-satunya dari seorang ayah yang akhirnya menyadari bahwa kehilangan waktu bersama anaknya adalah kesalahan yang jauh lebih besar daripada kehilangan apa pun dalam hidupnya.

.......

.......

.......

...♡Sabiru♡...

...🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋...

1
Puji Hastuti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Puji Hastuti
kala sabar yaa
Puji Hastuti
ayo kala, bangun.
Nurgusnawati Nunung
seruuuu... ramai... saling menghargai yaaa
Nurgusnawati Nunung
Kalandra.. jadi sedih yaaa
Nurgusnawati Nunung
Ampun... se tengil itu namanya Kalandra. hahaha
Nurgusnawati Nunung
Mamanya Kalandra bakal hadir..
Nurgusnawati Nunung
hadir.. kompak ya papa sama anak..
Puji Hastuti
kala kamu harus kuat
Puji Hastuti
gue kecewa ama lu ages
Puji Hastuti
Nadia, kampret lu
Puji Hastuti
keluarga yang solid
Danny Muliawati
bagus cerita nya
Puji Hastuti
tapi up nya jangan lama lama
Puji Hastuti
sukaaaa AQ ceritanya kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!