––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(11) Pos Satpam
Haikal nampak duduk di pondok satpam dengan tangan di ikat di belakang tubuh nya dan luka memar pada pinggir bibir dan pelipis nya yang terlihat membiru.
"Masih tidak mau ngaku juga! Kurang ya kami hajar berkali-kali?" tanya seorang bapak-bapak yang sudah nampak ngos-ngosan.
Haikal terbatuk-batuk menahan perih di perut nya. "Demi Allah Bapak-bapak, saya itu bukan mau maling. Itu rumah saya juga, saya tinggal disana juga" ucap Haikal dengan sekuat tenaga.
"Halah bohong itu! Mbak Lena nggak pernah bawa laki-laki sampai selarut itu! Apalagi tadi nggak ada Mbak Lena nya juga, jangan beralasan deh" ketus Alvin yang sejak tadi menatap Haikal dengan tatapan permusuhan.
Haikal menghela nafas pelan, lalu mendongak menatap satu persatu bapak-bapak serta pemuda yang ronda malam.
"Buat apa saya bohong? Kalian bisa hubungi Lena untuk konfirmasi.." ucap Haikal membuat para warga saling pandang.
"Yang punya nomor Mbak Lena siapa?" tanya Alvin tak mendapat jawaban dari para bapak-bapak.
"Mbak Lena kan jarang interaksi sama warga, jadi nggak ada yang punya Mbak nya.. Terus gimana dong" sahut yang lain mewakili.
Haikal yang mendengar pun kembali menghela nafas. "Kalau gitu, telepon ke nomor saya aja. Siapa tau Lena udah pulang.." ucap Haikal membuat para warga kembali saling pandang.
#~
Ailena menunggu di teras dengan sesekali menguap tanda ia sudah mengantuk.
Kringg
Ailena terlonjak kaget saat mendengar dering telepon yang asing tapi berada di dekat nya.
"Loh? Tas siapa?" gumam Ailena sembari menatap tas yang nampak asing di kursi yang ada di samping nya.
Ailena benar-benar tak menyadari itu sejak tadi.
Telepon itu kembali berdering dan membuat Ailena penasaran dan membuka tas yang ternyata berisi pakaian laki-laki.
"Haikal udah pulang? Terus kemana dia sekarang?" gumam Ailena saat melihat isi tas yang membuat nya ingat jika Haikal kembali ke rumah nya sendiri untuk mengambil pakaian.
Kringg..
Telepon kembali berdering untuk yang ketiga kali nya. Ailena pun segera merogoh hp itu dan menatap nomor asing yang tertera.
Ailena segera menekan tombol hijau dan menaruh di telinga nya yang tertutup kerudung.
Hingga beberapa saat belum ada sahutan, membuat Ailena hendak mematikan telepon itu.
"Gimana ada jawaban nggak dari Lena nya?"
"Loh? Haikal? Kamu dimana?"
"Mbak Lena.."
"Eh siapa ya?"
"Mbak bisa ke pos satpam sebentar nggak ya? Ada yang mau di bicarakan"
"Baik-baik, saya kesana sekarang"
Tut
Tanpa pikir panjang Ailena segera melangkah pergi dari rumah nya, tak lupa menutup pintu dan menaruh tas Haikal di dalam rumah.
Dengan perasaan yang sedikit panik, Ailena berlari kecil hingga tak menyadari ada batu yang lumayan besar di depan nya.
Bruk
"Aduh.." ringis Ailena tersandung batu besar itu dan membuat nya terjatuh dan lutut nya yang terasa perih dan panas.
Ailena segera bangkit lagi dan mengibas rok yang di pakai nya, pikiran nya hanya tertuju pada Haikal yang entah kenapa bisa ada di pos satpam.
Tak berselang lama, Ailena sampai di pos satpam dan menatap lamat ke arah Haikal dari kejauhan yang nampak seperti tahanan dengan tangan di ikat di belakang.
"Haikal!" seru Ailena saat dia sudah mulai mendekat ke arah pos satpam yang di kerubuni oleh para bapak-bapak.
"Istri!" seru Haikal berdiri dari duduk nya membuat para bapak-bapak mendongak karena tinggi Haikal yang semampai melebihi tinggi para bapak-bapak.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️