Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti lewat begitu saja bagi Aaliyah. Ia duduk di kursi penumpang dengan kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Jantungnya berdebar tidak karuan, sementara Mommy Amira sesekali menatapnya dengan penuh kekhawatiran namun tetap berusaha tenang.
“Aal, rileks, Nak…” ujar Mommy Amira lembut sambil menyentuh punggung tangannya. “Apapun hasilnya nanti, kamu nggak sendirian. Ada Mommy di sini.”
Aaliyah mengangguk, berusaha membalas senyum itu, tapi ketakutannya lebih besar dari rasa lega yang mencoba muncul. Ia masih belum siap. Belum siap menerima kemungkinan kalo dirinya di nyatakan hamil oleh dokter nantinya.
Begitu sampai di rumah sakit, Mommy Amira langsung mengurus administrasi begitu tiba di rumah sakit. Aaliyah duduk dengan gusar di bangku ruang tunggu, sampai ibunya selesai mendaftarkan dirinya disana.
Lima menit kemudian nama Aaliyah sudah di panggil masuk oleh suster untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter kandungan. Kebetulan hari ini poli kandungan belum begitu ramai, membuat nama Aaliyah cepat di panggil masuk untuk di periksa.
Di ruangan itu, aroma antiseptik sangat begitu menyengat, membuat perut Aaliyah terasa mual dibuatnya. Dokter Victori seorang perempuan sekitar empat puluhan dengan senyum ramah, mempersilakan Mommy Amira dan Aaliyah duduk di kursi sebrang mejanya.
“Baik, Aaliyah… Mommy kamu bilang kamu sering mengalami mual di pagi hari, ya?” tanya Dokter Victori.
Mommy Amira sudah menjelaskan pada dokter Victori, tentang yang dialami oleh Aaliyah beberapa hari ini.
Aaliyah mengangguk pelan. “Iya, Dok…”
“Kita cek, ya. Jangan tegang, rileks saja." kata sang dokter sambil mempersiapkan alat.
Pemeriksaan berlangsung hening. Aaliyah menahan napas, sementara Mommy Amira menggenggam tangannya sepanjang proses. Ketika monitor di samping dokter menampilkan gambar hitam-putih, dada Aaliyah terasa semakin sesak. Ia tidak berani mengangkat wajah. Tidak berani menatap ke arah layar monitor yang menampilkan gambar hitam-putih tersebut.
Sedangkan Mommy Amira menatap dengan lekat layar monitor tersebut. Ada perasaan memburu melihat gambar di layar itu. Ia masih ingat jelas ketika ia dan mendiang suaminya memeriksakan kandungannha pertama kali di rumah sakit, ketika ia tahu hamil setelah mengeceknya menggunakan tespek.
Dokter Victori menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Lihat titik itu merupakan kantung janinnya. Usia kandungan mu masih sangat muda, sekitar lima minggu.”
Kata itu menghantam dada Aaliyah . Hamil. Lima minggu. Dunia seolah berhenti berputar. Pandangannya meredup seperti kehilangan fokus.
Mommy Amira mengusap bahunya dengan lembut. “Nak… lihat Mommy coba.”
Mommy Amira mencoba berusaha menyemangati putrinya. Padahal dirinya juga merasa hancur mendapatkan kenyataan ini.
Aaliyah menoleh perlahan ke arah dokter Victori. Matanya memanas, air mata menggantung di pelupuk.
“Aku… beneran hamil?” suaranya bergetar.
Dokter Victori mengangguk pelan. “Iya, nona. Tapi tenang, kondisi janinnya sehat. Kita akan pantau dengan baik.”
Namun justru kalimat yang di berikan dokter Victori tidak membuat Aaliyah senang malinkan. Melainkan membuat air mata Aaliyah jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menangis dalam diam, tanpa suara, tapi penuh ketakut. Mommy Amira segera memeluknya, membiarkan mantan gadis itu menangis di bahunya.
“Ssst… nggak apa-apa. Mommy di sini. Kita hadapi ini semua bersama - sama,” bisiknya.
Aaliyah menggenggam pakaian Mommy Amira erat-erat. Rasa takut yang selama ini ia pendam akhirnya pecah. Ia ingat malam itu. Ingat bagaimana Pramana menodainya dengan kasar dan tanpa belas kasihan.
“Mommy…” suara Aaliyah pecah. “Aku takut…”
Mommy Amira merespon cepat. “ Kamu tak perlu takut, sayang. Ada Mommy dan lainnya. Kita akan mengurus anak itu bersama - sama. Mommy akan memberitahu Eyang dan Nine ( Anneanne ) tentang diri mu ini."
Nine, atau Anneanne dalam bahasa Turki yang berarti nenek dari pihak ibu, memang menjadi panggilan Aaliyah untuk neneknya. Sedangkan untuk kakeknya, Aaliyah memanggilnya Eyang, karena kakeknya masih sangat menjaga dan melestarikan adat serta budaya Indonesia dengan begitu kental.
Dokter Victori memberi waktu mereka berdua sebelum melanjutkan penjelasan tentang perawatan kehamilan. Namun Aaliyah hanya mendengar sebagian kecil, sisanya terasa seperti suara jauh yang tidak bisa ia pahami.
Saat mereka keluar dari ruang periksa, Aaliyah merasa langkahnya goyah. Mommy Amira memegang pinggang dan lengannya sepanjang jalan.
“Sekarang kita pulang, ya. Kamu istirahat. Mommy yang atur semuanya,” kata Mommy Amira tegas namun lembut.
Aaliyah hanya bisa mengangguk.
Mulai besok Mommy Amira akan membawa Aaliyah ke psikiater untuk mengobatin trauma yang Aaliyah alami selama ini. Di tambah dengan kenyataan barusan, takut membuat sang putri semakin stress dan tenggalam dalam trauma nya.
-----
Sepanjang perjalanan pulang, Aaliyah hanya menatap keluar jendela. Semua terasa samar, seolah dirinya sedang berjalan di dalam mimpi yang tidak ia inginkan. Mobil melaju pelan, sementara Mommy Amira sesekali meliriknya dengan ekspresi khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
“Aal, kalau kamu pusing atau mual bilang Mommy, ya,” ucap Mommy Amira lembut.
Aaliyah mengangguk, meskipun sebenarnya ia tidak bisa membedakan apakah ia benar-benar pusing karena pengaruh dari kehamilannya atau pusing hanya terlalu banyak pikiran sampai tidak merasakan apa pun secara jelas.
Ketika mereka sampai di rumah, Mommy Amira memegang bahunya dan membimbingnya masuk perlahan. Aaliyah duduk di sofa, dan Mommy Amira meminta Bibi Elif untuk membuatkan segelas air hangat untuk Aaliyah.
Bibi Elif membawakan satu gelas air hangat yang di minta oleh Mommy Amira. Ia menatap wajah anak majikannya itu dengan sedih. Gadis kecil yang dulu ia asuh kini dalam keadaan tidak baik – baik saja. Membuat wanita berusia lima puluhan itu sedih di buatnya.
“Nak, minum dulu…”
Aaliyah memegang gelas itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. “Mommy…” suaranya parau. “Aku harus apa ? Aku tidak menginginkan anak ini.”
“Kamu bicara apa, sih !,” jawab Mommy Amira, duduk di sampingnya. “ kalo kamu menghilangkan dia dalam rahim mu, sama saja kamu telah memb*n*h anak mu sendiri. “
Air mata Aaliyah jatuh begitu saja tanpa aba-aba. “Aku takut, Mommy… aku benar - benar takut…”
Mommy Amira menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan yang hangat dan kokoh. “Kamu tak boleh takut. Ada Mommy disini yang tak akan pernah meninggalkan kamu, Nak. Kamu aman di sisi Mommy.”
Aaliyah terisak pelan, menempelkan wajahnya di bahu Mommy Amira. Pelukan itu membuatnya merasa sedikit bernapas lagi. Untuk sesaat, ia bisa menyandarkan seluruh beban yang selama ini dipendam.
Setelah tangisnya mereda, Mommy Amira mengusap rambutnya dengan lembut. “Hari ini kamu istirahat. Jangan mikir apa-apa dulu. Soal baby yang ada di rahim mu, mari kita urus dia bersama.”
Aaliyah mengangguk pelan. “Mommy nggak marah?”
“Marah? Untuk apa Mommy marah ke kamu?” Mommy Amira tersenyum tipis, sedih namun penuh kasih. “Yang ada Mommy marah dengan pria kaparat itu.”
Aaliyah memejamkan mata, menahan napas yang berat. Kalo mengingat wajah Pramana. Ada perasaan jijik dan marah kalo mengingat kejadian malam itu.
“Aku… aku nggak mau inget malam itu,” gumam Aaliyah lirih.
Mommy Amira menggenggam tangan Aaliyah erat-erat. “ Jangan mengingatnya lagi. Lebih baik kamu istrirahat. Sini biar Mommy temani putri kecil, Mommy tidur.”
Malam mulai turun perlahan, tetapi rumah itu tetap hangat. Mommy Amira mendekap tubuh Aaliyah sambil mengelus punggung putrinya dengan lembut, untuk memberikan kenyamanan untuk putrinya.
“Tidur ya, Sayang. Tubuh kamu capek. Pikiran kamu lebih capek lagi.”
Aaliyah menatap wajah Mommy Amira dalam remang lampu kamar. Satu hal yang jelas terasa di hatinya: meski dunianya runtuh, rasa aman itu masih ada — di pelukan satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya.
“Terima kasih, Mommy…” bisiknya sebelum akhirnya matanya terpejam.
Mommy Amira tersenyum simpul, memperhatikan Aaliyah tidur dengan tatapan yang penuh tekad. Ada banyak hal yang harus ia lakukan. Banyak yang harus ia cari tahu. Anak itu tidak akan ia biarkan terluka lagi.
“ Akan kucari keberadaan pria b*jing*n itu sampai ketemu. Sekalipun harus sampai ke ujung dunia, akan kulakukan demi putriku."
Bersambung....