Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Labirin Kekhawatiran
Lampu di ruang kerja pribadi Gathan Ardiansyah masih menyala terang, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pria itu berdiri menghadap jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta dengan rahang yang mengeras. Sudah hampir seminggu, dan Aruna seperti lenyap ditelan bumi. Tidak ada jejak, tidak ada pesan, bahkan frekuensi sinyal ponselnya pun menghilang secara tidak wajar.
Pintu diketuk pelan. Baskara masuk dengan wajah kaku.
"Lapor, Tuan. Kami sempat melacak keberadaan Nona Aruna di area Grand Indonesia siang tadi. Saya melihatnya melintas dengan masker dan kacamata hitam. Namun, begitu tim menyisir seluruh area, Nona seolah lenyap begitu saja."
Gathan memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang bercampur dengan rasa cemas.
"Cari lagi, Bas. Kerahkan semua unit yang ada. Jangan ada yang kembali sebelum membawa kabar pasti."
"Baik, Tuan." Baskara membungkuk hormat lalu melangkah keluar.
Setelah pintu tertutup, Gathan menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Ia menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong, seolah mencoba menembus jarak yang memisahkan mereka.
"Kamu di mana, Na? Jangan buat Kakak khawatir," bisiknya lirih.
Suaranya yang biasanya tegas kini terdengar rapuh.
"Kalau benar kamu sedang bertindak sesuatu yang berbahaya... tolong jangan sendirian."
***
Kepulangan Gathan ke rumah kediaman Ardiansyah malam itu bertepatan dengan Julian. Kakak tirinya itu turun dari mobil dengan senyum yang bagi Gathan terasa sangat palsu.
"Lelah sekali kelihatannya, Gathan? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Julian, basa-basi yang sudah terbaca tujuannya, sekadar memastikan posisi Gathan.
"Berjalan baik seperti biasa," jawab Gathan pendek. Ia tidak berhenti melangkah, membiarkan Julian tertinggal di belakang saat ia memasuki pintu utama rumah mewah itu.
Di dalam, Elena sudah menunggu dengan keanggunannya yang tenang. Wajahnya memancarkan kekhawatiran yang sangat pas porsinya.
"Gathan, kamu baru pulang? Sari sudah menyiapkan makan malam. Oh ya, bagaimana Aruna? Sudah ada kabar?"
Gathan menghela napas, menyalami ibu tirinya dengan formal.
"Belum ada hasil, Ma."
"Mungkin sebaiknya kita lapor polisi saja, Sayang? Ibu sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada adikmu," saran Elena dengan nada lembut yang menyayat.
"Tidak perlu. Saya masih mampu mencarinya dengan cara saya sendiri," tolak Gathan tegas.
Gathan tahu benar, dengan jaringan intelijen yang ia miliki, menemukan orang hilang biasanya hanya butuh waktu hitungan jam. Namun, jika Aruna yang hilang, segalanya menjadi buntu. Seolah sistem sengaja dimatikan dari dalam, titik buta yang hanya bisa diciptakan oleh satu orang. Aruna sendiri. Kemampuan Aruna sebagai peretas kelas atas adalah rahasia yang terkunci rapat hanya mendiang orang tua mereka, Gathan, dan Aruna sendiri yang tahu.
Elena tampak mengusap sudut matanya, berakting sedih, sementara Clarissa yang baru saja turun tangga segera memeluk ibunya. Clarissa mengenakan gaun mini yang sangat ketat dan terbuka.
Gathan melirik adiknya tiri itu dengan tajam.
"Ganti pakaianmu, Clarissa. Terlalu terbuka untuk dipakai di dalam rumah."
Clarissa memutar matanya, "Aduh Kak Gathan, aku kan mau pergi ke acara teman. Memang bajunya model begini," jawabnya manja, padahal Gathan tahu pakaian kurang bahan adalah seragam harian Clarissa.
Tanpa membalas, Gathan langsung melenggang menuju kamarnya di lantai atas. Ia butuh ketenangan.
Di dalam kamar, ia segera melepaskan kemejanya dan berendam di dalam bathtub berisi air dingin. Ia membiarkan suhu ekstrem itu menusuk kulitnya, berharap kepalanya yang terasa ingin meledak bisa sedikit mendingin.
Memikirkan Aruna yang hilang tanpa jejak membuatnya berada di ambang stres. Aruna adalah satu-satunya keluarga inti yang ia miliki.
"Kakak akan temukan kamu, Na. Apapun taruhannya," gumamnya di tengah kesunyian kamar mandi, matanya menatap tajam ke depan dengan tekad yang bulat.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊