Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG YANG TIDAK PUNYA TEMPAT PULANG
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di antara pepohonan. Liang Chen duduk di depan api kecil yang hampir padam. Ia tidak benar-benar tidur semalam. Hanya bersandar pada batang pohon, menutup mata beberapa saat, lalu terbangun lagi ketika suara ranting patah atau hembusan angin terdengar terlalu dekat.
Perempuan yang diselamatkannya malam sebelumnya masih terbaring. Nafasnya sudah jauh lebih stabil. Demamnya juga mulai turun. Liang Chen mengganti kain basah di dahinya, lalu duduk kembali.
Ia tidak bertanya siapa perempuan itu, dari mana asalnya, atau kenapa dikejar orang-orang bersenjata. Ia tidak merasa perlu tahu.
Orang yang terlalu banyak tahu biasanya hidupnya tidak panjang.
Api hampir mati. Liang Chen menambahkan beberapa ranting kering. Nyala kecil kembali muncul. Ia menatap kobaran itu tanpa ekspresi.
Tak lama kemudian, terdengar suara batuk pelan.
Perempuan itu membuka mata. Pandangannya masih buram, tetapi ia langsung sadar bukan berada di tempat yang ia kenal. Tubuhnya menegang, tangannya bergerak seolah mencari sesuatu.
Liang Chen tidak bergerak.
“Air,” katanya pendek.
Ia mendorong mangkuk kayu ke arah perempuan itu.
Perempuan itu ragu sejenak, lalu mengambil mangkuk itu dengan tangan gemetar. Ia minum perlahan, seolah takut air itu akan habis jika ia terlalu cepat.
Setelah minum, ia menatap Liang Chen. Lama. Seolah mencoba mengingat sesuatu.
“Kau… yang menyelamatkanku?”
Liang Chen tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat bahu.
“Kau masih hidup. Itu saja yang penting.”
Perempuan itu mengerutkan kening.
“Apa maksudnya itu saja yang penting? Mereka—mereka pasti masih mencariku.”
“Kalau begitu, kau sebaiknya tidak berteriak terlalu keras.”
Perempuan itu menelan ludah. Ia sadar suaranya tadi memang terlalu tegang.
Beberapa saat, mereka hanya diam. Api kecil di antara mereka berderak pelan.
“Aku harus pergi,” kata perempuan itu tiba-tiba.
Ia mencoba bangun, tetapi tubuhnya langsung goyah. Liang Chen tidak menahannya. Ia hanya menatap.
Perempuan itu mencoba berdiri, lalu jatuh kembali ke tanah. Nafasnya memburu.
“Tubuhmu belum siap,” kata Liang Chen.
“Aku tidak punya waktu untuk menunggu siap.”
“Orang mati juga tidak punya waktu.”
Perempuan itu menatapnya tajam.
“Kau tidak mengerti. Jika aku tetap di sini, mereka akan menemukan kita. Kau juga akan ikut terbunuh.”
Liang Chen menghela napas pelan.
“Aku tidak berencana tinggal di sini lama.”
“Lalu?”
“Setelah kau bisa berjalan, kita berpisah.”
Perempuan itu terdiam.
Seolah kalimat itu lebih mengejutkan daripada ancaman pembunuh.
“Kau… tidak ingin tahu siapa aku?”
Liang Chen menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena setelah tahu, biasanya masalah ikut datang.”
Perempuan itu menggigit bibir. Ada sesuatu dalam nada suara Liang Chen yang membuatnya tidak bisa marah. Bukan karena pria itu bersikap baik, tapi justru karena ia terlihat sama sekali tidak peduli.
“Aku punya uang,” katanya.
Liang Chen menatapnya.
“Tidak banyak. Tapi cukup. Kau bisa mengantarku sampai kota terdekat. Setelah itu kita berpisah.”
Liang Chen kembali menatap api.
“Aku tidak butuh uangmu.”
“Lalu apa yang kau mau?”
“Tidak ada.”
Jawaban itu membuat perempuan itu semakin bingung.
“Orang tidak menolong tanpa alasan.”
Liang Chen mengangkat satu ranting, menusuk bara api agar menyala kembali.
“Aku lewat. Kau hampir mati. Itu saja.”
Perempuan itu terdiam lama.
“Aku tidak punya tempat pulang,” katanya pelan.
Liang Chen tidak menjawab.
“Orang-orang yang mengejarku… mereka dulu adalah orang-orang yang bekerja untuk ayahku. Setelah dia mati, mereka berubah. Mereka ingin sesuatu yang dia simpan. Dan mereka yakin aku tahu di mana.”
Liang Chen tetap diam.
“Aku sudah berjalan berhari-hari. Tidak ada satu pun tempat yang bisa kupakai bersembunyi. Setiap orang yang kutemui hanya ingin menukarkanku dengan hadiah.”
Suara perempuan itu mulai bergetar.
“Kau orang pertama yang tidak menanyakan siapa aku. Itu… aneh.”
Liang Chen akhirnya berbicara.
“Kalau kau tidak punya tempat pulang, cari tempat baru.”
Perempuan itu tertawa kecil, pahit.
“Kalau semudah itu, aku tidak akan berakhir di hutan seperti ini.”
Angin pagi berhembus pelan. Kabut mulai menipis.
“Aku hanya butuh sampai kota berikutnya,” lanjut perempuan itu. “Setelah itu, aku akan mengurus diriku sendiri.”
Liang Chen memandang langit yang mulai terang.
“Kau bisa berjalan jauh?”
Perempuan itu ragu.
“Mungkin… kalau dipaksa.”
Liang Chen bangkit. Ia mematikan api dengan tanah, lalu mengambil tas kecilnya.
“Kita berangkat saat matahari naik sedikit. Jalan pagi terlalu basah.”
Perempuan itu menatapnya, seolah tidak percaya.
“Kau… setuju?”
Liang Chen tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah semak-semak, memeriksa jalur di sekitar.
Perempuan itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak bangun, wajahnya terlihat sedikit tenang.
---
Matahari sudah naik ketika mereka mulai berjalan. Liang Chen berjalan di depan, langkahnya ringan dan tidak tergesa. Perempuan itu mengikuti di belakang, sedikit tertatih, tetapi berusaha tidak mengeluh.
Beberapa kali ia hampir terpeleset di tanah yang lembap. Liang Chen tidak menoleh, tetapi setiap kali itu terjadi, ia melambat sedikit.
“Apa namamu?” tanya perempuan itu.
Liang Chen tidak menjawab.
“Kalau kita berjalan bersama, setidaknya aku harus tahu namamu.”
“Liang Chen.”
Perempuan itu mengangguk.
“Aku Mei Lin.”
Liang Chen tidak memberi reaksi.
“Tidak mau tanya apa-apa?” kata Mei Lin.
“Tidak.”
Mei Lin mendesah.
“Kau orang yang aneh.”
“Banyak orang bilang begitu.”
Mereka berjalan lagi. Hutan mulai menipis. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan.
Tiba-tiba Liang Chen berhenti.
Mei Lin hampir menabraknya dari belakang.
“Ada apa?”
Liang Chen mengangkat tangan, memberi isyarat diam.
Ia menunduk, menyentuh tanah. Jejak kaki. Masih baru.
“Berapa orang?” bisik Mei Lin.
Liang Chen tidak langsung menjawab.
“Lima. Mungkin enam.”
Wajah Mei Lin langsung pucat.
“Mereka…”
“Belum tentu.”
Liang Chen berdiri. Matanya menyapu sekitar.
“Jalan ini sering dipakai orang.”
“Tapi kalau benar mereka…”
“Kita putar arah.”
Mei Lin mengangguk cepat.
Mereka berbelok ke jalur yang lebih sempit. Ranting-ranting rendah menyentuh wajah. Tanah lebih tidak rata. Mei Lin beberapa kali tersandung, tetapi tetap memaksa berjalan.
Sekitar satu jam kemudian, mereka sampai di aliran sungai kecil.
Liang Chen berhenti.
“Kita lewat air.”
“Air?”
“Jejak kaki akan hilang.”
Mei Lin menatap arus sungai. Tidak terlalu dalam, tapi cukup deras.
“Kalau aku terpeleset?”
“Pegang batu. Jangan panik.”
Liang Chen melangkah lebih dulu. Air mencapai lututnya. Ia berjalan melawan arus, perlahan.
Mei Lin mengikuti. Tubuhnya gemetar, entah karena dingin atau takut. Beberapa kali ia hampir kehilangan keseimbangan, tapi berhasil bertahan.
Setelah berjalan cukup jauh di dalam sungai, Liang Chen naik ke tepian yang lain.
“Kita istirahat sebentar,” katanya.
Mei Lin duduk di batu besar, nafasnya berat.
“Kau sudah sering melakukan ini?” tanyanya.
Liang Chen mengangguk kecil.
“Orang yang tidak ingin dikejar harus tahu cara menghilang.”
Mei Lin menatapnya.
“Kau sedang dikejar juga?”
Liang Chen tidak menjawab.
Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Beberapa saat, mereka hanya mendengar suara air mengalir.
“Kenapa kau hidup seperti ini?” tanya Mei Lin pelan. “Sendiri. Tanpa tujuan jelas.”
Liang Chen menatap arus sungai.
“Karena aku tidak punya tempat pulang.”
Mei Lin terdiam.
Jawaban itu terasa lebih berat daripada yang ia duga.
“Semua orang punya masa lalu,” katanya hati-hati.
“Tidak semua orang ingin mengingatnya.”
Mereka kembali diam.
Angin siang mulai terasa hangat. Hutan di seberang sungai terlihat lebih terbuka. Jalan ke kota seharusnya tidak terlalu jauh lagi.
Liang Chen berdiri.
“Kita lanjut. Kalau berjalan cepat, sebelum sore kita sudah keluar dari hutan.”
Mei Lin mengangguk. Ia berdiri, meski kakinya masih terasa lemah.
Saat mereka hendak melangkah, suara ranting patah terdengar dari arah semak-semak.
Liang Chen langsung menarik Mei Lin ke belakangnya.
Tiga orang muncul dari balik pepohonan.
Pakaian mereka kasar, wajah mereka keras. Salah satu dari mereka tersenyum lebar.
“Wah… kita tidak salah jalur rupanya.”
Mei Lin menegang.
“Itu dia,” bisiknya.
Pria di depan melangkah maju.
“Gadis kecil, kau membuat kami berjalan jauh sekali.”
Matanya beralih ke Liang Chen.
“Dan kau… orang yang tidak kami kenal. Sayang sekali kau harus ikut mati.”
Liang Chen tidak menjawab. Tangannya bergerak pelan, menggenggam gagang pedangnya.
Ia sudah tahu.
Perjalanan ke kota tidak akan semudah yang ia katakan tadi.