Takashi, seorang otaku yang mendalami cerita Maou Gakuin no Futekigousha, tiba-tiba bereinkarnasi ke dunia tersebut sebagai Raja Iblis Kuno Valerius yang memerintah ribuan tahun sebelum Anos Voldigoad. Valerius memiliki kekuatan tak terukur dan tujuan adalah mengakhiri perang antar ras melalui kekuatan dan diplomasi, membangun dasar untuk kerajaan iblis yang kuat. Namun, ia menyadari masa depan yang akan datang, di mana Anos akan lahir untuk melanjutkan warisan perdamaian. Valerius menghadapi pemberontakan dari bangsa iblis yang ekstrem dan ancaman dari ras lain, menggunakan kepintaran dan kekuatan untuk menaklukkan musuh, sembari menyimpan warisan yang akan diwariskan kepada penerusnya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Artefak Kuno Valerius
Namun ekspresi wajahnya yang lembut menyatakan hal yang berbeda. Ketika pelajaran dimulai, profesor yang mengajar mata pelajaran Sejarah Sihir Dunia Lain tampak lebih antusias dari biasanya. Ia memberitahu kelas bahwa ada kunjungan khusus ke museum sejarah sihir yang terletak beberapa kilometer dari akademi, dan mereka akan berangkat dalam beberapa hari lagi. Setelah pelajaran selesai, Valerius mengajak Sasha berjalan-jalan di halaman akademi seperti yang mereka janjikan malam sebelumnya. Mereka duduk di bangku kayu yang sama dengan tempat Valerius berdiri malam itu, dan kali ini Valerius mulai bercerita tentang dunia lamanya.
"Di dunia ku dulu, tidak ada akademi seperti ini. Kita belajar bertarung dan menggunakan sihir di medan perang sendiri, Bunga seperti itu sangat langka di sana hanya tumbuh di tempat yang sudah bebas dari perang selama bertahun-tahun. Aku selalu merasa bahwa bunga itu adalah tanda bahwa kehidupan bisa kembali normal setelah segala sesuatu berakhir." Ujar Valerius sambil melihat ke arah langit yang mulai menguning karena senja.
Sasha mendengarkan dengan seksama, menggenggam tangan Valerius dengan lembut. "Kamu pasti mengalami banyak hal yang sulit di sana, bukan?"
"Ya, Tapi itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang aku punya tempat untuk tinggal, punya teman-teman yang bisa dipercaya, dan..." Jawab Valerius dengan tenang. Ia menoleh ke arah Sasha dengan pandangan yang penuh cinta. "...punya seseorang yang membuat hidup ini lebih berarti."
Sasha tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Valerius. "Kamu tahu kan, aku akan selalu ada untukmu, Kak Valerius. Tidak peduli apa yang terjadi di masa depan."
Valerius mengelus kepala Sasha dengan lembut. "Aku tahu. Dan aku juga akan selalu ada untukmu, Sasha. Bahkan jika aku harus menghadapi seluruh pasukan dewa sekalipun."
Mereka tetap duduk di sana sampai matahari benar-benar terbenam, berbagi cerita dan candaan. Di kejauhan, Misha dan Anos melihat mereka dengan senyum puas. "Sepertinya dunia kita menjadi lebih damai sekarang," ujar Misha.
Anos mengangguk. "Ya, tapi kita tetap harus waspada. Namun untuk saat ini, mari kita biarkan mereka menikmati momen indah ini. Mereka sudah cukup berjuang untuk bisa sampai di titik ini."
"Kau benar, saudari, Mereka memang bisa menjadi bagian dari masa depan yang lebih baik. Aku akan tetap mengawasinya, tapi bukan lagi sebagai musuh."
Ujar Nousperia dengan suara yang lebih hangat dari sebelumnya.
Luminasia tersenyum. "Dunia ini membutuhkan perubahan, dan mereka adalah orang-orang yang bisa membawa perubahan itu. Sekarang kita hanya perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan."
Hari kunjungan ke museum sejarah sihir tiba dengan cepat. Seluruh kelas berkumpul di halaman akademi, naik ke dalam kereta sihir yang akan mengantar mereka ke tujuan. Sasha duduk tepat di sebelah Valerius, tangan mereka saling bergandengan erat, sementara Misha dan Anos duduk di kursi depan mereka.
Museum itu berdiri megah di tengah hutan yang rindang, dengan tembok batu yang tua namun tetap kokoh. Di dalamnya, berbagai artefak sihir dari zaman kuno tersusun rapi di dalam showcase kaca yang diberi perlindungan sihir. Saat mereka berjalan melalui lorong-lorong museum, profesor mulai menjelaskan tentang setiap benda yang ada di sana. Valerius mengikuti dengan tenang, namun tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah showcase yang terletak di sudut paling dalam lorong. Rasa energi sihir yang sangat familiar menyentuh dirinya, membuat hatinya berdebar kencang. Di dalam showcase itu, terlihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang hitam dan cincin dengan ukiran kepala naga yang mengerikan kedua benda itu adalah miliknya sebelum ia memasuki tidur panjang yang menyebabkannya berada di dunia sekarang.
"Aku kenal benda itu," bisik Valerius dengan suara yang penuh emosi.
Profesor terkejut dan mendekat. "Itu adalah artefak dari kerajaan vampir kuno yang hilang ribuan tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya sebenarnya."
Tanpa berpikir dua kali, Valerius membuka showcase dengan mudah—perlindungan sihir di sekitarnya tidak berdaya menghadapi keberadaannya. Saat jarinya menyentuh kalung dan cincin, energi sihir yang kuat meledak keluar, membuat seluruh museum bergoyang sedikit. Aura hangat dari para bawahannya yang setia menyelimuti dirinya, dan dalam sekejap, sosok-sosok sosok pria dan wanita berpakaian gaun serta baju besi kuno muncul di sekeliling mereka.
"MEREKA DATANG!" seru salah satu murid dengan terkejut, membuat beberapa orang lain mundur ke belakang bahkan ada yang pingsan karena kejutan dan aura yang kuat yang terpancar dari para sosok tersebut.
"Yang Mulia Valerius! Kami telah menunggu kembalinya Anda selama berabad-abad!" ucap pemimpin kelompok tersebut dengan membungkuk rendah, wajahnya penuh kesetian.
Semua orang di sana tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat—para makhluk kuno yang hanya dikenal dari cerita rakyat kini berdiri di hadapan mereka dengan nyata. Valerius mengangguk perlahan, menyentuh bahu pemimpin bawahannya dengan lembut. "Aku tahu kalian selalu setia menungguku. Kekuatan kalian tidak pernah padam, bahkan setelah aku hilang begitu lama."
Setelah beberapa saat, Valerius berbalik menghadap teman-temannya yang masih terkejut. "Aku harus segera kembali ke kastil yang terletak di dimensi tersembunyi. Di sana, aku bisa merasakan setiap perubahan energi sihir di seluruh dunia dan menjaganya dari kejauhan. Ancaman yang sebenarnya mungkin akan datang kembali suatu hari nanti, dan aku perlu berada di tempat yang tepat untuk menghadapinya."
Sasha segera mengangkat tangannya, matanya penuh tekad. "Aku ingin ikut bersamamu, Kak Valerius! Aku bisa membantu kamu melindungi kastil dan dunia ini!"
Namun Valerius menggeleng perlahan, menyentuh pipi Sasha dengan lembut. "Maafkan aku, Sasha. Tempat itu jauh lebih berbahaya daripada dunia ini. Ada banyak makhluk dan energi sihir yang belum terkendali di sana. Aku tidak bisa membiarkanmu terkena bahaya."
Sebelum Sasha bisa membantah, Valerius menoleh ke arah Anos dan Misha. "Aku punya sesuatu yang ingin kubilang padamu, Anos. Misha telah menyimpan perasaan padamu selama cukup lama. Dia selalu ada di sisimu ketika kamu membutuhkannya, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kesusahan."
Misha yang sedang berdiri di belakang Anos langsung menjadi merah hingga telinga, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Anos terkejut namun segera menoleh ke arahnya dengan pandangan yang lebih hangat dari biasanya. Valerius kemudian mengambil kalung dan cincin, memasangkannya dengan hati-hati di leher dan jari tangannya. Seiring dengan itu, aura di sekelilingnya berubah total dari aura pria muda yang tenang menjadi aura pemimpin yang megah dan kuat. Pakaiannya juga berubah secara otomatis menjadi gaun hitam bergaris emas dengan mantel panjang yang mengalir ke lantai. Semua orang di sana semakin kaget melihat perubahan yang terjadi padanya. Kekuatannya yang sebenarnya mulai muncul—bahkan lebih besar dari apa yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengerti bahwa kekuatannya tidak sepenuhnya pulih selama ini karena tidak memakai benda-benda miliknya yang asli. Dengan cepat, Valerius menekan kembali aura yang terlalu kuat agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.
"Aku tidak akan pergi selamanya, Setiap bulan purnama, aku akan kembali mengunjungi kalian di akademi. Dan jika dunia ini membutuhkan bantuan, kalian hanya perlu memanggil namaku, lalu aku akan datang secepat mungkin."
Ujar Valerius dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan penuh wewenang.
Para bawahannya mulai membentuk lingkaran di sekitarnya, menyiapkan portal untuk kembali ke kastil. Valerius melihat Sasha dengan pandangan yang penuh cinta, lalu memberikan seikat bunga ungu muda yang ia ciptakan dengan sihir bunga itu tidak akan pernah layu. "Ingat selalu bahwa kamu adalah orang yang paling berharga bagiku. Jangan berhenti menjadi kuat dan selalu jaga diri sendiri serta teman-temanmu."
Sasha menangis namun tetap tersenyum, menerima bunga itu dengan hati-hati. "Aku akan menunggumu setiap bulan purnama, Kak Valerius. Dan aku akan menjadi lebih kuat agar suatu hari nanti aku bisa berdiri di sisimu tanpa membuatmu khawatir."
Valerius mengangguk dan kemudian menoleh ke arah Anos dan Misha. "Jaga dia dengan baik, dan juga jaga dirimu sendiri, Anos. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki."