Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka masa lalu
Taman belakang rumah Luciano sunyi, hanya suara dedaunan yang bergesek pelan tertiup angin sore. Alana duduk di bangku kayu, secangkir teh hangat di tangannya. Matanya kosong, menatap kolam kecil di depan, pikirannya jauh dari sana.
Altair berdiri beberapa langkah darinya. Tidak seperti para pengawal lain, ia tidak kaku. Tidak pula mengintimidasi. Ia hanya hadir.
“Kau tidak ikut mengawasi ku?” tanya Alana tanpa menoleh.
Altair tersenyum tipis. “Kalau saya berdiri lebih dekat, Tuan Luciano akan mengira saya sedang menginterogasi Nyonya.”
Alana mendengus kecil. “Masuk akal.”
Beberapa detik hening berlalu sebelum Alana akhirnya bicara lagi. “Kau sudah lama bersamanya, ya?”
“Sejak Tuan Luciano berusia sembilan belas tahun,” jawab Altair. “Sebelum ia menjadi seperti sekarang.”
Alana menoleh. “Seperti sekarang?”
Altair ragu sejenak, lalu mendekat dan duduk di bangku seberang. “Dingin, terkontrol. Tidak memberi ruang pada siapa pun.”
“Termasuk aku,” gumam Alana.
Altair menatapnya dalam-dalam. “Justru Nyonya pengecualian.”
Alana terdiam. “Kenapa dia seperti ini, Altair?” suaranya melembut tanpa ia sadari. “Kenapa caranya mencintaiku terasa seperti ketakutan?”
Altair menarik napas panjang. Ini bukan cerita yang biasa ia ceritakan.
“Tuan Luciano adalah korban perceraian yang sangat buruk,” katanya akhirnya. “Ayahnya berselingkuh. Bertahun-tahun ibunya tahu, tapi memilih diam.”
Alana mengepalkan jari di atas cangkir.
“Sampai suatu hari,” lanjut Altair pelan, “ibunya tidak kuat lagi. Ia meninggalkan pesan singkat lalu mengakhiri hidupnya sendiri.”
Wajah Alana memucat. “Astaga…”
“Luciano yang menemukannya,” kata Altair lirih. “Ia masih anak-anak. Sejak hari itu, ia percaya satu hal, cinta selalu berakhir dengan ditinggalkan.”
Alana menutup matanya. Dada nya terasa sesak.
“Setelah itu,” Altair melanjutkan, “ia membangun tembok. Tidak pernah benar-benar dekat dengan siapa pun. Perempuan baginya hanya distraksi. Bukan tempat pulang.”
Alana menelan ludah. “Lalu aku datang dan merusaknya.”
Altair menggeleng. “Anda tidak merusaknya. Anda mengubahnya.”
Alana menatap Altair, bingung.
“Gereja itu,” ucap Altair pelan, “adalah satu-satunya tempat yang masih ia datangi sendirian. Bukan untuk berdoa, tapi untuk duduk. Mengingat ibunya.”
Alana teringat hari itu. Luciano yang terluka. Kacau. Darah di kemejanya, kekacauan yang hampir merenggut nyawanya.
“Nyonya tidak mengenalnya,” lanjut Altair. “Tapi Nyonya melindunginya. Menariknya untuk bersembunyi. Menjaga dia tetap sadar. Nyonya menyentuh tangannya dan mengatakan agar Luciano harus bertahan.”
Alana tercekat. “Kau… tahu semua itu?”
“Tuan Luciano tidak pernah melupakan kalimat itu,” jawab Altair. “Sejak hari itu, ia memutuskan satu hal, kalau ia pernah mencintai lagi, ia tidak akan membiarkannya pergi.”
Alana tertawa kecil, getir. “Jadi aku ini obat dan racun sekaligus.”
“Bagi Tuan Luciano,” Altair menatapnya penuh makna, “Nyonya adalah alasan ia bertahan hidup. Dan itulah kenapa cintanya berlebihan. Takut dan terlalu posesif.”
Alana menunduk. Air mata jatuh ke permukaan teh.
“Aku tidak minta dicintai seperti itu,” bisiknya.
Altair berdiri. “Saya tahu. Tapi saya harap nyonya tidak salah mengartikan satu hal.”
Alana menatapnya.
“Dia tidak ingin memiliki Anda,” kata Altair. “Dia hanya takut kehilangan satu-satunya keajaiban yang pernah datang ke hidupnya.”
Dari kejauhan, Luciano berdiri di balik pilar. Ia mendengar semuanya.
Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Tapi matanya, mata itu basah, tanpa ia sadari.
Dan untuk pertama kalinya, Luciano bertanya pada dirinya sendiri.
“Apakah cintanya sedang melindungi Alana? Atau justru sedang menghancurkannya?”
Altair pergi lebih dulu, meninggalkan Alana sendirian di taman. Senja turun perlahan, langit berubah jingga keabu-abuan. Alana masih duduk di bangku, pikirannya penuh oleh cerita yang baru saja ia dengar, cerita tentang luka yang terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan waktu.
Langkah kaki pelan terdengar dari arah pilar.
Alana tahu siapa itu bahkan sebelum menoleh.
“Kamu, dengar semuanya?” tanyanya tanpa emosi.
Luciano berhenti beberapa langkah darinya. Tidak mendekat. Tidak pula pergi. “Cukup untuk tahu bahwa aku tidak pandai menyembunyikan masa lalu.”
Alana akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya tanpa amarah yang menyala, hanya kelelahan yang jujur.
“Aku nggak kasihan sama sekali,” kata Alana pelan. “Kalau itu yang kamu pikirkan.”
Luciano mengangguk. “Aku tidak menginginkannya.”
“Dan aku juga nggak akan membenarkan caramu mencintaiku,” lanjut Alana. “Trauma bukan alasan untuk mengurung orang lain.”
Luciano menerima itu tanpa membantah. “Benar.”
Kejujuran itu membuat Alana sedikit goyah.
“Kamu tahu apa yang paling menakutkan?” Alana berdiri, menatap kolam. “Bukan obsesi mu. Tapi kenyataan bahwa aku mengerti kenapa kamu seperti ini.”
Luciano melangkah satu langkah mendeka perlahan, meminta izin lewat bahasa tubuh, Alana tidak mundur.
“Aku tidak pernah berani jatuh cinta,” ucap Luciano rendah. “Karena cinta mengambil. Dan selalu meninggalkan.”
“Lalu aku datang,” sambung Alana lirih. “Dan kamu memutuskan untuk menggenggam terlalu erat.”
Luciano menghela napas panjang. “Karena aku takut kalau aku longgar sedikit saja… kau akan pergi seperti ibuku.”
Nama itu melayang di udara.
Alana menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Aku bukan ibumu, Luciano.”
“Aku tahu,” katanya cepat. “Dan justru karena itu aku harus belajar cara yang berbeda.”
Ia menatap Alana dengan ketegasan yang tidak mengancam, tapi juga tidak ragu. “Aku tidak akan berpura-pura berubah dalam semalam. Aku masih akan cemburu. Masih akan posesif. Masih akan menjaga jarak dunia darimu.”
“Dan aku masih akan marah,” balas Alana jujur. “Masih ingin kabur. Masih ingin hidupku sendiri.”
Luciano mengangguk. “Itu adil.”
Hening menyelimuti mereka, hening yang rapuh, tapi tidak memusuhi.
“Di gereja waktu itu,” kata Luciano tiba-tiba, “kau menyentuh tanganku. Tidak takut. Tidak jijik.”
Alana teringat jelas. Darah, kekacauan. Tatapan pria yang hampir menyerah pada hidup.
“Aku tidak menyelamatkanmu karena kau Luciano,” katanya. “Aku melakukannya karena kau manusia.”
Luciano menatapnya lama. “Dan sejak saat itu aku ingin menjadi manusia yang pantas untukmu.”
Alana tertawa kecil, getir. “Kau masih jauh.”
“Aku tahu,” jawab Luciano tenang. “Tapi aku berjalan ke arahmu. Setiap hari.”
Ia berhenti tepat di hadapan Alana, cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak memaksa.
“Aku tidak akan memintamu mencintaiku,” ucapnya. “Belum.”
Alana mengernyit. “Lalu apa?”
“Jangan pergi,” katanya tegas namun lembut. “Itu saja.”
Alana menatap matanya. Mata seorang pria yang terbiasa menguasai segalanya, kecuali rasa takut terbesarnya.
“Aku nggak janji,” katanya akhirnya.
Luciano tersenyum tipis. Senyum yang tidak menang, tapi juga tidak kalah.
“Itu sudah cukup,” ujarnya.
Dari kejauhan, rumah itu tampak tenang. Terlalu tenang untuk badai yang sedang disiapkan di luar sana.
Dan di antara Alana dan Luciano, untuk pertama kalinya, cinta tidak hadir sebagai rantai, melainkan sebagai pertarungan yang jujur.
***
Malam turun dengan tenang, terlalu tenang.
Alana kembali ke kamarnya setelah makan malam, bukan sendirian, tapi juga tidak dikawal ketat. Itu perubahan kecil yang langsung ia sadari. Luciano menepati ucapannya. Tidak mengurung. Tidak mengunci. Tapi tetap ada.
Selalu ada.
Alana berdiri di depan jendela, menatap halaman luas yang diterangi lampu-lampu taman. Ia memeluk dirinya sendiri, pikirannya penuh oleh cerita Altair, oleh tatapan Luciano, oleh luka yang kini terasa terlalu dekat dengan dadanya sendiri.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Alana datar.
Luciano muncul, kali ini tanpa jas. Hanya kemeja hitam sederhana, lengan digulung. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya foku, selalu fokus padanya.
“Aku hanya mau memastikan kau baik-baik saja,” katanya.
“Aku masih hidup,” jawab Alana singkat.
Luciano tersenyum kecil. “Itu kabar terbaik hari ini.”
Ia berdiri di ambang pintu, tidak masuk sepenuhnya. Menjaga jarak. Tapi matanya menelusuri setiap detail wajah Alana yang lebih segar, rambutnya yang tergerai, napasnya yang sudah lebih teratur.
“Kamu natap aku lagi,” ujar Alana tanpa menoleh.
“Aku selalu menatapmu,” balas Luciano jujur. “Aku hanya belajar untuk tidak mendekat.”
Alana menoleh. “Dan itu menyiksamu?”
“Setiap detik,” jawabnya tanpa ragu.
Keheningan kembali turun. Lalu ponsel Luciano bergetar di sakunya. Ia mengeluarkannya, sekilas melirik layar dan alisnya sedikit berkerut.
“Masalah?” tanya Alana, nada suaranya netral tapi matanya awas.
“Undangan,” jawab Luciano singkat. “Acara amal. Beberapa tamu penting.”
“Termasuk perempuan-perempuan cantik yang biasa berkeliaran di duniamu?” sindir Alana.
Luciano menatapnya cepat. “Aku tidak tertarik.”
“Bukan itu pertanyaannya.”
Luciano mendekat satu langkah. Suaranya merendah, tegas. “Tidak ada satu pun perempuan di dunia ini yang bisa mengalihkan perhatianku darimu. Kalau aku berada di ruangan yang sama dengan mereka… aku tetap akan mencarimu.”
Nada itu bukan rayuan. Itu pernyataan.
Alana menelan ludah. “Kau seharusnya berhati-hati dengan kata-katamu.”
“Aku selalu berhati-hati denganmu,” jawab Luciano. “Karena kau satu-satunya kelemahanku.”
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan masuk.
***
Di tempat lain, di sebuah lounge mewah, Jenny tersenyum puas menatap layar ponselnya.
Valeria:
Tenang saja. Aku sudah mendapat akses ke acara amal itu. Luciano akan melihatku. Tinggal tunggu reaksinya… atau reaksinya Alana.
Jenny meneguk wine-nya perlahan. “Permainan dimulai,” gumamnya.
***
“Aku harus pergi sebentar,” katanya. “Tapi aku akan kembali malam ini.”
“Kenapa?” tanya Alana pelan.
Luciano menatapnya lurus. “Karena aku ingin kau tahu ke mana aku pergi. Dengan siapa aku bertemu. Aku tidak ingin kau meragukanku… meski dunia berusaha membuatmu begitu.”
Alana menghela napas. “Aku nggak minta kamu membuktikan apa pun.”
“Aku tahu,” jawab Luciano. “Aku yang membutuhkannya.”
Ia berbalik pergi, lalu berhenti sejenak di pintu.
“Alana,” katanya tanpa menoleh, suaranya rendah dan penuh keyakinan.
“Tidak peduli siapa pun yang mencoba berdiri di antara kita… mereka tidak akan pernah menjadi pilihanku.”
Pintu tertutup pelan.
Alana berdiri diam cukup lama. Ada sesuatu di dadanya, bukan marah, bukan lega.
Takut karena untuk pertama kalinya, ia sadar, jika kepercayaan itu runtuh, yang hancur bukan hanya cintanya Luciano, tapi juga dirinya sendiri. Dan di luar sana, senyum yang bukan untuk Luciano sedang dipersiapkan
khusus untuk menghancurkan mereka berdua.
***