NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pelarian di Bawah Tanah dan Tes Pertama Yue

Air selokan yang setinggi mata kaki itu terasa seperti es yang mematikan saraf-saraf di kaki Jiangzhu. Setiap kali ia melangkah, lumpur hitam yang berbau busuk bangkai masuk ke sela-sela jari kakinya, rasa gatal dan panas yang menyengat mulai menjalar. Di belakang mereka, suara geraman itu semakin dekat suara gesekan karapas keras pada dinding batu yang lembap.

"Itu adalah Kelabang Lumpur Bermata Seribu," suara Yue terdengar tanpa emosi, meski ia kini bergerak lebih cepat. "Mereka buta, tapi mereka bisa merasakan detak jantungmu dari jarak lima puluh meter. Jika kau tidak bisa menahan debar jantungmu, kau hanya akan menjadi tumpukan pupuk di gorong-gorong ini."

Jiangzhu mengertakkan gigi. Bagaimana mungkin ia bisa menenangkan jantungnya saat seorang gadis kecil gemetar di punggungnya dan monster raksasa mengejarnya?

"Gunakan napas 'Kekosongan' yang diajarkan Penatua Mo!" Li’er berbisik dari ruang jiwanya. Hawa dingin Li’er merambat ke dada Jiangzhu, mencoba membekukan detak jantungnya secara paksa.

Sret! Sret!

Dinding di samping Jiangzhu retak. Sebuah kaki panjang yang dipenuhi bulu-bulu tajam dan lendir beracun menusuk tepat di samping kepalanya. Jiangzhu merunduk, nyaris saja lehernya terpenggal oleh kaki monster itu.

"Sialan!" Jiangzhu berteriak. Ia tidak bisa terus berlari. Lorong ini terlalu sempit untuk manuver pelarian. "Yue! Ambil anak ini!"

Tanpa menunggu persetujuan, Jiangzhu mengayunkan Awan ke arah Yue. Wanita bermata elang itu menangkap Awan dengan satu tangan dengan kelincahan seorang pemangsa.

"Apa yang kau lakukan, Bocah?!" teriak Penatua Mo kaget. "Kau belum pulih sepenuhnya!"

"Aku tidak bisa bertarung sambil melindunginya!" Jiangzhu membalikkan badan. Pedang besi hitamnya kini berdengung, diselimuti oleh aura hitam pekat yang tampak mengisap cahaya redup di lorong tersebut.

Dari kegelapan, muncul kepala monster itu. Benar saja, itu adalah kelabang raksasa dengan ratusan mata kecil yang berdenyut di sepanjang kepalanya yang mengerikan. Mulutnya yang penuh taring bergerak-gerak, mengeluarkan cairan hijau yang melepuhkan lantai batu saat bersentuhan.

"Kau ingin detak jantungku?" Jiangzhu menyeringai, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai iblis. "Akan kuberikan detak jantung terakhir yang akan kau dengar!"

Jiangzhu tidak menunggu monster itu menyerang. Ia melompat ke arah dinding, kakinya berpijak pada batu yang licin, lalu meluncur seperti peluru ke arah kepala kelabang itu.

BUM!

Pedang hitamnya menghantam karapas keras monster itu. Percikan api dan lendir hitam terbang ke mana-mana. Karapas itu retak, tapi tidak hancur. Monster itu melengking kesakitan, ekornya yang panjang melesat dari kegelapan untuk mencambuk Jiangzhu.

PLAK!

Tubuh Jiangzhu terlempar, menghantam dinding lorong hingga ia memuntahkan darah segar. Rasanya seperti seluruh tulang rusuknya remuk. Namun, di saat itulah, kemampuan pasif "Tubuh Tanpa Rasa Sakit" dari Li’er bekerja. Rasa sakit yang seharusnya membuatnya pingsan mendadak berubah menjadi sensasi dingin yang tumpul.

Jiangzhu bangkit berdiri seolah-olah ia tidak terluka. Matanya berkilat ungu pekat. "Hanya itu?"

Ia mengalirkan energi Iblis dan energi manusia secara bersamaan ke dalam pedangnya. Bilah pedang itu mulai memerah, memancarkan panas yang kontras dengan air selokan di bawahnya.

"Teknik Trinitas: Tebasan Pemutus Jiwa!"

Jiangzhu mengayunkan pedangnya dalam busur vertikal. Kali ini, bilah pedang itu tidak hanya menghantam fisik, tapi memotong langsung ke arah energi kehidupan monster tersebut.

CRAAAKKK!

Kepala kelabang itu terbelah menjadi dua. Cairan hijau kental menyembur keluar, membasahi sekujur tubuh Jiangzhu. Monster itu menggeliat hebat sebelum akhirnya terkulai tak bernyawa di dalam air keruh.

Jiangzhu terengah-engah, tangannya gemetar. Ia merasakan energi di tubuhnya terkuras habis.

Yue, yang berdiri beberapa meter di depannya sambil mendekap Awan, menatap Jiangzhu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa hormat yang terselip di balik topeng peraknya.

"Kau membunuh Kelabang Tingkat Bumi tahap menengah dalam satu serangan," Yue berkomentar datar. "Mungkin kau memang bukan hanya sekadar sampah beruntung."

"Simpan pujianmu," Jiangzhu menyeka lendir dari wajahnya dengan jijik. "Ke mana sekarang?"

"Kita hampir sampai di pintu masuk Menara Kegelapan. Tapi ingat, Jiangzhu, tes yang sebenarnya baru saja dimulai. Kelabang itu hanya penjaga gerbang. Orang-orang di dalam menara tidak akan menyambutmu dengan pedang, tapi dengan jebakan yang akan membuatmu memohon untuk mati."

Jiangzhu mengambil kembali Awan dari pelukan Yue. Gadis kecil itu menatapnya dengan mata biru jernihnya, tangannya yang kecil menyentuh luka di pipi Jiangzhu. Ajaibnya, rasa panas dari racun kelabang di luka itu mendadak hilang.

"Terima kasih... Kakak," bisik Awan pelan.

Jiangzhu terpaku sejenak. Kata 'Kakak' itu terasa sangat asing namun memberikan kehangatan aneh di hatinya yang mulai membatu. Ia hanya mengangguk singkat, lalu mengikuti Yue menembus jeruji besi besar yang berkarat di ujung lorong.

Di balik jeruji itu, sebuah pemandangan luar biasa terbentang. Sebuah ruang bawah tanah raksasa yang luasnya mungkin menyamai setengah dari Kota Seribu Topeng. Di tengahnya, berdiri sebuah menara hitam legam yang puncaknya menembus langit-langit gua. Menara itu dikelilingi oleh ribuan lampion merah yang melayang, memberikan aura mistis dan berbahaya.

"Itu dia," Yue menunjuk ke menara tersebut. "Tempat di mana dosa dibersihkan dan kekuatan diuji. Selamat datang di pusat saraf Kota Seribu Topeng."

Jiangzhu menatap menara itu. Ia bisa merasakan ribuan aura kuat di dalamnya. Ada rasa haus darah, ada ambisi, dan ada kesedihan yang mendalam.

"Pak Tua, menurutmu aku bisa bertahan di sana?" tanya Jiangzhu dalam hati.

Penatua Mo terkekeh, kali ini dengan nada yang serius. "Bocah, di menara itu kau akan menemukan bahwa manusia jauh lebih menakutkan daripada kelabang manapun. Jangan percaya pada siapa pun, termasuk wanita di depanmu itu."

Jiangzhu mengeratkan pegangannya pada pedang hitamnya. "Aku tahu."

Jiangzhu tersedak saat menghirup uap belerang yang merembes dari sela-sela dinding menara. Ia meludah, dan air liurnya kini bercampur dengan lendir hijau monster yang mulai mengeras seperti semen di wajahnya. Bau amis itu seolah terserap ke dalam pori-porinya, membuatnya merasa jijik pada tubuhnya sendiri.

"Berhenti menatapku seperti aku ini barang antik," gerutu Jiangzhu saat menangkap lirikan Yue dari balik topeng peraknya. "Jika kau ingin aku mati di dalam sana, katakan saja sekarang agar aku tidak perlu membuang energi untuk memanjat tangga sialan itu."

Yue hanya mendengus, suara yang lebih mirip desis ular daripada tawa. "Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran orang yang hampir kehilangan kaki karena racun kelabang. Masuklah, atau aku akan membiarkan penjaga gerbang itu mencincangmu."

Jiangzhu menoleh ke arah Awan yang masih diam dalam dekapannya. Gadis itu tidak menangis, tapi tubuhnya sedingin es. Anehnya, setiap kali kulit Awan bersentuhan dengan luka di tangan Jiangzhu, ada sensasi hangat yang menyengat seperti aliran listrik kecil yang mencoba menjahit kembali otot-ototnya yang robek.

Bocah, anak itu... dia menyerap racun dari tubuhmu, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar tegang. Dia bukan sekadar menyembuhkan, dia memindahkan beban itu ke dirinya sendiri. Jika kau tidak hati-hati, kau akan membunuhnya sebelum kau mencapai lantai tiga.

Jiangzhu tersentak. Ia segera melonggarkan pelukannya, menatap Awan dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasa bersalah yang tajam menusuk ulu hatinya, sebuah perasaan manusiawi yang ia pikir sudah mati di Lembah Kabut Jiwa.

"Jangan lakukan itu lagi," bisik Jiangzhu pada Awan, suaranya parau. "Tetaplah di belakangku. Jangan coba-coba menjadi pahlawan."

Awan hanya mengangguk kecil, matanya yang biru jernih tampak berkaca-kaca di bawah cahaya lampion merah yang remang-remang. Jiangzhu memalingkan wajah, mengencangkan ikatan kain pedangnya. Ia melangkah menuju gerbang Menara Kegelapan yang terbuat dari tulang binatang purba yang menghitam.

Di atas gerbang itu, tergantung sebuah topeng badut raksasa yang tersenyum menyeringai, matanya terbuat dari permata merah yang tampak mengawasi setiap jiwa yang masuk. Jiangzhu merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan sekadar ujian kekuatan; ini adalah tempat di mana kegilaan dipuja sebagai tuhan.

"Selamat datang di tempat pembuangan," gumam Jiangzhu sinis sambil mendorong pintu gerbang yang berat itu. "Mari kita lihat seberapa jauh lubang ini bisa menelanku."

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!