NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Musuh

Mansion Gemilar seolah tenggelam dalam ketenangan yang terlalu sempurna, ditambah gelapnya malam yang hanya dihiasi oleh bulan tertutup awan menambah kesan yang terasa berbeda. Shabiya baru saja menyelesaikan lukisannya di ruang kaca, pemandangan danau yang tenang, persis seperti yang diminta Galen. Ia merasa puas, bukan karena hasil karyanya, melainkan karena ia melihat Galen tersenyum tipis saat melihat progres lukisan itu tadi sore. Bagi Shabiya, senyum itu adalah segalanya, itu adalah bentuk validasi bahwa ia telah berhasil menjadi pelabuhan bagi jiwa suaminya yang lelah.

Galen sedang berada di ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa transaksi saham di pasar London yang baru saja dibuka. Shabiya memutuskan untuk membawakannya secangkir teh kamomil. Ia berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sunyi, mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih yang menyapu lantai.

Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat Arsen berlari kecil di koridor bawah dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Wajah pria itu terlihat panik. Arsen membawa senapan taktis di tangannya, sesuatu yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi di balik jas hitamnya.

"Matikan semua lampu utama! Sekarang!" perintah Arsen melalui earpiece-nya.

Seketika, seluruh mansion jatuh ke dalam kegelapan total. Hanya lampu darurat berwarna merah redup yang menyala di setiap sudut-sudut langit-langit, memberikan kesan mencekam seolah rumah itu sedang dilahap gelapnya malam.

Sebelum Shabiya sempat berteriak, sebuah ledakan keras mengguncang gerbang depan. Suaranya begitu memekakkan telinga hingga kaca-kaca jendela bergetar hebat. Itu bukan suara kembang api seperti yang ada dalam pikiran sekilas nya, itu adalah granat atau bahan peledak taktis.

"Shabiya!"

Suara Galen menggelegar dari ujung koridor. Dalam kegelapan, Shabiya melihat bayangan pria itu berlari ke arahnya. Galen tidak lagi tampak seperti suami manis yang memberinya bunga pagi tadi. Ia mengenakan rompi antipeluru di balik kemejanya, dan di tangannya tergenggam sebuah pistol semi-otomatis hitam legam.

"Galen, apa yang terjadi?" Shabiya bertanya dengan suara bergetar.

Galen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyambar pinggang Shabiya, mengangkatnya dengan satu tangan seolah Shabiya tidak berbobot, dan menariknya masuk ke dalam ruang kerjanya yang memiliki pintu baja berlapis kayu.

PRANG!

Kaca di ruang kaca tempat Shabiya melukis tadi hancur berkeping-keping akibat rentetan peluru dari arah hutan di luar. Suara tembakan menyalak bersahut-sahutan, memecah keheningan malam menjadi simfoni kematian. Kelompok bersenjata yang merupakan musuh lama Galen yang memanfaatkan momen kelengahan sang penguasabtengah melakukan serangan terencana untuk menghabisi Galen di bentengnya sendiri.

"Tetap di bawah meja ini. Jangan bergerak, jangan bersuara, apa pun yang kau dengar, tetap diam di tempat," perintah Galen. Suaranya rendah, penuh otoritas, dan dingin. Ada kilatan beringas di matanya yang membuat Shabiya menyadari bahwa pria ini adalah seorang monster yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.

"Galen, kau mau ke mana?" Shabiya mencengkeram ujung kemeja Galen, matanya penuh air mata ketakutan.

Galen memegang wajah Shabiya dengan kasar, ibu jarinya menekan pipinya. "Aku akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhmu, Thana."

Nama itu. Di tengah desingan peluru, Galen kembali menyebut nama itu. Shabiya tersentak, namun ketakutannya lebih besar daripada rasa sakit hatinya. Galen berbalik dan keluar dari ruangan, mengunci pintu baja itu dari luar.

Shabiya meringkuk di bawah meja kayu yang berat. Dari luar, ia mendengar suara pertempuran yang brutal. Suara langkah kaki berat di koridor, teriakan kesakitan, dan suara tembakan yang memekakkan telinga. Namun, yang paling mengerikan adalah suara Galen. Pria itu berteriak dengan amarah yang murni, suara tembakannya terdengar beruntun tanpa ampun.

Galen bertarung seperti pria yang tidak takut mati, atau lebih tepatnya, pria yang merasa ia sedang mempertahankan satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunianya. Ia tidak membiarkan satu pun penyusup melewati ambang pintu lantai dua. Bagi Galen, ini bukan lagi tentang perang mafia ini adalah pertaruhan untuk menjaga "keajaiban" yang berhasil ia hidupkan kembali dalam diri Shabiya.

Setelah hampir tiga puluh menit yang terasa seperti selamanya, suara tembakan mulai mereda. Yang tersisa hanyalah suara sirine keamanan dan langkah kaki Arsen yang melaporkan situasi.

Pintu ruang kerja kembali terbuka. Galen masuk dengan napas tersengal. Kemeja putihnya kini ternoda oleh cipratan darah yang bukan miliknya. Wajahnya tergores, dan ada aura kegelapan yang begitu pekat memancar darinya.

Begitu melihat Shabiya masih aman di bawah meja, Galen menjatuhkan senjatanya dan langsung merengkuh Shabiya. Ia memeluk istrinya itu dengan sangat kuat, seolah-olah ingin menyatukan tubuh Shabiya ke dalam raga miliknya sendiri.

"Kau aman. Kau aman sekarang," bisik Galen, suaranya parau. Ia mencium rambut Shabiya berulang kali dengan obsesif. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu lagi. Tidak akan pernah."

Shabiya gemetar hebat dalam pelukan suaminya. Ia bisa mencium aroma mesiu dan darah dari tubuh Galen. Rasa takutnya kini berganti menjadi kengerian yang mendalam. Ia menyadari bahwa sisi "manis" Galen selama beberapa hari terakhir hanyalah lapisan tipis di atas samudera kekerasan.

"Galen... kau terluka..." Shabiya mencoba melihat luka di wajah Galen.

Galen menarik wajah Shabiya, menatapnya dengan pandangan yang mengerikan. Sikap posesif nya kini telah mencapai puncaknya. "Lihat aku, Shabiya. Lihat betapa jauhnya aku akan bertindak untuk menjagamu. Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini lagi. Mulai besok, tidak ada lagi taman, tidak ada lagi ruang kaca yang tidak dijaga. Kau akan berada di sampingku setiap detik."

Shabiya melihat kegilaan di mata Galen. Serangan musuh ini justru memperkuat delusi Galen bahwa Shabiya adalah barang pecah belah yang harus dikunci di dalam brankas besi. Galen tidak hanya melindunginya dari musuh, tapi Galen juga sedang memperketat rantai di lehernya secara tidak langsung.

Di balik pelukan yang seolah melindungi itu, Shabiya merasa semakin tercekik. Kesan posesif yang dulu ia kira sebagai bentuk cinta yang luar biasa, kini menampakkan wajah aslinya. Sebuah obsesi gelap dari seorang pria yang tidak akan ragu membunuh siapa pun, termasuk kebebasan Shabiya, demi menjaga bayang-bayang masa lalunya tetap utuh.

Malam itu, di tengah puing-puing mansion yang hancur dan aroma bau amis yang menyengat, Shabiya menyadari bahwa "kebahagiaan semu" yang ia rasakan kemarin telah mati bersama ledakan gerbang depan. Ia kini benar-benar menjadi tawanan dari seorang monster yang bersumpah akan menjaganya sampai mati, bukan demi Shabiya, tapi demi seseorang yang ia lihat di wajah istrinya.

Mulai sekarang, tidak ada lagi kebebasan yang bisa dia rasakan. Barang sedetikpun. Namun Shabiya tetap menanamkan dalam hatinya, jika ia bisa berusaha lebih kerasa dari kemarin dia akan mendapatkan kembali sedikit kebebasan itu.

1
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!