NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kebangkitan Dewi dan Sumpah di Atas Pasir

Kesadaran Jiangzhu menggantung di seutas benang tipis yang hampir putus. Di dalam kegelapan batinnya, ia merasa seolah tenggelam dalam lautan merkuri yang dingin dan pekat. Namun, sebuah kehangatan lembut sesuatu yang terasa seperti sinar matahari pagi yang menembus jendela kayu perlahan menariknya kembali ke permukaan.

Zhu-er... bangunlah...

Mata Jiangzhu tersentak terbuka. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau obat-obatan yang memuakkan dan rasa sakit yang berdenyut di sekujur tubuhnya, seolah-olah setiap sarafnya baru saja dipanggang di atas bara api. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi tangannya terasa seberat balok timah.

"Jangan bergerak dulu, Bocah bodoh. Kau hampir menjadi mayat kering," suara serak Tabib Gu Mo terdengar dari sudut ruangan.

Jiangzhu memutar kepalanya dengan kaku. Di sana, di atas meja batu yang kini dialasi kain sutra putih, ibunya Dewi Ling'er duduk bersila. Wajahnya tidak lagi pucat pasi; ada rona kehidupan yang kembali ke pipinya, meskipun matanya masih menyiratkan kelelahan ribuan tahun.

"Ibu..." suara Jiangzhu hanya berupa bisikan parau, kering seperti gesekan amplas.

Ling'er segera turun dari meja batu, langkahnya ringan seolah ia tidak menginjak lantai. Ia berlutut di samping ranjang kayu tempat Jiangzhu terbaring, lalu membelai dahi putranya dengan jemari yang kini terasa hangat.

"Maafkan Ibu, Zhu-er. Kau harus menanggung beban yang begitu berat karena kesalahan orang tuamu," setitik air mata jatuh dari mata Ling'er, mendarat di pipi Jiangzhu.

Awan dan Yue berdiri di dekat pintu, memberikan ruang bagi reuni yang menyayat hati itu. Awan tampak menyeka matanya berkali-kali, sementara Yue tetap diam dengan ekspresi yang sulit dibaca di balik topeng peraknya yang retak.

"Ayah... di mana dia?" tanya Jiangzhu, mencoba duduk meskipun dadanya terasa sesak.

Ling'er terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh ke arah langit merah di luar jendela menara tulang. "Ayahmu... Raja Iblis Yan, tidak pernah mengkhianatimu. Dia tidak mati di tangan Sekte Cahaya Suci seperti yang mereka katakan. Dia disegel di Inti Dunia Bawah, mengorbankan kebebasannya agar segel Tiga Dunia tidak runtuh dan menghanguskan kita semua."

Jiangzhu mengepalkan tangannya. "Lalu kenapa mereka mengejar Ibu? Kenapa mereka membiarkanku hidup dalam kehinaan selama belasan tahun?"

"Karena kau adalah 'Kunci Kegelapan dan Cahaya', Jiangzhu," Ling'er menatap mata abu-abu putranya dengan serius. "Darahmu bukan hanya sekadar darah campuran. Di dalam nadimu, terdapat Esensi Primordial yang bisa menghancurkan tatanan langit yang munafik itu. Mereka takut padamu. Itulah sebabnya mereka mencoba menghancurkan nadi spiritualmu saat kau bayi, agar kau tetap menjadi sampah selamanya."

Jiangzhu tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Tapi mereka gagal. Sekarang, aku punya kekuatan ini, dan aku akan menggunakannya untuk menyeret mereka semua ke neraka."

"Kekuatan itu adalah pedang bermata dua, Nak," Ling'er memegang tangan Jiangzhu yang penuh bekas luka. "Jika kau tidak bisa menyeimbangkan esensi Iblis dan Langit di dalam dirimu, kau akan kehilangan kemanusiaanmu dan menjadi monster yang tidak memiliki jiwa."

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki kuda yang banyak terdengar dari arah gerbang Kota Tulang. Bumi bergetar, dan bau belerang yang menyengat mulai masuk ke dalam ruangan.

Yue melangkah maju, tangannya mencengkeram belati. "Jiangzhu, kita tidak punya banyak waktu. Kematian Valerius hanya memicu amarah yang lebih besar. Resimen Ksatria Penghukum yang lebih kuat sedang menuju ke sini. Kali ini mereka membawa 'Meriam Penghancur Roh'."

Tabib Gu Mo mendengus, ia mulai mengemasi botol-botol ramuannya ke dalam karung kumal. "Kota ini sudah tidak aman lagi. Jika meriam itu ditembakkan, seluruh tulang-tulang di sini akan menjadi abu. Kita harus pergi ke Lembah Bayangan Merah di utara."

Jiangzhu memaksakan dirinya untuk berdiri. Setiap inci ototnya menjerit protes, tapi ia mengabaikannya. Ia mengambil pedang hitamnya yang kini terlihat lebih gelap, seolah-olah bilahnya haus akan darah baru.

"Ibu, bisa kau berjalan?" tanya Jiangzhu.

Ling'er mengangguk, meskipun tubuhnya masih lemah. "Aku akan mencoba, Zhu-er. Energi suci dalam diriku mulai stabil berkat bantuan gadis kecil ini." Ia melirik ke arah Awan yang tersenyum malu-malu.

Jiangzhu berjalan menuju jendela, menatap ke arah gerbang kota. Di sana, di balik kabut debu, ia melihat barisan cahaya keemasan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Mereka bukan lagi sekadar ksatria; mereka adalah mesin pembunuh yang terorganisir.

"Pak Tua Mo, berapa banyak energi yang tersisa di Segel Tiga Dunia?" tanya Jiangzhu lewat batin.

Hanya sekitar tiga puluh persen, Bocah. Jika kau memaksakan diri lagi, kau akan benar-benar terbakar, jawab Penatua Mo dengan nada memperingatkan.

"Cukup untuk satu pembantaian lagi," gumam Jiangzhu.

Ia menoleh ke arah ibunya, Yue, dan Awan. "Pergilah bersama Tabib lewat jalan rahasia. Aku akan menahan mereka di gerbang."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" Ling'er berseru dengan nada tegas yang menunjukkan wibawa seorang Dewi.

"Ibu, dengarkan aku," Jiangzhu memegang bahu ibunya. "Kali ini aku tidak bertarung sebagai korban. Aku bertarung sebagai predator. Aku butuh Ibu selamat agar aku punya alasan untuk kembali dari kegelapan."

Ling'er menatap mata putranya yang kini berkilat dengan tekad yang tak tergoyahkan. Dengan berat hati, ia akhirnya mengangguk. "Kembalilah padaku, Zhu-er. Itu adalah sumpahmu."

"Aku bersumpah," ucap Jiangzhu.

Ia melompat keluar dari jendela menara, mendarat di atas tumpukan pasir abu-abu dengan dentuman yang keras. Di tangannya, pedang hitam itu mulai mengeluarkan uap ungu yang mencekik. Ia berjalan perlahan menuju barisan ksatria cahaya yang semakin dekat, meninggalkan jejak kaki yang membeku di pasir panas.

Dunia mungkin membencinya, Langit mungkin mengutuknya, tapi Jiangzhu tidak peduli lagi. Hari ini, di atas pasir Benua Barat, ia akan menuliskan namanya dengan darah musuhnya.

"Mari kita lihat..." Jiangzhu menyeringai, matanya kini sepenuhnya berubah menjadi merah menyala. "...siapa yang akan kalian panggil tuhan saat kepala kalian menggelinding di kakiku."

Jiangzhu memaksakan punggungnya tegak, meski rasa sakit di sumsum tulangnya terasa seperti ada ribuan ulat besi yang sedang mengunyah sarafnya hidup-hidup. Ia bisa merasakan darah kering yang menempel di bajunya pecah dan rontok seperti serpihan karat setiap kali ia bernapas. Ia menatap telapak tangannya; kulitnya menghitam di beberapa bagian, sisa dari energi Iblis yang meluap terlalu liar saat pembantaian di luar tadi.

"Jangan menatapku seolah-olah aku ini porselen yang mudah pecah, Pak Tua," gerutu Jiangzhu saat menangkap pandangan iba dari Gu Mo. Suaranya serak, terdengar seperti suara seret batu di atas aspal. "Aku sudah cukup sering mati di kepala aku sendiri untuk tahu bahwa rasa sakit ini cuma sementara. Sekarang, katakan padaku, berapa banyak lagi 'obat' yang harus kuminum agar aku tidak pingsan saat mengayunkan pedang nanti?"

Gu Mo hanya mendengus, jemari mekaniknya berderit saat ia merapikan perban di lengan Jiangzhu. "Kau tidak butuh obat, kau butuh keajaiban, Bocah. Tapi melihat kau masih bisa memaki dalam kondisi seperti ini, kurasa Iblis di dalam dirimu belum siap untuk menyerah."

Jiangzhu melirik ibunya. Dewi Ling'er kini berdiri, tangannya yang pucat memegang pundak Awan dengan gemetar. Aroma bunga melati yang suci mulai merembes dari tubuh ibunya, bertarung dengan bau amis darah yang melekat pada tubuh Jiangzhu. Kontras itu begitu nyata hingga Jiangzhu merasa dirinya kotor, merasa seolah-olah kehadirannya hanya akan menodai kesucian yang baru saja ia selamatkan.

"Ibu... jangan terlalu dekat," bisik Jiangzhu, suaranya melembut namun tetap penuh kepahitan. "Darah di bajuku ini bukan milik orang-orang baik. Aku tidak ingin Ibu mencium bau kematian setiap kali melihatku."

Ling'er tidak mundur. Ia justru melangkah maju, memeluk kepala Jiangzhu dan menekankannya ke dadanya yang hangat. Jiangzhu membeku. Untuk pertama kalinya, ia merasakan detak jantung yang sama dengan miliknya detak jantung yang penuh kasih, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari dunia yang selalu menendangnya ke selokan.

Zhu-er, kau bertarung agar dunia tidak bisa menyentuhku lagi, bisik ibunya tepat di telinganya. Maka jangan pernah merasa kotor karena melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang putra.

Jiangzhu memejamkan mata, membiarkan setetes air mata yang perih jatuh dan hilang di jubah ibunya. Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya, namun ia segera mendorongnya jauh-mencampakkannya ke dasar jiwanya. Di luar, suara terompet perang Sekte Cahaya Suci kembali melengking, membelah kesunyian gurun seperti pisau yang mengiris daging.

"Waktunya habis," Jiangzhu melepaskan pelukan ibunya dan berdiri dengan pedang yang kembali berdengung haus darah. "Ayo kita beri mereka alasan lagi untuk takut pada kegelapan."

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!