Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Orang Tua Ku
"Yang paling cantik kaya bidadari mah cuma kamu neng, primadona perusahaan udah ga ada lagi ini mah" gumam sang satpam sembari terus melihat Hani yang sedang berjalan ke arah parkiran.
...--------------------------------...
Hani melangkah menuju mobil nya, ia selalu menyapa setiap orang yang berpapasan dengan nya, hal ini yang membuat Hani menjadi terkenal di perusahaan itu. Tetapi tak jarang ada sebagian orang yang iri akan paras cantik Hani, salah satunya Jessi yang paling sering memerintahkan preman untuk mencelakai Hani.
"Huh oke, sekarang harus kemas kemas barangku di apartemen. Eh tapi tunggu dulu, harusnya sekarang tante Diana udah berangkat kan? aku telepon aja kali ya?" Tanya Hani pada diri sendiri setelah ia duduk dikursi kemudi mobil nya.
Hani mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang ia bawa, ia segera menghubungi nyonya Diana untuk memastikan keberangkatan nya. Entah mengapa Hani merasa bahwa akan ada sesuatu yang terjadi nanti karena firasat nya sedikit buruk, dia memang mudah bersimpati dengan orang-orang yang mempedulikan nya.
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silahkan coba beberapa saat lagi.
Tutt
Dahi Hani berkerut, ia ingat betul ucapan nyonya Diana bahwa semasa dalam perjalanan akan terus mengaktifkan nomor ponsel nya jadi Hani bisa menghubungi nya. Hani merasa ada yang tidak beres akan hal ini.
Hani mengeluarkan laptop nya dan mulai memasukkan kode kode dengan cepat untuk melacak keberadaan nyonya Diana, hingga beberapa saat ia menemukan posisi mobil yang digunakan oleh nyonya Diana, tampak mobil itu melaju dijalanan kota yang cukup sepi.
Hani dapat melihat mobil itu melaju dengan cukup kencang karena diikuti oleh beberapa mobil asing di belakang nya, serta beberapa pengawal yang mulai baku hantam. Hani menduga seseorang telah melakukan pemutusan jaringan (Network Cut-Off) pada ponsel nyonya Diana, karena akan menyerang keluarga Vireaux.
Ia bergerak cepat melacak nomor ponsel Darren, dengan berharap agar Darren mengangkat telepon nya, karena jika ia berusaha untuk memulihkan pemutusan jaringan pada ponsel nyonya Diana akan membutuhkan waktu yang sedikit lama.
Tutt..
Tuttt...
Berkali-kali panggilan Hani ditolak oleh Darren, tanpa Hani katahui bahwa Darren sekarang sedang melakukan meeting di perusaahan dan merasa terganggu akan panggilan asing.
Hani terpaksa untuk mengendarai mobil nya secara ugal-ugalan menuju ke perusahaan Darren, ia mengemudi sembari memangku laptop nya untuk terus memantau pergerakan mobil nyonya Diana.
Ckitt
Mobil Hani tiba di parkiran perusahaan Darren, ia membuka mobil nya dan melangkah keluar dengan buru buru. Tak lupa juga dia berjalan sembari memegang laptop yang masih terbuka, menampilkan lokasi terkini nyonya Diana yang menuju jalanan hutan pinggir kota.
Satpam yang melihat kehadiran Hani langsung membiarkan calon nyonya muda nya itu masuk ke dalam perusahaan, karena dia yakin bahwa tuan Darren sudah memberi tahu calon istri nya bahwa sekarang Darren sedang melaksanakan meeting penting.
Brakk
Hani membanting keras pintu ruangan meeting, setelah mendesak resepsionis perusahaan agar memberi tahu ruangan di mana Darren meeting sekarang Hani langsung menuju ruangan itu.
Sontak semua orang yang berada didalam ruangan itu menoleh ke arah Hani yang sedikit ngos-ngosan dengan memegang laptop terbuka di tangan nya, Darren sedikit kesal tetapi ketika melohat yang mendobrak pintu itu adalah gadisnya entah mengapa dia tidak bisa marah.
"Huh huh huh Darren orang tua mu dalam bahaya" ucap Hani sembari mengatur nafas nya.
Darren langsung bangkit dari duduknya, ia menghampiri Hani "Kita lanjutkan meeting ini nanti" ucap Darren lalu menarik lengan Hani keluar dari ruangan meeting dan membawanya ke dalam ruangan pribadi miliknya.
"Ada apa dengan orang tua ku" tanya Darren.
"Aku tadi ingin menghubungi tante Diana, tapi karena tidak terhubung aku merasa ada hal yang tidak beres maka dari itu aku melacak keberadaan mereka dan ternyata ponsel orang tua mu telah diputuskan jaringan oleh seseorang, dan sekarang orang tua mu bersama para pengawal nya kemungkinan dalam bahawa karena diikuti oleh beberapa mobil asing" ucap Hani. Darren dan Jack saling pandang mereka segera menghubungi para pasukan nya untuk datang ke lokasi yang Hani berikan.
"Aku sudah menghubungi para pasukan ku, Sepertinya aku dan Jack harus segera ke sana, kau tunggulah disini." ucap Darren terburu-buru dan langsung meninggalkan Hani yang sedang mengatur nafas nya.
Mobil Darren yang dikendarai Jack melaju cepat meninggalkan perusahaan. "Huh Raven saatnya kamu beraksi kembali, aku tidak bisa diam saat situasi seperti ini terlebih lagi mereka semua sudah berbuat baik padaku" ucap Hani ketika Raven si alter ego nya sudah mengambil alih dirinya.
Hani segera menyusul mobil Darren yang sudah melaju cepat, ia melangkah dengan sedikit berlari membuat satpam perusahaan Darren mengira bahwa tuan muda dan calon nyonya muda nya itu sedang bertengkar.
Hani kembali mengendarai mobil nya, bahkan lebih cepat dari pada tadi. Raven sudah sepenuhnya bangkit pada dirinya membuat siapapun akan tunduk jika sudah berurusan dengan nya, Hani tau ini adalah perbuatan Steven yang ingin membunuh tuan dan nyonya Vireaux.
Ckitt
Mobil Darren tiba dilokasi tempat terakhir orang tua nya berada, disana tampak tuan Marco sedang melawan banyak pria pria bersenjata, sedangkan nyonya Diana memberontak histeris ketika dia akan diseret oleh beberapa pria.
Darren menggeram marah, kenapa pasukan nya belum tiba. Dia turun dari mobil dan langsung menyerang dengan membabi buta.
dor
dor
dor
Darren menembak beberapa orang yang akan menyeret mama nya, kemudian ia membantu sang papa untuk menyerang para pengecut itu yang bahkan jumlah nya sangat banyak tidak seperti yang ia bayangkan. Jack dengan sigap ikut membantu untuk menyelesaikan masalah itu.
Tak lama kemudian Hani datang di lokasi tersebut, ia menggeram marah melihat kondisi nyonya Diana yang berantakan dengan beberapa luka. Dia jadi mengingat bagaimana jika sang mama ada di kondisi seperti ini.
Darren, Jack dan tuan Marco terlibat pertempuran sengit sedangkan nyonya Diana meringkuk diantar semak pinggiran jalan.
Hani semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, Raven telah mengambil alih seluruh kesadaran nya. Ia keluar dari mobil dengan menggenggam pistol kesayangan nya. Dan....
dor
dor
dor dor
Tembakan Hani melesat tepat sasaran pada kepala para pria yang mencoba untuk menembak tuan Marco dari belakang. Suara tembakan itu membuat mereka semua kompak melihat ke arah sumber, dan tampak Hani berdiri tegak dengan nafas memburu dan warna mata hazel nya kini telah berubah menjadi coklat gelap, yang menandakan bahwa dia dikuasai oleh amarah.
Hani melangkah anggun ke arah mereka semua yang diam mematung karena mungkin kehadiran Hani yang tiba-tiba atau pesona Hani yang membuat mereka terpana?
Hani tetap setia menggunakan sandal heels nya, tanpa keinginan untuk melepaskan nya. Hani berdiri tepat di depan Darren. "Kalian minggir, aku akan hapuskan hama hama pengganggu ini" ucap Hani tegas tak bisa dibantah.
"Tidak, aku tidak ingin kau terluka" tolak Darren, tuan Marco berdecak malas, bisa bisanya saat situasi seperti ini Darren dan Hani tetap menjadi tom and jerry.
"Jika kau tidak mengikuti arahan ku, jangan salahkan jika kalian ikut mati hari ini" ucap Hani dengan penekanan.
Tuan Marco langsung menarik tangan Darren dan Jack agar menjauh dari lokasi itu, disisi lain tuan Marco juga penasaran akan cara Hani menghadapi situasi seperti ini.
Hani tersenyum tipis, kini dia bisa bergerak tanpa ancaman, dia menembak salah satu orang yang berdiri di hadapan nya sontak membuat pasukan tersebut sadar bahwa sedari tadi hanya melongo karena terpesona akan kecantikan Hani.
Pasukan itu mulai menyerang Hani secara membabi buta karena telah mengganggu misi nya untuk membunuh tuan dan nyonya Vireaux. Hani pun bergerak lincah menangkis setiap peluru dan juga pukulan yang mengarah pada dirinya.
Hani bergerak lihai, dan terlebih lagi dia masih menggunakan sandal heels nya tanpa takut akan terkilir. Raven mengubah diri Hani menjadi bertolak belakang, hal itu membuat tuan Marco, Darren dan Jack sedikit terkejut tetapi kagum. Sedangkan nyonya Diana khawatir jika Hani terluka.
Dor dor
dor
"Bidik tepat mengenai sasaran, Raven kau memang patut diandalkan" ucap Hani ketika berhasil melumpuhkan semua pria bersenjata itu. Suara nya memang tidak terlalu keras tetapi masih bisa di dengar oleh keluarga Vireaux.
'Raven mengambil alih dirimu gadis kecil, kau menjelma seperti iblis yang kejam' batin Darren, Ia bangga dengan kemampuan Hani yang dapat melumpuhkan puluhan orang bersenjata.
Hani mendekat ke salah satu orang yang tergeletak tak berdaya ditengah jalan itu.
Srekkk
Hani merobek kasar baju serba hitam yang digunakan oleh orang itu, dan nampak jelas sebuah tato ular cobra di dada kanan pria tersebut yang menandakan bahwa itu benar-benar anak buah dari Steven.
"Cih dia memang menjijikkan, tunggu pembalasan ku" ucap Hani berdecih.
Ckitt
Beberapa mobil tiba di lokasi yang membuat Hani dengan sigap mengarahkan senjatanya pada seseorang yang baru turun dari mobil. "Tenang, dia bawahan ku" ucap Darren yang melihat reflek cukup bagus dari Hani.
Hani menurunkan senjata nya, tetapi amarahnya masih membara. Raven masih mengendalikan dirinya sampai saat ini, entah sampai kapan baru lah ia bisa kembali menjadi Hani.
"Bereskan mereka semua, dan gali identitas mengenai atasan mereka" titah Darren pada para anak buah nya yang ternyata sangat lelet sekali, karena mereka semua baru saja datang ketika perkelahian sudah dibereskan.
"Tidak perlu digali, aku sudah tau siapa atasan mereka" sahut Hani.
Nyonya Diana melangkah mendekat ke arah Hani, ia sangat khawatir saat ini. "K-kamu baik baik saja sayang?" ucap nya lembut dengan tubuh yang sedikit gemetar karena syok akan kejadian ini.
Hani menatap mata nyonya Diana yang mengandung raut kekhawatiran, seketika ia sadar bahwa tubuhnya tadi dikendalikan oleh Raven. Hani menutup matanya sejenak, lalu membukanya dengan perlahan dan menampilkan warna mata hazel milik Hani sebenarnya bukan bewarna coklat gelap.
Darren diam namun dapat melihat perubahan warna mata milik Hani, dia menjadi mengerti bahwa warna mata coklat gelap adalah milik Raven, sedangkan warna mata hazel cantik milik Hani.
"Aku tidak terluka tante, hanya saja terkena beberapa noda darah menjijikkan milik para pria itu" jawab Hani santai.
"Terima kasih sayang kamu sudah menyelamatkan kami" ucap nyonya Diana.
"Bukan apa apa tante, aku hanya ingin membalas kebaikan kalian padaku" ucap Hani sembari tersenyum.
'Kau menyelamatkan orang tua ku gadis kecil, jika kau tidak memberi tahu ku aku tidak tahu apa yang akan terjadi' ucap Darren dalam hati, ia merasa sangat berterima kasih pada Hani yang sudah memberi tahu nya.
"Apa Raven mengambil alih dirimu tadi?" tanya tuan Marco.
Hani menoleh ke arah tuan Marco. "Ya, dan sekarang aku sudah kembali lagi menjadi Hani. Hani dan Raven memilki sikap yang sangat bertolak belakang om, lembut vs kejam haha sangat unik" ucap Hani yang tidak habis fikir juga, kenapa dia bisa memiliki alter ego.
Tuan Marco hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi. "Siapa dalang dari semua ini? apa kau mengetahui nya?" tanya tuan Marco.
Hani menghela nafas berat, ia sangat benci menyebutkan nama Steven saat ini. "Di dada kanan pria yang ku sobek bajunya tadi aku melihat sebuah tato ular cobra, dan tato tersebut hanya dimiliki oleh anak buah dari Steven Lorenzo De Luca" jawab Hani.
Mereka semua menatap Hani dengan bingung, bagaimana bisa Hani mengetahui akan hal detail seperti itu. Selama ini keluarga Vireaux bahkan tidak tahu akan hal itu.
"Sudahlah kalian tidak perlu menatap ku seperti itu, suatu saat aku akan menceritakan nya. Sekarang aku harus kembali ke apartemen karena besok aku harus pulang ke kampung ku" ucap Hani datar karena mereka semua menatap bingung Hani.
Grep
Darren langsung memeluk tubuh kecil Hani, dia sangat sangat berterima kasih mengenai hal ini. "Terima kasih sayang" ucap nya berbisik di sebelah telinga Hani.
Hani bergidik geli ketika hembusan nafas Darren mengenai kulit nya. "Ih apa sih peluk peluk, lepasin dong om. nyebelin" ucap Hani mencoba melepaskan pelukan itu namun nihil Darren malah makin mengeratkan nya.
"Kau milikku sekarang" ucap Darren tegas seolah tak menerima penolakan.
Tuan Marco dan nyonya Dana saling pandang, walaupun baru saja melewati adegan yang menegangkan kini seolah mereka tak merasakan apa pun karena melihat putra nya yang sedang asik memeluk gadis kecilnya.
Hani memutar malas bola matanya, baginya Darren manusia paling menyebalkan yang dia temui. "Aku milik diriku sendiri bukan milik siapapun" ucap Hani lalu....
Akh..
Hani menginjak kaki Darren dengan sandal heels nya, dengan kesal ia segera pergi dari sana tanpa mempedulikan Darren yang sedang meringis karena injakan Hani yang cukup kuat.
"Aku pergi dulu. Jangan cari aku lagi… apa yang kalian lihat hari ini hanyalah permukaan. Sisanya… tersimpan di tempat yang bahkan aku sendiri enggan menyebutnya. Dan percayalah, beberapa rahasia lebih aman tetap terkubur." ucap Hani dengan senyum misterius kemudian melajukan mobil nya meninggalkan tempat itu.