Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Misteri sosok Selasih
"Bagaimana, apa kalian berhasil mencari informasi tentang Selasih?" Caleb menatap kedua anggota timmnya yang dia tugaskan mencari info tentang Selasih.
Roy dan Wildan menyerahkan beberapa hasil jepretan mereka yang menyaru jadi wartawan. Mereka berhasil menemukan perusahaan konveksi milik Saras dan sempat melakukan wawancara.
Namun, Caleb tidak puas dengan investigasi dari timnya. Sosok Selasih yang dia lihat malam itu jauh beda dengan Saras. Selasih nampak lebih tinggi dan langsing. Bukan gemoy seperti info yang diberikan Roy dan Wildan.
"Aku yakin kalian salah orang." dengus Caleb kecewa. Yang kalian wawancarai adalah pemilik perusahaan itu. Bukan perancangnya. Masa gak bisa bedakan sih."
"Tapi beliau faham betul dengan desain dan menjelaskan pada kami tentang ide rancangan beliau. Kalau bukan dia yang rancang masak bisa jelaskan dengan detail prosesnya." protes Roy karena Caleb meragukan hasil kerja mereka.
Caleb terdiam sejenak. Ada juga benarnya ucapan anak buahnya. Tapi kenapa hatinya tetap meragukan hal itu. Entah kenapa malam itu saat melihat Selasih muncul dan disebut sebagai perancang busana dengan tema, "kepompong"itu seperti ada magnet yang menarik dirinya.
Walaupun Selasih memakai topeng, tapi sepertinya sosok itu begitu dia kenali. Anehnya, kenapa harus terkait kepada mantan istrinya? Tidak mungkinkan dalam setahun ini istrinya tiba-tiba saja menjadi seorang perancang?
Sebelum menikah dengannya, istrinya bekerja sebagai kasir di sebuah mall. Istrinya minggat tanpa membawa uang sama sekali. Selama ini istrinya fokus mengurus ibunya yang lumpuh dan putri semata wayangnya.
Benak Caleb terus berdebat. Kecurigaannya perlahan luntur.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita cari cara bagaimana kalau perusahaan itu mau bekerja sama dengan kita." Caleb akhirnya mengalah untuk mempercayai ucapan anak buahnya.
"Bukan apa-apa, Pak Caleb. Tapi, sepertinya akan sulit menjalin kerja sama dengan mereka. Usaha mereka mirip seperti yayasan yang lebih mengutamakan membantu orang. Bukan murni bisnis Pak."
"Maksudmu, mereka itu dinas sosial?" kekeh Caleb. "Mana ada pengusaha yang tidak mencari keuntungan, Wil. Trus dengan apa mereka membiayai gaji para karyawannya. Gak lucu kan."
"Maksud saya, Pak. BuSaras itu bukan orang ambisius. Kami sempat menyinggung ke arah sana. Tapi beliau tidak merespon." jelas Roy lagi.
"Hem, pengusaha aneh." guman Caleb tidak habis pikir. Terpaksa dia menyerahkan laporan pada Pak Gunawan sesuai dengan informasi anak buahnya.
"Intinya, mereka tidak akan menjadi saingan kita, Pak." ucap Caleb setelah menjelaskan beberapa hal pada bosnya setelah menyerahkan informasi itu.
"Kamu meremehkan mereka, ya." tatap Pak Gunawan tajam pada Caleb, " firasatku malah berkata lain, Selasih, bisa menjadi saingan berat kita. Apakah instingmu sudah tumpul sejak menikahi, Zita?" gertak Gunawan meradang.
Caleb terkesiap, setelah sekian tahun dia bekerja dibawah pimpinan Pak Gunawan, baru kali ini dia kena tegor. Sehebat apakah Selasih sampai bosnya khawatir seperti itu. Apakah benar dia telah menganggap remeh sosok Selasih?
Perancang yang baru memulai debutnya di dunia fashion? Bisa saja 'kan dia hanya beruntung saat itu bisa memenangkan event lomba. Lantas tenggelam begitu saja seperti sudah banyak dialami para perancang pemula. Karena tidak kuat dengan persaingan.
Kecuali ada beking dibelakangnya yang selalu mendukung setiap hasil karyanya. Alias ada yang memodali untuk mewujudkan setiap ide-ide yang ia tuang dalam sketsa.
Mendengar cerita anak buahnya Selasih yang ternyata adalah Saras bukan seorang pengusaha yang ambisius. Dia hanya ingin usahanya tetap berjalan dan pasarannya hanya untuk lokal.
Terlalu berlebihan kalau bosnya seperti orang ketakutan. Padahal perusahaannya sudah go internasional.
"Industri fashion itu berat, Caleb. Jika kamu tidak bisa menciptakan ide-ide baru kamu akan terlindas." ucapan bosnya masih terngiang terus hingga malam. Caleb sampai tidak bisa memejamkan matanya. Pak Gunawan tetap menyuruhnya untuk menyelidiki Selasih dan membujuknya untuk bekerja sama.
***
"Caleb!" Bu Rina mencegat putranya saat baru pulang kerja. Kebetulan Zita pulang kerja mampir ke rumah orangtuanya. Sehingga Caleb pulang sendirian. "Mana istrimu, Zita?" mata Bu Rina jelalatan mencari sosok menantunya itu.
"Zita ke rumah orangtuanya, Bu. Ada perlu apa, Bu."
"Baguslah, Ibu mau ngomong sebentar sama kamu."
"Aduh, Bu. Apa tidak bisa menunggu Caleb salin pakaian dulu."
"Sekarang saja, istrimu itu seperti lintah. Lengket terus sama kamu sampai Ibu kamu abaikan." protes Bu Rina.
"Apa yang hendak Ibu bicarakan." Caleb melepas dasinya yang tiba-tiba seperti tali mencekik lehernya.
"Kamu, kenapa tidak pernah lagi mengisi rekening, Ibu. Gajimu tidak pernah lagi kau berikan sama Ibu sejak menikahi, Zita.
"Oh, soal itu ya, Bu. Caleb tidak mau rumah tangga Caleb hancur untuk yang kedua kalinya, Bu, karena Ibu turut campur urusan rumah tanggaku."
"Maksudmu, Ibu yang membuat Ameera pergi ya. Sudah jelas Ameera pergi karena melihatmu selingkuh. Bukan karena ulah Ibu." Bu Rina sewot tidak terima disalahkan Caleb atas minggatnya Ameera.
"Kita berdua salah, Bu. Apa Ibu belum sadar juga. Karena gajiku semua Ibu yang pegang. Istriku Ibu jatah hanya lima puluh ribu setiap hari. Sehingga istriku tidak bisa merawat dirinya sendiri.
Belum lagi karena fokus merawat Ibu yang lumpuh tapi tidak pernah ibu hargai. Selama ini aku pikir Ameera itu malas merawat diri, bau, kucel itu karena malas merawat diri. Ternyata Ibu yang serakah menguasai penghasilanku." sambar Caleb emosi.
"Ibu tidak pernah membelikan dia pakaian layak. Bedak atau apalah sehingga dia bisa merawat dirinya sehingga aku tidak perlu selingkuh. Tapi, apa! Ibu nikmati semua uang Caleb tapi anak istriku menderita. Kepada Jenni ibu jatah dua juta tiap bulan. Padahal dia punya suami. Apa dia mau merawat ibu setelah Ameera pergi." sentak Caleb dengan suara keras karena lepas kontrol.
"Kamu, berani bicara kasar seperti sama, Ibu. Anak durhaka kamu, Cal."
"Kurang apa pengabdian Caleb sama, Ibu. Tega Ibu bilang aku anak durhaka. Aku tidak pernah telantarkan Ibu. Semua kemauan Ibu Caleb turuti. Caleb capek, Bu. Caleb lelah dengan semua sikap Ibu yang kurang bersyukur." Caleb mengibaskan tangannya. Meninggalkan ibunya sendirian terpekur dalam diam.
Tanpa sepengetahuan Caleb dan ibunya, Zita mendengar semua pertengakaran hebat antara kedua ibu dan anak itu. Zita tersenyum licik karena Caleb lebih memihak padanya. Membuat hatinya makin pongah. Karena dia memang tidak menyukai sikap mertuanya yang selalu ingin turut campur pada rumah tangganya.
Zita tidak mau jadi Ameera yang kedua. Menantu yang diperlakukan lebih dari pembantu.
Setelah menunggu beberapa saat, Zita keluar dari persembunyiannya. Sengaja terbatuk agar mertuanya tau kalau dia sudah pulang.
"Bu, Bang Caleb mana?" senyum Zita ramah seolah tidak tau apa yang terjadi. Bu Rina diam saja, hatinya geram pada menantunya itu karena telah mempengaruhi anaknya.
Zita semakin tersenyum, dalam hati dia menyukai situasi ini. Dia tidak perlu menjelaskan apa-apa nanti pada Caleb tentang kepergiannya ke rumah ibunya.
Zita menemui seseorang di hotel bukan kerumah ibunya. Tanpa Zita sendiri sadari seseorang melihatnya di lobi bergandengan dengan pria asing. ***