Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Acara Besar
Selama tiga hari ini Nika meras pusing sendiri mengartikan ucapan Ezra. Setiap.kali ditanya ijin akan undangan Yuhan, jawabannya selalu konsisten.
"Paman, ini beneran Nika diijinin?"
Sudah di hari H, tapi Nika belum menemukan jawaban yang memuaskan. Dia sungguh takut akan membuat Ezra kembali marah. Gadis cantik itu sangat kapok membuat manekin hidup itu mengeluarkan tanduk. Seramnya bulan main dan mulutnya melebihi para singa jantan.
Bel berbunyi, Nika yang memang tengah ada di ruang depan segera membukakan pintu. Seorang lelaki memakai pakaian serba hitam sudah menunjukkan surat perintah. Nika tak lantas percaya. Dia segera menghubungi yang bertanggung jawab atas dirinya.
Getaran ponsel di tengah rapat membuat tangan lelaki yang begitu fokus pada meeting mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja. Nama seorang gadis yang tertera di sana. Menggeser layar ke arah gagang telepon yang berwarna hijau.
"Di depan ini beneran yang akan nganterin Nika?"
"Hem."
Jawaban Ezra membuat semua orang yang tengah meeting saling pandang. Jawaban yang terdengar begitu menyeramkan.
"Kenapa enggak Paman aja yang nga--"
"Saya sibuk."
Chandra hanya bisa menelan ludah ketika melihat sang boss menutup panggilan tersebut dengan wajah lebih datar dari sebelumnya. Walaupun sudah lima tahun bekerja di sisi Ezra, lelaki itu sangat amat sulit ditebak.
"Kira-kira siapa ya yang nelepon? Sampe sukses bikin manusia berwajah papan triplek makin enggak enak dipandang?"
Hanya mampu bertanya di dalam.hati karena yak ada keberanian untuk menanyakan kepada yang bersangkutan. Dia juga belum siap untuk melakukan ternak gajah di Afrika. Meeting pun terus dilanjutkan.
Sedangkan di apartment, Nika menghembuskan napas kasar. Dia masih bimbang akan datang atau tidak ke acara Yuhan. Apalagi mendengar jawaban Ezra barusan membuatnya takut duluan. Yuhan terus mengiriminya pesan. Begitu berharap Nika datang ke acaranya. Setelah bertarung dengan pikirannya sendiri, akhirnya Nika bersiap untuk berangkat. Sebelumnya dia mengirimkan pesan agar sang pengawal tak salah paham.
"Paman, Nika berangkat ya."
Masih berharap lelaki itu membalas pesannya. Namun, sudah hampir tiba di hotel di mana acara diadakan, tak ada pesan balasan dari sang manekin hidup. Lagi, Nika hanya bisa membuang napas kasar.
Gadis cantik itu terlihat bingung ketika tiba di tempat acara. Birthday party yang Yuhan adakan dipenuhi dengan orang-orang dewasa yang bukan dari kalangan biasa. Mata Nika mulai berkeliling. Mencari teman-temannya yang lain. Tapi, tak ada satupun yang Nika kenal. Hingga suara seseorang membuat Nika menoleh. Senyum dari lelaki yang cukup tinggi terukir begitu indah. Pakaian formal yang dikenakan menambah ketampanannya.
Yuhan meraih kedua tangan Nika. Sorot mata bahagia terpancar dengan begitu jelas. Interaksi mereka berdua tengah diawasi seseorang yang baru saja tiba.
Nika mulai menarik tangannya yang tengah digenggam Yuhan. Dia tak ingin menjadi bahan gunjingan. Apalagi banyak mata yang tengah tertuju padanya dan Yuhan. Nika dibuat terkejut ketika tangannya kembali digenggam dan ditarik melewati para tamu undangan. Bisik-bisik pun mulai terdengar. Itu tak luput dari pendengaran Nayanika.
"Ma! Pa!"
Tubuh Nika menegang ketika mendengar Yuhan memanggil dua orang yang ada di depannya. Tanpa ragu Yuhan membawa Nika menghampiri kedua orang tuanya.
"Ini yang aku ceritakan ke kalian."
Hah?
"Cantik."
Wanita yang masih terlihat muda memuji Nika. Tangannya mulai menggenggam tangan sang gadis dengan begitu lembut.
"Tan-te--"
"Makasih ya, Sayang. Berkat kamu Yuhan mau mengadakan acara besar ini."
"Acara besar?" Nika semakin tak mengerti. Ditatapnya Yuhan dengan sorot mata meminta penjelasan.
"Yuhan adalah putra tunggal kami. Sedari kecil dia tak mau ditunjukkan ke publik. Sedangkan kami memiliki sebuah perusahaan di mana harus memiliki penerus. Dan berkat kamu, pada malam ini Yuhan mau dikenalkan kepada khalayak."
"Jadi, ini bukan acara ulang tahun?" Nika kembali menatap Yuhan dengan mata yang menyimpan kecewa.
"BUKAN!"
Suara barito yang begitu familiar membuat Nika segera menoleh. Lelaki yang memakai pakaian serba hitam berjalan ke arahnya dengan tatapan datar dan dingin.
Kedua orang tua Yuhan nampak terkejut, begitu juga dengan sang putra. Sedangkan Nika sudah menatap lelaki itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Tu-an Ezra. Anda beneran datang?" Ayah Yuhan nampak tak percaya ketika melihat seseorang yang begitu berpengaruh menghadiri undangannya.
Mata Nika masih tertuju pada Ezra yang tengah menatap kedua orang tua Yuhan dengan cukup tajam.
"Saya datang bukan untuk kalian."
Kedua orang tua Yuhan sedikit syok mendengarnya. Sedangkan pandangan Ezra sudah tertuju pada Nika yang sedari tadi membeku.
"Melainkan untuk menjemput seorang gadis yang sudah kalian jebak dan permainkan."
Digenggamnya tangan Nika tanpa aba. Lalu, ditariknya menjauh dari acara. Tak dia pedulikan Yuhan yang terus memanggil nama Nika hingga mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
Sedari Nika menunjukkan undangan yang diberikan Yuhan, Ezra sudah menaruh curiga. Kebetulan lelaki itu baru saja mendapat undangan yang sama percis, tapi acaranya berbeda. Sebelumnya dia sudah mencari tahu tentang sosok Yuhan.
Ezra yang anti terhadap acara tak penting malah bersedia datang. Bukan untuk memenuhi undangan, tapi demi menyelematkan seseorang.
"Pa-man--"
Langkah Ezra pun terhenti mendengar Nika memanggilnya. Mereka sudah saling berhadapan dengan mata yang saling memandang.
"Apa ini alasan Paman mengijinkan Nika--"
"Hem."
Nika pun terdiam. Jawaban singkat itu seperti tengah menunjukkan rasa kesal. Mata indah sang gadis menatap dalam wajah Ezra yang begitu datar. Dan kembali Ezra menarik lembut tangan Nika untuk masuk ke dalam mobil. Tak ada obrolan dari keduanya. Suasana mobil pun begitu sunyi. Berkali-kali ponsel Nika bergetar, tapi tak Nika indahkan.
Mobil sudah berhenti tepat di depan apartment. Baik Nika maupun Ezra belum ada yang membuka suara. Ketika Nika hendak membuka pintu mobil, suara Ezra membuat tangannya terhenti.
"Larangan saya pasti memiliki alasan."
Nika menoleh ke arah Ezra yang sudah menatapnya. Mereka saling pandang untuk beberapa saat. Dan sebuah kalimat akhirnya keluar dari bibir Nika.
"Maafin Nika, Paman."
Bukannya direspon, Ezra malah membuka pintu mobil dan meninggalkan Nika. Gadis cantik itu semakin merasa bersalah. Nika berlari mengejar Ezra yang sudah meninggalkannya. Langkah Ezra terhenti ketika sepasang tangan sudah melingkar di perut depan.
"Jangan marah lagi, Paman."
Hembusan napas kasar keluar. Perlahan Ezra mulai memutar tubuh. Belum sepenuhnya tubuhnya diputar, pipinya terasa hangat karena kecupan kilat dari sang gadis yang kini menatapnya dengan lamat. Tubuh kekar itupun mulai membeku.
Manik mata indah sang puan terus menatap dalam manik indah sang pengawal. Pelan dan pelan Nika merapatkan tubuhnya pada tubuh Ezra. Kedua tangannya pun mulai dilingkarkan di pinggang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya.
"Makasih udah mau jaga Nika."
Wajahnya dibenamkan di dada sang pengawal. Dipejamkan mata dengan telinga yang terus tertuju pada degup jantung Ezra Naradipta yang lebih cepat dari sebelumnya.
Deg ... Deg ... Deg ...
...**** BERSAMBUNG ****...
Boleh minta komennya enggak?
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍