NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 Winter is Over

Angin malam berhembus, membuat daun-daun bambu bergesekan seperti bisikan yang tidak ingin kami dengar.

Dan untuk pertama kalinya… aku merasa desa ini dalam bahaya.

Malam turun perlahan, membawa hawa dingin dari bukit. Lampu minyak di ruang tamu berpendar lembut, memantulkan bayangan di dinding bambu. Bapak duduk diam di kursi kayu, wajahnya masih muram setelah rapat desa yang memanas.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu. Bukan ketukan keras, tapi ketukan yang hati-hati seperti seseorang yang datang membawa pertanyaan yang berat.

Ibu menoleh. "Siapa malam-malam begini?"

Bapak bangkit, membuka pintu.

Di depan rumah berdiri Pak Wiryo, sesepuh desa. Tongkat kayunya menancap ke tanah, dan wajahnya tampak menahan sesuatu. Bukan marah, lebih seperti bingung, gelisah, dan… penasaran.

"Malam pak Seno," ucapnya pelan.

"Malam, Pak. Mari masuk, Pak Wiryo." jawab bapak.

Ibu segera menyiapkan kursi. Aku dan Raka berdiri di sudut ruangan, menahan napas.

Pak Wiryo duduk perlahan, mengusap lututnya. Ia menatap bapak lama, sebelum akhirnya berkata, "Seno… aku datang bukan untuk setuju. Bukan juga untuk menolak sembari marah-marah seperti tadi. Aku cuma… ingin tahu."

Bapak mengerutkan kening. "Ingin tahu apa lagi, Pak?"

Sesepuh itu mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah namun tegas, ada energi yang kurasa terpendam. "Kenapa kamu begitu yakin Rerindang harus ditebang?"

Ruangan langsung hening.

Bapak menarik napas panjang. "Pak. Saya lihat sendiri tanda-tandanya."

"Jelaskan lebih rinci." tampak Pak Wiryo matanya sedikit menyipit.

Bapak menatapku dan Raka sebentar, lalu kembali ke sesepuh. "Buah-buah kosong. Tanah retak halus. Akar-akar kecil menghitam. Dan… akar besar Rerindang mulai muncul di permukaan, dan sepertinya sudah menjalar ke ladang-ladang di bawah."

Pak Wiryo mengerutkan alis. "Akar muncul ke permukaan?"

"Iya, Pak," jawab Raka cepat. "Banyak. Seperti mencari air. Atau… mencari apa saja yang bisa diserap."

Sesepuh itu terdiam. Matanya bergerak pelan, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu yang tidak ingin ia percayai.

Bapak melanjutkan, suaranya mantap. "Pohon sebesar itu, kalau sudah tua dan melemah, dia akan menyerap lebih banyak dari yang seharusnya. Air, nutrisi, tanah. Ladang-ladang kita jadi korban."

Pak Wiryo mengetuk lantai dengan tongkatnya, pelan tapi jelas. "Rerindang sudah ratusan tahun berdiri. Dia tidak pernah merusak."

"Dulu tidak," jawab bapak lembut. "Tapi sekarang… akarnya sudah masuk dan tidak jarang yang busuk di ladang kita. Kita tidak pernah tahu selama ini kalau Rerindang, mungkin tersiksa, pak."

Sesepuh itu menatap bapak lama, sangat lama. Ada keraguan, ada ketakutan, tapi juga rasa ingin tahu yang semakin kuat.

"Aku tidak setuju ditebang," katanya akhirnya. "Belum…, aku juga tidak bisa menutup mata."

Ia berdiri perlahan, tubuhnya sedikit gemetar. "Seno… besok pagi, aku ikut kamu ke bukit. Aku ingin lihat sendiri apa yang kamu lihat."

Bapak mengangguk. "Baik, Pak."

Pak Wiryo menatap kami satu per satu, lalu berkata pelan, "Kalau benar apa yang kamu bilang… aku sendiri yang akan bicara ke warga, untuk dilakukan penebangan."

Ia berjalan keluar, tongkatnya mengetuk tanah malam yang dingin. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi.

"Seno… aku harap kamu salah."

Setelah ia pergi, rumah terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Seolah malam itu sendiri sedang menunggu apa yang akan terjadi besok.

°°°°°

Paginya, kabut tipis masih menggantung di lereng bukit, ketika Pak Wiryo datang ke rumah lebih awal dari dugaan.

Tongkat kayunya mengetuk tanah pelan, ritmenya teratur namun terdengar berat, seperti langkah seseorang yang sedang mempersiapkan diri.

"Pak Wiryo… sudah siap?" tanya bapak. Sesepuh itu mengangguk tanpa banyak bicara.

Wajahnya tampak tegang, tapi bukan karena marah seperti saat rapat desa. Lebih seperti seseorang yang sedang menahan rasa takut akan apa yang mungkin ia lihat.

Aku dan Raka ikut berjalan di belakang mereka. Suasana desa masih sepi, hanya suara ayam dan hembusan angin pagi yang menemani langkah kami.

Jalan setapak menuju bukit terasa lebih sunyi dari biasanya. Burung-burung yang biasanya berkicau di pohon jambu hanya bertengger diam, seolah ikut mengamati rombongan kecil kami.

Pak Wiryo berjalan perlahan memperhatikan lahan di sekitar, matanya awas, setiap detail tidak ada yang terlewat.

"Tanahnya… lebih lembap dari biasanya," gumamnya sambil berjalan, mengetuk tanah dengan tongkat.

Bapak mengangguk. "Iya, Pak. Padahal semalam nggak hujan."

Raka menambahkan, "Di ladang juga gitu, Pak. Lembap tapi… Kaya nggak sehat."

Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, seolah semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Semakin dekat ke puncak bukit, aroma bunga semakin kuat, tapi aromanya tidak lagi segar. Ada bau tanah basah yang pekat, seperti sesuatu yang membusuk perlahan.

Pak Wiryo berhenti sejenak. "Aroma ini… bukan aroma panen raya."

Bapak menatapnya. "Makanya saya bilang, Pak. Ada yang berubah."

Ketika kami mencapai puncak, Rerindang berdiri megah seperti biasa tapi ada sesuatu yang berbeda.

Akar-akar gantungnya tampak lebih kusut, beberapa menghitam di ujungnya. Tanah di sekitarnya retak halus, membentuk pola melingkar yang tidak wajar.

Pak Wiryo mendekat perlahan, menunduk untuk melihat buah-buah kecil yang berserakan di tanah.

Ia mengambil satu, menimbangnya di tangan, lalu menekannya sedikit. Buah itu langsung remuk, hancur seperti kulit kering.

Sesepuh itu terdiam, cukup lama.

"Ini…" suaranya serak, kalimatnya tidak ia selesaikan.

Bapak mengangguk. "Iya, Pak. Hampir semua yang jatuh begini."

Pak Wiryo berjalan mengitari batang Rerindang. Ia berjongkok, menyentuh salah satu akar besar yang muncul ke permukaan.

Akar itu keras, kering di luar, tapi ketika ia menekan sedikit, serpihan kecil rontok seperti debu.

"Aku mulai mengerti," gumamnya. "sekarang aku paham kenapa kau begitu bersikeras, pak Sena."

Ia berdiri perlahan, menatap bukit di bawah. "Dan kalau akar sebesar ini muncul ke permukaan… artinya akar di bawah sudah tidak kuat lagi."

Raka menelan ludah. "Mir, perasaan gw jadi nggak enak gini."

Pak Wiryo tidak langsung menjawab. Ia menatap jauh ke bawah, ke arah ladang, lalu kembali ke batang Rerindang.

Ia menatap bapak lama, sangat lama. "Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi."

Bapak menunduk sedikit, bukan bangga, tapi sedih. Pak Wiryo mengusap batang Rerindang dengan lembut, seperti menyentuh bahu seorang sahabat lama.

"Pohon ini sudah memberi banyak. Terlalu banyak. Tapi sekarang… dia tidak lagi menjaga. Dia hanya fokus bertahan hidup."

Angin berhembus pelan, membuat akar gantung bergoyang seperti helai rambut tua yang rapuh. Pak Wiryo akhirnya berkata, suaranya lirih namun tegas.

"Kita belum bisa memutuskan hari ini. Tapi, aku akan bicara kepada warga desa. Besok, biar aku yang bertemu dengan mereka. Jika ada yang tidak percaya, buah-buahan ini akan aku bawa sebagai bukti."

Bapak mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak."

Sesepuh itu menatap Rerindang sekali lagi, lama, seolah sedang berpamitan. "Kalau benar pohon ini sudah melewati waktunya… kita harus siap. Desa harus siap."

Ia berbalik, tongkatnya mengetuk tanah perlahan. Dan untuk pertama kalinya… Pak Wiryo tidak terlihat seperti penjaga tradisi yang keras kepala.

Ia terlihat seperti seseorang yang sedang bersiap kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai.

Tapi... Kenapa dia begitu ingin mempertahankan Rerindang sampai sebegitunya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!