NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 Langit di dalam Lemari

Setelah bapak melarangku menanam jamur di gudang, aku memutuskan untuk membuat satu buah media jamur di dalam kamar.

Sembunyi-sembunyi, aku aduk serbuk gergaji dengan air juga jamur tua kering yang tidak habis ibu masak.

Setelah selesai, aku taruh campuran tadi ke plastik bening dan aku ikat kencang sebelum memberi beberapa lubang kecil menggunakan lidi.

Di dalam lemari kotak kecil berwarna hitam, aku masukkan baglog jamur itu dan rutin mengeceknya setiap kali ada kesempatan.

Plastik bening berisi serbuk gergaji tampak berubah perlahan. Awalnya hanya basah, lalu muncul benang putih tipis yang merayap di permukaan.

Bau lembap semakin jelas seiring waktu, membuatku harus berhati-hati agar tidak sampai tercium keluar kamar.

Kadang aku menempelkan wajah dekat plastik, demi memperhatikan pola halus yang menyebar. Rasanya seperti ada kehidupan baru yang diam-diam tumbuh di ruang sempit itu.

Aku menutupnya rapat kembali, menaruh kain di atas lemari agar tidak mencolok. Hingga seiring waktu, titik-titik kecil mulai muncul di lubang lidi. Bentuknya pucat, sebesar ujung kuku.

Menatap jamur itu lama, membuatku aku seolah sedang ikut serta membentuk keajaiban kecil yang tidak terlihat mata. Seakan aku hadir untuk keajaiban itu.

Pintu kamar berderit pelan. Aku tersentak, buru‑buru menutup lemari hitam itu dengan kain yang sudah aku siapkan.

"Ibu…" suaraku keluar lebih cepat dari yang kumaksudkan.

Dia masuk sambil membawa lipatan kain, matanya menyapu kamar dengan tenang.

"Mira, kamu kenapa? Hmm~ Kok baunya agak lembap ya, di sini?"

Aku merasakan jantungku berdetak lebih keras. Bau samar dari plastik jamur itu pasti sudah menyebar.

Ibu mendekat ke arah lemari. Tangannya sempat menyentuh gagang pintu kecil itu.

"Kamu simpan apa di sini?" tanyanya, nada suaranya ringan tapi penuh rasa ingin tahu.

Aku berdiri di depan lemari, menahan dengan tanganku. "Ah… itu bau kain, Bu. Lembap karena jarang dipakai." Ujarku menyalahkan kain di lemari itu.

Ibu menatapku sebentar, keningnya berkerut tipis. Ada rasa curiga, tapi ia tidak memaksa. Ia hanya menghela napas, lalu meletakkan lipatan kain di kursi.

"Ya sudah, nanti dijemur."

Aku mengangguk cepat, mencoba tersenyum. Setelah ibu keluar, aku kembali membuka lemari. Plastik bening itu masih di sana, dengan titik‑titik putih yang semakin jelas.

Aku menutup lemari itu rapat, lalu duduk sebentar di tepi ranjang. Nafasku masih belum teratur, jantungku berdegup keras seakan suara itu bisa terdengar keluar kamar.

Hampir saja ibu tahu. Hampir saja rahasia kecilku terbongkar.

Aku bangkit, merasa udara kamar semakin menekan. Bau lembap itu seolah menempel di kulitku. Aku harus pergi keluar, aku butuh udara lain.

Dengan langkah cepat aku melewati lorong rumah, membuka pintu, dan membiarkan cahaya sore menyambut wajahku.

Udara luar terasa berbeda. Segar, terbuka, seakan menyingkirkan ketegangan yang baru saja menjeratku. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikiran.

Di halaman, suara roda berderit terdengar jelas. Dimas sedang berputar dengan sepeda kecilnya, tertawa riang setiap kali roda melewati batu.

Raka berdiri di samping, tangannya sesekali menahan setang agar adiknya tidak jatuh.

Aku berhenti di ambang pintu, menatap mereka. Dunia terang, tawa, gerak bebas… berlawanan dengan kehidupan kecil yang diam‑diam kutumbuhkan di kamar gelap.

Raka menoleh, matanya bertemu dengan mataku. Senyumnya ringan, tapi tatapannya lama, seakan bisa membaca sesuatu yang ada di pikiranku.

"Akhirnya keluar juga," katanya pelan, nada suaranya bercampur antara gurauan dan perhatian.

Aku mencoba tersenyum, meski di dalam dada masih ada sisa degup ketakutan. Tatapan Raka membuatku merasa seakan rahasiaku bisa terbaca, meski aku berusaha menutupinya dengan tenang.

Aku berdiri di ambang halaman, menatap roda sepeda Dimas yang terus berputar. Raka menahan setang sebentar, lalu membiarkan adiknya melaju lagi. Tatapannya kembali padaku, menunggu sesuatu yang akan aku katakan.

Aku menarik napas, mencoba menyingkirkan sisa ketegangan dari kamar tadi. "Ka… gimana progres wine‑mu?" tanyaku, suara sedikit pelan, tapi cukup jelas.

Raka tersenyum tipis, matanya berbinar sebentar. "Masih fermentasi. Warnanya mulai berubah, aromanya juga makin kuat. Tapi butuh waktu lagi sebelum bisa dicicip."

Ia menghela napas ringan, lalu menambahkan, "Kadang aku ragu, apakah hasilnya akan sesuai harapan."

Aku mengangguk, menatap tanah di bawah kakiku. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku merasa dekat, keraguan yang mirip dengan milikku sendiri.

Raka kemudian menoleh lebih penuh padaku. "Kalau kamu sendiri… udah kepikiran mau bikin apa buat festival akhir tahun?" tanyanya, nada suaranya ringan tapi penuh rasa ingin tahu.

Aku terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa seperti cahaya yang menyorot langsung ke rahasia kecilku.

Bayangan plastik bening di kamar, benang putih yang merayap, bau lembap yang masih menempel di ingatan. Aku menelan ludah, mencoba menyusun jawaban yang tidak akan membongkar semuanya.

Menatap Raka sebentar, lalu berkata pelan, kata‑kata yang keluar justru terasa seolah bapak dan ibu akan ikut mengetahui rahasiaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!