Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 MENGHADAPI TANTANGAN PERNIKAHAN
Azka masih terlihat sedikit tidak yakin tentang situasi baru ini. Dia masih berusaha untuk menerima Anita Tumbler sebagai ibu tirinya, tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa Anita Tumbler tidak dapat menggantikan ibunya yang asli.
Suatu hari, Azka dan Anita Tumbler berada di rumah sendirian, sementara Adrian Wilson dan Alana sedang keluar. Azka sedang berada di kamarnya, memainkan game di tabletnya, sementara Anita Tumbler sedang memasak di dapur.
Tiba-tiba, Azka turun ke dapur dan melihat Anita Tumbler sedang memasak. "Apa yang kamu masak?" tanya Azka dengan nada yang sedikit dingin.
Anita Tumbler tersenyum dan membalikkan badan. "Aku sedang memasak makan siang untuk kita. Bagaimana kalau aku membuatkan kamu makanan favoritmu?"
Azka mengangkat bahu. "Tidak perlu. Aku bisa memasak sendiri."
Anita Tumbler tidak terpengaruh oleh nada Azka yang dingin. "Tidak apa-apa, Azka. Aku ingin memasak untuk kamu. Apa makanan favoritmu?"
Azka ragu sejenak, lalu menjawab, "Aku suka sandwich Bacon, telur dan keju serta tater tots..."
Anita Tumbler tersenyum. "Baiklah, aku akan membuatkan kamu sandwich Bacon, telur dan keju serta tater tots."
Azka duduk di meja makan, sambil memainkan tabletnya. Anita Tumbler memasak telur serta tater tots yaitu kentang goreng kecil yang renyah untuk pelengkap sandwich Bacon serta keju, dan menyajikannya di depan Azka. Azka memandang sandwich itu dengan tidak bersemangat, tapi kemudian dia mengambil garpu dan mulai makan.
Anita Tumbler duduk di sebelah Azka dan menonton dia makan. "Bagaimana? Apakah enak?" tanya Anita Tumbler.
Azka mengangguk sedikit, tanpa menoleh ke arah Anita Tumbler. "Enak."
Anita Tumbler tersenyum. "Senang sekali kamu suka. Aku akan terus berusaha membuat makanan yang enak untuk kamu."
Azka tidak menjawab, tapi dia terus makan dengan pelan. Anita Tumbler tidak terpengaruh oleh keheningan Azka dan terus berbicara dengan dia, berusaha untuk membangun hubungan yang lebih dekat.
Azka terus makan dengan pelan, sambil sesekali melirik Anita Tumbler yang sedang menontonnya dengan senyum lembut. Meskipun dia tidak menanggapi langsung, Azka tidak bisa tidak memperhatikan perhatian Anita Tumbler yang tulus.
Setelah selesai makan, Azka membersihkan piringnya dan hendak pergi ke kamarnya. Namun, Anita Tumbler memanggilnya.
"Azka, tunggu sebentar," kata Anita Tumbler dengan suara yang lembut.
Azka berhenti dan menoleh ke arah Anita Tumbler. "Apa?" tanya Azka dengan nada yang masih sedikit dingin.
Anita Tumbler tersenyum dan berjalan mendekati Azka. "Aku hanya ingin bilang terima kasih karena sudah makan makanan yang aku buat. Aku senang sekali kamu suka," kata Anita Tumbler dengan mata yang berbinar.
Azka memandang Anita Tumbler dengan sedikit heran. Tidak ada yang pernah membuatnya merasa begitu diperhatikan dan dihargai seperti ini sebelumnya.
"Terima kasih," kata Azka dengan suara yang sedikit lebih lembut.
Anita Tumbler tersenyum dan memeluk Azka dengan hangat. "Aku senang sekali kamu ada di sini, Azka. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk kamu dan Alana," kata Anita Tumbler dengan suara yang penuh kasih.
Azka merasa sedikit kaku pada awalnya, tapi kemudian dia membiarkan dirinya dipeluk oleh Anita Tumbler. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa mungkin saja Anita Tumbler bisa menjadi ibu yang baik untuknya.
Azka merasa sedikit lebih nyaman dengan Anita Tumbler setelah insiden pelukan itu. Dia tidak bisa tidak memperhatikan perhatian Anita Tumbler yang tulus dan berusaha untuk membuatnya merasa lebih nyaman.
Dalam beberapa hari berikutnya, Azka mulai membuka diri kepada Anita Tumbler. Dia mulai berbicara lebih banyak dengan Anita Tumbler dan bahkan meminta bantuan Anita Tumbler untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Anita Tumbler sangat senang melihat perubahan pada Azka dan berusaha untuk terus membangun hubungan yang lebih dekat dengan Azka. Dia membantu Azka dengan tugas sekolahnya dan bahkan mengajak Azka untuk melakukan aktivitas bersama.
Alana sangat senang melihat perubahan pada Azka dan Anita Tumbler. Dia merasa bahwa keluarga mereka semakin dekat dan harmonis.
Suatu hari, Adrian Wilson pulang ke rumah dan melihat keluarga mereka sedang berkumpul di ruang tamu. Azka sedang membantu Anita Tumbler dengan tugas sekolahnya, sementara Alana sedang bermain dengan mainan di sebelah mereka.
Adrian Wilson tersenyum melihat pemandangan itu. "Keluarga kecilku yang bahagia," kata Adrian Wilson dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Anita Tumbler dan anak-anak menoleh ke arah Adrian Wilson dan tersenyum. "Selamat datang, Papa," kata Alana dengan suara yang ceria.
Azka hanya mengangguk sedikit, tapi dia tidak bisa tidak tersenyum melihat kebahagiaan yang ada di rumah mereka.
Azka tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu tanpa berpikir panjang. "Tidak sekolah," kata Azka dengan nada yang sedikit membangkang.
Anita Tumbler dan Adrian Wilson saling menatap, sedikit terkejut dengan reaksi Azka. "Apa yang salah, Azka?" tanya Anita Tumbler dengan lembut.
"Aku tidak ingin pergi ke sekolah hari ini," kata Azka dengan nada yang sedikit lebih keras.
Adrian Wilson duduk di sebelah Azka dan memandanginya dengan serius. "Azka, kamu harus pergi ke sekolah. Kamu tidak bisa melewatkan pelajaran hanya karena kamu tidak ingin," kata Adrian Wilson dengan sabar.
Azka menundukkan kepala, merasa sedikit kesal. "Tapi, Papa... aku tidak ingin," kata Azka dengan suara yang lembut.
Anita Tumbler memandang Azka dengan penuh pengertian. "Azka, apa yang salah? Apakah ada sesuatu yang membuat kamu tidak ingin pergi ke sekolah?" tanya Anita Tumbler dengan lembut.
Azka ragu sejenak, lalu menggelengkan kepala. "Tidak ada, Anita. Aku hanya tidak ingin pergi," kata Azka dengan suara yang lembut.
Alana yang sedang duduk di sebelah Azka, memandanginya dengan sedikit khawatir. "Kak Azka, apa yang salah? Kamu tidak enak badan?" tanya Alana dengan suara yang lembut.
Azka menggelengkan kepala, masih terlihat sedikit kesal. "Tidak, aku baik-baik saja," kata Azka dengan nada yang sedikit pendek.
Alana memandang Azka dengan lebih khawatir lagi. Dia tahu bahwa Azka tidak suka pergi ke sekolah, tapi dia tidak tahu apa yang salah. "Kak Azka, kamu harus pergi ke sekolah. Aku akan menunggumu pulang," kata Alana dengan suara yang manis.
Azka memandang Alana dengan sedikit lembut, dan untuk sejenak, dia merasa sedikit lebih baik. "Terima kasih, Alana. Tapi aku tidak ingin pergi ke sekolah hari ini," kata Azka dengan suara yang lembut.
Alana memandang Azka dengan tekad. "Kak Azka, aku akan pergi bersamamu ke sekolah. Kita bisa berjalan bersama dan makan siang bersama," kata Alana dengan suara yang ceria.
Azka terkejut dengan tawaran Alana, dan untuk sejenak, dia merasa sedikit lebih ingin pergi ke sekolah.