Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"Mama..." panggilku seraya membuka pintu ruang rawat inap.
Aku bergeming sebentar. Memang benar ada Mama sedang terbaring di ranjang, tapi bukan hanya Bik Nurul yang menemaninya. Ada istri dari pamanku juga disana.
"Mama kenapa?" Aku bertanya cemas. Kusentuh wajah yang sudah tidak muda lagi itu.
Mama tersenyum lembut, matanya terlihat sayu. "Mama gapapa, Nak."
"Jangan bilang gapapa! Kalau Mama ga kenapa-napa, ga mungkin bisa di rawat kayak gini!"
"Tenanglah, Si. Mama-mu sudah baik-baik saja. Hari ini atau besok, sudah boleh pulang kata Dokter." Bik Nurul menengahi.
Bik Nurul adalah tetangga samping rumah Mama. Dia memang dekat dengan Mama, bahkan sering berkunjung kerumah hanya untuk mengobrol atau memberikan sesuatu.
Aku tersenyum, "Makasih yaa, Bik. Aku gatau kalau gaada Bibik gimana."
"Sama-sama, Teh."
"Cuman Nurul aja yang kamu bilang makasih, Bik Rina enggak?" Wanita paruh baya yang merupakan istri pamanku itu mendelik sinis kearahku. Selalu begitu.
Aku tak memperdulikannya. Melihat dia yang rela menemani Mama di rumah sakit, pasti ada yang dia inginkan.
"Ma, aku kesini bersama Evelyn dan suamiku." Kugeser sedikit tubuhku agar Mama bisa melihat mereka.
"Bagaimana kondisimu, Ma? Apakah sudah membaik?" tanya Elbarra sambil mendekati Mama.
"Mama sudah sehat, Nak. Terima kasih sudah datang."
"Hai, Nyonya Sabrina.." Evelyn menyapa dengan senyum lebarnya.
"Si Cantik juga ikut rupanya," Mama terkekeh.
"Ini suami bulemu, Si?" Bik Rina menghampiri Elbarra untuk memandangnya lekat. "Kasep pisan euy."
"Bik Rina kalau gaada urusan lagi, mending pulang!"
Wanita itu merengut, "Dasar sombong! Mentang-mentang sudah menikahi orang luar, kamu jadi sombong sekali. Sudahlah, buang-buang waktu aku disini."
Aku agak bernafas lega setelah kepergiannya. Memang sedari awal hubungan kami tidaklah baik. Melihat wajah dan keluarganya, membuatku kesal. Untung saja Elbarra dan Evelyn tidak mengerti ucapan kami.
"Bik, Mama kenapa bisa sampai seperti ini?"
Bik Nurul menghela nafas sejenak, "Ini semua gara-gara Bik Rina-mu itu, Si."
"Dia kenapa memangnya?"
"Kamu tahu 'kan sawah milik Mama-mu? Bik Rina ingin meminjam sertifikatnya untuk digadaikan, katanya sih untuk Rian daftar jadi polisi. Mama-mu menolak, tapi Rina memaksa hingga terjadi keributan. Oleh sebab itu, Mama-mu terkena serangan jantung dan dilarikan kesini."
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku mengusap wajahku seraya mengatur emosiku agar tidak lepas kendali. Kurasakan usapan lembut di bahuku. Saat aku menoleh, Elbarra tersenyum tulus kearahku. Seolah berkata, 'Semuanya akan baik-baik saja'.
"Bik, makasih yaa udah jagain Mama. Mending Bibik pulang saja, kasian Nada sendirian dirumah..."
Kukeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah, entahlah berapa jumlahnya. Aku tak menghitungnya dan langsung memberikannya kepada Bik Nurul. Hitung-hitung untuk mengganti ongkosnya kemari.
"Kebanyakan ini, Teh.."
"Gapapa, Bik. Sisanya buat Nada jajan, hehe.."
"Makasih banyak ya, Teh. Kalau begitu Bibik pulang dulu. Ina, aku pulang duluan yaa.."
Mama mengangguk, "Makasih banyak, Nurul.."
Sepasang mataku berembun, ternyata Mama kesulitan selama ini karena keluarga Bik Rina. Mereka selalu mengusik kami sejak dulu, bahkan sejak aku masih kecil.
"Kenapa, Sayang?" Mama mengusap pipiku sangat lembut, seolah takut jika menyakitiku.
"Mama ikut aku saja yaa.. Biar aku bisa jaga Mama."
Beliau menggeleng lemah, "Mama cuman pengen tinggal disini. Dirumah peninggalan Papamu, Nak."
Jika Mama sudah berkata seperti itu, aku bisa apa selain menyetujuinya. Walaupun hatiku merasa tidak tenang.
"Yasudah, kalau begitu aku temui Dokter dulu untuk menanyai kepulanganmu. Eve, titip Mama sebentar yaa."
Evelyn mengacungkan jari jempolnya seraya tersenyum. Aku dan Elbarra memilih keluar menuju resepsionis untuk menanyai tentang kepulangan Mama.
...****************...
"Hati-hati, Maa..." ucapku sambil membantu Mama turun dari mobil.
Baru akan masuk kedalam rumah, Bik Rina bersama Rian, putranya menghampiri kami.
"Udah pulang aja, udah sehat berarti! Gimana soal kemaren, Teh?" tanya Bik Rina to the point.
"El, ajak Mama dan Evelyn masuk lebih dulu. Aku masih harus bicara dengan bibiku."
"Tapi, Sayang..."
"Tidak apa-apa, El. Percaya padaku. Masuklah, kumohon!"
Elbarra mengangguk pelan, ia membawa Mama dan Evelyn masuk kedalam rumah. Menyisakan aku dan Bik Rina bersama putranya.
"Loh, kenapa Si Ina malah masuk? Kan dia belum jawab pertanyaan saya tadi."
"Iya nih, gimana sih Bik Ina ini." Rian ikut menimpali.
"Rian, kamu mau daftar jadi polisi?"
Sepupuku itu mengangguk semangat, "Mau, Teh."
Aku tersenyum, "Semangat yaa.. Teteh gabisa bantuin, begitu juga Mama. Kami cuman bisa ngasih dukungan ke kamu."
"Apa-apaan sih kamu, Sisi? Pelit banget sama saudara. Sawah Mama kamu 'kan masih ada!"
Ya Tuhan, sabarkan lah hambamu ini menghadapi makhluk seperti ini.
"Itu sawah milik Mamaku, yang berarti milikku juga. Kalau aku gamau digadaikan, gabisa dipaksa dong."
"Ih, Si Teteh pelit banget.." Tiba-tiba muncul satu makhluk lagi yang tak diundang, Tania. Anak dari bibiku, Bik Indah.
"Kamu anak kecil mana mengerti! Yang kamu tahu cuman dandan!"
Tania membulatkan matanya dengan mulut menganga lebar, "Jahat banget sih Teh mulutnya."
Aku tak mengindahkan ucapan gadis yang masih SMP itu. Fokusku hanya tertuju pada wanita di hadapanku ini.
"Dengarkan aku, Bik. Aku ga suka mengulang-ulang kataku. Rian ingin daftar menjadi polisi itu urusan keluarga kalian, gaada hubungannya denganku ataupun Mama. Dan berhentilah mengusik kami!"
Buru-buru aku berbalik dan meninggalkan mereka yang tercengang dengan kata-kataku barusan. Masa bodo dengan pandangan mereka terhadapku, toh selama ini mereka tidak pernah baik.
"Bagaimana?"
"Aku sudah mengusir mereka!" Aku tersenyum, lalu bergelayut manja di lengan suamiku.
"Mama dimana?" sambungku sambil memperhatikan sekitar.
"Mama sedang beristirahat dengan ditemani Evelyn."
Kuangguk-anggukan kepalaku. Ada gunanya juga mengajak adik iparku itu kesini, hehehe.
"Apa yang mereka inginkan?" Elbarra bertanya seraya memberiku segelas air. Tahu saja jika istrinya ini merasa haus.
Aku menegak air itu hingga tandas. Ah, rasanya lega sekali. "Mereka ingin meminjam sertifikat tanah untuk digadaikan. Kau lihat pria muda diluar tadi? Itu sepupuku, Rian. Dia baru lulus sekolah dan ingin masuk kepolisian. Dan bayarannya tidaklah murah."
Suamiku mengangguk mengerti, "Aku bisa meminjamkan mereka uang."
Dengan tegas aku menolak, "Kau tidak mengerti, El. Manusia seperti mereka jika sudah dibantu, tidak tahu caranya berterima kasih. Apalagi jika Rian sampai lulus dan menjadi seorang polisi, Bik Rina pasti akan bertingkah sombong."
"Oh, begitu!"
"Jangan berbicara dengan mereka! Aku tidak mau kau dekat-dekat dengan mereka, kau dengar?"
Elbarra tertawa kecil, "Baiklah, Princess. Ayo kita istirahat!"
Dia benar, kami belum beristirahat sama sekali. Aku juga merasa letih, ingin rasanya cepat-cepat rebahan.
Kutarik tangan Elbarra agar mengikutiku. Aku membawanya ke kamar lamaku, kamar kecil bernuansa biru putih, karena aku sangat menyukai karakter doraemon.
Aku meringis lupa, kasurku hanya muat untuk satu orang. "El, kau bisa tidur disini. Aku akan tidur diruang tengah."
"Kenapa kita tidur terpisah?"
"Kasurnya hanya muat untuk satu orang."
"Tidak masalah, Sayang. Kau bisa tidur diatasku!" godanya sambil menaik-turunkan alis.
"Aku berat, El.."
Tuk!
"Ishh.." Aku mengusap dahiku. Hobinya sekarang adalah menyentil dahi orang.
"Sekali lagi kau mengeluhkan berat badanmu, aku akan membuat dahimu semakin memerah!"
"Iya-iyaaa.." Aku mengalah karena tidak ada tenaga untuk berdebat. Kurebahan tubuh ini sambil memeluk guling.
Disaat aku akan terbawa kealam bawah sadar, seseorang tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ketika aku membuka mata, tubuh Elbarra sudah berada di bawahku. Rupanya dia serius dengan ucapannya tadi.
"Tidurlah, Sayangkuuu. Mimpi yang indah."
Bisikan itu menenangkanku. Perlahan mataku tertutup, dan aku benar-benar terlelap sepenuhnya.