Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENGAJA
"Makasih ya," ucap Justin saat Kya sudah selesai menghubungi calon karyawan untuk seleksi wawancara, bahkan tempat waktu dan juga kostum wawancara semua ditulis detail oleh Kya. Tanpa bantuan siapa pun, Kya berhasil menyelesaikan, sehingga Justin merasa sangat puas melihat kinerja Kyara.
"Kalau dalam rumah tangga mungkin kamu yang handle semua, tugas suami cuma setor uang," ledek Justin dan membuat Kyara tertawa ngakak.
"Iyalah. Salah satu indikator di mana letak hati seorang suami bisa dilihat dari percaya gak pada istri soal keuangan!"
"Kalau aku sih silahkan dipegang istri."
"Wah keren. Bagus tuh, semoga segera mendapat calon istri yang baik."
"Emang kamu gak mau sama aku?"
"Ingat tembok Pak Justin!" sahut Kyara disambut tawa renyah Justin. Keduanya sudah masuk ruang meeting salah satu cafe, yang sengaja disewa Justin selama tiga hari untuk proses wawancara. Ada Kya, Justin, dan Bu Mer, HRD senior dari kantor Olivia. Mereka satu per satu dipanggil untuk menghadap Salah satu di antara ketiganya.
Masing-masing kandidat sudah mulai wawancara. Rasa horor di area Justin dan Bu Mer sangat terasa. Tapi di area Kya malah seperti diskusi teman kuliah. Pikir Kya, ia lebih baik memberikan studi kasus dan melihat kecakapan serta penanggulangan suatu kasus saat menjawab, sebagai poin utama meloloskan karyawan atau tidak.
Setelah 3 hari, mereka kemudian berdiskusi menentukan siapa saja yang berhak menjadi karyawan toko emas milik Justin. Sesuai pertimbangan hasil wawancara mereka seobjek mungkin meloloskan siapa saja. Hampir malam Kyara berada di kantor Olivia, dan tepat pukul 7 malam, baru beres.
"Aku antar, hujan juga loh. Sekalian makan."
"Asal gak melibatkan perasaan, mau aja!" jawab Kyara sembari memasukkan laptop dan juga printilannya. Justin berdecak sebal, dia sudah paham dan gak perlu diperjelas terus.
"Makan apa?" tanya Justin saat keduanya sudah berada di dalam mobil, mereka menunggu hingga hujan sedikit terang.
"Udon gimana, yang halal tapi!"
"Baik, Nyonya!"
"Dih, masih bocil aku."
"Diajak nikah Bagas juga mau."
"Dulu, buktinya ditinggal nikah juga sekarang."
Justin tertawa meledek, puas sekali kalau mendengar Kya kesal pada hubungannya yang kandas. Justin paham meski kesal begitu, Kya masih menyimpan rasa pasa Bagas, hanya saja ia berusaha sekuat tenaga untuk segera melupakan.
Apalagi berseliweran kabar tentang liburan Bagas dan Lovy ke Jepang. Mereka terlihat so sweet dengan melakukan beberapa trend, salah satunya saat Lovy berdiri kemudian Bagas datang dan langsung menarik perut Lovy, keduanya tertawa bahagia.
Sebagai mantan yang aktif scroll sosmed, tentu Kya juga melihat kabar itu, dan dirinya pun merasa kecewa karena seharusnya yang diangkut Bagas adalah dirinya. Ah, Kya tak mau terjebak dalam situasi tersebut, alhasil ia pun akhirnya unfollow Bagas. Sudah cukup ia menormalkan putus tak perlu unfollow, tapi kenyataannya, hatinya gak sanggup.
"Bang, abang kerja begini gak berniat punya pacar?" tanya Kya tiba-tiba. Tumben-tumbenan Kya kepo dengan urusan pribadi Justin.
"Nanti dulu. Ada target finansial freedom yang belum aku capai. Lagian mencari perempuan no drama zaman sekarang susah."
"Maksudnya?"
"Sebagai pengusaha, pikiran dan waktu terforsir pada bisnis tersebut. Kalau mereka menuntut waktu lebih banyak ya aku angkat tangan lah. Udah lah, diam. Jadwal kerjaku kantor dan trading gak usah direcokin. Perkara belum makan aja minta WA, aduh emang kalau aku gak ingetin makan, dia gak makan?"
Kya melongo, baru sadar kalau Justin secuek itu. "Lah, terus apa gunanya pasangan?"
"Waktu 24 jam tak melulu berhubungan dengan pacar, Kya. Kalau kita terus bersama dia, ya berarti dia cari yang pengangguran."
Kya mengangguk paham. Dirinya saja dengan Bagas, telepon dan dibalas chat aja selonggarnya Bagas, dan Kya terima. Meski kadang merasa kok gini amat punya pacar, jarang kencan berdua, komunikasi ya selonggarnya, dan berakhir pengkhianatan. Ah sudahlah, anggap tak jodoh.
"Pikirku, aku ingin punya pasangan yang satu frekuensi sama aku. Dia tahu kerjaanku, dia tahu jadwalku, dan dia bisa stand by di sampingku, sekaligus menjadi asisten pribadiku," ucap Justin sembari menatap Kya, dan gadis itu menatap balik Justin dengan senyum tertahan.
"Dan dia satu agama dengan Bang Justin," barulah Justin tertawa ngakak, karena Kya kembali mematahkan harapan bujang satu ini.
"Benar banget. Kalau enggak kamu ingatkan, mungkin aku udah bilang cinta sama kamu, Kya."
"Apaan seeeh," tolak Kya dengan nada menggemaskan. Justin pun tertawa.
"Dalam kamusku secinta apa aku sama perempuan, tidak akan bisa mengajakku untuk log in ke agamanya sekarang. Begitupun dengan aku yang tak akan pernah mengajak dia ke agamaku. Aku hanya manusia biasa, tak patut merebut hamba Tuhan, sedangkan Tuhan saja sesayang itu pada makhluknya. Apalah aku yang bisa saja menyakiti hatinya."
"So sweet. Benar banget. Cinta sih cinta, tapi tetap saja logika harus dipakai, tak perlu memaksa soal keyakinan. Kecuali kalau memang ada hidayah dan tergerak atas hati nuraninya ya silahkan saja."
Obrolan mereka serius pun terlihat oleh seseorang, dan keduanya sengaja dipotret lalu dikirimkan pada Lovy. Dia adalah manajer Lovy yang sedang makan malam juga di area restoran yang sama dengan Kyara.
Mantan ceweknya Bagas, ternyata udah move on juga sama cowok ganteng. Lapor sang manajer pada Lovy. Tak perlu menunggu waktu lama Lovy pun membalas pesan tersebut.
Pintar banget tuh cewek cari cowok cakep. Padahal dia gak cantik-cantik amat. Bahkan Bagas saja kayaknya susah move on.
Kasih lihat ke Bagas kalau dia sudah move on. Masa' iya sudah punya istri cantik, masih kepikiran mantan.
Tahu tuh atlet miskin. Sudah diberi jalan enak meniti karir, tinggal sayang dan cinta sama istri aja harus dipaksa untuk mesra di depan umum.
Tapi pergenjeton aman kan?
Aman lah. Gue pemain handal, ya kali dia menolak pesona gue. Cuma hati doang yang belum bisa 100% cinta sama gue.
Kalau laporan kasih bumbu yang memojokkan si mantan, biar Bagas paham mantannya gak sebaik itu.
Pastinya. Gue juga udah muak dengan Bagas yang masih saja beberapa kali chat sang adik menanyakan kabar tuh cewek.
Suek. Berani banget. Gak lo ancam?
Udah. Bahkan gue udah ngamuk tetap saja dia masih diam-diam chat. Heran gue. Andai saja sekarang gue ada di resto itu, udah gue hampiri tuh cewek, gak usah sok jual mahal pada Bagas, sampai dia bikin suami orang tergila-gila.
Mau gue wakili.
Boleh. Siram tuh kepala pakai air.
Manajer Lovy pun mendekati meja Kya dan Justin, pura-pura kesandung dan pyur terkena baju Kya. "Maaf, Mbak!" ucap sang manajer pura-pura, dan ia yakin Kya marah, basah tuh celana hingga blousenya juga kena.
"Hati-hati dong, Mbak. Sengaja banget sih," bukan Kya yang protes tapi Justin. Masalahnya Kya pakai blouse putih, rawan terawang kan.
"Udah, Bang! Iya Mbak gak pa-pa, lain kali hati-hati." Manajer Lovy pun menawarkan laundry namun ditolak Kya, hal kecil tak perlu dibesar-besarkan.