NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu Giana

#19

Bu Giana tiba kembali di rumahnya selepas maghrib berkumandang, rumah mewah peninggalan kedua orang tuanya. Rumah yang selalu menjadi tempatnya kembali pulang walau dulu ia sudah berstatus menjadi istri seseorang. 

Namun, pria yang ia dukung dan dampingi sejak belum memiliki apa-apa, hingga sukses dalam karir serta memiliki nama. Justru terperosok dalam godaan dunia, tergoda barang haram yang belum ia miliki di rumah. Yaitu, seorang anak.

Bu Giana merebahkan tubuh lelahnya di sofa, ia menarik nafas dalam-dalam, sambil memejamkan mata sejenak. Lamunan membawanya kembali ke masa silam ketika palu perceraian menggema di ruang persidangan. 

•••

Giana muda, melangkah tegap dengan wajah terangkat. Sementara di seberangnya sang mantan suami pun berjalan dengan wajah datar. 

“Selamat, untuk kehamilan selingkuhanmu,” cibir Giana sinis, tersenyum miring menutupi luka hatinya yang teramat pedih. 

Pria di sebelahnya hanya memasang wajah dingin dan datar. Sudah yakin bahwa ini keputusan yang benar, karena Giana tak mau di duakan. “Aku akan segera mengurus bagian gono-gini untukmu,” katanya. 

“Baguslah, memang seharusnya begitu jika kamu punya malu.” Kembali Giana melontarkan sindiran, seolah coba mengingatkan bahwa dirinyalah yang menemaninya berjuang sejak belum memiliki apa-apa, serta belum menjadi apa-apa. 

Tapi setelah berpunya, Gunawan seolah lupa segalanya, lupa bagaimana mereka mulai merajut mimpi bersama. 

“Rumah itu, milikmu, tetaplah tinggal di sana.” 

Giana melengos, “Cih, kamu pikir aku sudi kembali ke rumah itu? Kalaupun kamu memberikannya secara cuma-cuma di luar perhitungan gono-gini, aku justru akan membakar dan memberangusnya hingga rata dengan tanah.” 

“Tapi itu hal yang mubazir, lebih baik kamu jual saja. Dan kita bagi dua uangnya,” sambung Giana. 

Gunawan terkekeh tak kalah sinis, “Kamu tak mau rumahnya, tapi kamu ingin uang hasil penjualannya? Dasar aneh!”

“Kamu pikir aku wanita miskin?! Kamu lupa dengan latar belakang Tuan Syamsir Huda?” 

Orang tua Giana adalah seorang saudagar kain secara turun temurun, dan usaha tersebut, kelak akan diwariskan pada Giana sebagai putri satu-satunya. 

“Aku akan menabur uang itu di jalanan, dengan cara membagi-bagikannya pada fakir miskin. Lalu aku pastika uang itu akan habis sebelum aku tiba di rumah.” 

Giana memasang kembali kaca mata hitamnya, kemudian berlalu pergi dengan sisa harga dirinya. Tak sudi lagi melihat lelaki yang telah menginjak-injak harga dirinya. 

Sopir Bu Giana segera membukakan pintu mobil untuk wanita itu. 

“Kita kemana sekarang, Bu?” 

“Ke rumah, kau bantu aku membereskan barang-barang, ya?” 

“Baik, Bu.” 

Mobil melaju di jalan, “Mahar, kau tak pulang kampung?” 

“Mau kerja apa di kampung, Bu? Orang tua saya cuma buruh tani, lebih baik merantau sambil melanjutkan kuliah.” 

“Bagus, jadi lelaki harus punya tekad kuat, dan bisa berdiri di atas kaki sendiri.” 

Mahar tersenyum tipis. “Setelah ini aku akan melanjutkan kuliah ke luar negeri, kau masih mau kerja denganku?” sambung Giana memberikan penawaran, karena ia melihat kejujuran dalam tindak-tanduk Mahar. 

“Mau, Bu,” sahut Mahar cepat. 

“Bagus, sementara, kau bantu ayahku mengurus usahanya, nanti ku rekomendasikan pada beliau. Supaya kau juga tetap bisa melanjutkan kuliah.” 

“Tapi, kenapa Ibu Gi baik padaku?” 

“Karena aku melihat kejujuran di dalam pancaran matamu, aku suka dengan ketekunan dan kerja kerasmu. Jarang-jarang aku bertemu pemuda sepertimu, bila sudah bekerja, ya kerja saja. Urusan sekolah pasti terbengkalai.” 

Pujian Giana membuat Mahar berbunga sejenak, namun, ia menepisnya. “Itu, pesan ibu saya, Bu. Katanya saya harus mengangkat derajat keluarga, dengan tetap sekolah walaupun susah payah.” 

Giana semakin kagum dengan pemikiran dan prinsip Mahar. 

Obrolan mereka tak lagi berlanjut hingga tiba kembali di rumah. 

Namun, Giana justru berjumpa dengan seseorang yang paling tidak ingin ia jumpai saat ini. 

Wanita murah yang didapat suaminya di jalanan, entah apa bagusnya dia hingga Gunawan kepincut dengan mudah, hanya karena wanita itu membuka lebar kedua kakinya secara cuma-cuma. 

Untunglah wanita itu hamil, jadi Gunawan memilihnya, jika tidak, entah sampai kapan dirinya harus berbagi dengan tempat pembuangan umum sepertinya. Membayangkan dampaknya saja, sudah membuat Giana merinding jijik. 

“Ah, mantan nyonya sudah datang, silahkan bereskan barang-barang, karena rumah ini akan segera kami tempati,” usir Anjani, sangat bangga dan bahagia, karena berhasil merebut Gunawan dari istri sah nya. 

Giana terdiam di tempatnya, ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu, lalu menyeretnya sepanjang jalan. Namun, sebisa mungkin Giana berusaha mempertahankan harga diri dan kewarasannya.

Dua orang ART-nya pun bersikap demikian, begitu pula Mahar yang langsung mengenali Anjani.

"Mahar," sapa Anjani, "Jadi kamu kerja di sini?"

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!