NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Karma di Lift, Balasan di Ruang Rapat

Katanya karma datang diam-diam. Ternyata dia datang pakai jas, senyum dingin, dan jabatan CEO.

...Happy Reading!...

...*****...

Akhirnya aku sampai juga di depan kantor. Tidak ada sandiwara. Tidak ada adegan gerak lambat. Aku langsung lari masuk ke lobi sambil ngos-ngosan seperti baru lolos dari audisi lari estafet.

Tanganku gemetar waktu mengambil kartu identitas dari dalam tas. Tempel. Pencet. Pintu terbuka. Selamat datang di dunia penuh tenggat waktu dan kopi sachet. Beginilah kehidupan manusia korporat di hari Sabtu pagi.

Begitu pintu akses terbuka, aku berjalan cepat ke arah lift. Namun nasib seperti sedang bercanda. Lift di depan wajahku menutup tanpa ampun. Rasanya seperti pintu takdir yang menolak keberadaanku mentah-mentah.

Untung lift sebelah terbuka. Aku masuk. Tekan tombol. Tarik napas. Aku hanya ingin hari ini berjalan normal. Namun harapan itu langsung gugur.

Sebelum pintu lift menutup sempurna, sebuah tangan menyelinap dan menahan pintu. Refleks, aku menoleh sambil siap memasang ekspresi marah. Namun saat melihat siapa yang berdiri di sana, detak jantungku seperti ditekan tombol jeda.

Saka Ardhananta.

Dengan jas rapi, tatapan datar, dan aura dingin seperti tokoh utama drama misteri. Kenapa dia ada di sini? Ini kantor. Tempatku bekerja dengan tekanan.

Dia masuk ke dalam lift. Berdiri di sampingku. Terlalu dekat. Zona amanku langsung terganggu. Tubuhku refleks menjauh seperti anak kucing melihat boneka bergerak sendiri.

Aku sempat menoleh sepersekian detik. Tatapan kami bertemu. Singkat. Tapi cukup buat membuat jantungku jadi peserta lomba maraton.

Lift menutup. Diam. Hening. Tidak ada musik. Tidak ada suara. Hanya aku dan dia. Dua manusia dengan sejarah lebih rumit daripada sinetron tayang malam minggu.

Entah mengapa Saka tidak menekan tombol lantai mana pun. Aku ingin bertanya. Namun takut dikira masih penasaran. Mau pura-pura cuek, tetapi detak jantungku berdetak sekeras suara sirene ambulans.

Saka tetap diam. Wajahnya seperti kulkas bersalju. Dingin. Beku. Tanpa emosi.

Aku bisa mencium aroma parfumnya. Wangi kayu dan dingin. Sungguh berbeda dengan caranya memandangku dulu.

Aku menarik napas panjang. Membaca mantra dalam hati. Semoga liftnya tidak macet. Semoga tidak ada drama. Namun malah terasa semakin lambat. Mungkin liftnya juga ingin ikut bercanda dengan semesta.

Bunyi "ting" terdengar. Pintu terbuka. Aku tidak pikir panjang. Langsung keluar. Lari kecil. Tidak menoleh. Baru bisa bernapas lega setelah duduk di kursi. Rasanya seperti baru kabur dari acara realitas bertema mantan misterius.

Kepalaku penuh tanda tanya. Apa yang barusan terjadi? Kenapa Saka ada di sini? Jangan-jangan dia karyawan baru?

Aku menggeleng cepat. Terlalu banyak teori konspirasi di kepala. Aku mencoba fokus. Menekan tombol daya komputer. Padahal tidak ada pekerjaan mendesak. Namun setidaknya aku terlihat seperti manusia produktif.

Lalu aku ingat. Tasha bilang akan ada klien penting yang datang hari ini. Aku belum sempat bertanya siapa. Namun belum juga berdiri, suara langkah cepat terdengar mendekat.

Tasha muncul membawa berkas. Wajahnya seperti sekretaris presiden saat ada krisis nasional.

"Caca, napas dulu deh. Jangan sampe klien pertama lo liat kayak habis dikejar utang."

"Kalau kliennya kaya raya, boleh dong dikejar. Tapi jangan utangnya."

"Ya udah, ayo ke ruang rapat sekarang. Klien pentingnya sudah datang."

Aku menoleh dengan alis hampir bertabrakan. "Sekarang?"

"Iya. Orangnya disiplin sekali. Jangan sampai dia menunggu."

Tasha langsung pergi, meninggalkan aku yang masih tercengang.

Dengan berat hati aku berdiri. Dalam hati mengeluh. Siapa sebenarnya klien penting ini? Biasanya juga datang terlambat tiga puluh menit. Yang satu ini datang tepat waktu seperti jam buatan Swiss.

Aku melangkah menuju ruang rapat. Setiap langkah terasa seperti menghitung detik menuju bencana. Firasatku benar-benar tidak enak.

Sampai di depan ruang rapat, aku menghela napas. Jantungku berdetak tidak biasa. Rasanya seperti hendak menghadapi ujian nasional tanpa belajar.

Setelah merasa cukup siap, aku melangkah masuk. Mataku langsung menangkap punggung seseorang yang duduk membelakangi pintu.

Tasha sudah berada di hadapannya. Ia melambaikan tangan seperti memberi kode agar aku mendekat.

Aku berjalan perlahan ke arah pria itu. Rasanya aku tidak asing dengan punggung dan setelan jasnya. Apakah aku pernah bertemu dengannya?

Belum sempat aku lebih dekat, pria itu menoleh. Otomatis aku menghentikan langkah.

Deg.

Itu dia. Pria yang tadi bersamaku di dalam lift. Jadi, dia ke sini bukan untuk kunjungan iseng. Jangan-jangan dia kliennya.

Langkahku beku. Otakku mendadak rapat darurat. Ini kah waktunya menebus dosa masa lalu?

Suara Tasha membuyarkan lamunanku. Dia pasti sadar aku sedang kehilangan arah.

"Cayra, perkenalkan. Ini Pak Saka Ardhananta. CEO Manterra, brand skincare pria. Beliau klien baru kita."

Apa?

Ternyata benar. Dia klien baru kami. Artinya aku harus sering bertemu dengannya. Ini bukan lagi teori konspirasi. Ini kenyataan hidup.

Belum selesai aku meresapi nasib buruk ini, suara Tasha kembali terdengar. Kali ini lebih serius.

"Pak Saka adalah klien penting dari Mbak Rania. Jadi kita harus ekstra kalau tidak mau mengecewakan beliau. Karier kita juga dipertaruhkan."

Mataku terkunci padanya. Ini bukan karma biasa. Ini skrip balas dendam yang ditulis semesta sendiri.

Kalau aku sampai gagal menangani dia sebagai klien, bukan tidak mungkin aku akan kehilangan pekerjaan. Dan yang lebih mengerikan adalah fakta bahwa dia adalah cowok culun yang dulu pernah aku permainkan hatinya.

Bagaimana jika sekarang dia datang untuk membalas dendam?

Apakah ini yang disebut karma cinta pertama?

Ya ampun, karma ini nggak main-main. Dia bukan cuma cinta pertama, dia juga ancaman PHK.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!