NovelToon NovelToon
AKU TALAK SUAMI-MU!

AKU TALAK SUAMI-MU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Bepergian untuk menjadi kaya / Suami Tak Berguna
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Meidame

"Wanita bisa hidup bahagia tanpa lelaki." Itu tekad kuat yang Adira tanamkan pada dirinya.

*

Ketika bahagia terlalu lama menyapa, terkadang kita harus lebih waspada, karena bencana bisa datang di saat yang tenang, itulah yang di hadapi oleh Adira yang kini berada di jurang kehancuran. Ia tidak hanya kehilangan suami yang selama ini sempurna untuknya, tetapi juga orang yang selalu ada dan menemani setiap langkah di hidupnya sejak kecil.

Penderitaan Adira semakin dalam saat ia menyadari bahwa perselingkuhan ini bukan hanya mencuri kebahagiaannya, tapi juga kehidupan dan jiwanya.

Di tengah amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan, Adira menolak menjadi korban yang pasrah. Ia bangkit dengan tekad yang membara, membalikkan keadaan, dan melontarkan sebuah gugatan yang mengejutkan. "Aku Talak Suamimu!"

Keputusan berani ini bukan hanya tentang memutus ikatan pernikahan, tetapi juga sebuah deklarasi perang terhadap pengkhianatan. Karena Adira tidak sudi untuk di hina lebih jauh lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meidame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB

• Ter**paksa**

Dini hari Yovan melakukan motornya melewati jalanan yang masih sepi, dengan udara yang dingin dan berembun. Di tambah pepohonan di kiri dan kanan membuat jaket yang Yovan kenakan seperti tidak berfungsi dengan baik. Karena dinginnya tetap menusuk kulit.

Rasa cemasnya dari semalam tidak bisa hilang, walaupun dia berusaha berfikiran positif. Perasaan tidak nyaman itu menuntut Yovan untuk bertindak langsung menuju ke rumah Adira yang jaraknya tempuhnya memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam lamanya.

Yovan tau segala hal tentang Adira, dan sebagai lelaki yang memiliki insting tajam, juga telah bertemu berbagai macam jenis manusia. Jelas saja Yovan tau gelagat yang di ceritakan oleh Adira tentang Papa tirinya itu tidak bisa di abaikan. Yovan melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Karena tidak ingin sampai terlambat untuk datang. Walaupun jalanan di waktu dini hari memang sepi.

Bagi Yovan, Adira adalah cinta pertamanya. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi gadis itu. Semua cerita Adira tentang hidupnya, yang Yovan dengar bukan hanya untuk membuat gadis itu merasa lega. Tetapi juga supaya Yovan bisa menjadi sosok pasangan yang bisa mengerti dan sanggup untuk memahami Adira.

*

Disisi lain Adira sudah bangun dan bersiap untuk berangkat. Karena jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Jarak menuju ke lokasi cukup jauh, jika menggunakan mobil pastinya harus merasakan macet terlebih dahulu. Dan Adira tidak ingin terlambat.. Walaupun dadanya ada tersirat rasa tidak enak. Tapi Adira tetap turun ke lantai bawah dan melihat Mama dan Om Angga yang sedang sarapan bersama.

"Selamat pagi Dira." Sapa Om Angga sambil melemparkan senyumannya yang lebar. Terkesan ramah, namun lain di pandangan Adira.

"Selamat pagi Pa, Ma."

"Makan dulu sini, Mama mau nanya." Linda mengambilkan sebungkus nasi uduk dan menaruhnya di piring, lalu memberikannya pada Adira yang duduk di sebelahnya.

"Nanya apa Ma?" tanya Adira sambil menyuap sesendok nasi.

"Kamu beneran kerja sama Rain?"

"Iya Ma beneran, masa kerja bohongan sih Ma. Aku itu kerja jadi asistennya Rain. Karena asisten dia yang biasanya lagi pulang kampung. Jadi Rain minta aku buat kerja sama dia." Adira sengaja langsung menjelaskan, karena dia tau Mama nya akan ribet jika tidak langsung di jelaskan.

"Memangnya Rain itu kerja apa Nak?" Om Angga ikut bertanya. Sepertinya pria itu penasaran juga dengan kegiatan Adira.

"Freelance Pa, Rain bikin konten Yutub, dengan tema kerajinan Nusantara. Nah lokasi sekarang itu jaraknya masih cukup dekat. Untuk tiga minggu kedepan. Setelahnya aku belum tau dimana, tapi mungkin aku bakalan nginep di tempat itu Ma, Pa."

"Wah hebat ya dia, kreatif sekali. Tapi apa laku tontonan kerajinan itu?" Om Angga seperti memuji tapi juga meremehkan.

"Setiap konten atau karya dalam bentuk dan tema apapun pasti ada aja peminatnya, Pa."

"Bener itu Mas, tuh kayak Mira, dia juga bikin konten kecantikan." Timpal Mama dengan bangga. "Pengikutnya juga udah tiga ratus ribu lho Mas anak kamu itu. Dia benar-benar memanfaatkan kecantikannya dengan baik."

Adira membungkam mulutnya. Memang Mama selalu saja bangga dengan Mira. Karena kakak angkatnya itu mudah bergaul, banyak teman, cantik, yaa pokoknya terbaik. Sedangkan Adira, kebalikannya.

"Tapi Adira, Papa perhatikan sepertinya Rain itu dekat ya dengan kamu? Apa kalian berpacaran?"

"Enggak Pa, aku sama Rain cuma temen."

"Pa! Adira sama Rain itu cuma temenan." Suara Mira terdengar keras dari lantai atas. Membuat Adira, Linda, dan Angga saling melempar pandangan.

"Oalah Papa ngerti, pantas aja Mira engga cocok sama anak pimpinan. Ternyata dia suka sama Rain ya?"

Adira mengangguk kecil.

"Kamu tau Kakak kamu suka sama lelaki itu, harusnya kamu ngalah Dira."

Jleb,, rasanya Adira seperti di tusuk jarum. Dia selama ini tidak pernah menonjolkan diri ataupun ingin bersaing dengan Mira. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Mama selalu saja seolah-olah Adira merenggut milik Mira.

"Aku kan engga maju ataupun lomba Ma. Kalau Mira mau sama Rain silahkan aja."

"Bagus kalau begitu. Rain itu anak orang kaya, ganteng, pinter, kreatif, cocok banget sama Mira." Ujar Linda dengan raut wajah bahagia. "Mas kamu harus jodohin Mira sama anak itu ya. Selera Mira memang bagus dari kalangan atas."

Dalam hatinya Adira merasa ucapan Mamanya secara tidak langsung sedang merendahkan anaknya yang lain.

"Mama sama Papa mau jodohin aku sama Mas Rain? Serius?" Mira turun dengan gaun di atas lutut berwarna cream. Rambutnya tergerai lurus memakai jepitan.

"Kalau kamu suka, kenapa enggak?" Om Angga seolah yakin bahwa dia bisa membuat Rain menikahi Mira. Padahal selama ini jika memang Rain menyukai atau tertarik dengan Mira. Pastilah lelaki itu akan mendekati Mira.

Tapi kenyataannya tidak, dan lagi, keluarga Rain lebih kaya dari apa yang Mama ketahui. Juga Mira tau. Huft, membayangkan betapa banyaknya harta Rain membuat Adira merinding. Sudah pasti lelaki itu akan di jodohkan dengan wanita yang setara. Karena kelak Rain akan mewarisi harta yang begitu berlimpah. Bagaimana mungkin wanita dari kalangan biasa dengan catatan mantan yang banyak bisa menjadi nyonya Rain? Tidak masuk logika Adira.

Tentu Adira tidak bisa mengatakan hal itu, karena tentang kaya saja Adira tidak mau mengungkapkan apalagi hal yang lebih besar.

"Makasih yaa Papa." Mira memeluk Papa dan mencium pipinya. Adira menunduk tak ingin melihat mereka.

"Eh iya Dir, kamu jadi pergi bareng Papa kan? Biar aku sama Mas Rain ya!"

Dengan berat hati Adira mengangguk.

"Nah iya gitu dong kamu, dukung Kakak kamu ini Dir. Kalo dia dapet suami kaya, kamu kan nanti bisa ketularan juga."

Ingin sekali Adira menjawab ucapan Mamanya ini. Papa Edward itu kaya, ganteng, keturunan bule Jerman. Tapi apa? Mama malah milih om Angga yang sipit dan gendut. Entahlah, Adira tidak mau meledek fisik. Namun jika di bandingkan, Mamanya membuang emas demi besi karatan.

"Kenapa kamu diem?"

"Gapapa Ma, tapi aku bisa pergi sendiri kok Ma, Pa. Jadi papa engga perlu anterin aku," Adira mencoba menolak, siapa tau saja om Angga berubah pikiran.

"Papa anter aja yaa nak. Kamu sudah siap? Papa panasin mobil dulu ya." tanpa persetujuan Adira, Om Angga langsung keluar.

"Kamu yang sopan sama Papa kamu, cuma mau anterin aja kok jual mahal. Jual mahal tuh sama cowok lain bukan Papa kamu, keluarga. Yang biayain sekolah, semuanya itu dia. Apa salahnya kamu bersikap baik sih Dira. Enggak di suruh aneh-aneh lagian." Omel Linda.

"Maaf Ma.. Aku.."

"Udah gak perlu banyak omong, semalem Mira udah cerita. Mama tau kamu itu enggak deket sama Papa. Makanya kamu canggung kalau tiba-tiba di peluk, tapi kamu jangan berfikiran buruk. Papa bilang dia cuma mau perbaiki sikapnya supaya kamu nyaman."

Adira terdiam, tidak menyangka bahwa kali ini Mira menceritakan itu pada Mama. Dan kini, Adira harus berangkat.

"Iya Ma, Adira minta maaf. Kalau gitu Adira pergi dulu." lalu Adira mencium tangan Mama. Dan naik ke mobil tanpa melihat pada Mira.

Rasanya kecewa karena kegelisahan hatinya di anggap sepele oleh keluarga.

1
Ichigo Kurosaki
Kece abis!
Bé Chun
Nggak bisa berhenti.
Dálvaca
Wow, bikin terhanyut.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!