Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Romeo Mabuk
Tina terdiam dalam pelukan Romeo, tubuhnya sedikit tegang saat ia merasakan elusan lembut di punggungnya. Ketika Romeo berbisik, "Tina, sekarang malam pertama, kan?" suaranya dalam dan serak, Tina merasakan detak jantungnya semakin cepat.
Dia meneguk ludahnya kasar, berusaha mencari kata-kata yang pas untuk merespons. Tapi sebelum sempat dia berbicara, Romeo sudah mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Tina dengan lembut namun penuh tuntutan.
Tina terkejut, matanya membesar sejenak sebelum perlahan terpejam, tubuhnya mulai melunak. Ciuman itu lembut, tapi Romeo seolah ingin mengatakan sesuatu tanpa kata-kata. Ada kehangatan dan perasaan yang sulit dijelaskan dalam cara dia menyentuh Tina.
Ketika akhirnya Romeo menarik diri, dia menatap Tina dalam-dalam, matanya menunjukkan kelembutan yang bercampur rasa serius. "Gue tahu kita nggak mulai ini karena cinta, Tin. Tapi gue janji, gue bakal berusaha bikin lo bahagia."
Tina masih terdiam, pipinya memerah. Hatinya berkecamuk antara rasa gugup, bingung, dan sedikit tersentuh oleh ucapan Romeo. "Romeo, gue nggak tahu apa yang harus gue bilang. Gue masih butuh waktu buat ngerti semua ini."
Romeo tersenyum kecil, lalu kembali memeluk Tina. "Gue nggak maksa, Tin. Gue cuma pengen lo tahu, gue di sini buat lo, apa pun yang lo rasain."
Tina merasa lebih tenang mendengar itu. Malam itu, meskipun terasa penuh ketegangan dan emosi yang baru, mereka memilih untuk perlahan-lahan membuka diri terhadap hubungan yang baru saja dimulai ini.
Tina membeku di tempatnya, napasnya tersendat saat mendengar bisikan Romeo di dekat telinganya.
"Tina, lo udah berani dulu nandain gue..." Romeo menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan, membuat Tina merasa semakin gugup. Matanya menatap dalam seolah menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata.
Sebelum Tina sempat merespons, Romeo melanjutkan dengan suara rendah dan berat, "...sekarang giliran gue yang nandain lo."
Tanpa aba-aba, dia menunduk dan mulai mengecup lembut leher jenjang Tina. Ciumannya terasa perlahan, tapi jelas membawa intensitas yang membuat Tina sulit berpikir jernih.
"Romeo..." Tina akhirnya berbisik, mencoba menghentikan dirinya sendiri dari tenggelam dalam situasi ini, tapi suaranya terdengar nyaris seperti gumaman.
Romeo hanya tersenyum di antara ciumannya, suaranya terdengar lembut namun dalam. "Tenang aja, Tin. Gue nggak bakal ngelakuin apa pun yang lo nggak siap."
Tina menatap Romeo, matanya dipenuhi rasa campur aduk—antara gugup, bingung, dan sedikit terpesona. Meski hatinya berdebar kencang, ada ketulusan dalam cara Romeo mendekatinya yang membuat Tina merasa lebih tenang, walaupun situasi ini masih terasa sangat asing baginya.
Romeo berhenti sejenak, menatap Tina dengan lembut sambil mengusap pipinya. "Gue cuma mau lo tahu, mulai sekarang, lo adalah milik gue, dan gue nggak akan biarin siapa pun nyakitin lo."
Tina akhirnya hanya bisa mengangguk kecil, masih mencoba memahami semua yang terjadi di antara mereka malam itu.
...****************...
Tina terbangun dengan napas memburu, pikirannya penuh dengan kejadian semalam. Apa itu hanya mimpi? batinnya berharap, namun rasa aneh di dadanya berkata sebaliknya.
Dia menoleh ke sisi tempat tidur, tetapi tidak menemukan Romeo di sana. Pandangannya kemudian beralih ke sofa di sudut kamar, di mana Romeo tertidur dengan damai, wajahnya tampak tenang, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Dengan cepat, Tina bangkit dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Begitu melihat dirinya di cermin, dia menyibak rambutnya ke samping, dan matanya langsung membesar. Beberapa tanda merah samar menghiasi lehernya.
Kissmark.
Tina memejamkan matanya, mencoba mengendalikan rasa gugup dan campur aduk yang mulai menyelimuti dirinya. "Ya ampun, Romeo," gumamnya pelan sambil menyentuh lehernya. Rasanya seperti bukti nyata dari kejadian semalam, sesuatu yang ingin ia yakini hanya mimpi, tapi ternyata benar-benar terjadi.
Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Gimana gue harus ngadepin dia nanti? pikirnya sambil memercikkan air dingin ke wajahnya.
Setelah beberapa saat, Tina keluar dari kamar mandi, lebih siap untuk menghadapi hari meskipun perasaan gugup masih tersisa. Romeo sudah bangun, duduk di sofa sambil meregangkan tubuhnya.
"Morning," sapa Romeo dengan senyum kecil, seolah-olah tak ada yang aneh.
Tina hanya berdiri mematung, menatapnya dengan campuran rasa kesal dan malu. "Lo sadar nggak apa yang lo lakuin semalem?"
Romeo mengerutkan kening, lalu tersenyum jahil. "Sadar, kok. Lo kenapa? Gara-gara kissmark, ya?" godanya sambil menunjuk leher Tina.
Tina langsung menutupi lehernya dengan tangan, wajahnya memerah. "Romeo! Lo bener-bener keterlaluan!"
Romeo tertawa kecil, lalu mendekat. "Tenang, Tin. Gue nggak macem-macem, kan? Gue cuma pengen nandain kalau lo sekarang milik gue."
Tina memutar mata, berusaha menahan amarahnya. Tapi dalam hati, ada rasa yang sulit dijelaskan—campuran antara kesal, malu, dan entah kenapa sedikit tersentuh.
Tina masuk ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru, rasa kesal dan malu bercampur aduk dalam pikirannya. Ia memutar keran dengan keras, membiarkan air dingin mengalir deras untuk menenangkan dirinya. Romeo benar-benar bikin gue kehilangan akal. pikirnya sambil memejamkan mata, berharap air yang mengalir bisa meredakan emosinya.
Sementara itu, di luar kamar, Romeo sudah bersiap dan keluar untuk bergabung dengan teman-temannya yang baru saja tiba. Gelak tawa mereka terdengar samar dari luar, tapi Tina tidak terlalu peduli.
Setelah beberapa menit, Tina selesai mandi dan bersiap mengenakan pakaian yang santai namun rapi. Dia berdiri di depan cermin, memastikan semuanya terlihat normal—meskipun tanda samar di lehernya masih terlihat sedikit. Dengan cepat dia menutupi lehernya dengan scarf tipis, berharap tak ada yang menyadarinya.
Saat Tina keluar dari kamar, aroma makanan pagi sudah tercium. Romeo dan teman-temannya sedang duduk di ruang makan, berbincang santai sambil menikmati kopi. Romeo melirik Tina, senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Morning, Tin. Udah siap sarapan?" sapanya dengan nada tenang, seolah kejadian semalam tak pernah terjadi.
Tina hanya mengangguk singkat sambil berjalan ke arah meja makan. Dia mencoba menghindari tatapan Romeo, meskipun dia bisa merasakan pandangan pria itu terus mengikuti setiap langkahnya.
Romeo bersandar di kursinya, masih dengan senyum jahil di wajahnya. "Lo tidur nyenyak, kan?" tanyanya, jelas-jelas mencoba memancing reaksi.
Tina meletakkan piringnya dengan sedikit keras, menatap Romeo dengan pandangan tajam. "Romeo, lo bisa nggak berhenti ngomong hal yang nggak penting?"
Teman-temannya tertawa kecil mendengar interaksi mereka, tapi Romeo hanya mengangkat bahu santai. "Gue cuma nanya kok."
Tina menghela napas panjang, berusaha tetap tenang. Sarapan ini bakal jadi waktu yang panjang. pikirnya sambil mencoba fokus pada makanannya, mengabaikan kehadiran Romeo yang terus saja menggodanya dengan cara halus.
Waktu terasa berlalu begitu cepat di villa privat itu. Tina duduk di tepi tempat tidur, menunggu Romeo yang masih asyik bersama teman-temannya di luar. Namun, rasa lelah dan kesal mulai menyelimutinya. Setelah menunggu cukup lama, ia akhirnya memutuskan untuk menutup pintu dan menguncinya dari dalam sebelum Romeo kembali.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Romeo muncul di layar:
Romeo: "Tin, seriusan lo kunci gue dari luar? Gue nggak bisa masuk."
Tina membaca pesannya sambil tersenyum kecil, lalu mengetik balasan dengan cepat:
Tina: "Iya. Lo kan ganas banget semalem pas mabuk. Gue cuma antisipasi kalau lo mabuk lagi."
Pesan itu terkirim, dan tak sampai satu menit, balasan dari Romeo masuk.
Romeo: "Gue nggak mabuk, Tin. Sumpah. Gue sadar sepenuhnya sekarang."
Tina menghela napas, merasa ragu. Tapi, ia tetap membalas dengan nada bercanda:
Tina: "Bilang aja. Ntar lo ganas lagi kayak kemarin. Gue nggak mau ambil risiko."
Ada jeda sebelum pesan berikutnya datang.
Romeo: "Tin, gue nggak bakal ganas kok. Tapi kalau lo takut, ya udah, gue tidur di sofa aja malam ini."
Tina mengernyit, membaca pesannya. Dia serius, nih? pikirnya. Tapi, sebelum ia sempat membalas, suara ketukan pelan terdengar di pintu.
"Tina," suara Romeo terdengar di balik pintu. "Gue serius, gue nggak mabuk. Gue cuma pengen masuk kamar aja, kok. Lo nggak perlu takut."
Tina berpikir sejenak, lalu bangkit dan membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk melihat wajah Romeo. Dia tampak benar-benar sadar, dengan ekspresi tenang tanpa tanda-tanda mabuk.
"Lo beneran nggak mabuk?" tanya Tina, masih sedikit ragu.
Romeo mengangguk sambil tersenyum kecil. "Nggak. Kalau lo nggak percaya, gue bisa buktiin."
Akhirnya, Tina membuka pintu lebih lebar. "Oke, masuk. Tapi kalau lo aneh-aneh lagi, gue nggak bakal segan kunci lo di luar beneran."
Romeo tertawa pelan sambil melangkah masuk. "Gue janji, Tin. Gue nggak akan aneh-aneh."
Tina hanya mengangguk kecil, masih merasa waspada meskipun dalam hati ia sedikit lega melihat Romeo terlihat jauh lebih tenang malam ini.
smngt kakak....