NovelToon NovelToon
Adharma

Adharma

Status: tamat
Genre:Action / Tamat / Horror Thriller-Horror / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saepudin Nurahim

Di Kota Sentral Raya, kejahatan bukan lagi bayangan yang bersembunyi—ia adalah penguasa. Polisi, aparat, hingga pemerintah berlutut pada satu orang: Wali Kota Sentral Raya, dalang di balik bisnis ilegal, korupsi, dan kekacauan yang membelenggu kota ini.

Namun, ada satu sosok yang tidak tunduk. Adharma—pria yang telah kehilangan segalanya. Orang tua, istri, dan anaknya dibantai tanpa belas kasihan oleh rezim korup demi mempertahankan kekuasaan. Dihantui rasa sakit dan dendam, ia kembali bukan sebagai korban, tetapi sebagai algojo.

Dengan dua cerulit berlumuran darah dan shotgun di punggungnya, Adharma tidak mengenal ampun. Setiap luka yang ia terima hanya membuatnya semakin kuat, mengubahnya menjadi monster yang bahkan kriminal pun takut sebut namanya.

Di balik topeng tengkorak yang menyembunyikan wajahnya, ia memiliki satu tujuan: Menumbangkan Damar Kusuma dan membakar sistem busuk yang telah merenggut segalanya darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan yang di uji

Darma keluar dari gudang dengan langkah mantap, meninggalkan jejak sepatu yang berlumuran darah di tanah yang basah. Udara malam di pelabuhan terasa lebih dingin dari biasanya, tapi itu bukan karena angin laut—itu karena kematian baru saja berkunjung.

Tangannya meraih liontin yang kini tergantung di lehernya. Liontin yang seharusnya menjadi milik Sinta.

Jemarinya menggenggam erat benda kecil itu, seolah mencoba mencari kehangatan dari sesuatu yang sudah tiada.

Sinta…

Dwi…

Ayah…

Ibu…

Kenangan mereka mengalir deras ke dalam pikirannya.

Tawa kecil Dwi saat ia menggendongnya sepulang kerja.

Wajah lembut Sinta saat menyandarkan kepala di bahunya.

Petuah ayahnya tentang kebenaran dan keadilan.

Hangatnya pelukan ibunya yang selalu membuatnya merasa aman.

Sekarang semua itu telah hilang. Direnggut secara brutal oleh tangan-tangan keji.

Darma menghela napas panjang, lalu menatap langit malam yang gelap.

Dia tahu ke mana harus pergi selanjutnya.

Makam keluarganya.

Darma berdiri di depan empat nisan yang masih baru.

Tanah di atasnya masih basah, bukti bahwa mereka baru saja dimakamkan beberapa hari lalu. Di antara nisan-nisan itu, terdapat dua benda kecil yang ia letakkan sendiri—boneka superhero untuk Dwi, dan selendang yang biasa dipakai Sinta.

Darma berlutut, menatap batu-batu nisan yang bertuliskan nama-nama orang yang paling ia cintai.

"Maafkan aku…"

Suaranya bergetar, nyaris berbisik.

"Aku terlambat menyelamatkan kalian."

Matanya memanas, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Dia sudah menangis cukup lama. Kini yang tersisa hanya luka yang tak bisa disembuhkan.

Ia menggenggam liontin di lehernya lebih erat.

"Tapi aku berjanji... aku akan membuat mereka membayar."

Malam semakin larut, angin berhembus membawa dedaunan kering yang berputar di sekelilingnya.

Darma tetap di sana, berlutut di depan makam keluarganya, membiarkan kesedihannya mengalir perlahan.

Namun di balik kesedihan itu, api dendamnya semakin membara.

Darma berjalan pelan menuju sebuah rumah sederhana di pinggir kota, jauh dari keramaian. Cahaya lampu kuning di teras rumah itu masih menyala, menandakan penghuninya belum tidur. Ini rumah Doni, sahabatnya sejak lama.

Langkahnya berat, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena beban emosional yang terus menggerogoti pikirannya. Sejak tragedi itu, dia nyaris tak tidur. Tubuhnya terus bergerak, pikirannya hanya dipenuhi satu hal—balas dendam. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak keluarganya dibantai, dia merasa ingin berbicara dengan seseorang yang masih hidup.

Darma mengetuk pintu beberapa kali. Suara langkah kaki terdengar dari dalam, mendekat.

Klek.

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan Doni yang masih memakai kaus oblong dan celana pendek. Matanya setengah mengantuk, tapi begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu, kantuk itu langsung sirna.

Doni membelalakkan mata, lalu dalam hitungan detik—

Klik!

Sebuah pistol mengarah tepat ke wajah Darma.

“Siapa lu?” suara Doni tajam, penuh waspada. Tangannya yang memegang pistol gemetar sedikit, tapi tetap stabil.

Darma diam. Dia bisa merasakan laras dingin pistol itu hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

"Doni, ini gue," katanya tenang, suaranya rendah tapi jelas.

Doni menatapnya lebih lama, matanya menyisir setiap detail dari sosok di depannya. Pakaian tactical hitam yang pas di tubuh, trench coat panjang yang berkibar sedikit terkena angin, dua cerulit yang disilangkan di punggung, serta dua shotgun yang terselip di pahanya.

Dan yang paling membuat Doni merinding—topeng tengkorak yang menutupi seluruh wajah Darma.

Doni mengencangkan genggaman di pistolnya. "Lu bukan Darma. Darma gak akan berdiri di depan rumah gue dengan pakaian kayak gini."

Darma menghela napas, lalu dengan perlahan, dia mengangkat tangannya ke kepala dan menarik lepas topengnya.

Doni menatap wajah Darma. Ada bekas luka di pipinya, mata yang dulu hangat kini terlihat kosong dan dipenuhi amarah yang dingin. Tapi itu tetap Darma.

Doni menurunkan pistolnya perlahan. "Astaga, Darma…"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Doni mundur sedikit, membiarkan Darma masuk ke dalam rumahnya.

 

Darma duduk di sofa usang yang sudah lama ada di rumah Doni. Ruangan ini masih sama seperti terakhir kali dia ke sini—sederhana, tapi nyaman.

Doni meletakkan pistolnya di meja, lalu duduk di seberang Darma. Dia menatap sahabatnya dengan ekspresi sulit dijelaskan, antara cemas, takut, dan tidak percaya.

“Apa yang terjadi sama lu?” akhirnya Doni membuka suara.

Darma menatap ke bawah, ke tangannya yang masih berlumuran darah kering. Darah para pembunuh keluarganya.

“Mereka semua sudah mati,” katanya pelan.

Doni mengernyit. "Siapa?"

“Tiga orang itu. Yang bunuh keluarga gue.”

Doni terdiam. Dia menelan ludah, mencoba mencerna kata-kata itu.

“Lu… bunuh mereka?”

Darma mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Doni. “Gue gak akan biarin mereka hidup setelah apa yang mereka lakukan.”

Doni mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Astaga, Darma… Ini gila.”

Darma diam, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku trench coat-nya. Sebuah korek api dan sekotak rokok yang sudah penyok. Dia menyalakan satu batang, menghisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya pelan.

“Doni… lu pernah bilang kalau dunia ini penuh ketidakadilan, kan?”

Doni menatap Darma, bingung. “Iya, gue inget.”

Darma tersenyum tipis, tapi senyumnya dingin. “Sekarang gue bukan cuma percaya. Gue tahu. Gue udah lihat sendiri gimana hukum itu cuma berlaku buat yang lemah. Polisi korup, pejabat busuk, mafia yang berkeliaran bebas… Semua itu nyata.”

Doni menghela napas panjang. Dia tahu Darma bukan orang yang mudah terpengaruh. Jika dia sudah berbicara seperti ini, artinya tekadnya sudah bulat.

“Terus sekarang lu mau ngapain?” tanya Doni.

Darma menghisap rokoknya lagi sebelum menjawab, “Gue akan habisin semuanya. Mulai dari orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan keluarga gue, sampai ke akar-akarnya.”

Doni menatap Darma lama. Dia bisa melihat bahwa yang duduk di depannya sekarang bukanlah sahabat yang dulu ia kenal. Orang ini sudah berubah—atau lebih tepatnya, telah terbentuk ulang oleh tragedi yang menghancurkan hidupnya.

Doni bangkit dari sofa, berjalan ke dapur, dan kembali dengan dua gelas berisi kopi hitam. Dia meletakkan satu gelas di depan Darma.

“Gue gak bisa bilang gue setuju sama lu. Tapi gue juga gak bisa bilang gue menentang lu,” katanya akhirnya. “Gue ngerti kenapa lu melakukan ini. Tapi lu sadar, kan? Begitu lu masuk ke dunia ini, gak ada jalan keluar.”

Darma tersenyum tipis. “Gue gak cari jalan keluar, Don.”

Doni menggeleng pelan. “Ya… gue kira lu bakal bilang gitu.”

Mereka berdua terdiam sebentar, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

Darma meneguk kopinya, menikmati sedikit kehangatan di tengah kegelapan yang kini menjadi dunianya.

Lalu, dia menatap Doni dan bertanya, “Lu masih bisa bantu gue?”

Doni menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk pelan.

“Lu tau gue gak bisa biarin sahabat gue sendirian di tengah neraka ini.”

Darma tersenyum untuk pertama kalinya sejak sekian lama. Mungkin perjalanannya akan dipenuhi darah dan kekacauan, tapi setidaknya dia masih punya seseorang di sisinya.

Untuk malam ini, itu sudah cukup.

1
NBU NOVEL
jadi baper ya wkwkwkk
Xratala
keluarga Cemara ini mah /Smirk/
NBU NOVEL: wkwkwkwk versi dark ny
NBU NOVEL: wkwkwkwk versi dark ny
total 3 replies
Xratala
waduh ngena banget /Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!