Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
Motor Davis tiba di sebuah kafe yang cukup romantis. Davis membawa Silva ke dalam sebuah ruangan private kafe itu.
Silva melongo serta heran, untuk apa sang kakak harus membawanya ke ruang private seperti ini.
"Kenapa harus private, kan bisa yang di luar sana? Kakak ini seperti mau kasih surprise pacarnya saja," protes Silva.
"Emang." Davis menjawab dengan cepat.
"Emang, emang gimana maksud Kakak?" Silva mengerut heran.
"Sekarang kamu tidak perlu banyak tanya dulu, duduklah. Kakak sudah pesankan makanan yang enak untuk makan siang kita." Davis meraih kursi dan menariknya, supaya Silva duduk di sana.
Tidak berapa lama seorang pelayan kafe datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan Davis. Dia meletakkan dua piring steak daging serta dua gelas berkaki jus alpukat di atas meja, di depan Davis dan Silva.
"Silahkan dinikmati, dua steak dan dua jus alpukat," ujar pelayan itu mempersilahkan.
"Terimakasih." Davis dan Silva kompak. Davis tersenyum bahagia mendengar Silva dan dirinya kompak.
"Ayo, lebih baik kita makan dulu steaknya. Kamu belum lupa cara makan steak, bukan?" Davis menatap Silva untuk meyakinkan kalau dia tidak lupa cara makan steak.
"Paling kalau steaknya alot, aku pakai tangan saja, langsung gigit pakai gigi," ujarnya sembari memulai memainkan garpu dan pisau di atas piring.
Davis tersenyum mendengar jawaban polos sang adik. Mereka pun makan diselingi obrolan yang membuat mereka sesekali tertawa.
"A, buka mulutmu. Biar kakak suapin." Davis mengarahkan garpu yang sudah ada steak daging, ke arah mulut Silva. Silva menggeleng, karuan saja dia merasa tidak biasa sang kakak se so sweet itu.
"Ayo, buka mulutmu," paksa Davis. Akhirnya Silva menerima satu suapan steak dari garpu Davis.
"Gimana rasanya, enak?" tanya Davis.
"Enak," balas Silva sembari melanjutkan makannya.
Makan siang mereka selesai, kini Davis siap-siap mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Benda itu diletakkan di depannya. Mata Silva ikut bergulir pada benda itu. Sebuah kotak perhiasan. Silva merasa heran kenapa Davis mengeluarkan kotak perhiasan, dan untuk siapa?
"Itu apa Kak?"
"Ini, kotak perhiasan." Davis menjawab sembari meraih kotak itu.
"Untuk siapa?" Silva bertanya lagi karena ia benar-benar heran.
"Untuk kamu." Davis menjawab, lalu membuka kotak perhiasan itu yang isinya ternyata cincin emas. Cincin emas yang ia pesan kemarin sore saat pulang dari melabrak Tante Riana.
"Cincin emas, untuk aku? Dalam rangka apa Kakak mau kasih aku cincin?" Silva sedikit terkesima, kemudian matanya bergulir ke kiri dan kanan seakan memastikan apakah ada orang yang melihat.
"Tidak ada orang, kan ini private room. Kakak mau kasih hadiah cincin ini dalam rangka kelulusanmu, serta kamu sudah menjadi siswa terbaik di sekolah itu," jawab Davis. Namun, maksud sebenarnya bukan itu, ia memberikan cincin itu sebagai rasa cinta kasih terhadap Silva.
Davis meraih cincin itu, di atasnya ada permata yang berkilau. Sebelum ia sematkan di jari Silva, Davis menimbang-nimbang dulu cincin itu.
"Kamu suka tidak dengan cincin ini? Di dalam batangnya ada tulisan inisial nama kita DS," ujar Davis.
Silva terlihat mengerutkan kening, kenapa dalam batang cincin itu ada inisial DS nya. Silva berpikir apakah DS itu.
"Aku suka. Cuma, kenapa batang dalamnya ada inisial DS, memangnya DS itu siapa?" tanya masih belum paham kenapa Davis memberikan cincin untuknya sementara di dalamnya ada inisial nama.
"DS itu kita, Davis Silva. Kakak sengaja memberi inisial nama kita supaya kita semakin erat," jawab Davis.
Silva termenung sejenak, semakin hari sikap kakaknya ini semakin aneh. Dari mulai penemuan foto dirinya dan Davis yang belakangnya ada tulisan Davis Love Silva Forever, lalu kini sebuah cincin yang berinisial namanya dan nama Davis.
Belum selesai termenung, Davis sudah bangkit menghampiri Silva, lalu meraih jari manis Silva dan menyematkan cincin itu. Setelah cincin itu tersemat, Davis langsung mencium pipi Silva, membuat Silva terkejut.
"Kakak, ihhh, kenapa pakai cium segala? Macam sama pacarnya saja. Makanya cari pacar cepat, biar bisa romantis kayak gini," dumelnya seraya meraba pipinya yang dicium Davis tadi.
Davis menatap Silva lekat, rasa ingin memiliki Silva begitu dalam. Ia tidak bisa menahan lebih lama untuk terus terang. Dia harus katakan bahwa dia mencintai Silva, meskipun resikonya sebuah penolakan dari Silva sendiri maupun sang mama.
"Tapi kamu suka cincinnya?" tanya Davis dengan tatap yang datar.
"Suka. Nanti kalau kepepet aku bisa jual cincin ini, ha ha," guyonnya diimbuhi tawa.
"Nggak boleh. Cincin ini sakral, ikatan antara aku dan kamu." Setelah mengatakan itu Davis meraih lengan Silva lalu mengajaknya keluar dari kafe itu.
"Ayo, kita pulang," ajaknya setelah meletakkan uang di atas bill. Davis membawa Silva keluar dari kafe itu menuju parkiran. Suasana hatinya tidak bahagia, karena sikap Silva dinilainya kurang antusias.
"Ayo naiklah."
"Tunggu dulu. Aku ingin beli es krim di toko itu." Silva menunjukkan sebuah swalayan berwarna hijau yang di emperannya ada bangku dan meja untuk nongkrong pengunjung.
Davis senang dengan permintaan Silva, dengan begitu ia bisa berlama-lama berdua dengan adik angkatnya itu, bahkan kalau bisa dia terus terang tentang perasaanya dan mengatakan bahwa Silva bukan adik kandungnya.
Silva memang suka dengan es krim yang menggunakan wadah. Seperti biasa, Davis memang sering membelikan Silva es krim kalau Silva memintanya.
"Naiklah, kita parkir di depan swalayannya," ujar Davis seraya meraih helm lalu digunakan di kepala Silva, Silva tidak menolak.
Tiba di swalayan, Silva dan Davis segera turun dan memasuki swalayan, lalu memilih es krim yang Silva mau.
Setelah mendapat apa yang Silva mau, Davis mengajak Silva duduk di bangku depan swalayan untuk menikmati es krim.
"Makanlah," titah Davis seraya membantu membukakan tutup wadah es krim itu. Silva menikmati es krim itu dengan roti kering yang tadi dibelinya di dalam.
"Kakak nggak mau? Kakak malah beli rokok. Tahu nggak kalau rokok itu perlahan membunuhmu? Coba lihat di kemasannya, lehernya bolong, parunya hitam, jantungnya berdebar kencang, terus impoten," ceplosnya tanpa direm. Saat kalimat yang terakhir, Davis langsung menundukkan wajah, ia takut ucapan Silva terdengar oleh orang lain.
"Suttt, jangan keras-keras bilang impotennya. Nanti terdengar orang lain. Sudah sekarang kamu makan esnya dan jangan banyak bicara dulu," peringat Davis bisik-bisik.
Silva menyunggingkan senyum, ia merasa lucu saat Davis memperingatinya dengan berbisik. Sepertinya kakaknya merasa tersentil dengan kalimat yang terakhir. Silva melanjutkan menikmati es krim favoritnya sampai es krim itu sudah habis separuhnya.
"Dek, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu," ucap Davis menghentikan Silva sejenak menikmati es krim.
"Katakan saja, aku siap mendengar," balas Silva tanpa menatap Davis yang mulai serius.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅