NovelToon NovelToon
The Kings And The Woman

The Kings And The Woman

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lilly✨

Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.

"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Danau tersembunyi itu dikelilingi rerimbunan pepohonan, menciptakan kesan seolah dunia luar tidak ada. Hanya ada mereka, suara gemericik air yang tenang, serta cicitan burung yang mulai kembali ke sarang. Langit berwarna oranye kemerahan, dan pantulan cahaya senja di permukaan danau memberi kesan magis.

Nesharra—atau Selena, sebagaimana dirinya dikenal di dunia asalnya—melepaskan alas kakinya dengan santai. Dengan gerakan anggun, dia duduk di rerumputan dan merendam kakinya ke dalam air yang dingin. Sensasinya menyegarkan setelah seharian berjalan di ibu kota.

Tak jauh darinya, Hattusili berdiri diam, matanya mengamati setiap gerakan Selena.

"Kau tidak ikut?" Selena melirik sekilas, matanya berkilat jahil.

Pangeran itu menghela napas pelan sebelum akhirnya menyerah. Dia duduk di sebelahnya, namun tidak merendam kakinya seperti Selena. Sebaliknya, dia hanya menekuk satu lutut, satu tangan bertumpu di rerumputan, sementara tangan lainnya dengan santai melonggarkan ikatan rambutnya.

Selena meliriknya sekilas dan tersenyum kecil.

"Negaramu... seperti apa?" tanya Hattusili tiba-tiba.

Selena terdiam sejenak, menatap pantulan dirinya di air danau. "Kenapa? Kau penasaran?"

"Sedikit."

Hening beberapa saat.

Lalu, dengan suara yang terdengar begitu ringan namun entah bagaimana juga mengusik, Hattusili melanjutkan, "Apakah semua gadis di negerimu secantik dirimu?"

Selena menatapnya, terkejut sesaat sebelum tertawa kecil. "Bagaimana ya... tidak ada seorang pun secantik diriku di negaraku." Dia mengangkat bahu dengan santai, seolah menyatakan itu sebagai fakta yang tak terbantahkan.

Hattusili tertegun. Dia mengambil ranting kecil di dekatnya dan menggambar sesuatu di tanah—garis-garis abstrak yang seakan tak memiliki makna jelas.

"Nesharra…" suaranya terdengar lebih pelan kali ini. "Saat ini aku masih berumur enam belas tahun. Aku belum memiliki kekuasaan. Tapi suatu hari nanti, aku pasti akan memilikinya. Saat itu tiba... aku akan membawamu ke istana dan memperlakukanmu dengan sangat baik."

Selena hanya menatapnya, tidak langsung menjawab. Namun, sudut bibirnya melengkung tipis. Dengan gerakan lambat, jari-jarinya menyentuh pipi pangeran muda itu.

"Hm. Jika kau menjadi raja, apa yang akan kau berikan padaku?"

Hattusili tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggambar di tanah.

Selena tersenyum kecil. "Aku ini cepat bosan. Kau harus memberikan sesuatu yang menarik."

Saat itulah, tiba-tiba, Hattusili mengangkat tangannya. Jari-jarinya menyentuh wajah Selena. Gerakan yang seharusnya terasa impulsif, tapi matanya mengatakan sebaliknya. Ada keyakinan di sana.

"Nesharra…"

Suara itu lebih dalam dari sebelumnya.

"Meskipun aku masih muda, aku sudah melihat banyak intrik di istana. Jadi aku ingin mengatakan ini kepadamu..."

Tatapannya bertemu dengan mata Selena, tak bergeming sedikit pun.

"Aku akan menempatkan keinginanmu di atas keinginanku. Aku akan memperlakukan perkataanmu melebihi prinsipku sendiri. Aku akan meletakkan kebahagiaanmu di atas segalanya. Namun, aku ingin kau hanya milikku. Jika kau mau, aku pun bisa mengorbankan apa pun demi dirimu."

Selena terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya menatap mata Hattusili dengan ekspresi analisis, mencoba membaca apakah ini hanya emosi sesaat atau sesuatu yang lebih dalam.

Untuk sesaat, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ha.

Bisa-bisanya anak muda ini membuat jantungku berdetak seperti ini?

Lelucon apa ini?

Selena mengerjapkan mata sekali, lalu mendekat.

Tanpa peringatan, bibirnya menyentuh bibir pangeran muda itu. Ringan, sekejap, namun cukup untuk membuat mata Hattusili membelalak.

Ketika Selena menarik diri, dia menemukan pangeran itu membeku.

Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini memerah sedikit.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, hampir terdengar tergagap.

Selena tersenyum, senyum yang sengaja dibuat sedikit nakal. "Kenapa? Pangeran yang angkuh bisa terkejut karena hal seperti ini?"

"Aku tidak terkejut," bantahnya cepat, tapi matanya berkedip lebih sering dari biasanya.

Selena menyandarkan tangannya ke rumput, mendekat sedikit. "Hm, begitu ya?"

Hattusili menelan ludah, lalu tiba-tiba berdiri. "Kita pulang."

Selena tertawa kecil. Bukan mengejek, hanya menghibur dirinya sendiri. Melihat seorang pangeran yang terbiasa mengendalikan segalanya kehilangan kendali seperti ini terasa... menarik.

Dia menatap punggung Hattusili yang sudah berjalan lebih dulu, lalu berdiri, mengibas-ngibaskan air dari kakinya.

"Hattusili."

Pangeran itu berhenti, tapi tidak menoleh.

Selena tersenyum tipis.

"Kau memerah."

Hattusili langsung melangkah lebih cepat, sementara Selena hanya terkekeh puas di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!