8 tahun yang lalu, seorang anak perempuan menatap penuh binar bahagia pada pangeran impiannya. Selalu mengingat apa yang pria idaman nya itu katakan.
"Tumbuh lah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek!!!"
Wanita itu pun tumbuh dengan baik, bahkan terlalu baik. Tumbuh yang ia yakini malah menjadi salah arti, setiap hari ia mengkonsumsi makanan yang menurutnya mempercepat pertumbuhan. Ya... Ia tumbuh... Tapi tumbuh menjadi besar dan lebar.
"You know me?"
Erlangga Saputra.
"Om Ganteng..."
Mia Sophia Adinata.
follow my ig @ismi_kawai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBT 11
Mall ***
Laras merangkul tubuh Mia, ia bergelayut seperti lem yang tidak mau lepas. Sedangkan Haris menatap tidak suka, niatnya ia ingin berduaan dengan Mia. Tapi malah berakhir menjadi bodyguard 2 gadis di depannya.
Tau gini gue ganti hari beli bukunya! Mia malah ajak si Laras. Asik banget dia bisa peluk-peluk Mia.
Haris hanya bisa gigit jari, kesal dengan Laras yang seperti buntut. Selalu mengikuti Mia.
"Haris, lo jadi beli bukunya?" Mia menegur Haris yang termenung.
"Hm? Ah ... Iya jadi, lo bisa nemenin gue kan?" Haris menatap Mia dengan penuh harap.
"Bisa, ya udah yuk!" Mia mengajak Haris, sedangkan Laras pergi berlawanan arah.
"Mau kemana Laras?" Tanya Haris
"Mau ke toilet katanya." Jawab Mia.
Bagus, yang Lama ya Laras.
Batin Haris bersorak, sudah lama sekali Haris ingin bisa jalan berdua dengan Mia. Hanya saja dia belum cukup berani untuk mengajak Mia saat itu.
"Lo cari buku apa?" Mia melihat-lihat rak buku, kakinya mengarah ke kumpulan novel.
Haris mengikuti Mia dari belakang. "Hm... Buku... Buku yang bagus menurut lo apa?"
Mia mengeryitkan alisnya, jangan bilang klo Haris sebenarnya tidak berniat mencari buku.
"Jangan bilang klo lo gak niat cari buku." Mia bersidekap di bawah dada menatap Haris dengan tajam. Sumpah, dimata Haris Mia terlihat semakin menggemaskan jika marah.
"Gue niat cari buku kok, Mami gue nyuruh gue nyari buku masak!" Haris gelagapan mencari alasan, sebenarnya ia ingin mengajak Mia nonton atau dinner. Mencari buku menjadi alasan awal sebagai pelancar rencana.
Shit! Diluar rencana neh semua.
"Oh gitu, bilang donk dari tadi! Gue cariin yang paling Ok buku resep buat Mami lo."
Mia menelusuri rak buku, mensortir buku yang cocok. Tidak lama Laras menyusul dengan raut wajah khawatir dan tergesa-gesa.
"Big girl, gue kayaknya pulang duluan deh. Gak apa-apa kan?" Sambil mengatur nafas Laras bersandar di rak buku.
"Emang kenapa Laras?" Mia memegang pundak Laras.
"Mama gue minta anterin arisan, apes deh gue! Klo gue ga mau, jajan gue bakal di pangkas kaya kepalanya si Tejo."
"Gundul donk!" Sahut Haris menahan tawa, dalam hati dia bahagia sekali Laras di suruh pulang oleh Mamanya.
Bagus, pulang deh loe!.
"Klo bukan temen, udah gue sumpel mulut lo pake Kamus Sangsakerta pojokan sana." Laras menunjuk rak buku di pojok ruangan. Kumpulan Kamus berukuran super tebal, Haris merinding melihatnya.
"Ya udah sana, Hati-hati dijalan!." Mia mengelus dan menepuk pundak Laras.
"Ciumnya mana?" Laras mengusap pipinya, Haris ingin melempar buku ke muka Laras.
"Gue masih normal, sana pulang!" Mia mendorong Laras pelan, Laras berdecih lalu menatap tajam Haris.
"Titip Mia ya Ketu, awas lo macem-macem sama my Big girl!" Laras memberikan kepalan mengambang pada Haris.
"Iya, bawel." Haris menjawab malas.
🌷🌷🌷
Laras pun pulang, meninggalkan Mia berdua dengan Haris. Mia kembali mencari buku masak pesanan Mami Haris, sedangkan Haris terus menatap Mia yang sedang asik mencari buku. Dasar bucin, tapi malu bilang.
"Mia... abis ini kita nonton yuk!" Haris mencoba peruntungannya.
Please mau... mau ya!
"Emang ada film yang seru?" sahut Mia.
"Ada, Judulnya After."
"Film apa tuh?" Mia mulai tertarik.
"Film romantis." Haris berkata dengan malu-malu, baru kali ini ia mengajak seorang gadis nonton bareng.
"Romantis ya...?" Mia agak ragu, padahal dalam impiannya adalah nonton film romantis dengan si Om ganteng. Tapi apa dia berani dengan keadaannya saat ini?
"Tumbuhlah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek"
Kata itu terngiang tiba-tiba, membuat hatinya nyeri. Apakah sekarang ia cantik? Dia hanya tumbuh sebagai gadis beranjak dewasa. Tapi masalah cantik itu menjadi pertanyaan.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
btw ceritanya seruu....