NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Majikan

Terjebak Cinta Sang Majikan

Status: tamat
Genre:CEO / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Pembantu / Enemy to Lovers / Kriminal dan Bidadari / Tamat
Popularitas:84.8k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Nur Ratih, gadis kampung yang nekat pergi ke ibukota demi melunasi hutang alm. Ayahnya agar ia tidak dijadikan istri kesekian oleh juragan di kampungnya. Melalui sebuah agen PRT, Ratih berhasil mendapat pekerjaan untuk menjadi pembantu di salah satu keluarga kaya disana.

Awal bekerja disana, Ratih merasa nyaman dengan lingkungan barunya, namun hal itu tidak berjalan lama. Kepulangan sang majikan muda dari perjalanan bisnisnya, membuat hari-hari Ratih terasa sesak. Dialah, Nathaniel Ryker, sang majikan yang terobsesi padanya sejak pertemuan pertama mereka.

Ratih merasa tidak kuat dalam melakukan pekerjaannya, sang majikan terus saja menganggu dirinya. Ia ingin pulang, namun kala teringat hutang-hutangnya ia merasa harus bertahan.

Bagaimanakah kehidupan Ratih di rumah itu? Apakah ia bisa menghentikan obsesi majikannya? Ataukah ia malah terjerumus di dalamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Ancaman

Nathan menggeliat setelah sebuah cahaya berhasil menusuk matanya. Ia bangun dari tidurnya dan menyingkirkan selimut yang semalam membungkus tubuhnya. Kakinya diturunkan dari ranjang dan tubuhnya menghadap ke arah jendela besar yang ada di kamarnya. Ia menatap jendela yang tirainya tidak tertutup sempurna itu dengan pandangan yang sulit ditebak.

Karena teringat akan sesuatu, Nathan pun bangkit. Ia melihat ke sekeliling ranjangnya untuk mencari dimana keberadaan ponselnya. Semalam ia ingat bahwa ia dengan sengaja membanting benda tidak bersalah itu. Dan akhirnya ketemu, ponsel itu berada di bawah kolong ranjangnya.

Kemudian dengan gerakan cepat ia menghubungi seseorang.

"Bagaimana?" Tanya Nathan tiba-tiba.

"Kau sudah dibawah?" Nathan melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup.

"Baiklah aku akan turun," ucap Nathan lalu mematikan ponsel yang layarnya sudah retak di beberapa sudutnya.

Sementara di meja makan sang majikan, Ratih sedang mengelap meja itu lalu meletakkan perlengkapan makan diatasnya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan ini sebelum majikannya itu datang. Semenjak kejadian semalam, ia merasa enggan bila harus berhadapan dengan Nathan.

Tidak lama kemudian, dari sudut matanya, Ratih melihat kedatangan seorang pria yang terlihat cukup familiar. Pria itu nampak berjalan ke arah para pelayan yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.

"Bisakah menu hari ini lebih rumahan?" Tanya Sam kepada salah seorang pelayan di sana.

"Tentu, saya akan menyiapkannya," jawab pelayan itu.

"Baiklah lanjutkan pekerjaanmu."

Pelayan itu mengangguk lalu pergi dari hadapan Sam.

Walaupun mengelap meja, Ratih sebenarnya sedang menajamkan pendengarannya, walaupun hanya terdengar sayup-sayup tapi ia mengerti maksud dari pria kepercayaan majikannya itu.

"Sudah puas menguping?"

"Astaga!"

Ratih tersentak kaget saat mendengar sebuah suara yang tiba-tiba muncul. Ia melirik pelakunya dengan lirikan maut. Ratih juga bersikap waspada, ia takut kalau ada orang lain yang melihatnya dengan majikannya saat ini. Ia hanya tidak ingin dituduh yang tidak-tidak dan untungnya saat ini hanya ia yang bertugas di meja makan sang majikan.

"Kau tidak ingin menatapku?"

Ratih tidak berniat untuk merespon dan masih fokus terhadap pekerjaannya. Ia menganggap tidak ada manusia di sampingnya.

Nathan meraih pinggang Ratih dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Lepaskan aku!" Lagi-lagi Ratih berhadapan dengan dada bidang milik majikannya.

"Hukuman karena tidak menatapku."

Nathan mendekatkan wajahnya. Entahlah, sejak semalam bibir Ratih terasa candu baginya. Ia ingin merasakannya lagi.

Sedangkan Ratih berusaha menjauhkan wajahnya, ia tidak ingin dilecehkan lagi.

"Tuan."

Pelukan Nathan terlepas dan Ratih langsung menjauh dari jangkauan pria itu.

"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Nathan seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Ratih melirik Nathan dan Sam bergantian.

Sam menatap Ratih sekilas, "Hanya berpesan kepada mereka untuk melayani Tuan dengan baik."

Nathan tidak merespon lagi, ia memilih duduk di meja makannya.

Nathan melihat Ratih yang hanya diam mematung, "Kau tidak ingin melanjutkan pekerjaanmu?" Nathan menunjuk meja di depannya dengan gerakan kepala.

Karena sudah menjadi tugasnya, Ratih pun kembali menata meja makan itu. Ratih merasa tidak nyaman ketika sepasang mata di depannya terus saja mengawasi pergerakannya.

"Saya sudah melaksanakan perintah Tuan," ucap Sam.

Nathan menyeringai, "Pasti akan menyenangkan melihat bagaimana reaksi pria tua bangka itu."

"Aku ingin kalian tetap menyiksa orang itu, tidak akan ku lepaskan seseorang yang telah menyentuh orang-orang ku."

Sam mengangguk patuh, "Baik Tuan."

"Tuan sudah disini," ucap seorang pelayan bagian dapur yang datang dengan mangkuk berisi sup, "Maaf Tuan, saya mengira kalau Tuan belum turun jadi belum menyiapkan apapun."

Pelayan itu melirik Ratih, "Ratih, seharusnya kamu segera menyelesaikan pekerjaanmu dan melaporkan kepada yang lain bahwa Tuan sudah disini, dasar lambat," ucapnya sinis.

Ratih melangkah mundur dari tempatnya sambil menunduk, "Maaf saya—"

"Apa kau sudah lupa tugas menyiapkan makanan sudah menjadi kewajibanmu?"

Pelayan itu menunduk takut, "Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan."

"Lain kali tidak perlu menaruh tugasmu kepada orang lain," tegas Nathan yang membuat pelayan itu gemetar.

Ratih menatap pria itu, hatinya terasa menghangat kala ada seseorang yang membelanya.

"Pergilah," ucap Sam kepada pelayan itu karena melihat ekspresi Nathan yang sudah muak dengan keberadaannya.

Nathan mendekatkan mangkuk yang dibawa pelayan itu. Ia menatap sup itu tidak minat, "Kau menyuruh mereka menyiapkan sampah ini?"

"Saya pikir semenjak kejadian kemarin, lebih baik Tuan memakan makanan rumahan yang lebih sehat."

Nathan menjauhkan lagi mangkuk itu, "Aku bukan orang penyakitan."

"Saya akan meminta mereka menyiapkan yang lain," ucap Sam hendak melangkah ke dapur.

"Tidak perlu, aku sudah tidak berselera," ucap Nathan lalu bangkit dari duduknya. Ia melirik Ratih sekilas lalu pergi dari sana.

Ratih membuang nafasnya lega setelah kepergian majikannya. Aura pria itu sangatlah mengintimidasi.

"Nona," panggil Sam.

Ratih menatap ke arah sumber suara, "Iya Tuan."

"Sudah lupakan, lanjutkan pekerjaanmu." Sam pun pergi mengikuti kepergian Nathan.

Dahi Ratih mengernyit bingung, karena ini pertama kalinya ia dipanggil oleh Sam. Apa mungkin karena Nathan yang memeluknya tadi dan Sam berpikir bahwa ia adalah wanita simpanan pria itu.

"Tidak mungkin, lain kali aku harus meluruskan masalah ini," ucap Ratih, ia akan menjelaskan kepada Sam agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Sejujurnya Ratih merasa terancam karena masih satu atap dengan Nathan. Ia takut Nathan melakukan perbuatan yang tidak-tidak, bahkan pria itu sudah berani memeluknya di tempat yang seperti ini.

"Aku harus waspada."

"Waspada dengan siapa?"

Ratih terkejut dengan kedatangan Sofia.

"Kamu kenapa?" Tanya Sofia yang melihat reaksi Ratih yang tidak biasa.

Ratih menggeleng canggung, "Tidak apa-apa, maksudku waspada dengan piring-piring cantik ini, agar aku tidak memecahkan mereka."

"Ada-ada saja," ucap Sofia sambil tersenyum.

"Oh iya, Tuan sepertinya tidak sarapan hari ini?" Lanjut Sofia karena ia melihat sup yang masih utuh di atas meja makan.

"Dia menganggap sup itu adalah sampah, sama sekali tidak menghargai makanan, padahal diluar sana masih banyak orang yang kesulitan."

"Kamu selalu mengkritik Tuan."

"Aku tidak mengkritik, aku hanya berbicara sesuai fakta."

"Terserah kamu saja, aku akan membawa mangkuk ini ke dapur," ucap Sofia.

Ratih mengangguk.

"Baiklah, sekarang waktunya melaksanakan hukuman," ucap Ratih kemudian mengambil alat kebersihan.

Ratih bersender di dalam lift sambil menunggu angka penunjuk lantai berhenti di lantai 3.

Ting

Ia pun melangkahkan kakinya keluar dan mulai membersihkan kamar-kamar kosong disana.

"Padahal tidak ada yang menempati tapi kenapa harus dibersihkan setiap hari," cicit Ratih sambil mengepel lantai kamar.

Sebenarnya ia sudah muak membersihkan area yang sama setiap hari. Tapi hal tersebut cukup menguntungkan, sebab debu dan kotoran di sana tidak terlalu banyak sehingga mudah dan cepat untuk dibersihkan.

Ratih menghentikan troli kebersihan yang ia dorong. Ia mengetuk pintu di depannya. Ratih berpikir bahwa lebih baik jika mengetuk pintu terlebih dahulu karena Tuan-nya mungkin saja berada di dalam.

"Masuk."

Setelah mendapat persetujuan, Ratih pun mendorong mundur gagang pintu itu.

"Tuan Sam," ucap Ratih setelah melihat Sam yang tengah duduk di sofa kecil yang ada di depan meja kerja Nathan.

"Mencari Tuan?"

Ratih menggeleng, "Saya ingin membersihkan ruangan ini."

"Pergilah ke kamar Tuan."

"Ya?" Ratih memastikan pendengarannya.

Pria paruh baya itu tersenyum, "Aku ingin mencari ketenangan disini," ucap Sam sambil menunjukkan buku yang ia pegang.

"Tuan tenang saja, saya bisa bekerja dengan diam, tidak akan mengganggu Tuan," ucap Ratih meyakinkan. Ia hanya tidak ingin menemui majikannya, apalagi di kamar menakutkan yang ada di depan sana.

"Sudah pergilah, di usia sekarang ini aku hanya ingin istirahat sejenak sebelum menjalankan tugas dari Tuan," ucap Sam dengan wajah memelas.

Ratih memandangi pria di depannya ini dengan perasaan tidak enak, ia jadi teringat dengan ibunya.

"Baik Tuan, silahkan beristirahat," ucap Ratih lalu keluar dari ruangan itu.

Ratih mengamati pintu di depannya dengan ragu. Ia sebenarnya tidak ingin masuk ke dalam, apalagi posisinya hanya berdua dengan majikannya. Ratih sama sekali tidak bisa berfikir positif jika melihat bagaimana tampang pria itu.

Tok tok tok

Karena tidak ada respon dari dalam, Ratih pun membuka pintu kamar itu dan mendapati tidak ada seorang pun di sana. Saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Ratih bisa menyimpulkan bahwa Nathan sedang berada di sana.

Ia pun membersihkan ranjang Nathan, mengganti sprei dan menatanya dengan rapi.

"Kau di sana?"

Ratih menoleh ke arah kamar mandi setelah mendengar suara Nathan. Suara gemericik air pun sudah hilang.

"Sam, ambilkan handuk untukku."

Ratih menegakkan tubuhnya dari sprei yang sedang ia tata. Ia pikir akan memanggil Sam yang berada di ruang kerja.

"Cepatlah!"

Langkah Ratih terhenti saat mendengar suara Nathan yang tidak sabaran. Akhirnya ia mengalah dan mengambil handuk Nathan di walk in closet milik pria itu.

"Ini handukmu," ucap Ratih yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Ternyata kau."

"Tuan Sam sedang berada di ruang kerja, perlu aku panggilkan?"

"Tidak perlu, masuklah."

Ratih menatap pintu kamar mandi di depannya dengan mata melotot, "Dasar tidak tahu malu! Handukmu ku letakkan disini, ambil saja sendiri."

"Tidak perlu malu," ucap Nathan dari dalam.

Ratih tidak berniat untuk menjawab, ia lebih memilih menjauh dari tempat menakutkan itu. Lebih baik ia menata kembali sprei yang belum terselesaikan.

"Terimakasih untuk handuknya."

Ratih menoleh ke arah sumber suara dan reflek menutupi wajahnya dengan bantal.

"Apa yang kau lakukan?" Ratih memejamkan matanya erat-erat.

Nathan memberhentikan kegiatannya, "Aku hanya berdiri dan mengusap rambutku yang basah dengan handuk."

"Maksudku pakaianmu!"

Ratih merasa bahwa matanya sudah ternodai karena melihat tubuh Nathan yang hanya tertutup handuk di bagian sensitifnya.

"Tidak usah berlebihan, kau akan merasakannya nanti," ucap Nathan menyeringai.

"Dasar bajingan!"

Ratih melempar bantal yang ia pakai untuk menutupi wajahnya ke tubuh Nathan.

"Kau suka kekerasan rupanya," ucap Nathan lalu mendekat ke arah Ratih.

"Apa yang kau lakukan?!"

Tubuh Ratih terdorong dan terbaring di atas ranjang milik pria itu. Matanya reflek terbuka dan melotot saat melihat tubuh jangkung Nathan yang bersiap untuk menerkamnya.

"Menjauh dariku!" Ratih menarik tubuhnya ke atas agar tidak dijangkau oleh Nathan.

Nathan menarik kaki Ratih agar lebih dekat dengannya.

"Lepaskan!"

Nathan kembali mengungkung tubuh gadis itu.

"Awas kalau kau berani macam-macam, kau akan menyesal!"

"Ya Tuhan aku takut mendengarnya," ucap Nathan penuh seringaian.

Ratih memukuli dada bidang milik Nathan agar pria itu mau melepaskan tubuhnya. Namun saat melihat luka yang terbuka di lengan atas Nathan, ia menghentikan pukulannya.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Takut aku menidurimu?"

Plak

Ratih menampar pipi Nathan, "Aku bukan wanita murahan, tidak akan pernah sudi untuk kau tiduri."

"Benarkah? Kau berkata seperti itu karena belum merasakannya."

Nathan semakin menekan tubuh Ratih kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu, "Untuk sementara aku tidak akan melakukan apapun, tidak perlu khawatir," ucap Nathan lalu bangkit dan melepaskan tubuh Ratih.

Nathan terus menatap tubuh Ratih yang tidak berdaya di atas ranjang. Ia menarik sudut bibirnya lalu dengan langkah lebar meninggalkan area ranjang untuk memakai pakaian di walk in closet.

Ratih duduk di ranjang milik Nathan, ia menatap punggung lebar yang semakin mengecil itu. Pria itu berkata untuk sementara, berarti masih ada kemungkinan bahwa Nathan bisa melakukan sesuatu kepadanya.

Padahal di meja makan tadi, Ratih sempat berpikiran terbuka terhadap Nathan. Pria itu tadi membelanya di depan salah seorang pelayan. Namun pikiran itu sekarang sudah buyar karena perlakuan Nathan barusan.

Dengan gerakan cepat Ratih mengambil alat kebersihan yang sudah ia ambil beberapa, ia tidak ada niatan lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Untuk hari ini ia akan melewatkan kamar ini, lebih baik tidak menyelesaikan pekerjaannya daripada diberlakukan dengan tidak pantas oleh majikannya sendiri.

1
ayu cantik
suka
Lina Budiarti
kl si alena sm ank nya ratih d bkn berjodoh kyaknya seru thor🤭
Lina Budiarti
entah kudu komen gimana kalo dah ujung gini🥺..🙈
Lina Budiarti
mudah2n mualnya ratih bertanda ada nathan junior🤭gk sekedar mual liat darah uuuh ngarep bngt aku thor
Mariyam Iyam
lanjut
Lina Budiarti
ttp smngt menulis thor aku setia mnunggu kok 😘
Nia Vanilly
hood
Lina Budiarti
ujian mnjadikan cinta Nathan dan ratih jd semakin kuat😘
Martina Metu
lama dulu baru di update
Lina Budiarti
gk di lanjut lg kah thor .?
Martina Metu
kisahnya sangat menegangkan
Martina Metu
seminggu baru di up lagi
Lina Budiarti
aku setia menunggu thor...
Martina Metu
belum up
Lina Budiarti
lnjut thor...💪💪💪
Martina Metu
terimakasih thor telah up lagi lanjut ya thor, n jangan tamat dulu biarkan kisah Natan dan pacarnya berjalan
Lina Budiarti
baru kali ini baca novel tp hanyut kaya ikut ke dalam cerita dag dig dug 😌semangat up truss thor💪
Martina Metu
kalau yang ini ceritanya masih gantung tapi sudah tidak mau di up.... padahal hari hari kita buka
Martina Metu
thor sudah dua hari belum di up episodenya,apa sudah tamat cerita nya?
Martina Metu
Thor bpa belum di up episode selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!