NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Papa Kai

Tiga hari setelah pertemuan di lift, Keira mulai membenci pukul delapan lewat dua puluh pagi.

Pada jam itulah tas makanan berwarna abu-abu biasanya sudah menunggu di meja resepsionis apartemennya. Tidak pernah lebih awal, tidak pernah terlambat. Tidak ada pesan, tidak ada bunga, dan tidak ada kurir yang menunggu jawaban.

Pagi ini ia membawa kotak makan yang sudah kosong ke kantor.

Bukan untuk menemui Kaizan. Ia hanya akan menitipkannya kepada petugas layanan internal di lantai dasar. Batas itu harus jelas, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Lobi NusAir sedang sibuk. Awak kabin menarik koper kecil menuju ruang pengarahan, staf kantor mengantre di gerbang akses, dan layar besar di dinding menampilkan jadwal keberangkatan. Di sisi lain ruangan, beberapa kepala tiba-tiba menoleh ke arah pintu lift eksekutif.

Kaizan keluar bersama dua direktur. Jas gelap, langkah tenang, wajah yang langsung membuat obrolan di sekitarnya turun satu tingkat.

Sejak identitasnya terbuka, Keira masih belum terbiasa melihat lelaki yang pernah memasak mi instan di dapurnya berjalan di tengah barisan eksekutif seperti pusat gravitasi gedung ini.

Seolah merasakan tatapannya, Kaizan menoleh.

Pandangan mereka bertemu melintasi lobi.

Matanya turun sekejap ke kotak makan di tangan Keira. Tidak ada senyum kemenangan. Ia hanya mengangguk kecil, menerima kabar bahwa sarapannya dimakan tanpa menuntut arti lebih.

Keira membalas anggukan itu sebelum sempat melarang dirinya sendiri.

Salah satu direktur mengatakan sesuatu. Kaizan mengalihkan perhatian dan menjawab singkat. Keira mengembuskan napas, lalu berbalik ke meja layanan internal.

"Titip untuk Pak Kaizan?" tanya petugas itu.

"Untuk dapurnya. Tidak perlu mencatat siapa yang mengembalikan."

Petugas itu tampak ingin tersenyum, tetapi berhasil menahannya. "Baik, Bu Keira."

Keira baru saja melepaskan kotak tersebut ketika suara pintu otomatis terdengar dari belakang.

Seorang anak perempuan masuk dari jalur pengunjung.

Usianya sekitar lima atau enam tahun. Rambutnya diikat dua, ransel kecil berbentuk stroberi bergoyang di punggung, dan kartu pengunjung tergantung dari tali kuning di lehernya. Seorang perempuan membawa tas anak berjalan di belakangnya, sementara Moreno masih tertahan di meja pemeriksaan untuk menunjukkan identitas dan mengisi data pendamping.

Semuanya berlangsung tertib sampai anak itu melihat ke seberang lobi.

Wajah kecilnya langsung bersinar.

"Papa Kai!"

Suara nyaring itu memotong seluruh bunyi di lobi.

Anak tersebut berlari. Bukan jauh, hanya beberapa meter dari jalur pengunjung menuju Kaizan, tetapi cukup untuk membuat petugas keamanan maju setengah langkah dan puluhan pasang mata mengikuti gerakannya.

Kaizan menoleh cepat.

Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, wajah lelaki itu benar-benar kehilangan persiapan.

"Vania?"

"Papa Kai!"

Vania menabrak kedua kakinya dengan pelukan penuh tenaga. Kaizan mundur setapak, lalu secara refleks membungkuk dan mengangkat tubuh kecil itu sebelum ia kehilangan keseimbangan.

Vania melingkarkan kedua tangan di lehernya.

"Aku datang!"

Vania menggeliat turun sebentar hanya untuk membuka ranselnya. Dari dalam, ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat dan sedikit kusut. Gambar krayon memenuhi permukaannya: sebuah pesawat biru terlalu besar, awan berbentuk kapas, seorang anak kecil, dan lelaki jangkung dengan tulisan `PAPA KAI` dalam huruf yang miring ke segala arah.

"Aku buat sendiri," katanya bangga. "Yang ini Papa Kai. Yang ini Vania. Kita naik pesawat."

"Bagus sekali." Kaizan menerima kertas itu dengan hati-hati, seolah benda tersebut lebih rapuh daripada dokumen bisnis mana pun yang pernah disentuhnya. "Kenapa rambutku hijau?"

"Krayon hitamnya habis."

Jawaban itu memancing tawa kecil dari dua orang yang berdiri paling dekat. Kaizan sendiri sempat tersenyum. Senyum yang lembut, tanpa kewaspadaan, jenis ekspresi yang belum pernah dilihat sebagian besar pegawainya.

Bagi para penonton, gambar itu sudah cukup menjadi bukti kedua.

Keira melihat jari Kaizan meratakan lipatan kertas sebelum menyimpannya di saku dalam jas. Gerakan penuh perhatian itu seharusnya tidak melukainya. Ia bahkan pernah mencintai sisi lembut yang sama. Hanya saja, sekali lagi, sisi tersebut ternyata memiliki ruang yang tidak pernah diberitahukan kepadanya.

"Aku bisa melihat itu." Kaizan masih memandang ke arah Moreno. "Kenapa kamu ada di sini?"

"Mau ketemu Papa Kai."

Jawaban sederhana itu membuat suasana yang sempat membeku berubah menjadi gumaman.

Seorang staf menutup mulut dengan ponselnya. Seorang pramugara menoleh kepada rekannya dengan mata membesar. Di dekat gerbang akses, dua karyawan yang tadi membahas jadwal mendadak mengetik sangat cepat tanpa berani mengangkat kepala lagi.

Keira tidak bergerak.

Kotak makan sudah tidak ada di tangannya, tetapi telapak tangannya masih mempertahankan bentuk genggaman yang kosong.

Papa Kai.

Kata itu terdengar sekali lagi di dalam kepalanya, lalu menyentuh semua tempat yang belum pulih dari kebohongan sebelumnya.

Kaizan memiliki kehidupan yang tidak pernah ia kenal. Itu bukan dugaan lagi. Ia pernah tidur di samping lelaki itu selama berbulan-bulan tanpa mengetahui nama lengkapnya, rumahnya, keluarganya, atau jabatan yang sebenarnya. Seorang anak tiba-tiba memanggilnya Papa di tengah lobi seharusnya tidak lagi mengejutkan.

Namun dadanya tetap terasa seperti dipukul.

Vania menepuk pipi Kaizan dengan telapak mungil. "Papa Kai kurusan."

"Tidak."

"Iya. Om Moreno bilang Papa Kai tidak mau makan kalau sedih."

Moreno yang baru melewati gerbang pengunjung berhenti mendadak.

Kaizan menatapnya datar.

"Saya tidak memakai kalimat persis seperti itu, Bos."

"Om Moreno bilang nasi Papa Kai sering sisa."

Beberapa orang di dekat mereka pura-pura batuk. Rumor yang baru berumur kurang dari satu menit mendadak mendapatkan lapisan baru: seorang anak yang tahu kebiasaan makan sang CEO dan seorang asisten yang jelas mengenalnya.

"Vania," Moreno berkata sambil mendekat, "kita bicara pelan-pelan, ya. Ini kantor."

"Tapi aku senang."

"Senang boleh. Berteriak tidak perlu."

Vania mengangguk, lalu berbisik dengan volume yang hampir sama kerasnya, "Aku senang ketemu Papa Kai."

Kaizan mengusap punggungnya sekali. Gerakannya terbiasa, tenang, dan terlalu alami untuk dianggap sebagai pertemuan pertama.

Sesuatu di wajah Keira berubah.

Hanya sesaat, tetapi Kaizan menangkapnya.

"Kei."

Ia menurunkan suara. Vania masih berada di lengannya. Dua direktur di belakangnya saling pandang, sedangkan seluruh lobi mendadak sibuk menatap layar, lantai, atau kartu akses masing-masing.

Keira memaksa kakinya bergerak.

Ia berjalan menuju gerbang karyawan tanpa terburu-buru. Punggung tegak, langkah terukur, ekspresi profesional yang dulu ia gunakan saat turun dari pesawat setelah mesin terbakar.

"Kei, tunggu."

Keira berhenti, tetapi tidak berbalik sepenuhnya.

Kaizan ingin mendatanginya. Lengan Vania justru mengencang di lehernya karena terkejut oleh semua orang asing yang memandang. Ia tidak mungkin menurunkan anak itu begitu saja, apalagi mengejar Keira sambil menjadikannya bagian dari tontonan yang lebih besar.

Salah satu staf di dekat pintu berbisik terlalu keras, "Pantas kehidupan pribadinya tidak pernah diketahui."

Kaizan menoleh. Tatapannya membuat staf itu langsung pucat.

"Kembali bekerja," ucap Kaizan kepada seluruh lobi. Suaranya tidak tinggi, tetapi gumaman berhenti seketika. "Anak kecil bukan bahan tontonan."

Orang-orang bergerak lagi. Koper kembali ditarik dan gerbang akses kembali berbunyi. Namun keteraturan itu hanya permukaan. Kaizan dapat melihat layar ponsel yang padam terlalu cepat dan pesan yang sudah telanjur terkirim. Ia bisa menghentikan kerumunan, bukan membuat ratusan orang melupakan dua kata yang baru mereka dengar.

"Aku akan menjelaskan," katanya.

Bahu Keira menegang.

"Kamu selalu mengatakan itu setelah aku menemukan sesuatu sendiri."

Kalimatnya tidak keras. Justru karena itulah semua orang di antara mereka mendengarnya.

Wajah Kaizan memucat.

Moreno segera menoleh kepada kepala keamanan. "Tidak ada yang boleh mengambil foto anak ini. Minta petugas mengingatkan semua orang di lobi. Kalau ada unggahan dari area kantor, laporkan ke saya. Jangan sentuh ponsel pribadi siapa pun, cukup jalankan kebijakan privasi gedung."

"Baik, Pak."

Instruksi itu terlambat untuk menghentikan kata-kata. Bahkan tanpa foto, pertanyaan sudah berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain.

Pak Kaizan punya anak?

Sejak kapan?

Siapa ibunya?

Kenapa tidak pernah ada yang tahu?

Dan mengapa Kapten Keira terlihat seperti baru saja dikhianati untuk kedua kalinya?

Keira mendengar pecahan bisikan itu ketika menempelkan kartu akses. Lampu gerbang berubah hijau, tetapi ia belum melangkah.

Kaizan mengenal sikap diam itu. Keira sedang menahan terlalu banyak hal agar tidak ada satu pun yang jatuh di depan orang lain.

"Kei, lihat aku."

Kali ini Keira berbalik.

Mata mereka bertemu di atas kepala kecil Vania.

Kaizan tidak melihat kemarahan di sana. Andai Keira marah, ia mungkin masih tahu bagaimana menghadapi badai itu. Yang terlihat hanya lelah, sakit, dan sepotong harapan yang baru tumbuh selama beberapa hari lalu dipaksa mundur lagi.

"Apa aku bahkan punya hak untuk bertanya?" ujar Keira.

"Kamu punya."

"Aku bukan siapa-siapa lagi."

"Jangan bilang begitu."

"Itu keputusan yang kamu setujui di depan pintu apartemenku."

Kaizan menelan jawaban. Ia memang sudah berjanji untuk menghormati perpisahan itu. Menyangkalnya sekarang hanya akan membuat setiap tindakan baik selama dua minggu terakhir terdengar seperti cara lain untuk menekan Keira.

"Aku tidak akan menahanmu di sini," katanya akhirnya. "Tapi tolong beri aku kesempatan menjelaskan setelah ini. Di tempat yang kamu pilih."

Keira memandang Vania. Anak itu balas menatap dengan mata bulat, bingung oleh percakapan orang dewasa yang tidak dipahaminya.

Jantung Keira kembali nyeri.

Apa pun yang dilakukan Kaizan, anak kecil ini tidak bersalah. Ia tidak boleh menunjukkan luka seolah-olah sapaan bahagia seorang anak adalah kesalahan.

Keira memaksa sudut bibirnya terangkat tipis kepada Vania. Lalu ia menatap Kaizan lagi.

"Aku ada briefing."

"Setelah briefing?"

"Aku belum tahu."

Itu bukan janji, tetapi juga bukan penolakan mutlak. Kaizan mengangguk dan tidak mengejarnya.

Keira melewati gerbang.

Begitu pintu akses menutup di belakangnya, langkahnya menjadi lebih cepat. Ia tidak melihat lift staf di depan. Ia hanya perlu keluar dari jangkauan puluhan tatapan sebelum napasnya pecah.

Di belakang, Vania mengikuti sosoknya dengan kepala dimiringkan.

"Papa Kai, tante itu siapa? Dia kelihatan mau menangis."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!