Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ampun!
"Mima... Mimaaaa..." Seru Kanigara yang memanggil Ibunya.
Gadis yang bersekolah di taman kanak - kanak itu berlari masuk ke dalam Balai Kesehatan bersama Bima karena mereka berdua lebih dulu sampai. Sementara Shima dan Aka masih ada di belakang.
"Loh! Kok Ara sama Bima di sini?" Tanya Sashi yang tergopoh - gopoh menghampiri saat mendengar suara Ara.
"Tolong, Ma... Tolong!" Pinta Ara sambil menunjuk ke arah luar.
"Tolong Mamas, Bu Aci. Mamas kepalanya berdarah." Kata Bima yang memperjelas maksud Ara.
"Aka? Aka berdarah kenapa?" Tanya Sashi.
Mendengar kehebohan di depan, membuat Saira ikut menghampiri ke sumber keributan. Ia pun terkejut saat melihat Ara dan Bima ada di sana.
"Kenapa, Mbak?" Tanya Saira pada Sashi.
"Aka, Buna... Aka katanya kepalanya berdarah." Jawab Sashi.
Tak berselang lama, Shima datang dengan Aka di sampingnya. Melihat itu, Sashi dan Saira pun segera menghampiri Aka yang masih berada di atas mobil.
"Astaghfirullah! Ya Allah." Seru Saira saat melihat kepala belakang Aka yang mengalirkan darah.
"Ini kenapa kok kayak gini to, Cim? Ponakanmu kenapa?" Cicit Sashi.
"Jatoh karena nolongin Bima tadi, Mbak." Jawab Shima.
Tak lagi bicara, Sashi langsung menggendong Aka dan membawanya masuk. Sashi pun segera menjahit kepala Aka yang sobek. Sementara Shima menuju ke Balai Desa untuk mengabari Arjuna.
"Mbak! Gimana Aka?" Tanya Arjuna.
"Allah hu Akbar! Ya Allah." Seru Arjuna saat melihat baju Aka yang berlumuran darah. Arjuna sampai mengusap - usap dadanya sendiri saat melihat tingkah putranya.
"Udah nih, lumayan jahit lima." Jawab Sashi yang sudah selesai menjahit kepala Aka ketika Arjuna sampai di Balai Kesehatan.
"Ra di dondomi kabeh pisan gundule kuwi lho, Mbak! Ben kuapok. (Gak di jahit semua sekalian kepalanya itu lho, Mbak! Biar kapok.)" Omel Arjuna.
"Romo! Gak boleh kayak gitu sama Mamas. Romo gak boleh marahin Mamas. Mamas kan nolongin Adek!" Kata Bima sambil memukul tangan Arjuna. Sashi pun memelototi Arjuna, memberi kode agar Arjuna tak mengomeli Aka.
"Gimana Aka? Parah gak lukanya?" Tanya Aksa yang datang tergopoh - gopoh.
Nafasnya masih tersengal - sengal karena berlari. Namun Aksa nampak lega saat melihat cucunya baik - baik saja.
"Duhalah ya Allah, Gusti. Meh mencuolot metu mau jantungku. (Hampir meloncat keluar tadi jantungku)" Kata Aksa sambil mengurut dada. Ia sampai terduduk lemas saking kagetnya.
"Bener kok, Po. Untung jantung ini buatannya Gusti Allah. Kalau buatannya manusia gitu, lak udah game over." Timpal Arjuna.
"Jadi gimana ceritanya, kok Aka bisa sampe kayak gitu?" Tanya Saira.
Shima pun menceritakan apa yang terjadi saat mereka bermain tadi, hingga membuat kepala Aka sobek.
"Terus, motornya dimana sekarang?" Tanya Aksa.
"Ya masih di tinggal di kebon yang ada gundukannya itu lah, Po." Jawab Shima.
"Lha kalo ilang gimana itu?" Tanya Aksa.
"Malahannya kok, Po. Kebeneran, malah gak bikin perkara." Sahut Arjuna yang masih emosi.
Kedua putra Arjuna itu hanya bisa menunduk sambil terdiam saat mendengar Romonya mengomel. Mereka tentu merasa bersalah karena sudah membuat semua orang menjadi panik.
"Maafin Aka ya, Opa, Oma, Romo, Bu Aci." Lirih Aka dengan rasa bersalah.
"Maafin Bima juga. Gara- gara Bima, Mamas jadi berdarah." Ujar Bima yang kemudian kembali menangis sambil memegangi tangan Aka.
"Habis membuat masalah, terbitlah drama." Kata Arjuna sambil menghela nafas panjang. Ada rasa kesal, gemas, khawatir dan kasihan yang berbaur menjadi satu di hatinya.
Menjadi seorang Ayah, bukanlah hal yang mudah. Apa lagi menghadapi dua putranya yang luar biasa.
"Jadi tadi Bima yang jatuh, terus di tolongin Mamas?" Tanya Saira yang di jawab anggukan oleh Bima.
"Maa Syaa Allah, Mamas." Ujar Saira yang sangat bangga dengan Aka. Meskipun masih kecil, ia sangatlah bertanggung jawab dan begitu menyayangi adiknya.
"Coba lihat, itu burung yang baru di sunat, masih ada atau enggak? Nanti ucul gara - gara jatuh." Kata Aksa.
Mendengar itu, Bima pun langsung memegang burungnya untuk memastikan jika burungnya itu masih berada di tempatnya.
"Masih kok! Masih ada." Kata Bima.
"Punya Mamas masih ada gak? Coba aku lihat." Tanya Bima sambil berusaha membuka celana Aka.
"Masih loh, Dek! Jangan di buka celana Mamas." Ujar Aka sambil memegangi celananya yang hendak di buka oleh Bima.
Tak ayal, hal itu langsung memecah tawa Aksa, Arjuna, Sashi dan Saira. Suasana yang semula terasa tegang, akhirnya kini mulai mencair.
"Emang Opamu tuh aneh kok. Ya malu lah, cucunya di gituin." Omel Saira.
"Romo, ayo ambil motor Mamas sama Adek." Ajak Bima dengan takut - takut. Bima memegangi ujung baju Arjuna dan menarik - nariknya perlahan.
"Udah biarin aja di ambil orang." Sahut Arjuna.
"Ah! Romo... Nanti Mamas sama Adek gak bisa mainan." Kata Aka.
"Biarin, gak usah mainan motor, gak usah mainan sepeda. Jalan kaki aja." Sahut Arjuna lagi.
"Ini nanti kalau Mbunmu pulang dari rumah Pakde Irfan terus tau polahmu berdua, lak langsung berubah jadi singo barong!" Kata Arjuna.
"Belum lama sepedamu berdua di taro di gudang sama Mbun. Nanti motormu berdua juga lak di masukin di gudang." Imbuh Arjuna yang membuat dua putranya langsung menunduk.
Mereka membayangkan amukan Meshwa jika mengetahui apa yang sudah mereka berdua lakukan.
Beberapa bulan lalu, Meshwa memasukkan sepeda Aka dan Bima yang rusak karena keduanya bermain sepeda dengan gaya bebas hingga membuat mereka berdua menabrak pohon.
Untungnya Aka dan Bima hanya lecet saja. Namun, sepeda Aka mengalami patah stang, sementara sepeda Bima ban bagian depannya terlepas.
"Romo telfon Mbun sekarang, ya." Kata Arjuna yang sengaja menjahili dua putranya.
"Jangan, Mo! Jangaan." Seru Aka dan Bima bersamaan.
"Nanti aja, Mo. Mamas mikir dulu, gimana caranya ngerayu Mbun." Kata Aka.
"Iya, Mo. Bima mau bantuin Mamas ngerayu Mbun juga." Timpal Bima.
"Emang mau ngerayu gimana? Udah jelas itu kepala Mamas sampe bocor." Kata Sashi.
"Nanti Bima pijetin kaki Mbun. Bima bantuin Mbun beresin kamar juga." Kata Bima.
"Halah! Teori tok." Sergah Arjuna.
"Beneran, Mo! Kalo Bima gak capek, pasti Bima bantuin." Ujar Bima yang kembali membuat para orang tua melipat bibir mereka karena menahan tawa.
"Sekarang aku paham, kenapa dulu Ayah sama Bopo gak mau nambah anak." Kata Arjuna.
"Aku juga menyusul jejak Ayah sama Bopo. Mbiit aku, Mbiit. Dua aja rasanya aku pingin angkat tangan." Kata Arjuna sambil mengangkat kedua tangannya hingga membuat tawa Aksa, Saira dan Sashi meledak.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣