NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Kata Mertua, Aku menantu Penghasut

Keesokan paginya, aku bangun dengan mata yang masih sedikit bengkak. Semalam aku menangis cukup lama di pelukan Mas Viyan. Untungnya, suamiku tidak banyak bertanya lagi setelah aku mengatakan bahwa aku hanya kelelahan. Aku tidak ingin menjadi istri yang setiap hari mengadukan ibu mertuanya.

Bagaimanapun juga... Beliau tetap ibu yang telah melahirkan suamiku. Seperti biasa, aku sudah berada di dapur sejak sebelum adzan Subuh. Saat sedang menggoreng tempe, Bu Mirna masuk ke dapur.

Beliau melirik wajahku sekilas. "Loh. Kok matanya bengkak?"

Aku tersenyum tipis.

"Kurang tidur, Ma."

"Hmmm..."

Beliau hanya mengangguk pelan. Namun senyum tipis di bibirnya membuatku merasa tidak nyaman.

 

Siang harinya. Hari itu kebetulan kantor tempatku bekerja mengadakan setengah hari kerja karena ada kegiatan internal. Aku pulang sekitar pukul satu siang.

Begitu memasuki gang rumah, aku melihat beberapa ibu-ibu sedang duduk di pos ronda sambil mengobrol.

Seperti biasa, aku tersenyum ramah. "Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam."

Namun kali ini... Balasan mereka terasa berbeda. Hanya sekilas. Lalu kembali saling berpandangan. Aku mulai merasa ada yang aneh.

Saat hendak membuka pagar rumah, Bu Rina, Ibu dari atasan ku memanggilku.

"Fitri."

"Iya, Bu?"

"Boleh ngobrol sebentar?" Ucapnya.

"Tentu bu."

Aku menghampirinya. Beliau tampak ragu-ragu.

"Sebenarnya Ibu enggak enak ngomongnya."

"Kenapa ya, Bu?" Ucapku penasaran.

"Kemarin Bu Mirna cerita nih.."

Jantungku langsung berdegup. "Cerita apa?"

"Katanya sekarang Viyan jadi sering membantah ibunya."

Aku terdiam.

"Lalu...katanya itu karena kamu sering menangis di kamar sambil menghasut suami."

Aku benar-benar terpaku. "Apa?"

"Ibu sebenarnya enggak langsung percaya."

"Tapi Bu Mirna cerita sambil nangis."

"Katanya dia sedih karena anaknya berubah setelah menikah."

Dadaku terasa sesak. Jadi... Tangisanku semalam... Sudah diputarbalikkan menjadi senjata.

"Bu... Aku enggak pernah menghasut Mas Viyan."

Bu Rina mengangguk pelan. "Ibu juga berharap begitu. Makanya Ibu tanya langsung sama kamu. Ibu hanya penasaran aja?."

Aku menghela napas lega. Setidaknya masih ada seseorang yang mau mendengar penjelasanku. "Iya bu terima kasih ya bu perhatiannya. Aku enggak pernah menghasut siapapun kok, Bu."

"Iya. Ibu percaya. Yang sabar ya." Ucapnya mengusap lengan ku lalu beliau pun pergi.

 

Aku masuk ke rumah dengan langkah pelan. Di ruang tamu, Bu Mirna sedang menonton sinetron. Beliau menoleh sekilas.

"Sudah pulang?"

"Iya, Ma."

"Kenapa cepat?"

"Hari ini setengah hari."

"Oh."

Beliau kembali fokus ke televisi. Aku memandang wajahnya beberapa detik. Sulit dipercaya... Orang yang tampak tenang di depanku ini ternyata sedang menghancurkan nama baikku di luar sana.

 

Sore harinya, Dinda pulang kuliah. Begitu melihatku sedang menyapu halaman, ia langsung menyeringai.

"Mbak."

"Iya?"

"Tadi ketemu Bu Rina ya?" Tanya dia.

"Iya."

"Ngomong apa?"

Aku menatapnya. "Memangnya kenapa?"

Dinda terkekeh kecil. "Enggak. Cuma penasaran aja." Lalu ia masuk ke rumah sambil tersenyum sendiri.

Entah kenapa... Aku merasa Dinda mengetahui sesuatu.

 

Malam harinya. Setelah makan malam, Mas Viyan duduk di teras rumah bersamaku. Angin malam berembus pelan. Suasana cukup tenang.

"Mas."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti...ada orang bilang aku menghasut Mas."

Mas Viyan langsung menoleh. "Kenapa ngomong begitu?"

"Jawab dulu." Desaku.

Mas tersenyum kecil. "Mas enggak akan langsung percaya."

Aku menatap wajahnya. "Kenapa?"

"Karena Mas hidup sama kamu setiap hari. Mas tahu seperti apa kamu."

Hatiku sedikit lega. Namun aku tetap bertanya,

"Kalau yang bilang itu Mama?"

Senyum Mas Viyan perlahan memudar. Beliau terdiam cukup lama.

"Aku cuma ingin tahu, Mas."

Mas Viyan menarik napas panjang. "Mas akan dengar dari dua belah pihak."

Jawaban itu... Tidak sepenuhnya membuatku tenang. Namun setidaknya... Dia tidak lagi langsung memihak ibunya seperti dulu.

 

Keesokan paginya. Saat aku hendak berangkat kerja, aku mendengar suara Bu Mirna berbicara dengan seseorang di depan pagar.

"Tahu enggak, Bu. Sekarang Viyan itu kalau dinasehati sedikit saja...langsung bilang, 'Kasihan Fitri'. Padahal dulu enggak begitu."

"Kasihan ya, Mir."

"Iya."

"Menantu sekarang pintar-pintar."

"Enggak usah bentak."

"Cukup menangis sedikit...anak laki-laki langsung lupa sama ibunya."

Aku berdiri di balik pintu. Tanganku mengepal. Untuk pertama kalinya sejak menikah... Aku benar-benar ingin keluar dan membantah semua ucapan itu.

Namun... Aku kembali mengurungkan niat. Aku memilih berangkat kerja.

Karena aku sadar... Perdebatan di depan tetangga tidak akan membuat Bu Mirna berhenti. Justru akan menjadi bukti baru yang bisa beliau gunakan untuk mengatakan bahwa aku adalah menantu yang tidak sopan. Aku melangkah meninggalkan rumah. Tanpa kusadari...

Dari balik jendela kamar, Bu Mirna tersenyum puas melihat punggungku.

"Diam saja terus, Fitri. Semakin kamu diam...semakin semua orang akan percaya pada cerita Mama." Ucap kata hati bu mirna.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!